Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 08


__ADS_3

Dengan tangan bertumpu pada sisi kepala , rasanya enggan sekali Agam melepaskan pandangannya dari wajah polos Istrinya yang sedang terlelap di pelukannya. Pagi ini dia terbangun dengan stamina yang segar bugar, tapi tidak bagi Bianca.


Sepertinya tidurnya nyenyak sekali, Agam jadi tidak tega membangunkannya. Aish, bagaimana bisa dia memarahi Istri tercintanya ini kemarin? baru melihat wajahnya saja rasanya Agam sudah tidak tega, agaknya kemarin amarah besarnya mampu menghilangkan akal sehatnya hingga bisa menghardiknya.


Oke, sekarang Agam jadi menyalahkan Putranya sendiri. Tidak dua kali dia memarahi Bianca hanya karena anak kecil itu. Untuk sekarang, biarlah Altezza dirawat oleh para pelayan.


Dia mau menghabiskan waktunya bersama Istrinya dimalam hari tanpa diusik siapapun, khususnya baby Altezza. Sebenarnya Agam malas juga mendengar suara tangisnya, bikin rusak gendang telinga.


Kecupan sekilas yang dilakukan oleh Agam dipelipisnya sedikit mengganggu tidurnya,


"Eunghhh.."


Bianca melenguh pelan, dia menggeliat sebelum meregangkan saraf-saraf ototnya, "Kak.." Gumamnya serak. Sedetik kemudian, dia kembali mencari kenyamanan di pelukan sang Suami.


"Lanjut tidur aja kalo memang masih ngantuk." Bisik Agam ditelinganya.


Didalam dekapan Agam, Bianca mengangguk pelan.


Dia masih dalam keadaan antara sadar dan tidak. "Bangunin Bia sebelum makan siang.."


"Hmm.. " Agam berdehem kecil sebagai tanda jika dia mengiyakan.


Usapan telapak tangan Agam yang menyapu punggungnya dapat menimbulkan suara rintihan pada Bianca. "Ssshh.."


"Kenapa Bi?" Apakah semalam dia terlalu ganas sampai-sampai punggung Bianca pun terkena imbasnya? Apa iya? perasaan semalam dia melakukannya hanya sebentar saja sesuai janjinya, dan tidak terlalu keras, justru dia memperlakukan Bianca dengan penuh kelembutan.


"Gak Kak.."


Agam jadi curiga jika Bianca terluka tanpa sepengetahuannya. "Munggung Bi.."


"Bentar Kak, Bia masih ngantuk.." Benar saja, kelopak matanya terasa berat untuk terbuka.


"Munggung Bi, buruan!" Desak Agam tidak sabaran.


"Ish! orang masih ngantuk juga!" Bianca mendengus kesal, dia menggerutu tidak jelas, namun meski begitu, dia tetap patuh berbalik badan memunggungi Agam.


Menunjukkan punggungnya yang terbuka, terlihat jelas warna membiru keunguan terpampang, disana ada luka lebam. Agam menyentuhnya dengan hati-hati. "Ssshh, jangan dipegang Kak.. sakit.."


"Ini kenapa Bi? kenapa bisa luka kaya gini? apa Kakak terlalu kasar kemarin? tapi aku gak mukul punggung kamu, aku hanya narik tangan kamu aja, kenapa yang luka punggung kamu? semalam juga kita melakukannya gak berlebihan, hanya satu ronde saja seperti kemauanmu."

__ADS_1


Setelah dipikir-pikir, dia memang tidak melakukan apa-apa pada punggung Bianca, tapi kenapa ada luka memar yang cukup besar kaya gini? sedikit membengkak juga.


"Enggak Kak.. itu bukan apa-apa, nanti bisa sembuh sendiri." Kantuk Bianca menjadi menguap antah berantah. Padahal dia sudah berusaha menyembunyikan lukanya agar Agam tidak mencemaskan kondisinya, hanya luka sepele saja, tidak akan berdampak besar menurutnya.


Agam menarik bahunya dengan lembut agar Bianca dapat menghadap langsung padanya. "Katakan Bi, apa yang terjadi dengan punggungmu? kenapa malah disembunyikan dari aku? kamu anggap aku suamimu atau enggak sih?"


"Itu Kak--kemarin aku--"


"Aku?" Dua kening Agam hampir menyatu, dia menunggu perkataan Bianca berikutnya.


"J-jatuh dari tangga." Lanjut Bianca mencicit mampu membuat Agam langsung bangun dari tidurannya.


"Kenapa gak bilang dari kemarin sih?" Agam mengacak-ngacak rambutnya gusar, dia jadi semakin merasa bersalah, sudah marah-marah tidak jelas kemarin terus minta jatah lagi, apa kabar dengan stamina fisik dan mental Istrinya ini?


'Arghh! berdosa sekali kamu ini sebagai Suami!' dalam hati Agam merutuki dirinya sendiri.


"Sudah diobati belum?"


"B-belum.." Nyali Bianca semakin menciut saja, padahal Suaminya tidak sedang terbawa emosi. Bukannya apa, dia takut Agam marah hanya karena dia tidak terlalu memperhatikan dirinya sendiri.


Agam menarik napasnya dalam, dia turun dari ranjang, memakai boxer beserta bajunya yang berserakan dilantai, dia melangkah kearah meja dan mengambil kotak P3K dari dalam laci meja. Lalu kembali lagi naik keatas ranjang.


"Bangun dulu Bi, sini aku obati."


Hanya di bagian punggungnya yang terbuka agar Agam mendapat akses untuk mengobati luka dipunggungnya.


Bianca meringis pelan merasakan sensasi kapas yang menyentuh luka dipunggungnya dengan halus, dengan telaten Agam mengolesinya pakai salep agar tidak terjadi infeksi disana, "Kenapa kemarin gak segera diobati setelah kamu jatuh? kenapa dibiarin begitu saja? luka kecilpun kalau dibiarin bisa infeksi.."


"Gak ada waktu Kak, Ezza nangis.."


"Tuh kan, makanya aku belum mau nyerahin Ezza sama kamu, kamu lebih pentingin dia dari pada diri kamu sendiri. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu Bia.. harus berapa kali sih aku peringati?"


"Namanya anak sendiri Kak.. emang salah, aku sebagai seorang Ibu mentingin anak aku sendiri dari pada diri aku sendiri? kamu juga seorang Ayah Kak, gak mungkin kamu gak ngerti bagaimana perasaan aku."


"Iya aku juga seorang Ayah, tapi gak kaya kamu, terlalu berlebihan,"


"Gak terlalu berlebihan gimana? terus kemarin siapa yang marah-marah, bilang aku bukan Ibu yang becus lah, lalai dalam menjaga Ezza lah," Bianca menye-menye menirukan omongan kejam Agam semalam.


Agam membungkus kembali seluruh badan Bianca saat dia selesai dengan urusan mengobati punggungnya, dia membalikkan tubuh Bianca hingga dapat bertatapan dengannya, dahinya turun bertumpu pada bahu Bianca, dia mengambil satu tangan Bianca untuk menggenggamnya dan bertaut dengan tangan besarnya.

__ADS_1


"Maaf soal yang kemarin, aku hanya gak bisa ngendaliin emosi aku saat ngelihat Ezza hampir celaka. Dia masih kecil banget, aku hanya takut kehilangan Putra kita yang sudah kamu perjuangin dari nol, kamu sudah bersusah payah mengandung dan melahirkannya Bi.. seandainya saja dia kenapa-napa, pasti kamu juga akan sedih banget.."


"Yang penting gak ada yang terjadi dengan dia kan? dia gak ada yang luka kan?" Bianca belum melihat keadaan Altezza kecil, dia sudah rindu berat.


Agam menggelengkan kepala sebagai balasan, "Gak ada. Tapi kamu yang luka.. aku yang udah nyakitin hati kamu...badan kamu juga luka.."


Belakang kepala Agam yang terlapisi rambut hitamnya dielus oleh Bianca, dia menepuk-nepuknya pelan. "Gak papa Kak, Bia Perempuan kuat kok, gak bakal mati hanya karena luka kecil sama bentakan Kakak.."


Kalau boleh jujur, hatinya memang hancur berkeping-keping kala mendengar kata-kata Agam kemarin, tapi--yang dilontarkan oleh Agam memang kenyataan.


Agam menarik dirinya dari Bianca, dia mengamati Bianca lamat-lamat sebelum akhirnya melabuhkan ciuman tetap didahinya. "Maafin Kakak perihal yang kemarin ya?"


Yang dia dapati adalah anggukan dari Bianca yang menjadi tanda jika Istrinya telah memaafkan kesalahannya, Agam menyunggingkan senyum kecil lalu mengambil tangan kecil Bianca lagi untuk dia bawa kepipinya.


"Tampar aku Bi, sebagai bayaran yang kemarin, atau kamu mau pukul ditempat lain? silahkan, pukul aku sesuka hatimu untuk menebus kesalahan besarku."


Hening. Bukan tamparan yang dia dapat, melainkan elusan lembut yang dilakukan oleh Bianca disebelah pipinya. "Gak tega aku mukul Suami setampan ini, kasian nanti kalo pipinya dipukul, nanti kegantengannya luntur,"


"Gak papa, aku ikhlas ketampanan aku luntur, pukul aja Bi." Agam sudah memejamkan kelopak matanya bersiap menerima pukulan telak yang mungkin akan mendarat beberapa waktu kemudian.


Cup!


Tapi yang dia terima hanya kecupan dipipinya, Agam terperangah sambil mengedip-ngedipkan mata. Otaknya mendadak ngeblank, gurat hangat mendadak menjalar hingga kedua pipinya ngeblush hanya karena ciuman sekilas yang di luncurkan oleh Sang Istri. Jangan lupakan dengan ujung telinganya yang memerah.


Padahal mereka sudah melakukan hal-hal yang lebih jauh dari pada ciuman. Bahkan mereka sudah ada anak loh..


Tapi mengapa dia masih saja salting hanya karena sebuah ciuman, sialan!


"Ulang Bi.."


"Ulang apaan?"


"Ciumnya, tadi gak kerasa.." Agam memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa centi dari Bianca.


"Gak! udah sana, mending kamu mandi, siap-siap kerja." Bianca menoyor dahi Agam membuat lelaki itu merengek.


"Aaa ayo Bi.. sekali lagi.. nanggung benget, tadi gak kerasa.."


*****

__ADS_1


Kalo masih rame, masih aku lanjut part berikutnya🤗 makasih buat para readers setiaku yang sudi membaca semua karyaku yang masih jauh dari kata bagus, intinya makasih banyak-banyak yaaa😭🥺


Oh iya mengenai cerita Cantika, aku masih dalam proses pertimbangkan untuk mempublish, pasalnya membuat novel tidak semudah itu, alurnya nanti sudah difikirkan matang-matang, nah jadi aku belum dapat plot yang pas dan bagus buat cerita Cantika, takutnya malah drop di tengah jalan🙂😭 belum lagi masih ada beberapa projek cerita yang harus saya update dengan rutin. Jadi, saya masih ragu mempublish cerita Cantika..


__ADS_2