Married With Ketos

Married With Ketos
Terjebak


__ADS_3

Sepertinya, keputusan mereka untuk makan diluar adalah keputusan yang salah. Agam dan Bianca terpaksa mesti singgah di sebuah rumah kosong karena tiba-tiba hujan deras di temani oleh gemuruh geledek menerpa sebagian bumi termasuk di tempat mereka. Sekujur tubuh Bianca menggigil detik demi detiknya waktu berjalan, hawa udara kian dingin menusuk kulitnya yang hanya di lapisi sehelai benang kaos tipis.


Terlebih lagi, pakaian mereka sama-sama basah akibat di terjang hujan sebelum mendapatkan tempat berteduh.


Mereka berdua kini berdiri di teras rumah kosong, Agam mengusap kedua tangannya berharap itu bisa menghangatkan sedikit saja. Ia melirik ke arah kanan di mana ada Bianca yang kelihatan kedinginan.


Agam melepas jaket yang ia pakai dan hendak memasangnya untuk Bianca yang tidak menolak atau pun berkomentar, ia benar-benar merasa kedinginan untuk sekarang, bahkan bibirnya pun gemetaran. Bulu halus kulit Bianca terangkat, merinding dengan suhu udara yang amat rendah.


Bunyi resleting jaket kebesaran di tubuh kecil Bianca di samarkan oleh suara hujan yang bersahutan dari atas langit. "Dingin, Bi?"


Dengan suara gemetar, Bianca menjawab. "E-enggak Kak.." Di sertai gelengan kepalanya yang lemah. Hanya orang bodoh yang mempercayai jawabannya, siapa pun tahu kalau melihat kondisinya yang terlihat jelas sedang kedinginan. Agam meraih tangan Bianca untuk ia genggam dan satu tangannya yang menganggur menarik tubuh Bianca untuk di dekapnya dengan erat, menghangat istrinya lewat pelukan tulusnya. Dahinya bersandar di bahu Bianca.


Agam memposisikan wajahnya mengarah ke leher jenjang Bianca untuk melirik wajah sang empu. "Masih dingin?" Deru nafas Agam menyentuh kulit lehernya. Bukannya hangat karena pelukan malah panas yang dalam artian berbeda.


"I-iya." Bianca jadi kikuk sendiri. Apakah hanya dirinya saja yang merasa suasana menjadi lain? Terlebih mendengar gumaman Agam yang hanya dehem. "Hmm.."

__ADS_1


"Bi?" Suara rendah Agam lagi, aduh benar-benar deh, Bianca jadi tidak kuat. Kedua tangan mungilnya berusaha mendorong dada Agam. Sayangnya perbedaan kekuatan mereka jauh sekali. Hasilnya, tubuh atletis Agam tetap kokok tidak beringsut sedikit pun.


Seketika Bianca ibarat tersengat arus listrik kala dalam waktu singkat Agam mengalihkan helaian rambutnya lalu menyosor satu kecupan ringan melayang di leher jenjangnya. Tidak sampai di sana, di saat Agam menegak kan badan Bianca bisa bernapas lega seolah terlepas dari beban, tapi tidak berlangsung lama kala jari telunjuk Agam menari-nari di lehernya.


"K-kakak.. geli.."


Agam tertawa serak, pancaran matanya tidak bisa Bianca lihat di balik dunia gelap di tempat ini, tapi alarm bahaya seperti mulai berbunyi di saat Agam kembali memeluknya lebih erat dari yang awal mula. Seakan dengan sengaja merapatkan serapat-rapat nya tubuh mereka. S.h.i.t! apa itu yang menonjol di bawah sana? Bianca menelan ludah kasar.


"Di sini gelap dan sepi Bi.. mau main bentar?"


"Kakak gak waras?!!" Bianca memekik panik ketika tangan besar itu meremas bokongnya. Apakah Agam tidak tahu tempat atau situasi? tolong siapapun sadarkan Agam sekarang!!


Agam meredakan ketawanya perlahan-lahan, "Enggak, lucu aja. Aku pengen liat reaksi kamu gimana."


"Oh Kakak mau liat gimana ekspresi aku?!" Bianca merogoh saku celananya dan menyalakan senter di bawah dagu yang ia arahkan ke wajahnya. "Bahhh!!"

__ADS_1


"Astagfirullah, mirip setan!" Agam kaget--lebih tepatnya berpura-pura terkejut terkesan mendramatis, memegangi dadanya.


"Ih kok mirip setan!!" Kini vibes-nya kembali tertukar dengan perdebatan tidak bermutu oleh mereka berdua. Agam hanya mengulum senyum kecil sontak tangannya terulur melewati punggung dan menarik Bianca lebih dekat kepadanya. Ia mengalungkan dua lengannya di pinggang Bianca.


"Malam ini nginep di hotel terdekat dari sini, mau?"


"Tapi, gimana dengan Tika?" Bianca mendongak ingin melihat wajah ganteng Agam tapi terhalangi oleh warna kelam.


"Kita balik kesana setelah pulang dari sekolah aja."


"Yah!! Ayah dan Bunda keburu berangkat dong.." Bianca terlihat murung.


"Atau kamu absen dulu besok nganterin mereka ke bandara? aku yang izinin ke wali kelas kamu."


"Ih gak mau kalo gak bareng Kakak.."

__ADS_1


***


Sorry ngebosenin, kehabisan ide soalnya😭


__ADS_2