
Khiren sangat terpukul setelah kehilangan Emilly dan Samuel, dia jadi lebih pendiam dan tidak ada yang berani mendekatinya selain Mex.
“Apa kamu masih memikirkannya?” Tanya Mex pada Khiren yang terus memandangi foto Emilly.
“Mex, aku merasa gagal dan menyedihkan. Aku merasa telah hancur dan aku…”
Mex langsung memeluk Khiren yang sedang berada dalam keadaan yang sangat frustasi karena kepergian Emilly.
“Kamu tidak gagal, kamu sudah melakukan semua yang kamu bisa untuk menyelamatkan mereka tapi, mungkin ini adalah bagian dari takdirnya yang tidak bisa kita ubah. Percayalah, dia lebih bahagia disana bersama dengan Samuel.”
“Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya” Air mata yang sudah lama Khiren bendung pun akhirnya pecah dan dalam pelukkan Mex yang hangat Khiren meluapkan semua kesedihannya. “Maafkan aku… Maafkan aku…”
“Kamu tidak perlu minta maaf, tidak ada yang salah. Kamu hanya perlu mengikhlaskan mereka.” Tangan Mex mulai meraih kepala Khiren dan dengan lembut mengelus kepala Khiren.
“Sayang!” Seorang pria berkemeja hitam tiba-tiba datang.
“Ayah…” Khiren segera berlari ke arah Ayahnya dan memeluk Ayahnya.
“Ayah, aku telah kehilangan mereka, aku tidak bisa menjadi saudara yang baik untuk Emilly dan Samuel. Ayah, aku telah gagal!”
“Khiren, putri kecilku. Coba lihat Ayah! Kamu putri kesayangan ayah yang sangat kuat, dia tidak akan pernah menyerah walau pernah kalah. Satu kegagalan tidak berarti kamu kehilangan segalanya. Lihat sekarang, meski kamu kehilangan dua orang yang paling kamu percaya dan sayangi tapi, kamu masih memiliki Derend. Kamu dan Mex harus menjaga dia sebagai orang tua pengganti, cintai dia dan jaga dia sebagai anak kalian mulai sekarang.”
“Derend? Dimana dia, Ayah?”
“Bundamu sedang menjaganya bersama adik-adikmu.”
“Bunda? Kenapa Bunda disini?”
“Temuilah dia, nak. Kalian perlu bicara, ini sudah cukup lama dan dia sudah menyadari kalau dia melakukan kesalahan.”
“Tapi Ayah, bagaimana dengan…” Khiren melirik ke arah Mex yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
“Khiren, aku tidak apa-apa, kamu temui saja Bundamu, aku akan bicara dengan Ayah di sini.”
“Tidak nak Mex, kamu juga perlu menemui Bunda Khiren. Kalian bertiga perlu bicara, cepat atau lambat dia harus menerima keberadaanmu sebagai menantu kami.”
“Baik, Ayah. Saya dan Khiren akan menemui Bunda sekarang. Kalau begitu kami permisi dulu.”
“Eum” Kentaro Khiren mengangguk sambil tersenyum ke arah kedua orang yang terlihat ragu untuk melangkah menemui.
Sambil bergandeng tangan keduanya pergi ke arah kamar utama, tempat Ana Winata yang merupakan Bunda Khiren berada bersama dengan si kembar yang sudah tertidur lelap bersama dengan Derend di tengah kedua anak kembar itu.
“Bunda!” Khiren menggenggam kuat Mex seakan-akan Mex akan hilang.
“Khiren?!” Ana cukup kaget melihat putri yang sudah lama tidak ditemui datang menemuinya dengan seorang pria yang baru dinikahi tanpa persetujuan darinya.
“Bunda, saya Mex suami Khiren.”
“Bunda? Panggil saya Tante saja, saya masih tidak menyetujui hubungan kalian!”
“Bunda!” Bentak Khiren pada Ana yang bersikap dingin pada Mex.
“Bunda, aku tidak suka nada bicara Bunda yang dingin dan kasar pada Mex. Sebenarnya aku datang kesini karena Ayah memintaku menemui Bunda dan memperbaiki hubungan kita tapi, kalau Bunda bersikap seperti ini pada Mex, lupakan saja. Sebaiknya kita tidak bicara selamanya.”
“Khiren, jangan begitu. Percayalah, Bundamu tidak bermaksud buruk. Aku tidak apa-apa dengan sikap Bundamu, selain itu aku rasa wajar kalau Bundamu marah padaku karena saat aku menikahimu, aku tidak pernah menemuinya dan meminta restu.”
“Restu? Untuk apa? Ada atau tidak ada restu dari Bunda, kita tetap akan menikah. Lagian setelah kejadian waktu itu, Bunda tidak punya hak lagi mengaturku.”
“Khiren, mau bagaimanapun dia itu orang tuamu dan tidak akan mungkin kamu memutuskan hubungan kalian karena mau bagaimanapun dia dan sebenci apapun kamu padanya tetap saja hubungan darah kalian tidak akan pernah bisa dihapus atau diputuskan.”
“Mex, berhentilah membelanya! Bunda saja tidak menyukaimu dan bersikap dingin pada kamu lalu apa gunanya kamu membelanya.”
“Khiren, coba tenang dan dengarkan aku dulu. Setidaknya saat ini kamu masih memiliki kedua orang tua, lihat aku yang tidak punya siapapun lagi selain kamu.”
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Mex, Khiren pun terdiam. Dia menatap kearah Bundanya, lalu kembali menatap Mex yang tangannya tidak dilepas sejak dari tadi.
“Baiklah, kali ini aku tidak mempermasalahkan sikap Bunda yang dingin dan kasar padaku tapi, ini hanya karena kamu memintanya. Dan untuk Bunda, terima kasih karena telah menjaga Derend untukku, lalu sekarang apa Bunda ingin mengatakan sesuatu?” Ucap Khiren yang berusaha untuk bersikap lembut pada Ana.
“Bunda ingin minta maaf untuk semua hal yang terjadi terutama untuk yang barusan, maaf bunda belum terbiasa berlapang dada dalam banyak hal tapi, bunda akan mencoba untuk berubah demi kalian dan demi kamu putri Bunda, Khiren.”
“Khiren juga minta maaf karena bersikap kasar pada Bunda, tapi Khiren harap Bunda tidak akan lagi memaksa siapapun untuk ikut perjodohan dengan apapun alasan yang kalian punya.”
“Bunda berjanji. Sekarang apa Bunda boleh memeluk kalian?”
“Tentu saja?”
Lalu Khiren dan Mex memeluk Ana dengan sangat erat, meski ada banyak masalah yang terjadi beberapa tahun terakhir tapi, pada dasarnya dia mencintai putri yang dilahirkan meskipun dia tidak bisa membesarkannya sendiri. Banyak penyesalan yang tidak bisa dia ungkapkan pada dunia tentang rasa kecewanya pada dirinya yang selalu mementingkan ego dan membuat putri kecilnya terluka dengan semua pilihan dan keputusan yang dia buat untuk hidup Khiren.
“Terima kasih karena kalian memberikan Bunda kesempatan untuk menebus semua kesalahan bunda.”
“Khiren, sayang bunda.”
“Bunda juga menyanyi mu, Khiren putriku.”
Setelah berpelukan, Ana menganggap kedua tangan putri satu-satunya itu dan menatapnya dengan tatapan yang mendalam.
“Bunda telah melewatkan setiap waktu pertumbuhan dan sekarang kamu sudah menjadi seorang wanita cantik yang sukses. Lalu kamu Mex, jangan pernah mencoba menyakiti putri kami karena jika dia terluka kami akan membalasnya lebih dari apa yang kamu berikan padaku, paham!”
“Baik, Bunda. Saya berjanji akan menjaga dan mencintai Khiren sepenuh hati.”
“Bagus! Kalian harus menjadi keluarga yang saling melindungi dan mencintai agar Derend bisa tumbuh menjadi anak yang penuh kasih sayang dari keluarga yang utuh. Dan, segeralah beri dia adik kecil yang mungil.”
“Bunda… ish, kenapa membahas hal itu sekarang, Derend masih kecil dan kami belum membicarakan masalah anak, yakan Mex?”
“Aku tidak masalah, semua keputusan ada padamu.” Ucap Mex dengan senyum tulusnya.
__ADS_1
Lalu ketiganya tersenyum penuh makna, saling menatap tanpa berkata-kata.
Setelah hari itu Khiren semakin dekat dengan Ana, dia belajar banyak tentang mengurus bayi. Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa kepergian Emilly sudah lebih dari satu tahun dan Derend kini sudah tumbuh menjadi anak yang aktif, dan banyak kejutan di tahun itu yang tidak terduga. Khiren hamil setelah sedua menikah akhirnya dia memiliki bayi dalam kandungannya sendiri, dan kemunculan Winata yang merupakan kakek Khiren yang selama ini diduga sudah meninggal dunia. Ternyata selama ini Winata berada di Jerman dan mendapatkan perawatan khusus di sebuah rumah miliknya yang tidak diketahui siapapun selain putra pertama dan sekretarisnya yang mengurus semua keperluan dan penyediaan tenaga medis untuknya selama bertahun-tahun.