Married With Ketos

Married With Ketos
Sherly, strong!


__ADS_3

"BAA!!!"


Bianca yang terkaget itu reflek nyaris mengumpat karena Tasya yang mengejutkannya. Sang pelaku pun hanya cengar-cengir dengan raut tak berdosanya. "Bisa gak sih, kalo nyapa itu, jangan ngejutin gitu!!! bikin jantung hampir copot aja!!" Kesal Bianca mengusap-ngusap dadanya. Mereka berdua melangkahi koridor.


Tasya malah tak menanggapi ocehan Bianca, dia celingukan kesana-kemari, seolah sedang mencari seseorang. "Kak Agam mana? tumbenan gak bareng? biasanya pagi gini udah bucinan?"


"Udah gue buang!!" Jawab Bianca ngasal.


"Ah masa iya? buangnya di mana? biar gue pungut, sayang banget suami seganteng dan segenius Kak Agam di buang."


"Lo mau jadi temen makan temen?!!"


"Dari pada di buang yekan?" Ucap Tasya kemudian, di saat perhatiannya teralih sepenuhnya pada Bianca, kerutan di dahinya hadir dengan samar. "Itu juga, ngapain lo pake syal?"


Mendengar itu, Bianca spontan menyentuh syal yang melingkari lehernya. Dengan ekspresi sedikit gugup. "O-oh ini.. itu--"


"Bia.." Suara berat itu menyapa indera pendengaran mereka, juga entah sejak kapan sudah mendekati keduanya. Tangan lelaki itu tiba-tiba menyentuh pundak Bianca.


"Kak.." Bianca merasa bersyukur, Agam datang di saat yang tepat, dan mengalihkan pertanyaan Tasya kepadanya. Sambil masih dalam perjalanan menuju kelas masing-masing, Agam menata helaian rambut Bianca agar lebih rapih dari yang tadi.


"Cantik banget sih." Celetuk Agam, lalu mencubit pipinya gemas.


"Dahlah, gue duluan!! Byee!!" Pamit Tasya yang merasa jadi obat nyamuk, dia segera pergi berlalu lebih dulu menuju kelasnya.


***


Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan bagi seluruh siswa dan siswi sedunia, di banding hari-hari lainnya. Yakni hari senin. Mengapa? karena hari itu harus melaksanakan upacara bendera, berdiri tegap di lapangan selama 45 menit.


Seperti sekarang, seluruh murid-murid SMA Garuda mulai mengisi lapangan terbuka, bersiap akan menjalani upacaran bendera.


Jika cuaca tidak cerah, itu akan menjadi keuntungan besar bagi para siswa. Namun, paparan matahari pagi ini bersinar cukup terik. Dan itu akan menjadi kesialan seluruh anak-anak sekolah. Termasuk Bianca. Di bandingkan murid-murid lain, dia lah yang paling tersiksa kali ini.


Dia--melupakan topinya!! sehingga penasnya bisa terasa berkali-kali lipat.


"Tasya.. pinjam topi, lo dong.." ucapnya dengan nada memelas, Bianca menarik-narik ujung seragam Tasya yang ada di posisi depannya, anak-anak SMA Garuda sudah siap di lapangan, tapi upacara belum dimulai.


Tasya sedikit berbalik agar bisa melihat Bianca, ia malah menarik pinggir matanya dengan jari telunjuk untuk mengejek Bianca. "Rasakan!!" cibirnya kemudian kembali menghadap lurus ke depan.


"Dasar teman gak ada akhlak!!" rutuknya kepada Tasya. Memang kata orang-orang, matahari pagi itu mengandung vitamin D. Tapi--tetap saja terasa gerah. Bianca memonyongkan bibirnya, lalu mengacakkan pandangannya, sorot matanya terhenti ke arah barisan kelas sebelas yang ada sosok Agam.

__ADS_1


Agam nampak santai-santai saja. Padahal gara-gara dia, Bianca sampai melupakan topinya. Jika tak kelelahan dan begadang karena bergelut, Bianca tak akan terlambat hingga melupakan topinya. "Dasar suami nyebelin!!" rutuknya dalam hati. Detik berikutnya, lelaki itu menoleh padanya, mata mereka pun terkontak walaupun hanya sedetik, Bianca segera melengos, membuang mukanya. Agam hanya mengulum senyum tipisnya.


Kemudian Bianca sedikit terkejut karena tiba-tiba merasakan ada yang memakaikannya topi kepadanya. Dia sontak meraba kepalanya seraya melihat kesamping, yang ternyata Samuel berdiri tepat di sebelahnya itu. "Di pake. Ntar muka lo jadi gosong."


"Lo, gimana?"


"Gapapa. Gue kebal terhadap matahari." Paparnya, kemudian segera berlalu menuju barisan para siswa laki-laki. Bianca agak merasa heran. Samuel itu abu-abu menurutnya. Kenal orangnya tapi tidak dengan kisahnya. Asal-usulnya pun masih tanda tanya.


Di bilang akrab? tidak juga. Hanya saja, Samuel selalu ingin mendekatkan diri kepadanya, meskipun Bianca berusaha menghindarinya sebisa mungkin.


Kemudian selanjutnya, seluruh anak-anak SMA Garuda pun hanya mengikuti alurnya waktu yang mengalir dari detik demi detik. Mengikuti prosesi upacara bendera.


***


Bianca dan Tasya membasuh wajah mereka yang terlihat kusut, Upacara bendera telah di laksanakan dengan hikmat. Yang menjadi kendalanya, adalah lamanya terus berdiri. Selain gerah, mengantuk juga terkait di dalamnya. Terlebih, yang menjadi pembina upacara kali ini adalah Pak Honda. Guru yang kebanyakan cincong. Upacara yang biasanya tidak sampai tiga puluh menit itu sampai satu jam, atau bahkan lebih.


Selepas membasuh wajah mereka agar terlihat lebih fresh, keduanya melanjutkan mencuci tangan mereka.


"Bia, lo udah kerjain tugas lo belum?" tanya Tasya kepada Bianca seraya berkaca di cermin wastafel.


"Tugas yang mana?"


"Lah buset kelupaan!!" Bianca menepuk dahinya, dia mendadak panik, benar-benar melupakan tugas yang di maksud oleh Tasya.


"Ntar lo salin punya gue aja. Kebetulan gue udah nyelesaiin. Tapi, jangan berharap lebih sama hasilnya."


Mimik wajah Bianca seketika sumringah, seraya menepuk-nepuk pundak Tasya. "Tambah cantik aja lo."


Tasya mengibaskan rambutnya, angkuh. "Iya dong."


"Hiksss."


"Bentar-bentar! lo denger gak, suara orang nangis?" Atensi mereka tiba-tiba terpancing ke suara isak tangis tersebut. Telinga mereka dapat mendengar dengan jelas suara itu.


"Hiksss."


"Jangan-jangan..." Rasa takut tiba-tiba melanda Tasya, apa lagi suara isakan itu semakin lama semakin tambah besar. Membuatnya jadi bergidik. Entah kenapa Tasya merasa suasana di sekitar toilet menjadi horor seketika. "Itu Kunti yang katanya jadi penunggu pohon mangga di belakang sekolah.." sambungnya dengan suara pelan.


Bianca menabok kepala Tasya. "Percaya aja lo sama mitos gituan!!"

__ADS_1


"Bisa jadi Bi!! ayok keluar yukk!! jadi takut nih gue!!" Desak Tasya yang di serang oleh ketakutan luar biasa, dia mengedarkan pandangannya di seluruh penjuru toilet itu dengan gusar, lalu bergidik. "Seremm!!!"


"Hikss..." Suara tangisan itu masih terdengar.


"Ntar," kata Bianca yang melangkah, mengikuti arah dari mana suara itu berasal. Mau tidak mau Tasya mengikutinya dari belakang. Langkah demi langkah keduanya pelan, mengikuti asal suara itu. Dan tiba di salah satu pintu toilet, suara itu berasal dari sana.


Tok tok tok.


"Hello... Ada orang gak di sana?" Bianca mengetok-ngetok pintu itu, dan tangisan itu pun seketika terhenti.


Tok tok tok.


Berulang kali Bianca mengetok pintu toilet itu, namun tak kunjung mendapat respon dari dalam sana. Suara tangisan itu pun sudah tak kedengaran. Karena tak mendapat gubrisan sama sekali, Bianca pun mencoba membuka pintu itu, dan rupanya pintu tersebut terkunci.


"Tuh kan!! pasti itu bukan manusia Bia.. ayok kita keluar aja ayok!!" Tasya yang sudah mengalami ketakutan hebat itu, menarik pergelangan tangan Bianca, Bianca pun mau tak mau hanya ikut seretan Tasya yang membawanya keluar dari toilet.


Beberapa saat kemudian, di saat telinganya sudah tak mendengar suara siapapun dari luar, sosok perempuan itu keluar dari dalam toilet tersebut. Sherly. Dia melangkah menuju wastafel dan membasuh wajahnya.


Sherly memandangi pantulan wajahnya di cermin seraya menumpukkan kedua tangannya di wastafel. Dia, terlihat berantakan, kedua matanya membengkak dan sembab, hidungnya pun memerah. Lalu dia menghela napas panjang. Dengan pikiran tiba-tiba meratapi nasibnya yang malang. Dunia memang kejam. Tidak, bukan dunianya, melainkan para penghuninya.


Meskipun begitu, bolehkah Sherly menyalahkan semesta atas penderitaannya? mengapa semesta tak adil? mengapa hanya sebagian yang bergelimang harta yang boleh bahagia? sedangkan dirinya yang termasuk orang dengan derajat rendah, yang menderita? bisakah tuhan lebih adil padanya yang tak mampu?


Kebanyakan orang bilang, hidup itu bagaikan roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Namun, mengapa dirinya selalu berada di posisi bawah? dan selalu menetap di posisi itu tanpa terputar sedikitpun.


Tidak berbeda jauh dari istilah yang katanya, akan ada pelangi setelah hujan. Sherly sama sekali tak mempercayai itu, seolah itu hanya rangkaian kata yang di jadikan sekadar pelipur lara untuk orang seperti dirinya. Jika tidak, lantas mengapa hujannya awet sekali?


Bagaimana bisa ada pelangi, jika hujan terus menyerbunya bertubi-tubi tanpa henti.


Dia sudah berusaha keras bertahan dalam kesengsaraan hidup. Sejak kecil, dia telah mengalami penderitaan besar, bahkan bisa di bilang, jika orang lain di posisinya, tak akan mampu lagi untuk bertahan. Namun--Sherly termasuk sosok yang kuat. Buktinya, dia masih bisa bertahan sampai detik ini.


Iya. Dia akan kuat selama tangan keriput yang meski begitu, itu menjadi tangan terhangat sepanjang masa. Dan sosok wanita paru baya itu menjadi wanita tercantik baginya, yakni Mamanya. Selama Sherly masih bisa menggenggam tangan Mamanya. Dia akan kuat agar bisa berupaya keras mencari uang demi malaikat tak bersayap-nya, bisa bertahan hidup. Sekalipun dengan cara yang salah.


Ibu. Dia--satu-satunya orang yang membuat Sherly kuat hingga sekarang, dan satu-satunya alasannya hidup sampai sekarang.


"Semangat Sher!! inget Mama!! lo harus kuat!!" ujarnya menyemangati dirinya sendiri.


***


Jangan lupa dukungannya!!

__ADS_1


__ADS_2