
Selain tanda dilehernya, tubuhnya juga sakit-sakitan akibat pergumulan dirinya dan Agam, apa lagi di bagian intimnya, masih terasa ngilu. Oleh sebab itu, Bianca memutuskan tak masuk sekolah.
Saat ini dia sedang makan bubur buatan Agam. Sebelum lelaki itu berangkat, dia sempat memasakkan bubur buat Bianca. Agar perempuan itu tak kelaparan. Mengingat bagaimana sulitnya Bianca walaupun hanya bergerak. Apa lagi jika memasak.
Seusai memakan bubur, Bianca telah santai-santai di kamar seraya memainkan ponselnya. Menjelajahi berbagai macam sosial media. Sejak tadi, notif grup sekolah itu mengganggunya, oleh sebab itu, kini dia memutuskan membuka grup itu. Pasalnya, terus-terusan muncul di atas layarnya. Sepertinya, di grup itu tengah rame.
*Parah sih, kelihatan hot gak tuh cewek?
*Body-nya mah bohay banget.",
*Kalo cuma di bandingkan Bianca sama Sherly, gak sebanding, iya gak sih?
*Setuju!
*Selapan!
*Ngomong-ngomong, pada nyangka gak, Agam ternyata orangnya kek gitu?
*Gak nyangka banget sih, gue aja sampe tercengang gitu pas liat foto itu. Lah anjirr ternyata, dingin-dingin gitu, liar orangnya.
*Ngemri
Dahi Bianca mengerut melihat obrolan anak-anak di grup itu membahas sesuatu dan menyebut nama Agam. Dia tiba-tiba menjadi penasaran. Akhirnya, dia terus menggulir kebawah mengikuti semua alur percakapan itu, sampai pada beberapa foto---
Deg
Tuk
Ponsel Bianca sontak terjatuh ke atas kasur.
***
__ADS_1
Agam bertujuan akan keruangan osis pagi ini. Mengumumkan pada anggota lain bila akan ada rapat yang di rundingkan di jam istirahat kedua. Dia sedang dalam perjalanan itu tersita perhatiannya pada para siswa yang kedengaran sedikit gaduh, berkerumun di depan mading. Lelaki itu mengangkat satu alisnya. "Ada apa sih?" batinnya.
Sebab merasa penasaran, Agam pun mendekati mereka. Dan menyerobot masuk, membela kerubungan para murid itu. Agam tertegun melihat beberapa gambar yang terpajang di mading. Potretan---dirinya berciuman dengan seorang wanita? di lihat dari penampilannya, sepertinya wanita malam?
Sejak kapan? apakah itu semalam saat dia sedang mabuk? dia tak ingat apa-apa. Tidak ingin membuat masalah ini semakin dalam, Agam pun mencabut satu persatu foto itu dengan kasar. Sedangkan anak-anak di sekitarnya sudah ribut, melihat Agam dengan tatapan yang tak menyangka bila dia orang yang seperti itu.
"Gak nyangka ya Agam gitu orangnya?"
"Makanya, nilai orang itu jangan cuma dari cover nya doang."
"Itu beneran Agam gak sih?"
"Ck CK CK, mengecewakan sekali."
"Sssttt diem, ada orangnya."
Banyak bisik-bisik rumor siswa-siswi di sana. Bahkan mereka secara terang-terangan berbisikan di depan orangnya langsung. "Siapa yang memasang, foto-foto ini?" tanya Agam dingin, seraya mengangkat lembaran potretan itu. "JAWAB!!" bentaknya mulai emosi.
"Gak tahu, kami-kami mah cuma liat saja, gak tahu siapa yang majang di situ." sahut salah satu siswa di sana. Agam sontak berjalan dengan kasar menuju tong sampah, dia merobek-robek foto-foto itu dan membuangnya ke tong sampah. Setelah itu, dia membuang napasnya kasar. Siapa yang berani memajang itu semua di mading?
Di tengah-tengah fikirannya yang tengah melayang perkara gambar-gambar tadi, tiba-tiba Bianca terlintas di kepalanya. Sepertinya dia melupakan sesuatu, Agam pun segera mengambil ponselnya dari saku dan membuka. Semoga saja tak seperti yang ia pikirkan. Jika semisal foto itu tak menyebar di grup komunitas sekolah, berarti Bianca belum melihat yang tak semestinya ia lihat.
Agam menggeram tertahan seraya menendang tong sampah di dekatnya hingga terhempas sedikit jauh. Ternyata foto itu sudah ada di sana. Isi grup itu sekarang tengah heboh mengenai isu antara dirinya dan wanita itu. Sekarang, dia hanya berharap Bianca tak membuka grup dan melihatnya. Iya, semoga saja.
***
Seusai mengadakan rapat di jam istirahat kedua, ke empat anggota osis itu ke kantin untuk mengisi perut. Lalu setelahnya, kembali keruangan osis. Di mana, tempat itu menjadi tempat yang sering mereka semayamkan ketika jam istirahat ataupun jam kosong.
"Gam, foto-foto itu, beneran atau gimana?" tanya Nathan. Sepertinya, semalam dia telat menyusul Agam. Seharusnya setelah Agam meneleponnya, dia langsung meluncur.
Agam menggelengkan kepalanya pelan. Mana dia tahu, dia tak ingat apa-apa. Kesadarannya kala itu terenggut oleh kemabukan. "Gak tahu."
__ADS_1
"Terus, kalo Bia tahu gimana?" Camella yang tadinya sibuk di ponselnya kini ikut nimbrung diobrolan Agam dan Nathan. Sedangkan Bella sendiri belum ikutan nimbrung. Sejak tadi, dia masih menyimak percakapan saja.
Agam hanya mengedikkan bahunya. Biar pun benar dirinya dan wanita itu berciuman, pasti dari wanita itu yang menciumnya duluan. Terus letak kesalahannya di mana? dia kan tak sadar. Seharusnya dia tak patut untuk di salahkan. Lagi pula Bianca pun mengatakan jika dia di cium Lucas kan saat itu? anggap saja itu impas.
Ketiga temannya yang ada di sekitarnya sudah gregetan melihat tanggapannya yang terkesan acuh tak acuh. "Sumpah deh, kalo gue punya suami kayak lo, bakal gue cerein sebelum malam pertama! gedeg tingkat dewa gue!" rutuk Bella menggebu-gebu.
"Terus, gue harus gimana?" tanya Agam menjadi bingung sendiri. Bagaimana harus menghadapi masalah ini? jujur saja dia pribadi tak tahu bagaimana caranya menyelesaikan perkara yang mungkin saja akan menimbulkan perselisih pahaman antara dirinya dan Bianca. Selama beberapa bulan ini, hubungannya dan Bianca cukup harmonis. Pertengkaran pun hanya hal-hal sepele dan terkesan hanya candaan. Tapi, jika mengenai hal begini, entah apa yang akan terjadi. Selama ini, dia tak pernah mempunyai pengalaman percintaan, wajar saja jika dia tak tahu mengatasi problematika seperti ini.
Namun, apa bila dia menjelaskannya kepada Bianca, jika dirinya sedang tak sadar. Mungkin saja dia akan mengerti dan tak akan marah. Iya. Semestinya begitu.
"Lo, nanti jelasin ke Bia, kalo lo gak sadar pas saat itu." Nathan memberi saran. Sama persis dengan apa yang ada di pikiran Agam. Sang empunya pun mengangguk kemudian.
***
Setelah bel pulang berbunyi, Agam terburu-buru bergegas lekas pulang ke rumah, bahkan dia sampai lari-larian menuju parkiran. Tidak mempedulikan tatapan-tatapan bingung semua siswa kepadanya. Bila Bianca sudah mendapati rumor itu, dia hanya perlu menjelaskan kepada Bianca tentang itu.
Di dalam perjalanan. Sungguh, hal itu membuat hatinya gundah. Entah kenapa, dia merasa gelisah tanpa sebab. Pikirannya berkecamuk perihal itu. Apa yang akan di pikirkan Bianca tentangnya? apakah wanitanya akan menduga dia seorang pria brengsek seperti pacarnya itu?
Sebab perasannya yang tak tenang, Agam pun melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata hingga tak butuh waktu lama. Dia pun sudah sampai di tujuan. Setelah membuka gerbang, dia pun segera masuk ke kawasan rumahnya. Lalu menuju garasi.
"Bia! Bia!" Dari pintu utama, lanjut menelusuri struktur anak-anak tangga dan sampai depan pintu kamar, Agam terus memanggil-manggil nama Bianca. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu segera membuka daun pintu.
Rupanya, Bianca sedang tertidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepalanya pun tenggelam di baliknya. Agam bernapas lega. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar, Lelaki itu menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. "Bi.."
Agam mengusap kepalanya, "Bi, bangun. Ada yang ingin gue jelasin ke lo." ungkapnya dengan suara lembut. "Biaa.."
"Bia.." Agam mengguncangnya. Tunggu, seperti ada yang aneh. Dia lekas menyibak selimut itu.
Hanya guling. Lalu istrinya di mana?
Agam langsung berdiri dari duduknya. Dia kalang kabut segera mencari Bianca di penjuru rumah. Di mulai dari kamar-kamar kosong yang ada di rumah ini, di gudang, di area dapur, ruangan keluarga dan ruangan tamu. Tak lupa pula di halaman bagian belakang dan depan rumah. Semua Agam periksa. Namun, dia tak mendapati Bianca di mana-mana. Kemana istrinya itu pergi?
__ADS_1
Hal itu membuat Agam menjadi kalut. Perasaannya campur aduk. Hingga dia menjadi uring-uringan sendiri. Sebab tak menemukan Bianca di mana-mana di area perumahan mereka. Lantas, Agam pun berniat akan mencarinya di luar. Sebelum itu, dia menyempatkan menghubungi tiga rekannya, agar membantu dirinya mencari Bianca.
***