
Tiga botol minuman alkohol dengan kadar yang cukup tinggi sudah dihabiskan oleh Agam. Dia benar-benar stres dan frustasi. Setiap mengingat bila Bianca di sentuh oleh Lucas entah sampai di mana saja itu membuatnya gila. Bianca itu istrinya. Gadis miliknya. Tak boleh ada yang menyentuhnya selain dirinya.
"Argghhhhh!" Agam menjerit frustasi seraya mengacak rambutnya kasar. Suaranya di tenggelamkan oleh riuh keramaian serta musik DJ yang menggema di penjuru tempat ini. "Bi! lo jahat! kurang apa sih gue?!!" monolognya. Kesadarannya benar-benar di makan oleh kemabuk kan yang ia alami akibat meneguk minuman keras.
Tak jauh dari sana, tepatnya berada di bagian sudut, seorang lelaki berpakaian hoodie dengan tudung di selubungkan ke kepala dan masker hitam bertenggar di wajahnya. Berbisik kepada wanita seksi yang mengenakkan dress pendek selutut warna merah, di sampingnya. "Lo, liat cowok yang sana?" dia menunjuk pada Agam. Di angguki wanita di sebelahnya.
"Lo samperin sana, mumpung dia lagi mabuk, lo goda dia." titahnya menarik dirinya dari wanita itu. Wanita itu mengamati lelaki tampan yang tengah mabuk, terlihat sangat kacau itu sebentar. Lalu menyeringai. "Perfect."
"Iya kan? target bagus buat jadi temen tidur kan?"
"Yes. Satu malam aja, kalo cowoknya ganteng gitu mah, gue bakal puas."
"Yaudah, nunggu apa lagi?"
Wanita seksi itu bangkit, setelah sebelumnya menepuk bahu lelaki ber-hoodie hitam di sebelahnya. Lalu berucap. "Thanks Sam!"
Lalu dengan gaya lenggoknya, wanita itu menghampiri Agam. "Hai handsome." dia mengambil tempat duduk di samping Agam yang kini menyandarkan punggungnya disandaran sofa. "Mau di temanin?"
"Bia, gue sayang sama lo. Jangan tinggalin gue lagi demi pacar lo itu." Agam malah meracau tak jelas Akibat minuman keras yang dia konsumsi, dia menjadi berhalusinasi. Dia mengabaikan sapaan wanita disebelahnya.
Karena tak mendapat respon, akhirnya wanita itu berinisiatif mengambil tindakan. Tangannya dengan lancang mengusap di dada Agam yang terbuka. Rupanya itu cukup efektif menyita perhatian Agam. Dia menoleh kepada wanita itu. Pandangannya mengabur dan berputar. "Bianca?"
"Bianca? ini Bianca?" ulangnya. Agam memegangi dua sisi bahu wanita itu.
"Bianca?" gumam wanita itu. Sepertinya, lelaki ini menganggapnya orang lain. Namun, itu bagus juga, dia akan mengambil kesempatan ini. Dia mengangguk kemudian.
Agam memegangi pelipisnya dengan mata terpejam. Kepalanya benar-benar pusing. Wanita itu mengambil kesempatan, beranjak dari duduknya dan membungkukkan badan mengurung Agam dengan meletakkan dua sisi tangannya disandaran sofa. "Tatap gue."
Agam mendongak, menatap wanita itu dengan mata sayu nya. Jarak wajahnya dan wanita tinggal sejengkal. Ketika wanita itu semakin mendekatkan wajahnya untuk menciumnya di bibir, Agam langsung mendorongnya keras hingga wanita itu terjerambab kelantai. "Lo bukan Bianca! gue hapal aroma parfum istri gue! pergi lo! jangan ganggu gue!"
Di tengah-tengah itu, Nathan tiba di sana. Melihat penampilan Agam yang berantakan dan wanita yang sudah bangkit dengan raut kesalnya. Sepertinya, keputusannya untuk menyusul Agam kesini, keputusan yang tepat.
__ADS_1
"Secantik apa sih yang nama Bianca itu sampe lo nolak gue yang spek bidadari gini?!" Wanita itu tak terima.
"Pergi lo, pergi!!!"
"Lo---"
Saat wanita itu kembali mendekati Agam, Nathan langsung menahannya. "Jangan ganggu dia."
"Ini lagi, siapa-nya?!"
"Kenalin, gue Bianca." Nathan mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Wanita itu nampak melongo dengan mulut terbuka. Jelas saja dia akan tercengang. "Bianca? laki-laki? berarti---"
Wanita itu menatap Agam dan Nathan secara bergantian. Lalu bergidik jijik. "Idihh, ganteng-ganteng gak normal! skip ajalah!" Setelah mengatakan itu, dia sudah berlalu dengan ogah-ogahan. Nathan tertawa kecil melihatnya.
Pandangannya lalu teralih pada Agam yang kini terlihat kacau. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan mata terpejam. Mulutnya terus beraktifitas meracau tak jelas. Dalam pikirannya Nathan bertanya-tanya, apa yang membuat Agam sampai sekacau ini? pasalnya, Nathan belum pernah melihat Agam begini.
Nathan menghembuskan napas, lalu mendekatinya. Memutuskan membawa Agam pulang ke rumah lelaki itu, dia memapah Agam menuju pintu Club. Sedikit terhuyung, karena berat badan Agam yang sempoyongan.
Melihat hasil memuaskan tersebut membuat sudut bibirnya tertarik sebelah membentuk sebuah senyuman licik.
***
Sejak tadi, Bianca mondar-mandir terus. Jam sudah menunjukkan pukul 11:45. Dan suaminya belum pulang. Dia merasa gelisah karena risau. Sempat tadi dia mencoba tidur, namun dia malah melek tak bisa menyelam ke alam bawah sadarnya karena mencemaskan Agam. Malam sudah larut, kenapa lelaki itu belum pulang?
Apakah ada yang terjadi dengan dia? semoga saja di baik-baik saja di luar sana. pikirnya.
Tak berselang lama, Bianca menajamkan kuping, kala samar-samar ia bisa mendengar suara bunyi bel rumah. Kira-kira siapa yang bertamu jam segini? apakah itu Agam? bila itu Agam, dia akan langsung masuk tanpa membunyikan bel rumah.
Walaupun di landa perasaaan bimbang, takut dan ragu. Bianca tetap keluar kamar menuju pintu utama. Sempat dia berpikir panjang dalam kewaspadaan. Mengingat jika tempo hari di mana pernah ada yang meneror-nya. Dia takut, bila pelakunya menghampiri secara langsung.
Tangan Bianca lama tergantung di handle pintu, yang bersiap akan menekannya. Setelah berpikir matang-matang, akhirnya Bianca membuka pintunya pelan-pelan. Mengintip terlebih dulu dari cela pintu. Ketika melihat orang itu adalah Nathan yang sedang memapah Agam, barulah dia membukanya lebih lebar. "Itu Kak Agam kenapa?!"
__ADS_1
"Mabuk." Nathan menyerahkan Agam ke Bianca untuk mengambil alih. "Udah yah? gue pamit pulang. Jaga nih suami lo bae-bae." pamitnya setelahnya.
"Gak masuk dulu kak?" Bianca menawarkan. Mendapat gelengan dari Nathan. "Udah larut banget. Cepet masuk. Bawa suami lo ke dalem." suruh Nathan sebelum benar-benar melenggang, berlalu dari sana. Memutuskan untuk membawa Agam ke kamar, Bianca pun memapahnya menuju ke sana.
"Bi..gue sayang sama lo.."
"Masa ninggalin suami sendiri demi dia, tega lo, Bi!"
"Bi.."
"Bia..
"Bianca.."
Agam terus-terusan meracau. Menyebut-nyebut nama Bianca selama perjalanan menuju ke kamar. Membuat Bianca menjadi merasa bersalah. Jadi, kata Agam tadi menenangkan diri, dengan cara seperti ini? mendadak ia jadi menyesal telah menemui Lucas. Pasti, Agam sudah mencurigainya sebelum dia pergi berjumpa dengan leleki itu.
Brugh.
Bianca menjatuhkan tubuh Agam ke atas ranjang. Lalu memutar-mutar bahunya yang kebas. Agam sangat berat untuk Bianca yang badannya berukuran kecil.
Dengan tubuh yang sempoyongan, Agam bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk. Pandangannya masih kabur, tak jelas itu bangun mengarah pada istrinya. Dia memejamkan mata erat seraya menggelengkan kepalanya kilat guna menjernihkan pandangannya. Sebelum setelahnya dia kembali menatap kepada Bianca. "Bi?"
Dia beringsut duduk, mendekati Bianca yang berdiri di samping kasur. Lalu memeluk pinggangnya. Membenamkan wajahnya di perut gadis itu. "Kwangwenn.." suaranya tak jelas karena teredam di sana. Bianca menyugarkan rambut hitam milik suaminya itu kebelakang. "Maafin Bia, ya Kak? udah buat kakak jadi gini."
Agam menjauhkan wajahnya dari perut Bianca. Pelukannya pun melonggar. Dia mendongakkan kepala agar menatap wajah cantik istrinya. "Ini beneran Bianca kan? istri gue?" tanyanya memastikan. Entahlah, dia merasa sekarang seperti mimpi. Antara sadar dan tidak.
Bianca mengangguk sebagai tanggapan. Lelaki itu mengambil tindakan, menarik tangan Bianca, mendudukkan gadis itu tepat di sebelahnya. Kemudian tanpa berbasa-basi lagi, wajahnya sudah tersemayam di ceruk leher Bianca. Hidungnya mengendus-ngendusnya di sana seraya tangannya kembali terlilit di pinggang gadis itu.
"Hmm, ini beneran aroma istri gue." gumamnya.
TBC
__ADS_1