
Kediaman besar Arbyshaka kali ini ramai diisi oleh sanak keluarga mau pun teman-teman dari dua belah pihak Agam dan Bianca. Hasil dari usaha keras Agam dalam mengelola aset perusahaan besar yang telah diwariskan oleh Bastian, ia berhasil membeli sebuah mansion mewah dan megah untuk ditinggalinya bersama Bianca lalu tambah satu lagi anggota keluarga baru mereka. Ah, tak lupa ada Cantika juga yang menjadi tanggung jawab Agam.
Agam dan Bianca menyelenggarakan sebuah perayaan sederhana untuk memanjatkan rasa syukur atas kelahiran anggota keluarga baru mereka, yakni Altezza Reiki Arbyshaka. Anak pertama mereka.
Diruang tamu kini sudah mengadakan perjamuan, tak banyak yang hadir. Hanya orang-orang yang terpenting bagi mereka saja yang diundang, terutama Ayah dan Bunda Bianca juga datang bersama dengan Taksa--Putra pertama Alena dan Rendra alias Adik Bianca. Usianya terpaut tak berselisih jauh dari Aurora anak pertama Nathan dan Camella.
Rendra dan Alena tiba di indonesia kemarin sore, sengaja berangkat lebih awal agar dapat mengikuti perayaan penyambutan cucu pertama mereka. Kali ini kepulangan mereka, untuk kembali tinggal di negara Indonesia karena kondisi cabang perusahaan mereka di Amerika sudah mulai pulih setelah ditangani oleh Rendra bertahun-tahun.
Seluruh tamu yang datang kini sedang menikmati hidangan ringan yang tersedia sambil berbincang ria. Ada Bella dan Tasya juga pasangan mereka pun hadir.
"Wih, Contrast bro, akhirnya jadi Ayah juga lo." Nathan mengarahkan kepalan tangannya berniat mengajak Agam yang baru saja datang di ruang tamu untuk bertos ala laki-laki.
"Hmm.." Dengan wajah tanpa ekspresi, Agam tak menyambut tangan Nathan, ia hanya duduk disebelahnya sambil berdehem pelan. Alhasil Nathan mencebik jengkel menarik kembali tangannya. Ia tiba-tiba jadi dongkol karena Agam tak pernah berubah sama sekali walau sudah menjadi seorang Ayah, Nathan hanya berdoa semoga Anaknya tak gagu seperti Ayahnya.
"Ih kok Agam gak pernah berubah? sudah ada anak malah makin dingin, kayaknya pintu kulkas manusia yang satu itu tambah banyak dari tujuh pintu jadi sepuluh pintu." Bella berbisik pada Camella yang duduk disisinya.
"Jangan ketipu, lo liat aja nanti kalo lagi sama Bia, itu baru karakter aslinya." Camella juga ikut-ikutan berbisik pada Bella.
Atensi mereka semua teralih kearah tangga ketika Bianca turun dari sana, ditangannya sedang menimang bayi, yakni Altezza. Disampingnya ada Cantika.
Agam bangkit dari duduknya, menaiki tangga menuju mereka, "Bi.. hati-hati jalannya, kenapa gak suruh pelayan aja yang bawa Ezza? aduh kalo kamu kenapa-napa gimana? kamu baru habis lahiran loh, seharusnya kamu jangan terlalu banyak gerak."
Bianca memutar bola matanya jengah saat Agam dengan segala keoverprotektifannya merangkul bahunya, menuntunnya untuk turun dari struktur undakan tangga dengan penuh kehati-hatian.
Agam itu memang selalu seperti ini, baik dari dirinya belum mengandung pun sudah overprotektif berlebihan, apalagi sekarang. Salah-salah diam saja seperti patung pancoran, bergerak sedikit saja dia banyak protes. Jangan inilah, jangan itulah. Ia juga manusia, butuh bergerak.
"Seharusnya Kakak lebih khawatirin Ezza bukannya aku, aneh deh kamu. Anak sendiri juga."
"Ezza nomor dua." Sahut Agam tanpa beban.
Agam membantunya untuk duduk disalah satu kursi sofa. Cantika pun memilih duduk lesehan di karpet bulu, menonton Aurora dan Taksa yang sedang bermain. Ia malas bergabung dengan orang dewasa, topik mereka sulit untuk dimengerti teruntuk remaja SMP sepertinya.
"Agam, kamu jangan terlalu manjain Bia, nanti dia gak bisa ngurus anak." Timpal Alena. Rendra mengangguk sependapat.
"Iya tuh, Kakak terlalu overprotektif, aku kan bukan anak kecil." Bianca mencebikkan bibir memihak Sang Bunda.
"Gak papa Bun, kan ada pelayan." Balas Agam dengan senyum kakunya, ia mengusap-ngusap tengkuknya canggung, melihat kedua mertuanya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Tuh kan, kalo bareng Bia, baru muncul sifat aslinya." Camella dan Bella kembali berdesas-desus. Sontak Bella terkikik lucu, "Biasanya yang kek gitu tipikal suami takut istri." Mereka berdua pun jadi sama-sama cekikikan.
Tasya menghampiri Bianca yang sedang menimang bayi, dibelakangnya ada seorang Pria yang terlihat berwibawa dengan setelan jas dilengkapi celana formulanya, ia menyusul Tasya. "Ih, imut banget.."
__ADS_1
"Udah dikasih nama, belum?" Darren bertanya pada Bianca dan Agam yang sedang berdiri diseberang mereka, tapi yang menyahut sudah pasti hanya Bianca, "Udah."
"Siapa? siapa?!" Tasya jadi kepo maksimal. Pandangan Bianca mengarah kebawah dimana ada Altezza yang sedang menggeliat kecil, ia kelihatan enteng-enteng saja karena baru habis dikasih ASI.
"Altezza Reiki Arbyshaka.."
"Ihh bagus banget, Bia.." Tasya menoel-noel sebelah pipi gembulnya. "Altezza.. gemes banget sih.."
"Mau buat bareng? kita juga bisa bikin yang kaya gitu, lebih lucu dan imut lagi." Darren ikut nimbrung, disambut sikutan dari Tasya dipinggangnya.
"Kamu kalo ngomong, jangan suka mengada-ngada.."
"Lah, gak ada salahnya kan? kita udah tunangan, gak lama lagi nikah. Gak papakan buat dulu baru ni--" Tasya membekap mulut Darren yang hampir saja melontarkan kata-kata yang tak layak didengar oleh anak dibawah umur, ia menyeret Darren menjauh dari sana agar Altezza tak sesat akan omongan Darren.
Dari luar memasuki pintu utama, hadirlah seorang Pria yang sudah paruh baya namun masih terlihat gagah dan perkasa, bersama dengan laki-laki yang terlihat redup dan kurus kering dari waktu lalu.
Ia sedang menggenggam seorang bocah kecil. Perhatian mereka terpusat kearah mereka yang berjalan membelah ruangan mewah tersebut. Mereka adalah, Gilbert, Gelard dan Noel.
Yah. Agam mengundang mereka yang biar bagaimana pun mereka juga keluarganya. Terlebih saat tahu bagaiman respon Gilbert kala mengetahui Bianca telah melahirkan, ia sampai-sampai berteriak-teriak di depan umum, Agam mendengarnya dibalik telepon, 'MENANTUKU TELAH MELAHIRKAN! AKU SUDAH MENJADI SEORANG KAKEK!!' (Sebenarnya menggunakan bahasa Prancis, tapi lagi males ngetranslate.)
Baru saja tiga jam yang lalu mereka mendarat di Indonesia, istirahat sejenak dihotel, kemudian langsung meluncur kekediaman Arbyshaka ingin membesuk Altezza seperti yang lainnya.
Ada binar-binar kagum pada dua bola netra Bella saat melihat Pria yang nampak berkharisma tersebut, seketika ia jadi heboh sendiri. Ia membekap mulutnya mendramatis, "Omo! tiada hujan tiada angin, duda hot yang biasa hanya jadi bahan haluan, datang berkunjung kesini!"
Tangannya lihai merapikan helaian rambutnya agar lebih tertata rapi. Gilbert maksudnya, usianya memang sudah tua, tapi tidak dengan postur tubuh dan wajahnya, terlihat awet muda bisa diibaratkan dengan duda-duda hot yang ada dinovel maupun komik.
Bella berdecak kesal, masih dengan memandang Gilbert takjub. "Ck, suami nomor du-- aduhhh--" Alhasil ia mengadu kesakitan karena kepalanya dihadiahi tabokan cukup nyeri sama Pria disebelah kanannya. Ia sejak tadi ada tapi Bella dan Camella sibuk berdua, sama sekali tak menghiraukan keberadaannya.
"Nomor dua? mau gak bisa jalan besok pagi hmm?" Suara bariton itu, mengalun merdu ditelinga Bella. Ia meneguk ludahnya susah payah ketika melirik Pria yang berstatus sebagai Suaminya yang duduk disampingnya.
Terlihat santai tapi entah mengapa sangat menyeramkan saat ia menangkap smirk segudang makna pada wajahnya. Siapapun pasti akan dibuat ciut. Bella akhirnya menyengir kuda memamerkan gigih putihnya, ia mengacungkan jari telunjuk dan tengah sebagai bentuk perdamaian. "Bercanda.."
Mau tahu dia siapa?
Alexandre Keano Winata. (Pernah muncul diepisode 12. Club night)
Singkat cerita, mereka hanya kenal di sosial media, pacaran virtual hingga ketemu hanya sampai tiga kali, tapi entah mengapa ketika Alex pulang dinas dari luar negeri, Pria itu langsung melamarnya.
"Jadi, itu Ayah kandungmu?" tanya Rendra diangguki oleh Agam, ia pernah menceritakan pada Rendra dan Alena jika dirinya sudah pernah berjumpa dengan Ayah kandungnya.
Tiba didepan Bianca, Gilbert bertanya. "Jadi, dia cucuku?"
"I-iya Ayah.." Sejujurnya Bianca masih canggung memanggil Gilbert Ayah, karena ini pertama kalinya mereka bertemu lagi sejak perpisahan mereka pada saat itu.
__ADS_1
"Biarkan aku menggendong cucuku." Gilbert mengambil alih Altezza dari Bianca membuat sang menantu tersebut jadi menatapnya tak ikhlas. Seharusnya tak apa-apakan? lagi pula Gilbert Kakeknya, meski ia dari organisasi mafia, bukan berarti akan melukai cucunya sendiri kan?
"T-tapi.."
"Sebentar saja."
"Hati-hati, Ayah." Agam berpesan pada Gilbert yang sedang menggendong Putra kecilnya, Gilbert lantas mendengus kesal.
"Kau pikir aku apa hah? gini-gini aku juga pernah berpengalaman ngebesarin Elard." Cetusnya lalu sibuk dengan Altezza.
Berbicara tentang Gelard, mereka menjadi menoleh kearah Gelard yang sejak tadi hanya menonton mereka, melihat mereka akhirnya menyadari keberadaannya, barulah ia menyapa walau sedikit kaku. "H-hai?"
Gelard menatap Bianca berusaha tersenyum ramah, Bianca menyapanya balik, agak canggung juga karena sudah lama sskali mereka tak bertemu. Saat Gelard menggulir pandangannya pada Agam, ia sontak tertegun sejenak saat menemukan leser tajam yang dilayangkan oleh Agam. Gelard hanya menyengir kikuk, ia lupa jika Bianca punya Suami yang super posesif bahkan sama Adiknya sendiri ia cemburu.
Pandangan Bianca turun kearah bocah laki-laki yang sedang digenggam Gelard. Ia sedikit menyembunyikan tubuhnya kebelakang Gelard saat Bianca melihat kearahnya. Bukan takut, tapi malu dengan orang yang asing baru ditemuinya. "Dia, siapa?"
"Oh, dia?" Gelard menarik lembut tangan Noel agar keluar dari persembunyiannya, "Jangan malu, dia itu aunty kamu..yang sopan kalo sama dia."
"Aunty?" Noel mengerdip-ngerdip polos. Bianca akhirnya bangkit dari sofa menuju Noel, ia berjongkok dihadapan bocah kecil itu.
"Nama kamu, siapa?" tanya Bianca ramah, ia mengelus kepala Noel.
Dengan pandangan malu-malu, Noel menjawab. "N-noel.." Suaranya kecil dan imut.
"Oh, Noel? nama kamu bagus banget.." Bianca mencubit gemas pipi imut Noel. Ia berdiri dan menatap Gelard.
"Anak lo?" tanya Bianca mendapat anggukan dari Gelard.
Pandangannya menyebar kemana-mana, Bianca mencari-cari sosok wanita yang melahirkan Noel atau sebut saja Istri dari Gelard, tapi sepertinya hanya mereka yang datang, tak ada yang lain.
Lalu, siapa Ibu Noel?
"Lalu dimana--" Kalimat yang akan disampaikan oleh Bianca terpaksa menggantung karena kedatangan Tasya di ruangan itu.
"Loh, Samuel?!" Tasya terkejut mendapati Gelard yang dikenalinya sebagai Samuel berada di ruangan tadi. Ia baru saja habis dari kamar kecil ditemani Darren.
"Oh? bukannya cowok ini-- pernah sekelas sama kalian waktu SMA?" tanya Darren ikut memutar otak.
"Iya, tapi yang ini versi kurus kerempeng, lo kekurangan gizi ya Sam?" Ceplosnya blak-blakan. Bianca jadi meringis kecil mendengar ucapan Tasya yang terkesan kasar.
Gelard tak ambil pusing, ia mengangguk seraya tersenyum tipis. Kedua matanya tiba-tiba memanas tanpa alasan. "Iya.. sumber gizi saya sudah gak ada.."
"Hah, gak ada? maksu---ish bentar Ren!!" Tanpa menunggu ketuntasan pertanyaan yang menjadi tanda tanya dibenak Tasya, Darren menarik Tasya menjauh dari hadapan Gelard.
__ADS_1
"Gak usah ganjen jadi cewek!" Sepertinya Darren hanya tak mau melihat Gadisnya akrab dengan orang lain.
*****