
Bianca nampak baru keluar dari kamar mandi, dia melihat Agam yang tengah serius belajar kemudian langkah kakinya segera menghampiri lelaki itu.
"Kak Agam." Tangan Bianca langsung melingkar di pinggang Agam yang sedang berkonsentrasi menulis catatan di buku tersebut.
"Kenapa Hm?" Agam menghentikkan kegiatannya sesaat menatap Bianca yang mengadah memandanginya balik dengan wajah polosnya.
"Pengen bunuh lo.." gumamnya. Agam hanya terkekeh mendengarnya, aneh-aneh saja keinginan istrinya ini.
Agam tidak banyak bicara untuk meladeni ucapan Bianca yang tak logis itu, Agam hanya kembali memfokuskan diri dengan menulis catatan. Sedangkan sebelah tangan kirinya yang menganggur asik mengusap belakang kepala Bianca.
Lain halnya Agam yang sedang fokus belajar tanpa mau membuyarkan konsentrasinya, Bianca misuh-misuh tak jelas sambil sesekali memukul-mukul dada Agam. Entah mengapa sekarang, Bianca lagi ke pengen bunuh orang. Seketika terlintas pertanyaan lucknut di kepalanya, bunuh suami sendiri dosa gak sih?
"Sebel-sebel-sebel ih! pengen sentil ginjal kakak!!" kesal Bianca.
"Kenapa..? lagi dapet?" tanya Agam dengan suara berat dan lembut, tanpa membagi perhatiannya. Dia masih fokus menulis catatan dari buku piket.
Bianca mengangguk pelan, mungkinkah efek dari datang bulannya yang menyebabkan dirinya begini? melihat orang bernapas saja sudah membuatnya naik pitam. Pastinya, Agam yang sebagai suaminya yang selalu bersamanya di setiap saat akan terkena imbasnya.
Di tambah lagi, Agam yang tak memperhatikannya membuat dirinya kian sebal saja. "Kakak... Ihh!!" Bianca sontak menumbuk dada Agam cukup kuat hingga sang empunya meringis pelan.
"Sakit Bi.." adunya sambil mengusap-ngusap bagian yang di pukul oleh istrinya.
"Perhatiin Bia Kak.. masa buku lebih menarik dari pada istri sendiri.." ujarnya terdengar merengek.
Mendengar Bianca yang sudah merengek tersebut, Agam pun akhirnya mengalihkan atensinya dari belajarnya kepada Bianca, dia menangkup wajah Bianca sambil menatapnya dalam-dalam. "Kenapa, sayang..? mau apa?"
"Pengen bobo, ngantuk banget.. kelonin Kak.." Bianca berkata dengan suara manjanya. Imut sekali menurut Agam. Lelaki itu mengusap lembut kedua pipi Bianca.
Cup
__ADS_1
Cup
Kecupan Agam mendarat di sepasang bola mata Bianca.
"Yaudah, ayok bobo." Bianca yang mendengar itu, segera mengurai pelukannya di pinggang Agam, dia berdiri kemudian menatap Agam yang masih sibuk merapikan alat-alat belajarnya di atas meja, Agam ikut berdiri selepasnya menggendong Bianca ala bridal style menuju tempat tidur.
Sampai Bianca sudah tiduran di atas kasur, Agam yang akan ikut merebahkan tubuhnya juga lantas melepas baju kaos hitam polosnya, lalu menata posisi selimut mereka sampai sebatas dada.
Bianca memeluk Agam erat-erat yang tentu saja di balas oleh Agam dengan pelukan tak kalah erat, Bianca membenamkan wajahnya di dada bidang telanjang suaminya itu, dia mencari posisi ternyamannya di dekapan Agam yang hangat.
"Kakak.." gumam Bianca.
"Eumm?" Agam menumpukkan dagunya di kepala Bianca. Sesekali mencium sayang pucuk kepala Bianca.
"Perut Bia, sakit.." keluhnya. Mendengar hal tersebut, sebelah tangan Agam lantas menyelinap masuk kebaju piyama sang istri, mengusap-ngusap lembut perut ratanya.
"Sejak kapan dapetnya?"
Agam manggut-manggut, berarti harus puasa selama sepekan, pikirnya. "Stok rotinya masih ada?" tanyanya. Mendapat anggukan dari Bianca. "Masih." jawabnya.
Dalam beberapa saat hanya ada keheningan menyelimuti mereka. Sepasang remaja itu hanya saling meresapi suasana kehangatan di antara mereka berdua.
Sebelah tangan Agam masih setia mengusap perut Bianca yang katanya sakit, tidak hanya itu, lengannya yang satu lagi menjadi alas di kepala Bianca.
"Kakak.." Suara pelan milik Bianca memecahkan keheningan di antara mereka, tatapan Agam turun menatap kepala Bianca yang masih di dadanya.
"Kenapa?"
"Kakak, sayang sama, Bia?"
__ADS_1
Agam tidak membalas pertanyaan Bianca yang tentu jawabannya sudah di ketahui oleh Bianca.
"Jawab Bia, Kak.." Bianca merengek, menuntut jawaban pasti dari Agam. Membuat Agam menghembuskan napasnya, pertanyaan ini seharusnya tidak perlu, bahkan orang lain saja yang melihat perlakuan Agam yang berbeda hanya pada Bianca, jelas sudah tahu.
"Emang, selama ini gue kelihatan gak sayang sama lo?"
"Mungkin Kakak sayang sama gue karena gue istri Kakak." Bianca menjeda, mendongakan kepalanya Memandangi Agam yang juga menatapnya balik. "Kalo semisal, orang lain yang di jodohin dengan Kakak, apa Kakak juga bakalan sayang sama orang itu?"
Agam memeluk kepala Bianca, menyembunyikan wajah perempuan itu ke dada bidangnya. "Lo inget sewaktu gue nyuruh lo pura-pura hamil agar bisa ngebatalin perjodohan sama orang yang sama sekali belum gue kenali demi cewek yang gue suka?"
Bianca menganggukkan kepala, masih agak tak percaya, dia sudah berumah tangga di umur yang masih terbilang masih sangat mudah. Padahal dulu ketika ia masih belum memikirkan tentang hubungan ke jenjang lebih serius, Bianca menarget usia 25 tahun sebagai tenggat waktu mengakhiri masa gadisnya.
Sekolah, kuliah, sukses. Barulah memikirkan hubungan tahap serius. Sempat dulu, Bianca berangan-angan dirinya dan Lucas berjodoh di masa depan kelak. Namun, mau bagaimana lagi jika Agam yang sudah menjadi takdirnya. Bahkan, tuhan juga tahu kepada dua insan yang sudah di persatukan di tali pernikahan, akan mengubah perasaan mereka segera dari masa lalu.
Seperti Bianca. Bahkan sebelum pernikahan mereka, perasaan Bianca telah berlalu dari Lucas, beralih berlabuh kepada Agam yang akan menjadi suaminya.
"Lo tahu cewek yang gue suka, itu?" tanya Agam kemudian. Membuat Bianca berpikir sejenak.
"Hmm---Sherly, maybe?"
"Kok jadi Sherly sih?!" Agam mendadak kesal. Tidak kah Bianca melihat semua tindakannya dari dulu? perlakuannya yang hanya berbeda kepadanya.
"Jadi, siapa Kak?" tanya Bianca sambil mengadahkan pandangannya. Jari telunjuk Agam mengarah pada wajah Bianca. "Nih si bocil gue."
Kening Bianca mengernyit tidak paham dengan maksud Agam. Membuat wajah Agam seketika mendatar, bego sekali istrinya. Entah mengapa ia malah tertarik kepada perempuan se-dungu plus lemot seperti ini.
"Maksud Kakak, gue?" tanya Bianca super lambat. Sudah berapa menit, baru otaknya menangkap.
"Gak." Agam menjawab jutek, melepas rengkuhannya pada Bianca dan beralih memunggungi perempuan itu. Menyebalkan. Bahkan dengan semua tindakannya selama ini yang sudah memperlakukannya layaknya ratu, Bianca masih tidak paham apakah Agam sayang atau tidak kepadanya.
__ADS_1
Ingin sekali, Agam menjedotkan kepala istrinya itu ke dinding untuk mengurangi kadar ke begoannya. 'Huh, untung sayang!!' batin Agam sudah gregetan.
***