
Tiga hari Agam di rawat rumah sakit dalam saat itu juga Bianca senantiasa menemaninya sepulang sekolah. Cantika serta Bastian juga tidak pernah alpa menyambanginya kala ia terbaring di rumah sakit. Dan untuk hari ini, Agam sudah di bolehkan pulang. Untuk sekarang mereka sudah berada di rumah. Bianca masih merahasiakan jika yang mencelakai dirinya dan Agam adalah Samuel. Bianca hanya ingin mengetahui apa penyebab dari Samuel melakukan itu. Dan tidak ingin mengusut masalah itu lebih jauh.
Agam bersusah payah beranjak dari tempat tidur berniat akan pergi ke dapur untuk mengambil minuman, sejak tadi tenggorokannya terasa kering, ia butuh air.
Bianca yang baru saja keluar dari kamar mandi habis buang air kecil itu segera menghampirinya. "Kakak mau kemana?" Bianca menekan kembali pundak Agam untuk duduk, tidak memperbolehkan Agam beranjak sedikitpun.
"Mau ke dapur, aku haus Bi."
"Yaudah biar Bia yang ngambil." Katanya membuat Agam memberengut. "Aku bukan anak kecil dan aku bisa ngambil sendiri."
"No!! kakak itu belum pulih total jadi jangan sembarang gerak. Tunggu sini! jangan berani-berani kakak beranjak sedikit pun. Kalo Kakak nurut, Bia bakal kasih hadiah."
Bola mata Agam langsung berbinar, "Cium?"
Bianca mengangguk, "Makanya, Kakak patuh ya?"
Lalu selepasnya Bianca beranjak pergi ke dapur. Padahal Agam masih bisa jika hanya jalan dalam rumah, tapi istrinya benar-benar overprotektif.
Tidak memakan waktu lama, Bianca kembali membawa segelas air putih. Bianca menyerahkan keinginan Agam. Lalu lelaki itu segera meneguknya hingga tandas dan meletakkan gelas di nakas.
"Sayang.." panggilnya pada Bianca yang sedang bermain ponsel di sampingnya.
Bianca tahu apa yang akan terjadi, lelaki ini pasti menuntut apa yang ia janjikan tadi. Tapi serertinya akan lebih seru jika mengusilinya dengan berpura-pura lupa. Alhasil, Bianca tidak menghiraukannya dan itu membuat Agam kesal.
Ia bergeser semakin merapatkan dirinya pada Bianca yang bergeser juga menjauhi Agam. "Hadiahnya?" Telunjuknya memencet pipinya memberi kode.
"Tapi bo'ong wlee!" Bianca memeletkan lidahnya meledek.
***
Bianca memain-mainkan rambut Agam yang sedang sibuk makan nasi goreng buatan Bianca. Tentunya masakan Bianca sudah tidak seperti dulu yang rasanya buruk. Kini sudah enak di mulut Agam karena ia juga sudah biasa memasak untuk makanan rumahan untuk mereka sehari-hari. "Kak? rambut kamu udah mulai panjang. Ntar aku gunting ya?"
__ADS_1
Agam menggeleng menolak. Ia masih sibuk mengunyah makanan. "Aku mau manjangin rambut." Bianca menggetok kuat kepalanya mendengar hal itu membuat Agam mengusap-ngusap kepalanya yang terasa berdenyut, ia meringis kecil. "Sakit Bi, udah berapa kali di ingatin. Gak boleh mukul suami---"
"Dosa!!!" Sela Bianca memutar bola matanya kesal. Ia sudah hapal dengan apa yang akan di ucapkan oleh Suaminya di kalimat terakhir.
"Tapi masa manjangin rambut sih? gak cocok banget sama karakter Kakak yang ketua osis. Malah nanti Kakak bakal jadi bahan olok-olokan satu sekolah. Ketos kok penampilannya kayak preman?" Bianca mengoceh panjang kali lebar, Agam malah menye-menye menirukan omongan Bianca. Seharusnya terserah dia kan mau bergaya rambut seperti apa.
Lagi pula cover tidak menentukan bagaimana otak seseorang. Meski terlihat seperti preman yang terpenting tidak mengurangi IQ-nya. "Kamu gak mau apa punya suami yang mirip-mirip bad boy ketua geng motor gitu?"
"Kakak kira ini di dunia pernovelan?"
"Lah emang iya kan kita hanya di tulis sama author?"
Bianca tidak tahu harus membalas apa lagi, ia kalah karena merasa ucapan Agam ada benarnya. Akhirnya ia hanya menjambak rambut Agam main-main.
***
Bianca tidak merasa bingung lagi saat Bastian dan Cantika mengunjungi rumah mereka. Dapat di ketahui dengan jelas tujuan mereka adalah menjenguk Agam yang belum sepenuhnya pulih. Tadinya Bianca menduga seperti itu tapi ternyata sedikit melencang. Walau sekaligus itu sebenarnya tujuan utama Bastian adalah menitipkan Cantika untuk sementara kepada Bianca dan Agam.
Sejak tadi raut Agam sudah tidak bersahabat melihat keberadaan Cantika. Bastian sudah pamit pergi untuk pergi ke perusahaannya sejak lima menit yang lalu. Saat ini hanya ada Cantika dan Agam di ruangan tengah sementara menunggu Bianca yang sedang mengambilkan beberapa camilan untuk di santap.
"Itu muka bisa jangan datar-datar kek aspal bisa gak sih bang? liat Tika kaya liat liat musuh aja."
Agam paling malas merespon adik cerewetnya ini. Kenapa Cantika harus di titipkan kepadanya dan Bianca? kenapa tidak di titipkan di panti asuhan saja. Ia kesal memikirkannya. Malam indah kebersamaannya dengan Bianca akan terusik oleh adiknya ini. Menyebalkan!!
Bianca muncul dari arah dapur menuju mereka membawa setoples kacang dan tiga minuman kaleng genap untuk mereka. Lumayanlah untuk mengemil.
Masih berkisaran lima ratus centi dari mereka, Bianca sudah dapat merasakan hawa-hawa kebencian di antara Kakak beradik yang tengah duduk di masing-masing sofa terpisah. Dari cara duduk mereka yang kelihatan amit-amit berdekatan, sudah dapat di simpulkan mereka memang tidak akur.
Jika hanya menilai dari luar, mungkin orang-orang tidak akan tahu mereka bersaudara. Dari pada adik kakak, mereka lebih mirip anjing dan kucing yang tidak akan pernah akrab satu sama lain. Hanya saling bermusuhan.
Bianca berdehem kecil untuk meminimalisir suasana yang tegang. Bukan untuknya, melainkan untuk Agam dan Cantika.
__ADS_1
"Kak Bia.."
"Bi.."
Lihatlah, ekspresi mereka kini di gantikan layaknya seekor kucing patuh, tidak banyak tingkah. Padahal, tadi mereka sudah berperang sengit lewat kontak mata.
"Sepertinya kalian akur banget." Sesekali menjahili mereka tidak apa juga menurut Bianca. Lagi pula, Agam hanya dari luar saja kelihatan tidak hangat. Kalau saja Cantika mengetahui karakteristik asli Agam mungkin ia juga tidak akan menyangka. Langsung saja Cantika dan Agam saling melirik sinis.
"Ogah Tika akur sama kutub, iyuhhh."
"Oh, emang gue peduli?" Agam menyewot memutar bola matanya sendiri. Keberadaan Cantika membuat suasana hatinya memburuk.
Bianca yang sudah meletakkan bawaannya di atas meja lalu mendudukkan dirinya di sisi Cantika makin gencar menggoda mereka. "Tuh kan akrab banget.." telunjuknya menunjuk Cantika dan Agam secara bergantian, yang kemudian sama-sama mendelik tidak suka.
"Bi.. peluk..ayok!!" Agam merengek seraya merentangkan tangannya. Sengaja memanas-manasi Cantika yang sama sekali tidak panas, malah ia adem-adem sana "Jangan mau Kak, Agam itu bau!" protesnya.
"Diem gak lo!" Sentak Agam jengkel.
"Abang tuh yang diem!"
"Masih berani ya manggil gue Abang? gue potong tuh mulut lo pake golok." Kalau di lihat dari rautnya seperti bukan orang yang main-main. Memang ia tengah emosi kepada Cantika terbukti dari mimik wajahnya. Tapi, sepertinya perkataannya tidak masuk akal.
"Waw Cantika takut banget!!" Cantika berlagak sok takut, "Abang berharap Tika bakalan bereaksi seperti itu? tapi maaf Tika sama sekali gak takut sama ancaman Abang."
Bianca membuang napasnya jengah seraya geleng-geleng kepala. Berasa seperti pajangan ia disini. Mereka hanya sibuk beradu mulut sampai mengabaikannya. Baiklah, dari pada pening di antara pertengkaran mereka, Bianca memutuskan beranjak menuju ke atas. "Yaudah kalian berantem aja terus ya? gue ke kamar mau bertapa. Kali aja gue bisa dapet pencerahan."
Tidak banyak berpikir lagi ia segera melenggang membuat Agam semakin kesal malah menyalahkan adiknya. "Gara-gara lo nih!! pasti Bia gak ngasih jatah nanti malem!!"
"Enak aja maen-maen jatah!! selama masih ada Tika, jangan harap!!" Tukas Cantika.
***
__ADS_1