
Helaan napas berat terdengar dari Zella yang baru memasuki rumahnya, dirinya langsung di sambut oleh botol-botol minuman alkohol yang berserakan di lantai ruangan tengah. Sepertinya, keputusannya pulang ke rumah untuk kali ini adalah keputusan yang tidak tepat.
Tidak ada yang berubah sama sekali sampai detik ini, selalu saja begini. Harianto--Papa dari Zella jarang sekali pulang ke rumah, namun sekalinya pulang selalu begini. Sejujurnya, Zella muak. Muak dengan semua perilaku Papanya. Yang gila berjudi tanpa kenal waktu hingga terlilit hutang di mana-mana. Dan sekalinya menginjak rumah, selalu bermabuk-mabukkan.
"Heyy!! lo bawa uang?!!" Harianto yang awalnya tengah bersandar di tubuh sofa itu kini bangkit dengan lunglai menuju Zella. Membuat Zella harus mundur beberapa langkah menghindari Papanya. Bau pekat dari alkohol langsung menyeruak, memekakkan indera penciuman gadis berkacamata tersebut.
"Sini tas lo!!" Sentak Harianto langsung merebut paksa tas yang ada di sandangan punggung Zella.
"Jangan pah! di dalem gak ada apa-apa!!" Jelas, Zella akan menahannya, dia tak akan memberikan tas itu begitu saja, di dalamnya ada uang tabungannya yang sengaja selalu ia bawa untuk berjaga-jaga agar tak jatuh ke tangan Papanya.
"Lo kira gue orang bodoh yang mudah lo tipu?!! Papa tahu Si Andin selalu beri lo tips selama lo sering berkunjung ke rumahnya!!"
"Serahin tas lo, atau gue bakal bertindak kasar lagi?!!" Gertak Harianto sambil masih mencoba berebutan tas dengan pemiliknya. Jika kalian menduga Zella akan terantimidasi dengan gertakan itu, kalian salah besar, karena Zella sudah sering kali mendapat tindakan kasar dari Papanya. Tetapi, Sayang sekali, tenaga Zella yang tak sebanding itu tak akan pernah menang jika lawannya adalah Papanya. Sekeras apa pun usaha Zella itu tak akan bisa mampu melawannya.
Sudut bibir Harianto tertarik sebelah ketika berhasil merebut tas ransel milik Zella. Lalu pria kurang ajar itu menggeledah isi tas Zella. Setelah mendapatkan apa yang di inginkan nya, Harianto melemparkan tas tersebut kepada pemiliknya.
"Nah gini dong..kalo tiap hari lo bawa uang segini banyak, enak kan jadinya?" Harianto menghitung puluhan lembaran uang berwarna merah di campur warna biru yang ia dapatkan dari tas milik Zella.
Sementara Zella hanya bisa menangis lirih sambil menunduk, jangan lupakan tas ransel yang ia peluk dengan erat.
Dia benci. Benci kepada dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa di waktu seperti ini. Itu adalah hasil uang yang sering di berikan oleh Mama Lucas kepadanya. Dan Zella menabungnya hanya untuk persiapan sewaktu-waktu ia membutuhkan suatu keperluan yang mendesak.
Antara rasa marah, sedih, takut, terpadu menjadi satu di suasana hati Zella kali ini.
Dalam satu tarikan napasnya,"DASAR PRIA BAJINGAN!!" Teriak Zella lantang pada akhirnya. Kata umpatan itu sudah sejak lama terpendam dan baru kali ini ia bertekad. Entah mendapat keberanian dari mana hingga ia bisa melontarkan umpatan itu. Yang jelas, Zella sekarang tak memilik penyesalan sama sekali telah melontarkan ucapan kasar itu kepada pria biadap yang sialnya itu adalah Ayahnya sendiri.
"lo bilang apa barusan?"
"Ella bilang, PAPA PRIA TERBAJINGAN YANG PERNAH ELLA TEMUI!!" Jeritnya lagi sekuat yang Zella bisa. Nafasnya nampak naik-turun menatap Papanya yang kini melangkah cepat kembali mendekatinya.
"DASAR J.A.L.A.N.G!!!" Rutuk Harianto tak kalah keras. Dia menjambak rambut Zella, lalu menariknya sontak ia benturkan ke dinding.
__ADS_1
Zella merintih merasakan sakit di area kepalanya kala menubruk cukup kuat di tembok, tubuhnya dengan lemah merosot kebawah. Kacamatanya pun sudah jatuh tergeletak asal di lantai.
"LO GAK ADA BEDANYA SAMA MAMA LO!! SAMA-SAMA J.A.L.A.NG!!"
Kedua tangan Zella terkepal kuat mendengar caci maki yang terlontar langsung dari Papanya. Silahkan cemooh saja dirinya, tapi, jika sudah mengenai Ibu-nya, Zella tak akan terima.
"MAMA GUE BUKAN J.A.L.A.NG!!!" sanggahnya membantah dengan tegas.
"KALO BUKAN J.A.L.AN.G LALU APA?!!! KENAPA LO BISA BUKAN ANAK GUE!!!"
Mulut Zella terkatup mendengar penuturan Papanya itu. "A--apa?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Kenapa?!! lo baru tahu?!!" tanya Harianto kemudian tertawa sumbang. "Pasti Mama lo itu gak pernah cerita kan tentang itu?!"
"Dia selalu berusaha nutupin kesalahannya itu bahkan sampai dia di akhirat!!!!" Sambungnya menghardik penuh amarah. Dia menatap nyalang kepada Zella yang kini meringkuk di tembok sambil menggeleng cepat.
"ENGGAK!! MAMA GUE BUKAN ORANG YANG SEPERTI ITU!!" Hardiknya. Zella berusaha menepis segala ucapan Papanya yang tak masuk akal.
"Zella!! gimana rasanya mengetahui jika Pria yang selama ini lo sebut Papa bukan Papa kandung lo?!!" tanya Harianto terlihat frustasi, pria itu mengacak rambutnya dengan kasar. "Arghhh!!! Kenapa Mama lo tega hianatin gue?!!!"
"Lo tahu gimana sakitnya pas tahu anak yang selama ini gue rawat dan gue sayang dengan sepenuh hati itu bukan darah daging gue? lo tahu gimana rasanya?!!" Harianto tersenyum getir.
"Itu SAKIT!!! SAKIT BANGETT LA!!!"
Zella menggeleng nanar sambil menutupi dua telinganya, mencoba untuk tidak mendengar segala kebohongan dari mulut Papanya. Memorinya tiba-tiba kembali berputar ke masa-masa Mama dan Papanya yang bertengkar hebat setiap hari, di mana Mamanya yang masuk rumah sakit karena kecelakaan, Papanya tak pernah muncul untuk menjenguknya. Bahkan, sampai Mamanya meregang nyawa, hingga pemakaman Mamanya, ia tak sekalipun melihat sosok Papanya.
Apakah itu penyebabnya?
***
Sejak hari di mana kala itu Bianca menjenguknya, kondisi Lucas sudah mulai membaik dan kini Lucas sedang santai menonton televisi di ruangan keluarga bersama Mamanya, di sela-sela itu atensinya terdistraksi oleh benda pipi yang terletak di meja depannya itu tiba-tiba berbunyi.
__ADS_1
Lucas pun sontak meraih ponselnya, lalu melihat siapa si penelepon.
"Siapa Luc?" tanya Andin.
"Ella Mah." jawabnya, kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo? kenapa La?"
"L-luc--hikss.." Suara di hiasi tangisan Zella, terdengar dari seberang sana. Lucas langsung berdiri dari duduknya saat mendengar itu. "Lo, kenapa La?"
"Papa.."
"Lo di mana sekarang?!" Setelah Zella menyebutkan tempatnya berada sekarang, Lucas pun segera mematikan telepon.
"Kenapa lagi dengan Ella, Luc?" tanya Andin saat melihat Lucas yang di serang kepanikan, lelaki itu kalang kabut, mengambil jaketnya yang ada di atas meja tv.
"Papanya ngasarin dia lagi Mah, Lucas harus kesana." balas Lucas seraya mengenakan jaketnya dengan tergesa-gesa. Kemudian setelah itu, "Lucas pergi dulu ya Mah, gak bakal lama." pamitnya selepas menyalimih Mamanya dia bergegas pergi dari rumahnya menjumpai Zella di mana berada.
***
Motor Lucas berhenti tepat di depan rumah kontrak milik Papa Zella. Dulunya, Lucas dan Zella bertetanggaan, namun sejak Mama Zella meninggal, Harianto terlilit hutang hingga menggadaikan rumah mereka untuk melunasi hutangnya. Untuk itu, Harianto hanya bisa menyewa sebuah rumah kontrakan sederhana untuk di jadikan tempat berteduh dirinya dan Zella.
"La?" Setelah turun dari motor Lucas menghampiri Zella yang berdiri tak jauh darinya. "Lo gak papa?' tanyanya.
Zella menggeleng pelan. Lucas bisa melihat jelas tas selempang yang berukuran lumayan besar yang sedang di tenteng oleh Zella. "La? ini kenapa, kok bawaan lo banyak bener?"
"Papa--ngusir aku dari rumah.." ungkapnya lirih.
"Usir?"
Sekali lagi Zella mengangguk lemah. Lucas yang paham bagaimana perilaku Harianto pun lantas mengusap permukaan kepala Zella. "Yaudah gak papa, lo bisa tinggal di rumah gue."
__ADS_1
***