
Beberapa minggu setelah Khiren memenuhi janjinya untuk ikut dalam pembuatan video klip album terbaru teman Rere yang telah membantunya dulu. Di tepi bantai di sore yang cukup cerah dengan pemandangan yang mengagumkan, mereka berjalan beriringan dengan dua pria tampan teman Devi, Devi merupakan tunangan Farhan.
“KHIREN!! Khiren!” Dua orang pria berlari kecil menyusul langkah Khiren dan Devi.
Langkah mereka seketika terhenti karena teriakan yang berulang kali memanggil nama Khiren dan saat mereka berbalik, mereka melihat dua pria yang tidak asing menghampiri mereka.
“Khi, kamu kenal dengan dua pria tampan itu?” Bisik Devi yang merasa sangat asing dengan dua pria yang menghampiri mereka.
“Iya, kamu tenang aja!”
“Khiren, udah lama gak kelihatan di dekat komplek ternyata kamu pindah ke Bali! Gimana kabar kamu ?” Pria itu sok akrab dengan Khiren.
“Aku baik, kamu ada apa ke sini?” Khiren tersenyum paksa.
“Aku? Aku di tawarkan kerja di rumah sakit tempat temanku bekerja. Oh iya, kenalin nih Bintang! Dia itu teman aku sejak kecil dan sekarang dia udah jadi kepala rumah sakit teratai merah.” Dia terlihat sangat bersemangat saat berbicara dengan Khiren, meski di tempat itu ada gadis lain yang juga menarik tapi, matanya hanya tertuju pada satu wanita saja dan itu adalah Khiren.
“Oh” Khiren yang sebenarnya sudah mengenal Bintang merasa tidak tertarik dengan pembahasan tentang Bintang.
“Kamu temannya Khiren? Kenalin, aku Daniel!”
“Oh, hai! Aku Devi temannya Khiren! Dan kenalin juga teman-temanku Boy dan Andre.”
“Salam kenal semua! Kalian mau kemana?”
“Ah, kami… Kami ada acara setelah ini, ya'kan Devi?” Khiren memberi sedikit kode pada Devi agar dia membantu untuk menghindari Daniel.
“Em, iya benar! Kami ada acara, kalau begitu ayo pergi!” Devi yang langsung peka pada keadaan langsung menarik Khiren menjauh dari Daniel.
“Daniel! Kayaknya wanita itu gak tertarik deh ke kamu!” Bintang sangat peka dengan keadaan dan dia langsung tahu kalau Khiren memberi jarak pada Daniel.
“Siapa bilang, aku yakin dia itu tertarik kok sama aku!” Daniel percaya pada apa yang dia pikirkan dan menurutnya Khiren sangat memberikan dia peluang untuk mendekati Khiren.
“Daniel sahabatku tolonglah jangan ngehalu! Dari ekspresi dia aja orang yang lihat langsung tau kalau dia itu gak suka sama kamu!”
“Ah masa sih?” Daniel menganggap ocehan Bintang hanya cara Bintang menunjukkan kalau dia itu iri pada Daniel yang lebih dulu mengenal Khiren di bandingkan dia.
“Terserah deh kalau kamu gak percaya, sekarang balik aja yuk?”
“Gak, aku masih mau ke jalan-jalan sebelum lusa mulai kerja”
“Jadi, sekarang kamu mau kemana?”
“Entahlah, yang penting jalan aja dulu”
Bintang geleng-geleng kepalan mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
Sementara itu Devi membawa Khiren ke sebuah kafe di pinggir pantai dan memesan minuman untuk menenangkan pikiran mereka berdua.
“Khi, jujur deh kamu sebenarnya kenal dari mana dua dokter itu?”
“Gak kenal-kenal amat cuma si Daniel itu tetangganya Revan saat di Jakarta. Au ah! Bikin bad mood aja lihat muka dia!”
__ADS_1
“Loh kok bisa?”
“Ya bisa lah, gak lihat tu kelakukan dia, sok akrab banget padahal kami cuma ketemu beberapa kali dan gak benar-benar akrab.”
“Aneh juga sih! Tapi, kayaknya dia suka deh sama kamu.”
“Ya terus? Gak penting banget mikirin dia tau.”
“Sorry menyela! Kami berdua kayaknya harus cabut dulu deh!”
“Loh kenapa tiba-tiba banget?”
“Kami ada janji sama orang lain, kalau gitu kamu pergi dulu ya!”
“Oke, sampai jumpa!”
Boy dan Andre pergi dua orang pria yang wajahnya standar menghampiri Khiran dan Devi, mereka tanpa basa-basi dan penuh percaya diri duduk di dua kursi kosong di depan Khiren dan Devi.
“Hai cewek! Kayaknya gue tau deh kenapa bulan gak muncul mala mini!?”
“Emangnya kenapa bro?”
“Karena bulan merasa tersaingin oleh paras cantik dua bidadari di depan kita ini.”
“Pak, tolong jangan ganggu kami! Ini meja kami, masih banyak yang kosong di tempat lain jadi tolong pindah!”
“Sombong amat sih cantik!” Saat salah seorang pria itu hampir menyentuh wajah Devi tapi sebuah tangan seorang pria berhasil menghalanginya.
“Sorry, kami pikir mereka sendiri!” Dua pria itu langsung menyingkir karena takut pada Vando.
“Loh kalian pacaran? Sejak kapan?”
“Itu, sebenarnya beberapa hari yang lalu, nanti aku cerita saat di hotel oke, sekarang ayo kita bersenang-senang.”
Saat mereka kembali lagi ke hotel Khiren langsung mengentrogasi Devi yang tiba-tiba memberi dia kejutan tentang hubungannya dengan Vando pria bali campuran Australia itu.
“Jadi gimana ceritanya?”
“Cerita apa?”
“Ayolah! Kamu mau pura-pura gak paham?”
“Iya, iya aku cerita! Saat itu aku ke Bali buat liburan setelah wisuda sebelum kembali ke rumah dan menghampiri Farhan, Vando itu orang yang hangat dan pengertian, dia romantis dan yang paling penting dia itu mencintai aku.”
“Lalu Farhan gimana?”
“Aku akan putuskan dia hari ini juga, karena aku sudah memantapkan hati untuk memilih Vando sebagai calon suamiku.”
“Bagus kalau gitu, seenggaknya kamu tidak plin-plan dalam perasaan.”
Davi segera menghubungi Farhan.
__ADS_1
“Hallo! Dimas, Farhan ada di sana?”
“Ada, kenapa?”
“Aku mau bicara masalah penting tolong kasih handphonenya ke dia”
“Emm. Far, nih ada yang mau ngomong”
“Siapa?”
“Ngomong aja dulu!”
“Hallo! Farhan, aku ingin kita putus!”
“APA??? Kenapa tiba-tiba?” Farhan terdengar sangat Syok.
“Karena aku sudah mencintai orang lain, ini gak sepenuhnya salah kamu, tapi emang aku yang selama ini terlalu menuntut kamu untuk mencintai aku. Aku ingin membuka lembaran dengan orang itu Farhan, sekali lagi maaf!”
Farhan sesaat terdiam dan tidak menanggapi ucapan Devi, Farhan sangat syok hingga kehilangan kata-kata untuk menanggapi apa yang baru saja di ucapkan Devi padanya.
“Farhan! Kamu masih di sana? Fahan! Farhan! Jangan main-main!” Devi benar-benar khawatir ketika dia tidak mendengar suara Farhan tiba-tiba.
“Iya, iya aku masih di sini!” Suara Farhan terdengar sangat aneh dan membuat Devi semakin gelisah.
“Farhan apa kamu baik-baik saja?”
“Semoga kamu bahagia!” Lalu Farhan mematikan telpon itu.
“Khiren, bagaimana ini Farhan terdengar sangat syok, mungkin dia sedang sedih dan marah karena aku putuskan tiba-tiba.”
“Dia sedih kamu putusin? Hahahaha… Lelucon macam apa itu? Yang ada itu dia malah bersujud syukur kali Dev!”
“Masa sih dia sejahat itu?”
“Kamu gak tau aja sifat asli dia tu kek gimana di belakang kamu, udah lupain tu anak mending cerita tentang si tampan Vandomu itu!”
“Apaan sih Khiren bikin malu aja” Saat nama Vando di sebut Devi langsung tersipu malu dan wajahnya jadi terlihat merah jambu.
Disaat yang sama di kota paris diantara sekumpulan pria tampan yang sedang ngemil sambil main game, Farhan bersujud syukur dengan wajah terharu seakan dia baru saja mendapatkan sebuah hadiah yang paling di inginkan sedunia.
“Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah! Akhirnya engkau ijabah juga doa-doaku!”
“Lo kenapa Far?”
“Gue di putusin cuy!!!! Gue seneng banget akhirnya gue bebas dari cengkraman nenek lampir itu! Lo gak akan paham gimana rasanya jadi gue, ini adalah hadiah yang paling berkesan buat gue. Pokoknya hari ini kita harus merayakan kebebasan gue, gimana?”
“Sip sip! Yang penting di traktir, ya!”
“Gampang itu mah! Ayo kita party!!”
Bersambung…
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian untuk novel ini dengan meninggalkan like, vote dan reting 5. Selamat membaca.