
Agam dan Bianca terpatri disisi crib, tempat tidur Altezza sekarang. Sebenarnya boks bayi tersebut milik Taksa sewaktu masih bayi, kebetulan mereka sedang menginap disini, tidak ada salahnya mereka meminjamnya untuk Altezza. Lagi pula, sudah sebesar itu, Taksa tak membutuhkannya lagi.
"Sudah cukup liatnya..sekarang ayok kita ketempat tidur.. katanya tadi udah ngantuk.."
"Bia pengen liat muka baby Altezza sebentar lagi Kak.."
Agam merangkul Bianca yang kelihatan enggan untuk beranjak, menuntunnya terkesan paksa menuju ranjang, "Itu sudah lebih dari cukup, sayang.. lagi pula masih ada hari esok. Sekarang, Bia ada baiknya mending bobo, siapa tahu besok langsung mendingan."
Ujung mata Bianca masih belum terlepas dari boks bayi walaupun ia sudah ada di ranjang, Agam beranjak kearah lemari yang kini terisi dengan persediaan pakaian Bianca yang ia bawa kemari, setelah itu ia membantu Bianca menukar pakaiannya dengan baju piyama.
Agam menekan pundaknya untuk merebahkannya secara lembut, usai menyelimuti Bianca, ia pun ikut berbaring disampingnya sambil mendekap Bianca.
Bianca menjadikan lengan kekar Agam untuk ia jadikan bantalan. Sedangkan Agam yang merasa diperhatikan terus Istrinya dari bawah dagunya, kini menunduk beradu dengan tatapan redup Bianca. "Kenapa hmm? Kakak tambah tampan ya?"
Bianca mengangguk pelan tak menyangkal. Suaminya memang tambah mempesona berkali-kali lipat dari terakhir kali. Ia menangkup rahang Agam. "Saking tampannya, Bia sampai enggan melepaskan pandangan dari Kakak..Bia pengen terus liat muka Kakak sepuas-puasnya malam ini."
Cup!
Kecupan singkat mendarat diujung hidung mungil Bianca. Ia tersenyum teduh meratapi wajah Bianca lekat-lekat. Jarinya perlahan aktif mengais anak rambut Bianca yang sedikit menutupi paras cantiknya. "Bia juga, makin hari kecantikan Bia kian meningkat di mata Kakak. Kalo Kakak ada pernah bilang Bia jelek, jangan percaya. Itu kebohongan Kakak yang paling besar. Pokoknya Istrinya Kakak paling cantik sedunia."
Cukup lama Agam menyorot wajah Istrinya yang terlihat lebih cerah dan bersinar dari biasanya. Dia seperti melihat bidadari surga sekarang. Sampai dimana Bianca menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya, barulah pandangan Agam berakhir. "Bia gak mau pisah dari Kakak.."
"Iya, kita gak bakal pisah dan gak akan pernah."
"Bentar ya Bi? Kakak matiin lampu dulu, biar silau cahaya lampu gak menganggu. Bia pasti akan lebih cepat tidur kalau begitu." Agam melepas pelukannya sekejap agar bisa beranjak dari ranjang, cahaya lampu cukup mengusik mata apabila dibiarkan, biasanya pun dirumah mereka, Agam dan Bianca tak akan nyaman jika tidur lampu belum dipadamkan.
Kini suasana menjadi lebih temaram dari yang tadi, menyisakan secercah cahaya redup dari lampu tidur. Agam telah mematikan saklar lampu utama lalu ikut bergabung bersama Istrinya ditempat tidur, ia mencium kening Bianca lama sebelum berbisik di telinganya. "Selamat tidur, Istriku.. Mimpi yang indah.."
*****
"K-kak..."
Agam menggeliat kecil, cukup terusik dengan panggilan lirih berserta gerakan gelisah orang yang ada disisinya, matanya mengerjap berulang kali berusaha untuk mengumpulkan nyawa.
"Ada apa Bi..?" Tanyanya dengan suara serak, khas bangun tidur.
"S-sesak.." Nyawa Agam langsung terkumpul total. Pandangannya yang awalnya sayu kini langsung jernih dalam seketika. Ia memusatkan titik fokusnya pada Bianca dengan panik.
Agam dapat melihat Bianca dengan deru napas yang memburu sedang memegangi dadanya sendiri. "B-bia? Apa yang terjadi denganmu?!"
"E-ezza...Bia mau Ezza.." cepat-cepat Agam bangun lebih dulu mendahului Bianca yang bergerak mengubah posisi, Agam membantunya untuk bangun.
"E-ezza Kak.."
__ADS_1
"Iya sayang iya.. bentar yaa.." Agam mengelus belakang kepalanya sebelum turun dari ranjang, ia menyalakan lampu utama kemudian mengambil bayi Altezza yang masih terlelap, ia membawanya menuju Istrinya yang entah mengapa sedang mengingkan Altezza.
Agam duduk bersila diatas kasur sambil menggendong Putra kecil mereka berdua. Dalam hati yang diserang firasat tidak baik, ia memperhatikan Istrinya. Kening Wanita itu banjir akan keringat dan bibir yang pucat pasi, dengan napas yang tak beraturan Bianca berusaha mengukir senyum teduh memperhatikan Altezza dalam gendongan Ayahnya.
Bianca tak kuasa menahan tetesan air matanya, ia mencodongkan wajahnya pada Altezza dan memberikan ciuman sangat lama di dahi Putra kecilnya. Tangan Agam terulur memegangi dahi Bianca usai ia menegakan punggung agar dapat memeriksa suhu badannya, sore tadi demam Bianca sudah turun. Kali ini suhu tubuhnya bukan lagi panas, melainkan dingin. "Bia..? Bilang Kakak apa yang kamu rasakan?"
Bianca menggeleng tak berdaya lalu mengambil tangan Suaminya untuk ia genggam. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sesak yang kian mendera. Dadanya naik turun. Seiring berjalan waktu dari detik ke detik berikutnya, oksigen disekitarnya berangsur-angsur menipis.
Kepalanya ia sandarkan di.bahu Suaminya setelah merasakan tubuhnya mati rasa, lemas tak bertulang bagaikan jeli. Ia masih menggenggam tangan Suaminya yang kini meletakan Altezza disisi mereka berdua. Tentu saja ia khawatir melihat kondisi Bianca yang jauh dari kata baik-baik saja.
Ia memegangi pundak Bianca menatapnya serius, namun pancaran matanya mengisyaratkan sebuah kecemasan dan panik yang mendalam. Mata Bianca lebih redup dari yang awalnya, "Bia?! Jangan hanya diam! Bilang ke Kakak apa yang kamu rasakan?! Apa perlu Kakak bawa ke rumah sakit?!"
"J-jangan.. g-gak usah.."
Kalang kabut, Agam menangkap tubuh Bianca yang terhuyung ketika Agam tak sengaja melepaskan tumpuan tangannya di bahu Bianca. "Biaaaa jangan buat Kakak gak karuan kaya gini..."
"G-gak ada.." Napas Bianca tersendat-sendat. Agam memeluk kepalanya menjadi tanda bahwa ia takut kehilangan. "J-jangan m-elakukan a..apa.. a-apa.."
"M-mungkin.. i..ni..u..d..a..h s--saatnya.."
Rasanya ada yang menarik arwah Agam dari tempatnya, ia meneguk salivanya kasar. Seketika memori kelam yang sempat dialaminya melintas begitu saja dikepalanya. Dimulai dari kepergian Ibu kandungnya sampai kepergian kedua orang tua angkatnya. Ia menggeleng kemudian menepis itu semua jauh-jauh, sekarang ia harus optimis.
Penyakit Bianca tak separah itu sampai harus bernasib seperti mereka. Lagi pula Bianca sudah berjanji akan terus menemaninya hingga nanti. "Rumah sakit! Iya! Kakak akan bawa Bia ke rumah sakit! Bia bertahan yah?!" Paniknya saat tak tahu lagi harus melakukan apa di situasi ini. Ini terlalu tiba-tiba.
"Bia!! Kamu ngomong apa sih?! Jangan melantur!! Ini gak lucu tahu gak?!"
Ceklek..
"Agam, ada apa..? Dari tadi Ayah sama Bunda dengar kegaduhan dari sini." Tanya Alena saat menyambangi kamar yang mereka huni bersebelahan dengan kamar dirinya dan Rendra, kedua paru baya itu terusik dengan suara Agam yang menciptakan keributan sehingga mereka pun memutuskan untuk memeriksa kondisi anak dan menantu mereka meninggalkan Taksa yang tertidur lelap seorang diri.
Agam menoleh dengan memelas. Ia meracau-racau sangat kacau dan memprihatinkan. Terlebih lagi air matanya sudah berderai menghiasi wajah rupawannya. "Ayah.. Bunda.. tolongin Agam...dari tadi Bia bicara yang enggak-enggak terus.. Agam--Agam--gak tahu harus melakukan apa...Agam gak mau.. please bilangin ke Bia jangan bicara yang aneh-aneh!! Agam gak mau dengar.."
Tangan Bianca tiba-tiba terangkat lemah, "B-bunda.." Alena yang merasa dipanggil pun menyambut uluran tangan Bianca. Wanita paru baya itu kini duduk diarea kasur bersama dengan Putrinya dan menantunya.
Awalnya ia kira Bianca menjadikan tangannya sebagai tumpuan untuk menegakkan punggungnya dari sandarannya didada Agam. Namun, ternyata perkiraannya salah. Bianca malah membawa punggung tangan Alena untuk ia cium. "B-bia p-pamit ya..?"
"Tuhkan! Bia bilang hal yang aneh mulu!! Berhenti ngomong kaya gitu Bi!! Kakak gak suka!! Kakak gak suka please!!"
Bianca menganggap ucapan Agam sebagai angin lalu lanjut menjabat tangan Ayahnya yang berada didekat Bundanya, tentu saja ia shock dengan keadaan ini.
Sebelum menerima uluran tangan Putrinya, ia mengalihkan tatapan nanarnya pada Alena yang memberikan anggukan dengan air mata yang sudah mengaliri pipinya, mereka berdua sudah paham dengan maksud Bianca.
Tidak ada yang kekal di dunia ini. Semua makhluk di dunia ini suatu saat pasti akan pulang ke sisi Tuhan. Ada dua hal yang termasuk dalam takdir yang tak dapat diprediksi oleh manusia, yakni jodoh dan ajal. Ajal pun bagian dari takdir dan kita sebagai insan biasa yang hanya tinggal sementara di semesta tak ada yang tahu kapan hari tepatnya maut akan menjemput kita.
__ADS_1
"Ikhlaskan." Meskipun kondisinya yang tak kalah hancur, Alena mencoba tegar. Ia menepuk punggung Suaminya yang menunduk dalam, Alena menyalurkan kekuatan pada sang Suami agar mereka sama-sama bisa lapang dada menerima takdir menyakitkan didepan mata. Percayalah, segalanya telah diatur oleh sang maha kuasa, tak ada yang bisa mencegah garis takdir yang telah ditentukan oleh sang pencipta.
Selesai menjabat tangan Ayahnya, Bianca kini mengambil tangan Suaminya yang menangis terisak-isak. Ia menggeleng nanar dengan tangis sesenggukan. "K-kak...t-tu..ntu..n B-b..i..a."
"Jangan mengatakan omong kosong! Aku gak akan pernah biarin kamu pergi duluan! Gak akan pernah!"
"Agam! Apa yang kau lakukan hah?! Kau mau membuat Istrimu kesulitan! Kendalikan dirimu! Bukan hanya dirimu! Kami sebagai orang tuanya jauh lebih hancur melihatnya!" Bentak Rendra tak habis pikir. Perlakuan Agam malah semakin membuat Istrinya tersiksa dalam meregang nyawa.
Agam menarik napasnya dalam guna mengurangi rasa sesak yang kian menjadi menggerogoti dadanya, pandangannya mendongak keatas, meratapi langit-langit kamar. Ia tidak melepaskan tautan tangan mereka berdua. Tangan mungil Istrinya sangat dingin. Kali ini, ia sangat membenci takdir yang kejam padanya. "Kenapa..? Kenapa..semua orang yang berharga bagiku kau ambil, Tuhan..? Apakah aku tidak pantas bahagia.?"
Ia menunduk saat merasakan cengkraman Istrinya menguat, air matanya berjatuhan dipermukaan surai Bianca yang sedang bersandar di dada bidangnya. Detik selanjutnya ia mendekatkan mulutnya ke telinga Bianca melantunkan sebuah kalimat talqin penghantarnya pergi. "La Ilaha Illallah.."
Mulut Bianca bergerak samar mengikuti ucapan sang Suami dengan napas yang terputus-putus. "La Il..ah..a I..lla..ll..ah.."
Detik berikutnya, kelopak matanya mulai tertutup menyapa alam abadi, sebelum ia benar-benar pergi, ada satu gerakan mulut lagi yang dapat dipahami oleh Agam, "B..ia p..u.l.a..n..g d..u.lu.. y..a?"
Bahkan saat nyawanya telah mengudara, ia sempat menerbitkan sebuah senyuman kecil yang terlihat amat manis dan akan menjadi senyum terakhirnya. Tugasnya di dunia ini telah usai. Istri hebat dan tangguh itu telah pergi meninggalkan banyak kenangan indah dalam memori orang-orang berharganya. Yang paling utama adalah Suaminya. Seorang Suami yang sudah menjadikan ia ratu selama ini.
Isak tangis Agam pecah saat Istrinya sudah tak bernyawa. Ia kembali berada difase titik paling terendah. Ditinggalkan oleh Istri tercintanya, Istri kesayangannya. Seorang perempuan yang sudah berjanji akan selalu menemaninya hingga nanti kini telah tertidur abadi pergi meninggalkan dirinya, buah hati mereka kemudian kenangan berharga yang mereka miliki untuk selama-lamanya.
Mulai detik ini, tidak akan ada lagi wajah cantik yang menyambutnya setiap pagi. Tidak ada lagi suaranya yang mengomel, tidak ada lagi Perempuan yang menyambutnya dengan hangat kala pulang kerja, mulai sekarang ia akan belajar menjalani hidupnya bersama dengan satu-satunya titipan Istrinya, menyayanginya dan merawatnya segenap hati agar Istrinya bisa tenang di alam sana.
Tak ada siapapun yang bisa mencegah kepergiannya, ini bukan tentang kata ingkar dalam janji yang pernah ia buat. Tetapi perihal takdir yang tak berpihak pada janjinya.
Kini hanya raungan histerisnya, terdengar mencekam dan menyedihkan tercampur aduk bersama dengan tangisan sang Bayi yang kini telah terjaga seolah mengerti dengan keadaan. Sang suami yang memeluk kepala Istrinya yang terbujur kaku yang menjadi pemandangan pilu didalam ruangan ini, kepalan tangan Rendra menghantam permukaan kasur, bahunya sama bergetar seperti Istrinya yang menunduk sambil menangis tergugu. Raungan duka mereka turut menyelimuti suasana. Terdengar begitu tragis.
"Bia boleh hukum aku dengan apapun atas kesalahan fatal yang Kakak buat, asal jangan kaya gini...Kakak gak sanggup sayang.." Bibirnya menyentuh kening Bianca sebelum melanjutkan ucapan paraunya. "Ini terlalu menyakitkan.. kamu perginya terlalu jauh meninggalkan aku dan Ezza.."
Agam sudah menanamkan sebuah keteguhan dalam hatinya. Tidak akan ada Wanita yang lain lagi yang dapat menggantikannya, ia akan setia dan menjadikan Bianca Istri satu-satunya juga takhta tertinggi dalam hatinya hingga akhir hayatnya kelak.
"Selamat jalan bidadarinya Agam..Kakak akan mencoba ikhlas meskipun ini sangat-sangat berat. Kakak gak bisa menyerah walaupun Bia pergi duluan.. Karena masih ada malaikat kecil kita yang harus Kakak temani disini. Sampai waktunya tiba, Kakak akan menyusul Bia..Tunggu Kakak disana ya..?"
*****
Author lagi kupas bawang. Jadi, maklumlah ada bau bawang yang menguar ke mana-mana 🤗
Ada yang mewek gak nih? kemungkinan gak ada karena cerita aku gak sebagus itu hingga membuat para pembaca sampai nangis🙂👍
Jujurly Author nulis ini sambil ngakak, soalnya lagi belajar jadi Author psychopath😈🔪
Jangan salahkan Author, ini sudah takdir🙂😭😗
Tinggal satu episode lagi maka cerita MWK akan benar-benar usai, tunggu aja chapter selanjutnya, do'akan semoga mood Author dalam keadaan baik-baik saja agar 30% adanya kemungkinan keajaiban🤧
__ADS_1
Ingat, hanya 30%😭🤏