
Selesai dengan makan siang singkatnya, Khiren dan Revan pun pergi menuju rumah orang tua Revan. Awalnya Khiren tidak mau ikut tapi dengan ancaman anak yang ada pada Revan, terpaksa dia mengikuti perintah Revan.
Sesampai di sana, keduanya langsung disambut ramah oleh kedua orang tua Revan, meski jelas ayah revan masih tidak mungkin bicara dengan nada lembut pada Khiren, mengingat Khiren adalah alasan terbesar anaknya berubah menjadi pria gila dan pembangkang bahkan dia hampir mengakhiri hidupnya setelah di tinggal Khiren.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya si pria yang tingginya mungkin 190 cm, dengan wajah garang seperti seorang bos mafia pada umumnya.
“Saya baik” Jawab santai Khiren.
Keduanya diarahkan ke ruang keluarga.
“Khiren, mau makan apa?” Tanya sang ibu dengan nada ramah.
“Tidak ada, saya sudah makan.” Khiren masih memperlihatkan batas yang cukup jelas antara orang tua Revan dan dirinya.
Khiren mencoba duduk jauh dari Revan tapi tiap kali dia menggerakkan pantatnya, maka si Revan juga akan bergeser mengikutinya. Hingga pada akhirnya dia berhenti bergerak dan membiarkan Revan menempel padanya. Tangan Revan yang sangat tidak ramah terus saja mengusap-usap tangan khiren meskipun Khiren terus saja menepisnya, tapi sayangnya tangan Revan selalu berusaha untuk menyentuh tangannya dan lagi-lagi pada akhirnya dia hanya bisa diam dan membiarkan tangan Revan menggenggam tangannya.
“Jadi kapan kalian akan rujuk?” Tanya sang ayah tanpa basa-basi hingga membuat Khiren hampir mengeluarkan matanya dari kerangka.
“Kenapa kamu terburu-buru, dia bahkan masih belum bercerai dari suaminya” Ucap sang ibu dengan sebuah tawa ringan.
‘Ada apa dengan keluarga ini, apa mereka masih waras?’ Pikir Khiren.
“Bu, aku ingin segera menikahi Khiren setelah dia resmi bercerai dengan orang itu” Ucap Tegas Revan.
‘Bisa nggak kalau aku mati aja, capek banget deh hidup kek gini’ Keluh Khiren dalam hati.
“Lalu kapan kamu akan bercerai?” Tanya si Ayah dengan nada dingin.
“Hah? Apa?” Khiren yang masih berenang dalam lamunan cukup terkejut dengan pertanyaan dari ayah Revan.
“Kamu pakan cerainya, sayang” Ulang Revan.
‘Nggak ada pertanyaan lain apa? Kenapa juga mereka buru-buru, padahal aku sendiri masih bingung bagaimana menyelesaikan semua ini… aku tidak benar-benar berniat menceraikan Mex, tapi aku juga tidak ingin putraku mendapat masalah’
“Sayang, kenapa kamu diam?” Tanya Revan.
“Aku … Bisa permisi ke toilet dulu?” Khiren buru-buru keluar dari suasana yang cukup menekannya itu dan mencari keberadaan toilet.
__ADS_1
“Ada apa dengannya?” Tanya Revan yang melihat Khiren pergi dengan terburu-buru.
“Ada apa kamu tanya? Bukan sudah jelas kalau pertanyaan ayahmu sudah menyinggungnya. Lagian kenapa kamu harus merusak pernikahan orang? Biarkan saja dia bersama suaminya. Kamu masih punya kesempatan untuk menikahi wanita yang lebih baik dari Khiren, nak!” Nasehat Ibu Revan pada anaknya yang keras kepala.
“Tapi dia milikku, sejak awal dia milikku, aku tidak akan melepasnya lagi, bu!”
“Kamu dan ayahmu sama saja, sangat susah di nasehati! Lakukan sesuka kalian, tapi ingat jangan pernah sekalipun kamu mencoba membunuh anak Khiren!” Tegas sang ibu.
“Aku memang membencinya tapi aku tidak ingin membunuh anak dari wanita yang aku cintai meski dia bukan darah dagingku, bu!”
Tak lama kemudian Khiren kembali, “Tante, om. Saya pamit” Lalu Khiren segera melangkah keluar dengan cepat sebelum Revan berhasil menahannya.
Langkah Khiren cepat hingga terlihat seperti sedang berlari kecil, Revan di belakang mencoba mengejar langkanya, ia berlari sekuat tenaga hingga bisa meraih tangan kecil Khiren.
“Mau kemana?”
“Bukan urusanmu!” Dilepasnya tangan yang mengunci tangannya dengan kasar, dilemparnya tatapan tajam ke arah Revan.
“Kenapa tiba-tiba kamu marah?” Tanya Revan yang tidak mengerti apa alasan calon istrinya itu murka.
Khiren tidak menjawab pertanyaan itu namun dia kembali meneruskan langkahnya dengan cepat menuju mobil yang sudah menunggunya di luar pagar rumah orang tua Revan.
Padahal Khiren bukan orang yang punya kelemahan dan mudah dikendalikan tapi begitu itu menyangkut putranya, maka semua jadi berbeda, dia tidak bisa melakukan apapun, melawan pun percuma, karena yang dipertaruhkan dalam semua tindakannya itu nyawa putranya. Khiren berhenti, dia mematung dan berbalik melihat ke arah Revan.
“Apa maumu? Bisa tidak kamu menukar nyawa anak itu dengan nyawa ku saja, aku lelah dengan semua ini! Aku muak, aku tidak bisa lagi!” Air mata Khiren mulai berjatuhan.
Padahal wanita itu bukan orang yang mudah mengekspresikan kesedihannya, bahkan dia hampir tidak pernah terlihat mengeluarkan air matanya, selain di hari pemakaman Emilly, atau hari anaknya lahir. Ditutup wajahnya dengan kedua telapak tangan putih dan mulus milik Khiren.
Revan, melangkah cepat dan memeluk si wanita yang sedang larut dalam kesedihan yang tidak dia tahu dari mana sumbernya.
“Kenapa? Ada apa? Kenapa kamu menangis?”
Fresh back On
Beberapa menit yang lalu di kamar mandi, Khiren terus mantap cermin sambil bermonolog dengan suara kecil.
“Kamu tidak mungkin terus begini bukan?”
__ADS_1
“Tidak, tidak boleh! Jangan biarkan kamu dikendalikan oleh manusia itu! Khiren, kamu harus mencari cara agar dia bertekuk lutut padamu!”
“Dia dan keluarganya tidak pantas untukmu! Mereka sama-sama gila, ayo keluar dari rumah sialan in!”
Dring… Dring..
Sebuah panggilan masuk dan tertera jelas nama yang muncul di layar ‘Mexx (suami)’
Segera dia menjawab panggilan itu, “Hallo! Ada apa?” tanya nya.
“Nona, suami anda mengalami kecelakaan, sekarang dia berada di rumah sakit xxx….”
“Bagaimana keadaannya?”
“Tadinya dia kritis tapi, dokter mengatakan kalau beliau sudah berpulang. Maafkan saya yang tidak bisa menyelamatkannya” Ucap si pria asing itu.
Begitu mendengar kabar buruk itu, jantung Khiren rasanya sudah rembuk dan tak berbentuk, rasanya sangat sesak dan sakit.
Fresh back off.
“Khiren, coba bicara yang jelas. Apa masalahnya?” Revan terus memeluk Khiren meski Khiren tidak membalas pelukannya.
“Revan, katakan kalau itu ulah mu bukan? Kamu pasti yang mencelakai nya?” Ucap Khiren frustasi.
“Hah? Siapa yang aku celakai?” Revan masih tidak paham ke arah mana pembicaraan itu.
“Revan, tolong bunuh aku saja! Aku lelah, aku lelah!” Keluh Khiren frustasi.
Revan melepas pelukannya, lalu menatap si wanita yang wajahnya sudah basah dengan air mata.
“Khiren, tatap aku! Khiren! Lihat, katakan apa masalahnya!” Tegas Revan dengan menaikkan nada bicaranya hingga Khiren pun reflek mengikuti perintahnya.
Keduanya saling bertatapan, terlihat mata cantik itu menyimpan rasa bersalah, rasa putus asa, dan amarah. Tangan Revan meraih wajah Khiren dan mulai menghapus air mata yang terus mengalir bak air terjun.
“Apapun masalahnya, kita bisa lewati bersama, aku akan selalu bersamamu! Khiren, aku tidak tahu apa masalahmu kali ini tapi, jangan pernah memikirkan untuk mati. Aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan ku lagi” Dipeluknya lagi tubuh Khiren yang kini mulai melemah.
Tak butuh waktu lama akhirnya Khiren mulai kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
OCI: Apakah sudah taman? .....
Tentu belum sayang, masih ada beberapa bagian terakhir dan ini tidak akan lebih dari 4 atau 5 bagian lagi.