
Di bulan kesembilan kehamilan Khiren, dia mulai merasa gelisah, lebih gelisah di banding rencananya yang hampir gagal, tak hanya Khiren yang gelisah menanti waktu kelahiran anak pertamanya tapi juga Mex yang kini akan menjadi seorang ayah. Karena beberapa alasan dokter Khiren menyarankan agar tidak memaksakan diri untuk melakukan persalinan secara normal, karena itu hari ini dia akan melakukan operasi dengan dokter terbaik yang dia miliki. Semua telah di persiapkan dengan sangat hati-hati, bahkan di sekitar rumah sakit itu di berikan penjagaan sangat ketat.
"Pastikan istriku selamat, paham!" Ucap Mex pada dokter yang akan mengoperasi Khiren.
"Saya paham, pak. Tolong tenangkan diri anda, kami akan melakukan yang terbaik untuk keduanya." Lalu dokter itu pun masuk ke dalam ruang operasi.
Dalam hati Mex terus berdoa tentang keselamat istri tercintanya, dia takut sesuatu buruk terjadi pada Khiren. Dia memang menginginkan seorang anak tapi dia tidak ingin kehilangan Khiren hanya karena seorang anak.
"Khiren, tolong tetap bertahan untukku" Ucapnya dalam hati sambil terus memandingai pintu ruang operasi.
Beberapa menit kemudian suster membawa keluar seorang bayi laki-laki yang terus menangis tak henti dan memberikannya pada Mex yang dari tadi mondar-mandir di depan ruang operasi.
"Bagaimana dengan istri saya?" Tanya Mex yang masih terlihat khawatir.
"Apa sudah lahir?" Kentaro ayah dari Khiren langsung menghampiri cucunya yang sedang di gendong oleh Mex.
__ADS_1
"Pa, tolong jaga dia" Mex memberikan bayi mungilnya yang terlihat sangat menggemaskan itu pada mertuanya, lalu ia mencoba menghampiri Khiren yang bar saja keluar bersama dengan beberapa perawat dan dua orang dokter di sampingnya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mex dengan wajah paniknya.
"Semuanya baik-baik saja, tuan tidak..." Belum selesai dokter bicara Mex langsung memotong ucapan itu dengan menggenggam tangan istrinya yang masih terbaring lemas di tempat tidur, "Khiren, kamu akan baik-baik sajakan? Tolong katakan sesuatu? Aku tidak bisa jika kamu meninggalkanku sekarang! Khiren! Sayang! Tolong jawab aku" Airmatanya mulai mengalir tak henti dengan tangan bergetar saat menggenggam tangan dingin Khiren.
"Hai, kamu terlalu berisik! Biarkan aku beristirahat!" Ucap Khiren dengan tangan memukul pelan kepala Mex. "Kamu membuatku malu, dimana pria kekar yang tegas itu? Kenapa kamu jadi pria cengeng seperti ini?" Ucap Khiren pada Mex yang mulai berhenti menangis.
"Maafkan aku, aku hanya takut kehilangan kamu"Ucap Mex yang mencoba menghapus air matanya.
"Hai anak muda, jangan berlebihan! Apa kamu pikir putriku selemah itu?" Ucap Kentaro dengan tangan masih menggendong bayi.
Para sahabat Khiren mulai berdatangan dan menghampiri bayi lucu yang belum bernama itu.
"Alca aja gimana namanya?" Ucap Aldo.
__ADS_1
"Woi, ini bukan anak lo! Biar bapaknya aja yang kasih nama!" Farhan memukul pelan kepala belakang Aldo.
Mex tidak peduli dengan perdebatan itu dan dia hanya fokus pada Khiren. Khiren di bawa di ruang VIP terbaik rumah sakit itu. Mex tidak melepas pandangannya dari Khiren yang sedang lelap karena pengaruh obat tidur.
"Hai, kamu tidak berencana memberi nama pada putra kecilmu?" Tanya Morlin pada Mex yang masih terlihat khawatir pada Khiren.
"Biar papa mertua yang memberikan nama untuk bayi kami" Ucap Mex yang tidak menoleh dari Khiren.
"Dasar bucin gila, dah lah!" Morlin membawa bayi itu ke Kentaro untuk di beri nama.
Setelah pertimbangan panjang akhirnya bayi itu diberi nama "Li Kenzo" oleh kakek Monica dan Kentaro.
Dua hari setelah itu keluarga besar Khiren mengadakan acara syukuran atas kelahiran putra Khiren. Acara itu cukup meriah dan hadiri oleh beberapa penjaga, pengusaha besar dan beberapa aktor dan penyanyi terkenal yang memiliki hubungan baik dengan Khiren.
Pada awalnya semuanya aman-aman saja, semua terasa tidak ada yang perlu di khawatirkan namun sesuatu terjadi setelah acara itu selesai di gelar. Li Kenzo tiba-tiba menghilang bersama dengan 3 penjaga dan seorang pengasuh Li Kenzo. Semua orang panik termasuk Khiren dan Derend kecil yang tidak sengaja melihat adegan penculikan saat sedang bersembunyi di kamar Li Kenzo untuk menghindari dua paman kembarnya yang sedang mencarinya.
__ADS_1
Dengan penuh ketakutan Derend menceritakan apa yang dia lihat pada Khiren dan entah kenapa setelah beberapa tahun berlalu, Khiren hanya bisa memikirkan satu nama yang memiliki kemungkinan terbesar untuk melakukan hal gila itu pada bayi kecilnya yang sangat menggemaskan itu. tanpa pikir panjang Khiren mengerahkan semua bawahannya untuk mencari keberadaan Revan. Dia cukup yakin kalau yang mengambil bayinya adalah Revan, dia mencoba untuk tenang dan memikirkan tempat yang mungkin Revan kunjungi.
Bersambung dulu