
Bukhhhh Bukhhh Bukhhh
Bianca dan Lucas menoleh bersamaan kearah pintu ketika pintu itu coba di dobrak oleh seseorang. "Bi, lo ada di dalem?!!!" Suara Agam terdengar sangat panik.
Pancaran dari mata Lucas yang membara, perlahan meredup berubah menjadi sendu. Beralih menyorot kepada Bianca. "Kenapa?" lirihnya. Bianca tidak tahu apa maksud dari pertanyaan dari Lucas. Selain itu, ini belum saatnya menjawab pertanyaan itu.
"Kak!! aku ada di dalem sini!! tolongin aku!!!" Bianca menjerit sebisanya. Dia tahu, walaupun tak sekuat itu, Agam akan mendengarnya. Namun, dia ingin Agam dengan jelas mendengarnya agar lelaki itu tahu, dia berada di dalam.
Brakkkk
Akhirnya setelah beberapa kali percobaan, pintu itu berhasil terbuka. Dan mendapati posisi keduanya yang tak mengenakan. Agam lekas menghampiri mereka. Terget pertamanya bukan istrinya. Melainkan lelaki yang berada di atas Bianca.
Dia menarik pergelangan tangannya kuat agar berdiri dan mencengkram kerak baju Lucas. "Lo, apain dia?"
Keduanya saling melayangkan sorotan sengit. "Gue, udah perkosa dia!" tukas Lucas tersenyum miring. "Gak mau bekasan lagi kan? lepasin dia! dan biarin, dia sama gue!"
Bughhh
"Bangsat!" Bogeman mentah itu akhirnya menghantam wajah Lucas, mengakibatkan lelaki itu secara otomatis terhempas ke pojok. Tak sampai di situ, Agam mengambil langkah mendekati Lucas, menariknya kembali agar berdiri. Sebelum kepalan tangannya mendarat lagi di bagian wajah lelaki itu, Lucas lebih dulu memukul wajahnya.
"Kak Agam!" Bianca berteriak khawatir melihat Agam di pukuli.
Rupanya, pukulan itu tak cukup ampuh kepada Agam. Dia hanya sedikit tergeser dari posisinya semula dengan kepala tertunduk. Dia tertawa pelan. "Lo, nyuruh gue buat lepasin, istri gue? emang, lo siapanya dia?" Agam tahu, tak ada apa-apa yang terjadi pada Bianca dan Lucas, di lihat dari pakaian Bianca yang masih lengkap, dia bisa menyimpulkan.
Kepalanya terangkat, menatap Lucas dengan alis terangkat. Seolah itu adalah sebuah ekspresi kemenangan telak, yang ia tampilkan kepada Lucas yang kini tertegun mendengar kalimat 'istri' itu di sebut.
"I-istri?" tanyanya bergetar. Dia masih mencoba menela'ah ucapan Agam barusan.
"Kenapa? gak percaya? tanya sendiri tuh ke ceweknya, kalo gak percaya." Agam menunjuk Bianca yang masih duduk di ranjang milik Lucas itu, dengan dagu. Lucas langsung mengubah pandangannya kepada Bianca.
"Apa itu bener?" Lucas bertanya untuk memastikan kebenaran. Bianca menatap sebentar Agam yang kini menganggukkan kepalanya. Seolah memberi izin untuk membeberkan status mereka kepada Lucas.
"Enggak, itu gak bener." Lucas tertawa mendengar jawaban dari Bianca. "Itu kan lo denger sendiri apa kata---"
"Lo berharap denger jawaban itu kan dari gue?" Bianca segera menyela ucapan Lucas kepada Agam. "Tapi sayangnya, gak sesuai harapan lo. Gue emang beneran istrinya, dan-- dia suami gue!" pungkasnya terdengar mutlak.
"A-apa?" Lucas tercengang mendengar kenyataan ini sampai membuatnya tak bisa berkata-kata. "Kalian masih sekolah, kenapa bisa---?"
__ADS_1
"Di jodohin." Lagi-lagi Bianca memotong kalimat dari Lucas. "Sebelum itu, gue minta maaf sembunyiin fakta ini dari lo. Dan-- gue tahu, lo gak sepenuhnya salah di sini. Yang patut di salahkan itu gue, yang nyembunyiin persoalan itu dari lo."
"Jadi--- selama ini, gue sudah jadi orang idiot yang kalian bodohi?!!" Lucas menjambak rambutnya. Dia tak terima dengan fakta ini. Selama ini dirinya benar-benar seperti seseorang yang idiot yang telah di bodohi oleh kekasihnya sendiri. Agam menepuk pundak Lucas. "Man, masih banyak cewek laen. Jangan bilang, lo mau jadi pebinor yang mau ngerebut istri orang?" ucapnya terkesan menyindir. Sekaligus menyadarkan Lucas. Seusai mengatakan itu, Agam mendekati Bianca dan menarik tangannya kasar untuk membawanya keluar.
Lucas menggelengkan kepalanya nanar, menampik segala kebenaran yang baru ia dapat. "Gak!!!"
Kakinya melemas, dia jatuh terduduk seraya menjambak rambutnya kasar. Tanpa ia sadari pun dia telah beringsut sampai sudut dan meringkuk di pojokan. "ENGGAK!"
Lucas menarik kasar rambutnya. Air matanya sudah bercucuran di pipinya. "Bia! lo gak boleh pergi! lo gak boleh pergi! jangan tinggalin gue!" Lucas meracau tak jelas dengan pandangan mengacak. Bagaimana ini? di sekitarnya terlihat gelap, dia butuh Bianca menariknya dari kegelapan ini. Dia kacau tak karuan. Dia benar-benar hancur.
Penyembuhnya--- telah mencampakannya?
***
"Lo tahu, seberapa berbahaya tadi itu, kalo gue gak cepet dateng?!!" Agam membentak. Bianca berkali-kali tersentak dengan hardikan Agam. Kedua tangannya sudah saling bertaut. Nyalinya benar-benar menciut. "Lo bisa di perkosa Bianca!"
Agam meraup wajahnya gusar. "Gue gak tahu lagi mau gimana! lo mau rumah tangga kita hancur?!!"
Bianca menggeleng cepat. Demi apapun dia takut dengan sisi Agam yang seperti ini. Dia tak berani menatapnya secara langsung, dia hanya bisa merunduk mendengarkan segala bentakkan dari Agam. "Kayaknya, gue terlalu manjain lo sebagai istri, sehingga lo jadi gini. Keluar sembunyi-sembunyi. Kendati menidurkan suami, untuk ketemu sama pacar, huh?"
"Lo mau gue jadi suami yang lalai dalam menjaga istri, hingga istrinya sampe nyaris di perkosa?" tambah Agam kemudian. Emosinya benar-benar menyelimutinya sekarang. Dia menatap tajam Bianca yang tengah menunduk. Bahunya terlihat bergetar, menandakan bila gadis itu sedang menangis.
"Argghhhhh!!!" Agam meninju beruntun tembok tepat di sebelah Bianca, menyalurkan emosinya di sana. Hingga tangannya pun sudah cedera, dan mengeluarkan darah kental dari sana. Namun, Agam tak peduli dengan itu semua. Setelah merasa emosinya sudah mulai mereda, Agam akhirnya membawa Bianca yang masih menangis itu kedalam pelukannya. "Maaf." gumamnya. Berulang kali dia mengulangi kalimat itu.
Bukannya berhenti menangis, isak tangis Bianca justru bertambah. Dia menangis tersedu-sedu di dada bidang Agam. "G-gak Kak. A-aku yang minta maaf. Aku yang salah.." lirihnya sesegukkan.
"Gak Bi enggak. Gue yang salah udah bentak-bentak kamu kaya tadi. Maaf ya?" Agam mengurai pelukan agar bisa menatap Bianca. Dua tangannya terangkat, mengusap air mata Bianca yang masih terus turun membasahi wajah cantiknya. "Gak usah nangis, oke? lo jelek kalo lagi nangis gini."
Bianca masih terus menangis namun tak urung menyikut dada Agam karena perkataan jahil lelaki itu. Membuat sang empunya malah terkekeh kecil. Bianca berusaha menghentikkan tangisannya. Sedangkan Agam sendiri senantiasa menghapus jejak air mata di pipi sembab istrinya. Lelaki itu memandangi wajah cantik Bianca dalam. Menyelami dua bola mata indah gadis di hadapannya.
Sepasang tangannya berpindah ke mata istrinya yang membengkak karena menangis itu dan mengusapnya di sana. Lalu seusainya, menangkup parasnya, Agam mendekat ke wajah Bianca, agar memangkas jarak mereka.
Cup
Cup
Agam memberikan dua kecupan, di mata kanan dan kiri Bianca, yang sudah dia buat meneteskan air bening dari sana. Mendadak dia merasa bersalah. "Gak usah nangis lagi." pintanya setelahnya, dia membelai lembut surai Bianca.
__ADS_1
Gadis itu menarik air hidungnya. Lalu mengangguk pelan.
"Good girl." Agam kembali membawanya kedalam dekapan hangatnya. Merengkuhnya dengan erat dan pastinya sama-sama merasa nyaman. Cukup lama mereka dalam poisi itu seolah menyalurkan sebuah kasih sayang lewat pelukan hangat tersebut.
Agam melepas pelukan setelah berselang menit kemudian. Merangkul Bianca menuntunnya ke ranjang. Menekan bahu Bianca, mendudukkan dirinya di pinggir kasur.
Agam lantas menjongkok kan dirinya di depan Bianca. Mengenggam dua tangan gadis itu. "Bi, malam ini, lo tidur sendirian di rumah ya?"
"Kakak mau kemana?" Bianca menatap Agam.
"Gue mau keluar, nenangin diri. Gue takut, kalo gue di rumah, bakal lukain lo. Ya, izinin gue keluar?" Agam meletakkan telapak tangan Bianca di pipinya. Cukup lama Bianca harus berpikir, menimbang-nimbang apakah ia akan mengizinkan Agam atau tidak. Sebelum akhirnya dia mengangguk sebagai tanda bila dia mengizinkan suaminya itu untuk keluar.
Melihat itu, Agam bangkit berdiri. Sebelum dia beranjak, dia membungkukkan badannya agar bisa mencium kening istrinya. "Hati-hati di rumah. Gue gak bakal lama, kalo udah tenang, gue bakal pulang."
Bianca mengangguk kecil. Kemudian pandangannya mengikuti pergerakan Agam, di mulai dari mengambil jaketnya dari lemari, sampai keluar dari kamar tanpa menoleh kebelakang lagi. Sejujurnya jauh di dalam lubuk hatinya, dia tak ingin Agam keluar. Namun--- dia tak mau egois. Agam seperti itu karena dirinya.
***
Kaki jenjang Agam berayun menuju garasi di mana tempat motor besarnya terparkir. Sebelum itu, di dalam perjalanan menuju ke sana, dia sempat menelepon Nathan.
"Hallo, kenapa?"
"Temenin gue, ke club"
"Sekarang?"
"Iya."
"Gila lo! lo mau ninggalin istri lo sendiri di rumah?" Nathan tak habis pikir. Dia sempat melihat jam, menunjukkan pukul 20:50.
"Terserah,"
"Tapi---"
Tanpa mau menunggu kalimat berikutnya dari Nathan, dia sudah menutup panggilan secara sepihak. Tanpa Nathan pun, dia bisa sendiri ketempat seperti itu.
Nathan sendiri menatap layarnya dengan bingung. Tidak biasanya, Agam akan mengunjungi tempat jahanam itu. Meski Agam tak mengatakan apa-apa padanya, tapi dia tahu, pasti Agam mempunyai masalah, entah itu pada istrinya, atau pada orang lain.
__ADS_1
TBC.