Married With Ketos

Married With Ketos
Kabar duka


__ADS_3

Tubuh Agam tersandar di dinding, saking lemas kakinya sampai membuat dirinya merosot kebawah. Ia mengacak rambutnya kasar dan mengerang kacau, "Arghhh!!" Bahkan ia tidak peduli lagi dengan situasi dan keadaan sekitar.


Bianca ikut bertekuk lutut di hadapan Agam dan memeluk Agam untuk memberinya ketenangan, "Kakak jangan kayak gini.. seharusnya Kakak lega karena operasi Cantika lancar."


"Tapi, dia buta Bi.. masa depannya masih panjang. Apakah dia akan melalui kehidupan selanjutnya dalam kegelapan? aku harus gimana?" suara Agam parau. Padahal nyatanya Bianca juga tidak kalah terluka dan tidak setegar itu namun ia masih bisa memberikan kekuatan kepada orang lain dalam kondisinya yang tidak baik-baik saja.


Tidak lama kemudian dalam posisi itu, atensi mereka sama-sama teralih kearah ruangan IGD yang tidak jauh dari tempat mereka terbuka, mereka segera terburu-buru menghampiri dokter yang habis menangani Bastian. "Bagaiman keadaan Papa saya Dok?"


Dokter yang bernama Farhan menatap Bianca dan Agam secara bergilir, "Pasien sudah habis di tangani. Tapi hanya satu orang saja yang di perbolehkan masuk."


Agam menoleh kepada Bianca yang mengangguk sebagai isyarat memperbolehkan Agam saja yang masuk. Sebelum masuk, Agam menyempatkan mengecup kening Bianca sekilas mengabaikan dokter yang masih terpatri di hadapan mereka.


"Kamu tunggu di sini, bentar yah?" kata Agam Kemudian memasuki ruangan IGD setelah mendapat anggukan lagi dari Bianca.


Aroma obat-obatan menyeruak masuk ke indra penciuman Agam kala terus melangkah lebih dalam menghampiri brangkar Ayahnya yang terpasang selang infus. Betapa tersayat hatinya menyaksikan langsung betapa tidak berdayanya Papa kedua yang telah mengasuhnya selama ini sampai Agam pun tidak tahu dengan apa ia membalas budi.

__ADS_1


"Pah.." Lirih Agam pilu, "Aku harus melakukan apa..? sungguh, melihat keadaan Papa kaya gini buat dunia aku runtuh.. terlebih mendengar kata dokter tadi.. Cantika di nyatakan mengalami buta pah.. dia, gak bisa ngelihat dunia lagi.."


Lamat-lamat, Bastian dapat mendengar semua ucapan Agam namun untuk membuka mata ia harus mengumpulkan tenaga lebih dulu.


"Aku--aku gak becus sebagai anak.. kerjaannya hanya bisa ngerepotin, ngebebanin Papa.." Agam sesenggukan.


Agam menggenggam tangan Bastian dengan tangannya yang gemetar. Salah satu jemari Bastian sedikit merespon dengan pergerakan kecil tapi Agam masih belum menyadarinya.


Sampai suara Bastian yang samar dan terputus-putus itu baru dapat menyadarkan Agam yang tengah menangis pilu, "A--g-a-m"


"Agam...P--papa.. kayak..nya gak bisa bertahan lebih.. lama lagi.." ujarnya lemah sekali, begitu pun dengan pupil mata nya yang terlihat akan menyisip ke atas. Agam menggeleng keras, "Papa gak boleh ngomong kayak gitu!! Papa harus kuat!"


"Gam..a-aku ingin.. mendo..norkan.. mata.. aku..buat put..riku.." Napas Bastian semakin memberat.


Gelengan kuat tetap Agam lakukan, ia tidak ingin Bastian pergi. "Pa.. biar Agam yang donorin mata buat Tika!! Papa harus sembuh!! aku gak suka Papa ngomong kaya gini!!" Air matanya berderai di wajahnya, ia terlihat semakin kacau.

__ADS_1


"A-aku t-titip.. Put..riku..s-sam..a ka..mu.." Bastian dapat merasakan pasokan oksigen di sekitarnya kian menipis demi detik, napasnya pun sudah makin terputus-putus. Penglihatannya mulai berkabut dan suara di sekitarnya tidak lagi terdengar jelas hanya di isi oleh dengungan keras yang entah dari mana asalnya.


"Papa..!!" Agam meraung melihat dada Ayahnya yang sedikit membusung meregang nyawa. "Enggak!! jangan tinggalin aku sama Tika!!!"


"A...s.y...h.a.d.u. a.n. l.a.a i.l.a.a.h.a i.l.l.al.la.h w.aasy..ha..dua. nn..a muh..am.m..a.dar ra..su..lul.lah" Di dua kalimat terakhir, Bastian hanya melafalkan dengan gerakan mulut, matanya sudah mulai tertutup rapat bersama dengan nyawanya melayang menyapa ke abadian.


Bersamaan itu, Farhan masuk di susul dua suster, karena tadi Agam sempat memanggil dokter akibat di serang panik melihat kondisi Bastian. Yang pertama-tama Dokter memeriksa Pasien dengan stetoskop berlanjut memeriksa ke dua matanya hingga ke pergelangan tangan Bastian untuk pemeriksaan yang terakhir kali. Berat hati Farhan menggeleng pelan, "Innalilahi wa innailaihi rojiun.." Dokter itu menegakkan tubuhnya, "Catat tanggal kematiannya."


Dalam keadaan otak yang kosong seolah membenci garis takdir tuhan yang keji ini. Dengan nafas tercekat, langkah Agam mundur perlahan-lahan hingga punggungnya membentur tembok. Lagi? apakah dosanya terlalu besar hingga ia di hukum seberat ini? orang-orang yang berharga baginya semua di renggut.


Bianca lekas masuk mendengar suara tangisan Agam yang histeris. Ia menoleh sebentar ke arah brangkar Bastian yang kini sudah tertutupi oleh kain putih.


"Kakak.." Bianca ikut berduka, ia menubruk tubuh Agam dengan pelukan dan sigap sang empu membalasnya dengan erat. Mereka saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain. "Kamu jangan jadi kayak mereka yang jahat ninggalin aku..kamu harus tetap di sisi aku.. jangan pergi kayak mereka.." raung Agam di sela larutan tangis tiada henti.


"Iya kak iya.. Bia akan tetap berada di samping Kakak sampai kapan pun.." Meski kata-kata ini tidak cukup menyembuhkan luka, tapi setidaknya masih bisa memenangkan untuk Agam yang terlihat tidak terkendali di pelukan Bianca. Ini untuk yang pertama kali, Bianca dapat melihat Agam di sisi yang hanyut dalam kerapuhan yang begitu mendalam.

__ADS_1


***


__ADS_2