Married With Ketos

Married With Ketos
Manja


__ADS_3

Andin--Mama dari Lucas, membuka pintu kamar anaknya, lalu masuk kedalamnya di susul oleh seorang gadis berkacamata.


"Luc, makan dulu yah." Andin duduk di tepi ranjang milik Lucas, lantas mengaduk-ngaduk semangkuk bubur di tangannya. Di sebelahnya ada perempuan tadi. "Ini udah ada Ella loh, dateng." sambungnya.


Lucas bener-bener terpuruk. Lelaki itu meringkuk di tengah ranjang, sambil memeluk lututnya dengan kepalanya pun ia telungkup kan di balik itu. Sudah berminggu-minggu kondisi Lucas begini, mengurung diri di kamar dan tak pernah keluar walaupun ke ruangan. Makan saja, mesti Andin yang membawakannya ke kamar, itu pun nanti di suap oleh Andin. Wali kelasnya juga sudah beberapa kali mendatangi rumah mereka, menanyakan perihal alasan Lucas yang tak masuk sekolah sampai berminggu-minggu.


Andin yang berperan sebagai orang tua tunggal, ikut terpukul melihat keterpurukan putranya. Andin tak tahu, apa yang terjadi pada Lucas.


"Luc, makan yah? dikit aja." Perempuan itu membantu Mama Lucas, membujuknya.


"Bia..." Saat kepalanya terangkat, hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Tatapannya mengarah lurus kedepan dengan pandangan kosong. Lucas, terlihat berantakan dan kacau balau. Rambut dan wajahnya kusut seperti orang yang tak terurus, kantung matanya nampak jelas serta lingkaran hitam di pinggiran matanya.


"Bia siapa La? kamu tahu?" tanya Andin menoleh pada perempuan di sebelahnya. Nama itu sering di sebut-sebut oleh Lucas. Andin belum pernah melihat yang bernama Bia sebelumnya. Perempuan itu mengangguk sebagai jawaban. "Dia--- pacar Lucas, Mah."


"Pacar? apa dia penyebab Lucas jadi begini?" tanya Andin lagi. Di balas gelengan darinya. "Gak tahu, Mah."


Andin nampak berpikir beberapa waktu, setelahnya, dia kembali mengubah perhatiannya pada Lucas yang terlihat hancur. "Luc.. makan dulu yah. Dikit aja, biar Mama yang suapin atau-- Lucas maunya Ella yang nyuapin?"


Pandangan Lucas beralih pada Andin. Kedua bola matanya terlihat sayu dan sendu. "Mah.. Lucas mau Bia, kapan dia dateng? Lucas kangen sama dia.." lirihnya. "Bilangin ke Bia, cowok bajingan ini butuh dia.." tambahnya terdengar menyedihkan. Perempuan yang di kerap mereka sapa Ella itupun mengambil tindakan, beringsut lebih mendekati Lucas, dan mengelus rambutnya yang awut-awutan itu.


"Lucas gak boleh kayak gini, hidup Lucas bukan cuma berpusat ke dia. Masih ada aku, sama Mama juga."


Lucas menggeleng gamang, kemudian menjambak rambutnya gusar, kegelapan kembali menyapa dirinya, di sekelilingnya terlihat hitam. Tak ada cahaya sama sekali.


"Bia? ini di mana? kenapa gelap?" Lucas meraba-raba udara. "Bia? Bia? kamu dimana?"


Andin sudah menangis melihat kondisi putranya yang terlihat begitu menyedihkan. Sedang perempuan berkacamata itu sudah memeluk Lucas yang memberontak di pelukannya. Dia turut iba dengan keadaan Lucas saat ini. 'Kenapa harus Bia, Luc? masih ada aku yang selalu di sisi kamu..'


***


Kantuk menyerang Camella yang duduk di salah satu meja yang ada di restoran milik Papa Tasya di tempat Nathan bekerja. Lelaki itu membawanya kesini karena di rumah tak ada yang menemaninya. Padahal malam belum terlalu larut, tapi perempuan itu sudah merasa teramat mengantuk. Bahkan kepalanya sudah berulang kali terhuyung-huyung. Mengabaikan para pengunjung di tempat ini. Restoran ini memang, setiap harinya lumayan banyak pengunjung, sebab banyak orang-orang yang meminati set menu hidangan makanan di sini.

__ADS_1


Nathan bekerja sebagai pelayan di restoran ini. Meskipun gelarnya hanya sebagai bawahan, Nathan masih merasa bersyukur karena Papa Tasya berbaik hati mau mempekerjakan dirinya walaupun hanya paruh waktu.


Nathan tersenyum lebar, setelah sebelumnya ia menyajikan pesanan beberapa pelanggan, melihat keberadaan Camella di sini, Nathan tambah bersemangat bekerja, apa lagi mengingat perempuan itu tengah mengandung darah dagingnya. Sekarang, ia menghampiri Camella dengan membawa beberapa hidangan, makanan berat.


Tiba di dekat Camella, dia lantas mengelus permukaan rambut Camella singkat. Yang sukses membuat kesadaran perempuan itu kembali jernih. "Eh Nath? udah kelar?" tanyanya kepada Nathan yang kini mengambil posisi duduk di seberangnya.


Nathan menggeleng sebagai tanggapan. "Belum, ntar lanjut lagi. Nih gue bawain lo makan."


Camella memandangi makanan itu penuh damba. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya agar menghilangkan ke serakahannya terhadap hidangan itu. Dia menggeser beberapa makanan itu, mengarah pada Nathan, lalu menggeleng.


"Gak, gue mau irit. Ntar uang gue malah habis buat bayar makanan itu." Tuturnya. Tatapannya kepada makanan itu seperti tak rela. Nathan bisa melihat itu. "Gue yang bayar." sahutnya.


Mata Camella sontak berbinar mendengar itu, tapi sesaat kemudian, dia kekeuh menggeleng sambil menampilkan raut wajah murung. "Gak Nath, rugi duit lo cuma buat traktir gue." ucapnya membuat Nathan membuang napasnya.


"Gini deh Mell, makanan itu bukan cuma buat lo, tapi buat calon anak yang lagi lo kandung. Dia juga butuh asupan, oke? makan yah. Biar dia sehat-sehat terus di dalam sana." bujuknya. Camella reflek mengusap perutnya yang sudah sedikit membesar, mendengar itu. Dia sempat lupa jika sedang membawa nyawa di dalam sana. Akhirnya Camella mengangguk kecil dan meraih satu persatu hidangan itu, mengarah kepadanya.


Lalu ia memakannya dengan lahap. Dua sudut bibir Nathan di buat tertarik lagi, membentuk senyuman tertahan oleh itu. Melihat Camella yang makan dengan lahapnya, dia pun akhirnya bangkit dari duduknya, bersiap melanjutkan pekerjaannya yang ia jeda untuk memberi makan Ibu dari anaknya. "Habisin yah. Gue mau ngelanjutin pekerjaan gue." ucapnya. Camella mengangguk tanpa menatap Nathan. Nah kan, kalau sudah mengenai makanan, segala sesuatu itu akan terlupakan. Nathan geleng-geleng melihat itu, lalu beranjak dari tempatnya, melanjutkan pekerjaannya.


***


Keduanya sedang nonton tv bersama saat ini. Perut Bianca tiba-tiba berbunyi di sela-sela itu. Membuatnya spontan memegangi perutnya. "Kak, lapar.." adunya.


Agam yang tengah duduk di sampingnya hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus ke depan di mana ada layar persegi empat terpajang di sana. "Lapar, makan. Simple kan?" sahutnya terdengar cuek. Bibir bawah Bianca maju satu centi sambil menoleh pada Agam, tangannya ia rentangkan.


"Gendong.." ucapnya manja.


Agam berdecak malas. "Gak punya kaki, apa?!" dampratnya tiba-tiba dalam mode juteknya. Membuat Bianca merengek. "Kak.. gendong Bia ke dapur! Bia mau makan, laper.."


Mendengar Bianca yang merengek, Agam jadi memutar bola matanya, biar pun dalam keadaan dongkol, dia tetap berdiri dari duduknya, mengangkat Bianca dalam gendongannya ala koala. "Manja banget sih!" cetusnya sembari berjalan menuju dapur sesuai perintah sang istri. Bianca mengalunkan tangannya di leher Agam. Jangan lupakan kakinya yang sudah melingkar di pinggang lelaki itu.


Tiba di area dapur, Agam menurunkan Bianca dimeja pantry, mendudukannya di sana. Agam menunjuk pipinya sendiri sembari mencodong kan wajahnya pada Bianca. "Imbalannya." ucapnya menuntut.

__ADS_1


Tentu saja Bianca mengerti, ia segera memberikan kecupan di pipi kanan Agam, di tambah bonus di pipi sebelah kiri. Membuat senyum Agam mengembang, lalu gantian mencium Bianca di kening.


"Tunggu bentar." Agam beranjak dari posisinya. Mengambilkan makanan buat Bianca, dari nasi beserta lauk-pauknya. Lalu setelahnya, dia pun kembali duduk bergabung Bianca, tepat di sebelahnya.


"Makan dulu, aaa." Tanpa mau berbasa-basi lagi, Agam mengarahkan sendok yang sudah terisi makanan itu pada Bianca kemudian perempuan itu menerima suapan dari Agam dengan lahap.


"Kak, kalo gue gendut, kakak bakalan tetap mau sama gue, atau cari yang baru?" celetuk Bianca di sela kunyahan nya. Agam nampak berpikir sejenak. "Nyari yang baru deh, soalnya kalo lo gendut, lo bakan jelek. Gak mau gue punya istri jelek." jawab Agam bercanda. Membuat Bianca mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah kalo gitu, gue juga nyari suami baru, biar adil."


"Siapa yang mau sama lo kalo udah gendut?"


"Ada kok, Lucas."


Getokan dari tangan Agam mendarat di sisi kepala Bianca. "Mau lo, gue buntingin tiap hari?"


"Emang bisa bunting tiap hari?" tanya Bianca kemudian.


"Bisa sih kalo lo siap."


"Gak deh gak, lo nya kalo main gak kira-kira. Bisa mati di ranjang gue." Bianca jadi bergidik, mengingat malam pertama mereka, yang awalnya panas membara, menjadi mala petaka untuknya. Agam terkekeh kecil.


"Gue normal bi, soalnya lo enak banget kalo diterkam. Apa lagi des--- awshh sakit sayang." adu Agam saat Bianca mencubit pinggangnya.


"Jangan di ingetin ih!" pipi Bianca seketika bersemu merah mendengar itu. Agam tersenyum.


"Iya deh iya, gak lagi."


Berhubung Bianca sudah menghabiskan makannya, Agam pun menuangkan air putih ke gelas, kemudian memberinya kepada Bianca. "Minum."


Bianca meneguknya hingga tandas. Lalu dalam hitungan menit, Bianca hanya mengayun-ngayun kan kakinya di udara selagi menunggu Agam yang sedang mencuci piring bekas makannya di wastafel. Begitu melihat aktivitas Agam sudah selesai dan kini tengah menghampirinya, Bianca merentangkan tangannya. "Gendong.."

__ADS_1


***


__ADS_2