Love Scenario V2

Love Scenario V2
Spesial 6


__ADS_3

Siang itu, tepat jam 12 Khiren sedang sibuk dengan Derend yang masih mengalami trauma setelah melihat sendiri adiknya di culik di depan matanya.


“Ma, apa adik kecil baik-baik saja?” Tanya anak dengan mata polosnya.


“Tentu saja, dia akan baik-baik saja. Berhenti memikirkan itu, bagaimana kalau kita bermain?”


“Tapi Ma, aku merindukan adik kecil.”


Mendengar hal itu, tiba-tiba dada Khiren terasa sedikit sesak, ada dorongan keras dalam dadanya yang membuat dia merasa sesak dan sulit bernapas. Khiren pun segera menarik Derend kecil ke dalam pelukannya.


“Semua akan baik-baik saja, aku berjanji akan mengembalikan adikmu. Jangan menangis, kamu harus lebih kuat dariku, kamu anakku dan kamu dilarang untuk menjadi lemah, paham?” Ucap Khiren sambil mengelus rambut Derend.


“Eum” Derend mengangguk patuh.


Tak lama seorang penjaga datang.


‘tok tok tok’


“Permisi nyonya, apakah saya boleh masuk?” Tanya penjaga itu yang masih tidak berani membuka pintu.


“Masuk!” Perintah Khiren. “Apa yang ingin kamu sampaikan?”


“Seorang utusan dari tuan Revan datang, ia mengatakan kalau dia diminta menjemput anda.”


“Hah?! Sekarang dia dimana?”


“Orang itu menunggu di luar pagar rumah, kami menahannya karena anda memerintahkan untuk menolak semua orang yang ingin menemui anda saat ini.”


“Lalu apa yang perlu kamu tanyakan lagi? Usir orang itu dan jangan laporkan apapun jika itu masih berhubungan dengan bajingan itu, PAHAM!” Bentak Khiren kesal.


“M-maafkan saya Nyonya, saya melakukan kesalahan, kami akan membereskan orang itu untuk anda. Kalau begitu saya permisi!” Penjaga itu pun berlalu.


Khiren lupa kalau dia sedang bersama dengan Derend yang masih dalam situasi syok karena masalah penculikan itu. Derend sangat syok melihat Khiren yang biasanya tidak pernah meninggikan suara padanya dan bahkan tidak pernah marah pada siapapun jika ada dirinya tiba-tiba lepas kendali.


Khiren menatap ke arah Derend yang terlihat syok, “Maafkan Mama sayang, harusnya Mama tidak meninggikan suara di depanmu, maafkan mama” Khiren memeluk dan mencoba menenangkan Derend.


Selama dalam pelukan Khiren, Derend hanya diam membisu tanpa ada suara hingga sebuah notif pesan masuk.


‘ting ting’

__ADS_1


Pesan dari Revan masuk.


“Kenapa kamu tidak mau aku jemput?”


Khiren hanya membaca pesan itu di layar tanpa membukanya, lalu pesan lain masuk secara berurutan.


“Apa kamu tidak ingin melihat anakmu lagi? Ah, aku pikir anak dari adik angkat mu sudah cukup untuk kamu yang tidak pernah benar-benar ingin anak sendiri, bukan? …. Berhenti main-main denganku, jika kamu benar-benar menginginkan putra mu itu…. Temui aku sekarang!.... Waktumu hanya 20 menit dari sekarang… Pikirkan baik-baik, tidak ada kesempatan lain lagi kali ini.”


Lalu Revan juga mengirim pesan suara yang berisi tangisan Li kenzo.


“Bajingan sialan! Sebenarnya apa sih mau dia? Rasanya aku ingin segera melenyapkannya! Ah!” Teriak Khiren dalam pikirannya, dia mencoba menahan semua kata-kata yang ada di kepalanya agar Derend tidak mendengar kata-kata buruk dari mulutnya.


“Derend sayang, kamu makan dengan suster mu lalu setelah itu istirahat, ya sayang”


“Mama tidak makan bersamaku?” Tanya dengan suara dan tatapan polosnya yang membuat Khiren hampir tidak bisa menolaknya tapi, dia sadar jika dia memilih tinggal maka nyawa Li Kenzo akan melayang.


“Lain kali kita akan makan bersama, aku berjanji padamu!” Lalu Khiren mencium kening putra kecilnya yang menggemaskan itu. “Jangan nakal, ya sayang”


“Baik, ma”


Khiren memberi kode pada suster yang merawat Derend untuk menggantikan dia menemani Derend, lalu dia pun segera pergi ke alamat yang dikirim oleh Revan padanya.


“Tuan meminta anda untuk makan terlebih dulu karena tuan sedang ada rapat di ruangan lain, ia segera datang menghampiri anda.” Ucap pelayan itu.


“Oke, kalian bisa pergi”


“Baik, nona”


Lalu semua pun pergi dari ruangan itu.


Makanan yang dihidangkan terlihat sangat menggoda tapi, selera makan Khiren sudah lama hilang dan semua hidangan itu tidak bisa membuat dia ingin menyentuh apalagi memakannya. Jika selama ini dia tetap makan sesuatu, itu bukan karena dia menyukai nya tapi karena dia mencoba menunda kematiannya setidaknya sampai anaknya ditemukan dan kembali pada tangan nya.


Makanan lezat yang memenuhi meja itu hanya disentuh sesekali dan di acak-acak seolah dia sedang mencari sesuatu tapi pada akhirnya tidak ada satupun yang berhasil masuk kedalam mulutnya selain air putih yang ada di gelasnya. Beberapa menit berlalu dengan cepat tapi dia masih saja sama, dia hanya bermain-main dengan makanan itu tanpa ada niat untuk memakannya.


‘kleek!’


Pintu terbuka dan terlihat pria tinggi, putih dengan paras sesempurna pangeran dari negeri dongeng pun masuk ke ruangan itu. Khiren hanya menoleh sekali kearah suara pintu yang terbuka dan beberapa detik kedua pasang mata itu saling bertatapan, lalu mata Khiren kembali fokus pada makanan yang sudah jadi mainan untuknya dari sejak beberapa menit lalu.


“Apa makanannya tidak enak?” Revan duduk di hadapan Khiren dan terus menatap mata Khiren yang terlihat sendu.

__ADS_1


“Entahlah” Jawabnya singkat.


“Apa kamu sudah makan?” Tanya Revan.


“Aku tidak lapar. Katakan saja apa maumu dan kita akhiri pertemuan ini dengan cepat” Ucap Khiren sambil berhenti mengacak-acak makanannya.


“Kenapa kamu buru-buru, ayo makan dulu, setelah makan baru kita bicara”


“Aku tidak lapar, paham!” Jawab Khiren kesal.


Revan hanya tersenyum, lalu menganti piring Khiren dengan piringnya yang telah diisi dengan beberapa makanan yang menurutnya enak. “Coba ini, jika kamu menghabiskannya maka aku akan berikan satu petunjuk tentang anakmu” Ucapnya.


Khiren sedikit kaget, “Kamu yakin?”


“Tentu saya, sayang. Aku tidak pernah tidak menepati janji atau pun ucapanku”


Mendengar hal itu Khiren pun segera menghabiskan makanan yang diberikan oleh Revan padanya.


“Jangan buru-buru, lihat mulutmu belepotan” Revan mengambil sapu tangan di kantong jas nya lalu berjalan ke arah Khiren dan mengelap bibir Khiren dengan lembut.


Wajah Revan cukup dekat dengan wajah Khiren, kedua mata mereka tanpa sengaja saling bertatapan dalam beberapa detik. Di beberapa detik singkat itu benar-benar mengacaukan pikiran, tak hanya itu jantung Khiren mulai tidak bisa terkendali hingga membuat dia langsung mengalihkan pandangan dan mendorong Revan menjauh darinya.


“Apa yang kamu lakukan?” Khiren menjadi sedikit panik.


“Aku hanya ingin membantumu untuk…” Menunjukkan sapu tangan yang kotor setelah mengelap sisa makanan yang menempel di bibir Khiren.


“Ya tapi kamu tidak harus melakukannya dengan jarak seintim itu, kan? Kembali ke kursimu!” Bentak Khiren.


Revan dengan patuhnya kembali ke kursinya, meski begitu matanya tetap menatap Khiren dengan tatapan mendalam.


“Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu… terlihat sedikit memerah.” Ucap Revan.


“Hah? Jangan bercanda, aku baik-baik saja! Berhenti menatapku atau selera makanku akan hilang!”


“Eum, aku akan berhenti melakukannya… makanlah dengan pelan-pelan.”


“Iya”


“Aku pasti sudah gila, bagaimana bisa jantungku berdetak seperti tadi? Ah, ini awal penyakit jantung atau sesuatu lain… Khiren, ingat yang depan kamu adalah orang yang menculik putramu, kamu harus hati-hati dengannya!” Pikir Khiren yang mencoba untuk tetap bersikap sewajarnya pada Revan.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2