
"Lepasin Elard, Dad!!!" Samuel memberontak, mungkin ini adalah karmanya yang telah menyekap Bianca, kini di ganti ia yang lebih para lagi di ikat oleh Daddy-nya sendiri dengan belenggu rantai pada dua tangannya. Kemudian pria paru baya yang tengah duduk di depannya itu berdiri, jujur saja Samuel ketakutan melihat pisau belati yang di genggam olehnya, telunjuk Pria itu mengusap-ngusap tubuh pisau tajam tersebut, "Daddy akan kasih pelajaran ke kamu. Sudah cukup selama ini aku kasih kamu kebebasan. Bukannya menggunakan waktu itu buat menikmati hidup, nyatanya hanya ingin membalaskan dendam."
"Huh, ternyata mainmu cukup rapi, hingga aku sendiri sebagai Daddy-mu saja tidak tahu bahwa kamu lah dalang dari semua kekacauan yang di alami Agam selama ini." tambahnya lagi.
"Dia pantes dapetin itu semua Dad!! karena kehadiran dia, Mommy pergi!! Mommy meninggal karena dia!!"
"Itu bukan salah dia Elard! berhenti menyalahkan dia!! biar bagaimana pun dia adalah Kakak kamu!!" Tekannya, ia lebih mendekati Samuel yang memancarkan leser tajamnya, wajahnya menyangar, "Elard gak pernah ada Kakak seperti dia!! Ibu kami berbeda!! dia bukan saudara Elard!!" Sangkalnya. Pria itu berdiri di hadapan Samuel, memilih tidak mengeluarkan bicara lagi, lalu tubuh Samuel semakin mengamuk tidak karuan saat pisau itu terangkat. Detik selanjutnya, jeritan menggema di ruangan minimalis tersebut.
"Argghhhhh" Satu hingga empat sayatan di bagian wajah Samuel terlihat bergaris, cairan darah segar menyembul dari setiap luka, hingga mengalir. Mulut Samuel tidak henti-hentinya mengeluarkan erangan kesakitan tiada tara.
***
__ADS_1
Baru saja tubuh Samuel menyentuh kasur, ia ingin rehat, penat, lelah, letih, hari ini terasa berat dan panjang. Wajahnya benar-benar tidak bisa lagi terkondisikan, di hiasi goresan sayatan pisau, kemudian pelakunya adalah Daddy nya sendiri. Ancangan istirahatnya itu di gagalkan oleh ponselnya yang berdenting, di atas nakas. Malas? iya. Dia meraih ponselnya dengan malas-malasan.
Baru saja ia menatap layar ponselnya, notifikasi pesan langsung menyapanya.
...Sherly....
Maaf. Sekali lagi maaf, perempuan murahan ini sudah jatuh cinta ke lo. Gue gak tahu diri ya? wkwkwk. Gue tahu, lo ingin banget kan gue menghilang dari hidup lo? Iyakan? gue tahu, mobil tempo hari yang nyaris nabrak gue itu adalah suruhan lo, terus yang menyebarkan rekaman obrolan kita berdua di kelas, lo sendiri kan? juga saksi mata saat itu, adalah orang yang lo bayar. Lo sejahat itu memang, tapi gue gak bisa benci.
Gue janji, mulai dari saat ini, gue bakal pergi jauh, jaauuuuhhh banget sampe lo gak akan pernah nemuin gue lagi sekalipun menelusuri di seluruh dunia. Janji ya Sam? jangan pernah salahin die sendiri. Ini adalah keputusan gue.
"S.h.it!!" Samuel mengumpat pelan, entah mengapa rangkaian kata Sherly seperti sebuah sirat bahwa ia akan pergi jauh, sejauh-jauhnya meninggalkannya. Samuel mencoba mengabaikan itu. Ia tahu persis perempuan itu adalah sosok yang kuat, tidak mungkin ia akan melakukan hal yang nekat.
__ADS_1
***
Di malam yang sunyi ini, seorang perempuan berdiri di sebuah atap gedung rumah sakit. Rambutnya berterbangan di terpa oleh tiupan angin. Gemerlapnya lampu-lampu, menghiasi lautan kota, menjadi pemandangan indah di matanya. Miris sekali hidupnya, bahkan Sherly sendiri tidak mampu lagi merenungi bagaimana kehidupannya, baik itu masa lalu, masa mendatang, maupun masa sekarang. Kalau bisa, ia ingin ingatannya lumpuh agar tidak bisa mengingat semua alur hidupnya yang buruk, sengsara, tiada hari tanpa kesedihan.
"Dunia aku benar-benar hancur, tiada lagi rumah untuk aku pulang, orang yang aku perjuangkan sekaligus menjadi tujuan hidup aku, telah menghilang dari muka bumi." Tangan Sherly mendarat di perutnya yang masih rata, "Maaf, Mama menyerah," Lalu ia menyeka air matanya, "Kamu ikut Mama, yah? biar gak menderita kaya Mama. Dunia ini kejam, aku tidak ingin kamu merasakan penderitaan seperti Mama."
Tatapannya mengosong seketika, matanya membengkak karena menangis, "Lagi pula Papa kamu juga gak menginginkan kamu. Apa lagi aku." Sherly tersenyum pahit. "Gak ada lagi rumah untuk kita." Lirihnya sambil memejamkan matanya, "Aku ingin istirahat dengan tenang.." gumamnya hampa, bayangan-bayangan teman-teman sekolahnya tiba-tiba melintas di kepalanya, hanya di sekolah ia masih dapat merasakan kebahagiaan asli tanpa kepalsuan, tapi itu sudah berakhir, bukan?
Orang-orang yang dulunya pernah menyanjung-nyanjung bahkan teman dekatnya pun, menyudutkannya di hari itu. Paling utama adalah, seseorang yang menjadi sumber luka terbesarnya. Samuel. Kaki Sherly semakin melangkah ke pinggir, "Apakah kamu akan sedih kalo aku pergi?" Ketawa kecil yang terkesan pedih itu turut mengiringi, "Aku harap kamu akan bahagia terus." Kini ia Benar-benar memijak di tepi. 'Terimakasih dan maaf, aku pergi,'
***
__ADS_1