
Sebenarnya Mex ingin sekali memanggil nama Khiren tapi, setiap dia mencoba pasti akan sulit untuk keluar. Dia merasa bersalah pada Khiren karena itu dia pergi ke taman bekang dan berlatih memanggil nama Khiren dengan lancar.
“KHIREN! Khiren… Khiren! Padahal gampang tapi, kok susah kalau di depan Khiren? Atau karena tidak ada orang di depanku.”
Lalu seorang penjaga melintas di depan Mex yang sedang berlatih memanggil nama Khiren dengan akrab.
“Hai kamu ke sini dulu!”
“Saya, pak?” Penjaga itu terlihat kebingungan karena sebenarnya dia hanya akan melintas saja.
“Iya, kamu! Cepat kesini!”
Penjaga itu pun mendekati Mex yang sedang duduk di kursi.
“Ada apa pak?”
“Kamu lihat saya dan jangan bicara apapun, anggap aja kamu Khiren”
“Siap, pak!”
“Khiren! Khiren! Eum… kalau cuma panggil gak jelas gitu, gak akan enak jadinya. aku harus mengatakan sesuatu.”
Penjaga itu terlihat dengan sekuat tenaga menawan tawanya karena dia menyadari kalau Mex sedang berlatih memanggil Khiren dengan nada akrab selayaknya pasangan.
“Khiren, apa kamu mau sesuatu? Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat? Apa bisa kita bergandengan tangan?”
Lalu Khiren pun muncul dari belakang Mex tanpa suara hingga dia benar-benar hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
“Gendengan tangan? Tidak buruk! Ayo lakukan!”
Penjaga itu pun menghilang seakan dia mempunyai jurus menghilang bak ninja.
“Khiren! Sejak kapan kamu di sini?” Mex tanpa saja menyebut nama yang biasanya di ucapnya kaku.
“Karena kamu sudah bisa memanggil namaku dengan benar dan tidak kaku lagi, pertarungan malam ini di ganti dengan jalan-jalan. Ayo kita jalan-jalan sebentar keliling taman.” Khiren menarik Mex yang masih duduk di kursi dan menggandeng tangannya selayaknya kekasih sungguhan.
Mereka berjalan-jalan santai mengitari taman yang cukup luas. Mex masih kaku dan hampir tidak bisa mengendalikan ekspresinya yang malu karena Khiren menggandengnya dengan mesra. Sejujurnya Mex sudah pernah memimpikan hal itu sebelum dia berstatus sebagai calon suami Khiren tapi, dia tidak pernah menyangka mimpi itu bisa jadi nyata dan sekarang dia sedang berjalan santai dengan berdua dengan wanita yang sangat dia kagumi dari dulu.
“Mex, bagaimana dengan perusahaan yang aku hadiahkan padamu?”
“Semua berjalan lancar”
“Benarkah? Apa tidak masalah kamu terlalu memaksakan diri, kamu mengurus semua urusanku dan di tambah kamu harus mengurus perusahaan itu.”
“Bukan masalah besar, selama anda bahagia saya akan melakukan apapun”
“Mex, mex mex! Kamu masih sama saja seperti dulu, tidak ada perubahan sama sekali, kamu selalu mengutamakan diriku, selalu mengatakan hal gombal seperti ‘akan melakukan apapun untuk anda’ atau ‘jiwa dan raga saya seutuhnya milik anda’ apa kamu tidak merasa kalau itu terlalu berlebihan?”
“Tidak ada yang berlebihan jika itu untuk anda, saya senang melakukan itu semua untuk anda, masterku, calon istriku, tuanku, dan jiwaku”
“Hahah… Kamu suka sekali gombal dengan ekspresi serius, ya? Sudahlah, bersiap untuk menemui Ayahku malam ini”
__ADS_1
“Anda tidak sedang bercandakan? Kenapa mendadak sekali? Saya bahkan tidak mempersiapkan hadiah yang harus di berikan”
“Dasar kamu ini! Sudah aku katakan kalau hal semacam itu tidak perlu, kamu hanya perlu menemui ayahku dan bicara sopan, dan yang pastinya jawab saja apa yang dia tanyakan dengan jujur maka, semuanya akan beres.”
“Tidak bisa begitu, bagaimana mungkin saya menemui beliau dengan tengan kosong” Mex benar-benar tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
“Sudah, sudah! Aku tahu kamu akan mengatakan hal itu, jadi tadi aku sudah memesan jam tangan antik dari tokoh langganan ayahku, barangnya sedang di jemput oleh orang suruhanku jadi kamu jangan khawatir.”
“Syukurlah, tapi saya merasa tidak enak karena…”
Lalu Khiren menutup mulut Mex dengan tengannya.
“Tutup mulut manismu itu atau kamu akan melihat kemarahan yang belum sempat aku keluarkan padamu, paham?” Khiren bicara dengan nada dingin tapi di akhir kata dia tersenyum seakan apa yang baru saja dia ucapkan adalah hal biasa.
“Baik” Ucap Mex dengan sangat patuh.
***
Malam tiba, di depan sebuah hotel mewah nan megah itu Khiren dan Mex berdiri di depan pintu masuk karena Mex masih ragu untuk menemui calon mertua yang biasanya hanya dia lihat di berita saja.
“Kenapa lagi?” Khiren menatap Mex yang terlihat gugup di sampingnya.
“Saya gugup”
“Mex, jangan membuatku mengulang ucapanku, paham?”
“Maafkan saya”
“Ayo masuk!” Ajak Khiren pada Mex yang terlihat sangat amat gugup.
“Mex, tenangkan dirimu, Ayahku tidak itu baik dan ramah jadi santai saja.”
“Kalau saya membuat kesalahan bagaimana?”
“Tidak akan, tenang saja”
“Baiklah”
Mex terlihat masih ragu untuk masuk tapi, karena Khiren menariknya paksa akhirnya mereka berada di ruangan itu. Mereka masuk dan mencari Ayah Khiren, mereka melihat kearah kursi di di dekat jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan malam yang sangat cantik dari kota itu.
“Selamat malam, ayah mertua” Mex memberikan salam dengan ekspresinya yang masih terlihat gugup.
“Hahahha…” Saat mendengar salam dari Mex, Kentaro langsung tertawa karena mendengar dirinya di panggil Ayah mertua oleh seorang yang belum resmi menikah dengan putrinya.
“Silahkan duduk” Kentaro mempersilahkan Mex untuk duduk setelah dia selesai tertawa.
“Bagaimana kabarmu, gadis kecilku?!”
“Ayah, aku sudah dewasa, berhentilah memanggilku begitu!”
“Iya, iya baik lah, gadis kecilku”
__ADS_1
“Ayah!”
“Baik, baik! Siapa nama aslimu!” Kentaro mulai fokus pada Mex yang duduk di samping Khiren.
“Nama asli saya adalah Michael Erik Xavier, karena menurut Khiren itu terlalu ribet makanya dia memanggil saya Mex dari dulu hingga sekarang.”
“Kalian sudah kenal lama?” Kentaro mulai dalam mode introgasi.
“Saya mengenal Khiren sejak usia dia 16 tahun, liburan musim panas di Amerika.”
“Jadi itu alasan kamu sering pergi ke Amerika dan bukannya ke Jepang?”
Khiren hanya tersenyum pada kearah Ayahnya tanpa berkata apapun.
“Dan kamu!” Menatap tajam kearah Mex.
“Iya, ayah mertua!” Menjawab dengan cepat karena terkejut karena bentakan dari Kentaro.
“Khiren bisa tinggalkan kami sebentar?”
“5 menit! Aku akan pergi ke luar sebentar dan kalian bicara dengan cepat karena aku tidak suka menunggu!” Lalu Khiren pergi meninggalkan dua pria itu.
Mex terus saja memandangi Khiren hingga dia tidak melihat bayangan Khiren lagi.
“Berhenti menatap putriku! Lalu kamu, apa kamu mencintainya?”
“Saya siap mengorbankan jiwa raga saya untuknya!” Mex terlihat sangat serius menanggapi ucapan Kentaro.
“Jangan berlebihan begitu, saya hanya bertanya apa kamu mencintai putri saya itu saja, jangan pakai gombal segala!”
“Saya mencintai Khiren dari lubuk hati saya yang terdalam, bahkan saya bisa memberikan apapun termasuk jiwa dan raga saya jika dia memintanya.”
“Wah… Luar biasa juga ya rasa cintamu padanya, kalau begitu apa kalian sudah menentukan kapan tanggal pernikahannya?”
“Belum, saya masih menunggu perintah dari Khiren”
“Kalian ini mau nikah atau mau kerja, sih? Kenapa harus ada perintah-perintah dulu? Sudahlah!”
Lalu tiba-tiba saja keheningan datang, tidak ada satu katapun yang mereka bicarakan tapi, Kentaro terus saja menatap Mex seakan menceri celah darinya.
“Mex, tolong jaga putri saya yang berharga itu dan tolong bersabar dengan sikapnya yang kadang keras kepala seperti ibunya, lalu kamu jangan pernah sekalipun kasar padanya”
“Saya tidak akan pernah melukai Khiren, ayah mertua”
“Saya jadi merasa canggung tiap kali kamu memanggil saya dengan sebutan ayah mertua. Lalu sebenarnya saya mengatakan untuk jangan pernah kasar pada Khiren bukan karena saya berpikir Khiren akan terluka karena kamu tapi, sebaliknya, kamu akan terluka karena Khiren”
“Maksud ayah mertua apa?”
Bersambung…
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan reting 5 untuk novel ini
__ADS_1