
“Master, setelah mencari tahu insiden penyerangan di pulau itu ternyata dilakukan oleh anak dari salah seorang tuan Lan, orang yang mengkhianati kita. Dia menuntut balas atas kematian ayahnya”
“Lalu sekarang dia di mana?”
“Saat kami akan membawanya pergi, dia malah lompat dari apartment nya dan sekarang sudah mati”
“Bagus, kita tidak perlu repot-repot lagi menghabisi orang sialan itu.”
“Master, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan”
“Apa?”
“Tuan Vano sekarang sudah keluar dari rumah sakit dan dia menanyakan keberadaan anda”
“Baik, siapkan mobil, kita akan ke sana sekarang”
“Baik master”
Dalam perjalanan Khiren tiba-tiba terpikir sesuatu hal yang mungkin saja terjadi di masa depan.
“Mex”
“Iya, master”
“Kalau saja aku mati di suatu hari karena salah seorang musuh kita, aku ingin jasadku tidak di bawa oleh keluargaku, aku ingin di kubur di pulau.”
“Master, tolong jangan katakan hal semacam itu, apapun yang terjadi saya akan berusaha sekuat tenaga agar master tetap hidup, saya bersedia mati menggantikan master”
“Untuk apa kamu mati menggantikan ku?”
“Sejak saat master menerima saya menjadi murid saya sudah bertekad untuk menyerahkan jiwa dan raga saya untuk anda. Tolong jangan abaikan hal ini”
“Kalau jiwa dan ragamu milikku, apa kamu mau menikahi ku?”
“A-apa yang master bicarakan?” Seketika wajah Mex memerah tapi untungnya dia berada di kursi depan jadi Khiren tidak menyadarinya.
“Apa yang kamu tidak mengerti? Sudahlah, lupakan dan fokus saja menyetirnya”
“Baik master”
Khiren akhirnya sampai di apartemen yang baru dia beli Vano. Penjagaan di sana sangat ketat karena Khiren khawatir kalau Vano akan mengalami hal lebih buruk jika penjagaannya tidak ketat. Begitu sampai dia di sambut dengan pelukan hangat, Vano yang baru sembuh itu berlari kearah Khiren dan memeluknya.
“Kenapa kamu lama sekali?” Mata berbinar-binar membuat Khiren menjadi lemah.
“Bukan begitu, aku hanya sibuk”
“Sibuk bersama pria jahat itu, ya’kan?”
“Apa yang kamu bicarakan? Aku sibuk bekerja, ayo lepas dulu”
“Gak mau! Aku mau peluk terus”
“Jangan manja sayang, ayo duduk dulu, kamu kan baru saja sembuh. Apa kamu sudah makan?”
“Tidak, aku menunggumu”
“Apa? Kenapa jam segini belum makan? Kalau gitu ayo makan bersama”
“Apa kamu akan memasak untukku?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu? Apa pelayan disini tidak becus dalam memasak?”
__ADS_1
“Bukan begitu, aku hanya merindukan masakan mu, setelah terakhir liburan di Bali, aku teru saja menginginkan masakan mu, apa itu tidak boleh?”
“Boleh, boleh! Kalau begitu kamu duduk dengan tenang di meja makan dan aku akan menyiapkan masakan untukmu”
“Aku ingin membantu”
“Baiklah kalau kamu ingin, ayo kita ke dapur.”
Dengan keahlian memasaknya Khiren memotong semua bahan dengan cepat sedangkan Vano mengupas bawang.
“Au!” Tangan Vano berdarah.
“Apa yang terjadi? Coba aku lihat”
“Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil”
“Apanya yang kecil, cepat letakkan pisaunya dan kita ke sana!”
Khiren menarik Vano ke tempat duduk dan dia mencari kotak obat, Khiren membersihkan luka dengan alcohol dan membalutnya.
“Nah selesai! Sekarang duduk saja di sini, aku akan memasak untukmu, jangan bergerak se-inci pun, paham?”
“Tapi aku ingin membantu”
“Tidak, kali ini dengarkan aku!”
“Baiklah” Vano terlihat cemberut karena tidak bisa ke dapur membantu Khiren memasak.
Tak butuh waktu lama untuk seorang Khiren menyiapkan makanan, semua menu yang Vano suka di buatnya dalam waktu singkat.
“Sekarang ayo makan!”
“Kamu tidak mengambil piring untukmu?”
“Padahal kau sudah cukup kurus, ayolah makan sedikit saja”
“Tidak, terimakasih!”
“Kalau gitu… Coba satu suap saja” Vano menyuapi Khiren.
“Vano, makan saja sendiri!”
“Kamu membuat tetangga ku pegal, ayo cepat buka mulutnya”
“Dasar keras kepala” Pada akhirnya Khiren membuka mulut dan menerima suapan dari Vano.
Suasana sangat bagus, rasa hangat seperti keluarga kecil, kebahagiaan yang selalu Khiren bayangkan akhirnya bisa terwujud hari itu.
“Bagaimana dengan keadaan si kembar?”
“Mereka sepertinya merindukanmu, kapan kamu akan kembali ke rumah lagi?”
“Rumah? Aku tidak punya rumah, tempat itu milik suamimu, ya’kan?”
“Itu tidak benar, rumah itu milikmu. Jangan takut, dia tidak akan menyakitimu lagi, ngomong-ngomong apa kamu sudah mencoba parfum yang aku buat khusus untukmu?”
“Itu… sebenarnya aku tidak sengaja menghilangkannya saat berkelahi dengan Revan waktu itu”
“Kalau begitu sudahlah, lagi pula aku masih punya yang lain.”
“Selesaikan makan mu dan kita akan pulang sekarang”
__ADS_1
“Apa kamu yakin dia tidak akan menyakitiku?”
“Percaya saja padaku, selama aku hidup, kamu akan aman”
“Aku percaya”
Setelah itu mereka akhirnya kembali ke rumah besar yang sudah di atas namakan Vano oleh Khiren. Saat masuk ke rumah mereka di sambut dengan tatapan penuh amarah dari Revan saat melihat Khiren membawa pulang Vano bersamanya.
“Kenapa dia disini?”
“Tentu saja karena ini rumahnya! Kamu kapan kembali? Bukannya kamu punya pekerjaan?”
“Apa itu penting sekarang?”
“Terserah sih, anak-anak mana?”
“Mereka sedang bermain di taman bersama dengan pengasuh mereka.”
“Bagus kalau begitu, Vano ayo kita temui mereka”
Khiren menarik tangan Vano, Vano tersenyum kearah Revan yang terlihat kesal pada kedua orang yang seakan mengabaikan keberadaannya.
“Khiren, aku ingin menanyakan sesuatu”
“Tanya saja”
“Waktu itu kenapa kamu memilih meninggalkan aku di pesta untuk pria itu?”
“Oh soal itu? Heum, kalau masalah itu sebenarnya aku terpaksa karena sudah terlanjur berjanji pada dia akan makan malam bersama”
“Apa dia sangat penting dari aku?”
“Vano, aku tidak mungkin benar-benar mengabaikan dia, lagian malam itu kami sebenarnya akan merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama, aku tidak enak hati padanya karena pada dasarnya diakan suamiku”
“Jadi pernikahanmu lebih penting dariku?” Guma Vano.
“Apa?”
“Ah tidak, ayo kita lihat bayi-bayi yang katanya sudah mulai bisa merangkak itu” Vano segera mengalihkan topik.
“Sepertinya dia mengatakan sesuatu, terserahlah”
Setelah itu wajah Vano terlihat sedikit kekecewaan yang tidak di mengerti oleh Khiren.
“Hai bayi-bayi kecilku, ayo kakak gendong!” Vano pun menggendong Yauto dan Naoki.
Setelah Vano menggendong ke dua anak kembar itu, semua pelayan dan pengasuh pergi meninggalkan tempat itu atas perintah Khiren lewat gerakan tangannya.
“Pa.. pa.. pa” Ucap Yauto dengan wajah penuh keceriaan.
“Wah, dia sudah bisa bicara”
“Ini pertama kalinya aku mendengar mereka bicara selain menangis, kamu memang paling luar biasa sayangku” Khiren memberikan sebuah kecupan di pipi Vano.
Wajah Vano memerah bak tomat, dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah karena sedang menggendong Yauto dan Naoki. Dari jendela lantai atas seorang yang penuh kekesalan memandangi keluarga kecil yang sedang menikmati sore mereka bersama di teman bersama dengan bayi-bayi imut.
“Harusnya aku yang ada di sana bukan dia!”
Bersambung
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊