
"Hmm, ini beneran aroma istri gue." gumam Agam.
"Hahaha geli kak!" Bianca cekikikan. Dia merasa geli ketika Agam mendusel-dusel kan hidungnya di area lehernya.
"Bi.. dia udah sentuh lo sampe di mana?" Bibir lembut Agam menelusuri leher jenjang Bianca. "Di sini?" Terus perlahan-lahan naik sampai di telinga gadis itu. Mata Bianca hanya terpejam menikmati sensasi itu. "Katakan Bi, cowok itu udah sentuh lo sampe mana?"
Agam menarik dirinya dari Bianca. Menatap gadis itu dengan tatapan sayu-nya. Lucas? yang di maksud suaminya ini cowok itu? pikir Bianca.
"Hmm dia---" Bianca melirik Agam yang terlihat menunggu jawabannya. Sebenarnya, dia agak ragu untuk mengatakan yang sejujurnya. Namun--takutnya Agam akan marah jika tahu dia membohonginya. "Dia---cium aku di bibir."
Cup.
Agam langsung menyumpal mulut Bianca dengan bibirnya. Dua benda lembut itu saling bertabrakan. Tiga detik, itu hanya saling menempel. Dan sekarang, perlahan-lahan, Agam mulai menggerakkan benda itu dengan lembut. Menahan tengkuk Bianca dan melu.mat benda kenyal milik istrinya itu dengan intens. Sementara Bianca hanya membalasnya sebisanya.
Awalnya, ciuman itu berlangsung dengan lembut dan nikmat tanpa gejolak-gejolak lain. Namun, lambat laun, hal itu semakin panas ketika lidah Agam menyerobot masuk kedalam rongga mulut Bianca, menyapu bersih yang ada di dalam sana. Bianca sendiri, sedikit kewalahan mengimbangi ciuman dari Agam yang kini terkesan kasar dan menuntut. Namun, sensasi itu terasa nikmat bagi keduanya. Terutama Bianca. Agam membuka jaketnya disela-sela pagutan itu berlangsung.
Dan tanpa mereka sadari pun keduanya sudah terbaring di tengah ranjang, dengan posisi Agam yang berada di atas dan Bianca berada dibawah. Ciuman itu terus berlangsung, dan semakin memanas. Suara decapan persatuan bibir mereka mendominasi kamar mereka.
Hingga Bianca, menepuk-nepuk dada Agam tanda kehabisan nafas. Barulah dengan terpaksa, pagutan itu terlepas. Nafas mereka terengah-engah menatap satu sama lain. Kedua sepasang mata itu nampak berbeda dari tadi. Apa lagi Agam, matanya yang sayu di padu oleh kilatan gairah yang mendalam. "Gue udah bersihin jejak bibir cowok itu." ujarnya dengan suara berat.
Cup
Agam langsung memberikan ciuman di bagian leher Bianca yang terbuka. Mengigitnya kecil di sana hingga menciptakan sebuah tanda kepemilikan. Bukan cuma satu, bahkan sampai tiga. Sampai membuat sang empunya mendesis pelan.
Di lanjutkan dengan membuka kancing piyama yang di kenakan Bianca. Sedangkan gadis itu sendiri hanya membiarkan saja apa yang di lakukan Agam padanya. Dia berpikir yang di lakukan Agam hanyalah seperti biasanya. Namun, setelah mendengar permintaan Agam berikutnya, membuatnya sedikit-- ragu.
__ADS_1
"Aku mau minta hak aku sekarang, boleh yah?" tanyanya dengan suara berat dan serak-serak basah.
Dua tangan Bianca terulur, mengusap pipi Agam lembut. Lelaki itu meraih tangannya dan mengusap pelan punggung tangan itu. "Boleh ya Bi?" ulangnya sekali lagi. Menuntut sebuah jawaban dari sang empunya.
Bianca terlihat berpikir beberapa saat. Bila dia pikir-pikir, Agam sudah cukup berusaha menahan dirinya selama ini. Seharusnya, hak ini dia dapatkan di saat malam pertama. Namun--- Agam orang-nya tak akan melakukan apapun tanpa persetujuan dari Bianca. Setelah menyelami pikirannya beberapa detik, akhirnya Bianca mengangguk seraya tersenyum lembut.
Karena sudah mendapat lampu hijau, Agam pun menegakkan duduknya, dan segera membuka kaos kasualnya hingga ia bertelanjang dada menampakkan otot-otot perutnya yang terbentuk. Kemudian, dia kembali ke posisinya semula, menindih Bianca di bawahnya. Tanpa berbasa-basi, dia mengambil tindakan yaitu sebelah tangannya sudah merambat masuk kedalam celana Bianca. Sebenarnya, kepalanya masih terasa begitu pening. Untungnya sekarang, dia sadar tujuh puluh persen. Namun Bianca kembali menahan lengannya agar menghentikan pergerakannya. "Kenapa lagi Bi?"
"Itu--- kalo aku hamil, gimana?"
"Emang kenapa kalo kamu hamil? kan ada aku suami kamu."
Bianca memukul lengan Agam gemas, kenapa suaminya ini tidak mengerti. "Bukan gitu Kak. Aku gak mau hamil, masih sekolah."
"Yaudah, Ntar." Agam bangkit dan beringsut ke tepi ranjang. Dia membuka laci nakas, mengambil sesuatu dari dalam sana.
"Udah lama, buat persiapan aja pas lagi momen gini." ujarnya. Dia sudah kembali mengungkung Bianca. "Jadi, aku boleh lanjutin?"
Bianca mengangguk pelan sebagai tanggapan. Dia juga sedikit penasaran bagaimana sensasi melakukan 'Itu'
Lagi pula dia dan Agam kan pasangan sah. Jadi, boleh-boleh saja apa bila melakukannya.
Agam tak ingin lagi berlama-lama. Jadi, dia akan langsung memulai tahap pertama yaitu pemanasan, agar cepat mulainya.
Satu jari berusaha masuk kedalam sana. Membuat Bianca melenguh pelan. "Kak eunghhh."
__ADS_1
"Hmm? enak?" Agam mengeluar masukkan itu di dalam sana, Bianca menggeliat tak nyaman di buatnya. Demi apapun ini geli-geli agak gimana menurut Bianca. Tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
"Kak Agamhhh." Tubuh Bianca bergetar. Agam mengeluarkan tangannya dari sana, mendapati cairan orgasme itu di salah satu jarinya. Kemudian, tanpa meminta izin dari sang empunya lagi, dia melepas pakaian yang menghalangi aksinya tadi, agar lebih leluasa. Namun, sebelum itu benar-benar terlepas, Bianca lagi-lagi menahan lengannya. "Malu.." cicitnya.
"Gapapa, aku suka semuanya dari tubuh kamu." Agam berujar dengan suara berat. Dia menyingkirkan dengan pelan, tangan Bianca dari lengannya. Dan melanjutkan niatnya tadi. Melepaskan celana hingga dalaman Bianca. Merendahkan tubuhnya agar bisa melihatnya. Hingga aset istrinya, bisa ia tangkap jelas dengan mata telanjangnya secara langsung. Mulus. Agam menelan salivanya. Sh.it! Si junior udah tegang!
"Kak?" Bianca memanggil melihat Agam yang terlihat termenung. Apakah miliknya, kurang menarik? ataukah menjijikan di mata Agam?
Panggilan dari Bianca ternyata mampu membuat Agam tersadar. "Ehm, aku lanjut ya?"
Meskipun agak ragu, Bianca tetap menganggukkan kepalanya. Agam melebarkan paha Bianca mendekatkan wajahnya ke aset Bianca. Dia menciumnya disana.
"Jadi, gini aromanya?" Agam memindahkan pandangannya kepada Bianca yang kini wajahnya terlihat memerah bak kepiting rebus. Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan mungilnya. "Malu..."
Tubuh Agam naik, mensejajarkan dirinya dengan Bianca. Dia membuka telapak tangan yang menutupi wajah cantiknya. "Gak perlu malu. Every part of you looks beautiful in my eyes." bisiknya. Setelah itu dia, membuka resleting celananya masih dalam mengekang Bianca dibawahnya.
Mata Bianca sontak membulat melihat terong---eumm ralat pusaka Agam. Bukannya itu terlalu besar? apakah bisa muat?
Bianca menelan ludahnya takut. Dia segera merapatkan pahanya, ketika Agam akan melebarkannya kembali. Gadis itu menggeleng nanar.
"Kenapa?"
"Takut gak muat Kak.. nanti sakit.." cicitnya terdengar polos. Agam menyibak anak rambut Bianca di dahi, dan menciumnya di sana. "Gapapa, cuma bentar doang sakitnya habis itu bakalan enak. Ya? aku gak bisa berhenti sekarang."
Agam tak peduli dengan ekspresi Bianca yang tampak ragu melakukan itu, dia sudah tak bisa menahannya, serta tak bisa lagi berhenti. Lelaki itu memposisikan pusakanya ke aset Bianca setelah sebelumnya memasang pengaman. Lalu menarik dua tangan Bianca menuntunnya untuk melingkar ke punggungnya. "Kalo sakit, cakar aja punggung aku."
__ADS_1
TBC.
***