
"Lo-- beneran bakal tanggung jawabkan?" tanya Agam dengan intonasi suara rendahnya agar tak ada yang mendengar. Kali ini, dia dan Nathan berada di depan tenda dengan api unggun kecil hadapan mereka berdua. Banyak anak-anak lain yang belum tidur. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 12:45. Mayoritasnya yang belum bobo jam segini itu laki-laki. Perempuan juga ada, namun tersisa sedikit. Kebanyakan sudah tidur.
Pertanyaan dari Agam itu membuat Nathan reflek menoleh padanya. "Jadi--lo denger tadi?" tanyanya balik yang di angguki oleh Agam. Pandangan Nathan lalu beralih melurus kedepan. Dia mengangguk akhirnya.
"Kalo memang gitu, gue salut sama lo. Lo memang gentle Nath. Tapi-- kalo sampe gue tahu, lo lari dari tanggung jawab. Gue, sebagai temen, jujur kecewa berat sama lo."
"Aelah Gam! lo temen gue atau bukan sih?! lo pasti tahu gue gak sebrengsek itu!"
Agam mengangguk sekilas. Cukup Ayahnya yang seperti itu. Dia tidak ingin orang-orang terdekatnya melakukan itu juga yakni lari dari tanggung jawab. Yang akan menjadi beban terberat bagi pihak yang lain.
"Lagian, ngapain gue nyia-nyiain peluang? dia kan perempuan yang memang gue inginkan. Ngapain lari dari tanggung jawabkan? kalo itu menjadi kesempatan terbesar gue." Nathan berdecak. "Di pikir-pikir lagi, kok gue malah bersyukur yah bisa hamilin tuh cewek!" ujarnya tak merasa berdosa. Mendapat toyoran dari Agam.
"Gak waras lo!"
Nathan malah cengengesan. "Oh iya, Bini lo gimana? udah-- itu?"
Agam menggeleng. Membuat mata Nathan membesar. "Serius?" Lalu beringsut lebih mendekati Agam yang kini ikut serta sedikit bergeser agar menjauh dari Nathan. "Kalian, gak tidur sekamar?" tanya Nathan pelan.
"Sekamar."
"Terus? masa lo bisa nahan sih?"
"Lo kira kaya lo! yang udah tekdung!" cetus Agam sudah beringsut sejauh mungkin dari Nathan.
"Agam, lo kenal gue gimana orangnya. Dan pasti percayakan kalo gue lakuin itu secara gak sengaja? itu semua di luar kendali gue." Ujar Nathan mendadak serius. Meletakkan kedua tangannya di belakang agar menopang tubuhnya.
"Kapan? dan di mana? kenapa kalian bisa lakuin itu?"
Nathan menghela napas pelan mendengar pertanyaan Agam yang tumbenan kepo dan cerewet. Lututnya ia tekuk. Lalu merubah posisi tangannya menjadi memeluk lututnya. "Gue gak bisa bilang di mana letak kami melakukan itu. Yang jelas. Kayaknya ada yang ngincer lo sama Bianca, tapi salah target ke gue dan Camella."
"Kapan?" Agam pun juga mulai serius mendengar ujaran Nathan.
"Gue gak inget persis harinya dan kapan yahh..sekitaran 3 minggu lalu kali, yang jelas pada saat itu gue ngerampas minuman dari tangan lo. Dan-- habis minum itu tiba-tiba seluruh tubuh gue panas banget. Gak nyaman banget."
"Ada yang campuran sesuatu ke minuman itu?"
Nathan menganggukkan kepala. "Iya! kalo pemikiran gue gitu. Lo inget gak muka siswi yang beri lo minuman itu?"
Agam menggeleng tidak tahu. "Gue gak inget. Yang intinya sih cewek."
__ADS_1
"Iya! tapikan cewek di sekolah kitakan banyak!"
"Terus, kalo kita tahu siapa dalangnya. Mau, lo apain tuh orang."
"Gue mau---" Nathan nampak berpikir sejenak. "Berterimakasih."
"Kok terimakasih?" tanya Agam terheran-heran. Apakah Nathan tak merasa bersalah sama sekali pada Camella telah merusak masa depannya?
"Iyalah! karena dia, gue dan Camella bisa sama-sama! Sumpah deh tuh orang bener-bener kelewat baik. Kalo ketemu tuh orang mah, gue kasih hadiah." monolog Nathan kemudian. Membuat Agam menatapnya tak habis pikir.
"Memang beneran gak waras nih orang." gumamnya tak percaya dengan jalan pikir Nathan.
***
"Bi," Agam memanggil Bianca dengan berbisik. Saat ini dia menyelinap masuk kesalah satu tenda perempuan di mana ada Bianca-nya. Gadis itu belum tidur, nampak masih memainkan ponselnya. Terlihat benda pipi itu yang menyala. Tadinya, mereka sempat berkomunikasi lewat pesan.
Bianca yang mendengar suaranya Agam. Lalu bangkit dari tidurannya yang tengkurap. "Kak."
Setelah menyambar jaket yang tergeletak di sisinya dan memakainya, Bianca lantas memeluk lengan Agam yang kini tersenyum seraya mengacak rambutnya menggunakan tangannya yang menganggur. "Kenapa belum tidur hmm?" tanya Agam. Langkah keduanya keluar dari tenda.
"Gak bisa tidur. Kangen sama Kakak." Bianca mengeratkan pelukannya di lengan Agam. Lelaki itu terkekeh pelan.
"Kitakan sehati." sahut Bianca lalu ikut tertawa kecil.
"Bisa aja lo gombalannya." Senyuman Agam tidak pudar.
"Jadi, kita mau kemana Kak?" tanya Bianca setelah kemudian langkah mereka sudah cukup jauh dari tenda. Beruntungnya awan hitam sudah tak membungkus langit. Perjalanan mereka di temani oleh sinar rembulan. Jam pun sudah menunjukan pukul 01:20.
"Ntar lagi sampe."
Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah gubuk kecil yang menyatu dengan rerumputan. Tidak tepat jika di sebut rumah, pasalnya tempat ini persis dengan gua. Di temukan oleh Agam tadi sore ketika seluruh siswa mandi di sungai terdekat dari sini.
Saat akan memasukinya, Agam menyalakan senter di tangannya agar menerangi keduanya di dalam. Sepertinya, ini masih di tempati orang. Terbukti dari kerapihan juga kebersihannya. Di sini ada banyak peralatan petani. Misalnya, cangkul, belati, kampak dan sejenisnya. Bisa di terka ini rumah milik orang pekerja kebun.
"Kapan, Kakak nemuin nih tempat?" tanya Bianca kepada Agam yang kini sudah duduk di lantai.
"Tadi sore." Jawab Agam lalu menepuk space di sebelahnya. "Sini. Duduk." Bianca langsung duduk di tempat yang di maksud Agam.
__ADS_1
Melihat Bianca yang sudah duduk, Agam lantas merebahkan tubuhnya menggunakan paha Bianca sebagai pangkuan kepalanya.
"Kalo, tuan pemilik pondok ini, kesini. Terus memergoki kita berdua gimana? pasti ngiranya kita ngapa-ngapain lagi. Ntar kita bisa di nikahin dua kali." Tutur Bianca ngelantur.
"Pertanyaannya. Ngapain tuan pemilik tempat ini kesini jam segini?" tanya Agam atas perkataan Bianca yang ngawur. Gadis itu malah menyengir seraya menggaruk pipinya pelan. "Iya juga yah."
Tangan Agam terangkat. Detik berikutnya menyentil jidat Bianca membuat sang empunya merintih mengadu sakit. "Sakit tahu!"
"Otak lo, kayaknya perlu di update Bi, dongo banget soalnya."
"Dongo-dongo gini, istri dari The kingnya SMA Garuda loh!" Bianca menepuk-nepuk dadanya bangga. Agam malah mencubit pipinya sampai mengulek-nguleknya karena gemas. "Iya-iya deh, my wife."
"Emmm sakit kak!" Bianca cepat melepas cubitan maut itu. Lanjut menggelitik pinggang Agam. Lelaki itu tertawa lepas di buatnya. Dan pastinya akan membalas perlakuan Bianca kepadanya dengan menggelitik gadis itu balik. Keheningan malam di tenggelamkan oleh tawa keduanya di temani oleh cahaya senter yang terletak di pojok. Dada mereka naik turun sebab kelelahan tertawa.
Mereka berbaring berdampingan dengan posisi terlentang menatap langit-langit gubuk itu. Lalu Bianca mengubah tubuhnya menjadi menyamping menghadap Agam yang rupanya juga tengah menatapnya dengan posisi miring. Di saat mata keduanya bertabrakan senyum kedua remaja itu terukir di bibir masing-masing. Definisi dari bahagia itu sederhana. Yang menggambarkan perasaan mereka saat ini.
Agam langsung merengkuh Bianca erat. Seolah tidak mau kehilangan gadis ini. Hatinya sudah jatuh ketitik paling terdalam. Hingga tidak bisa membayangkan kehidupan selanjutnya jika tidak ada Bianca disisinya.
Awalnya pelukan itu memang dekapan hangat dan nyaman.
Namun, tindakan Agam yang tangannya sudah menjelajah itu buat atmosfer di sana menjadi berbeda. "Ih kak! tangannya itu di jaga."
"Bentar Bi, raba tubuh istri. Emang gak boleh?"
Bianca mati kutu. Ingin memprotes namun perkataan Agam memang ada benarnya. Lagi pula tidak munafik, dia juga menikmati sentuhan Agam.
"Kakak." Geram Bianca ketika tindakan Agam sudah mulai melewati batas. Namun, dia tetap tidak berniat menghentikan aktivitas suaminya. Lelaki itu sudah membuka res jaket milik Bianca. Sampai menyingkap kaos tipis berwarna navy milik istrinya. "Bentar doang Bi." ujarnya. Lalu menanggalkan dalaman yang membungkus kedua benda itu.
"Kak.." lirih Bianca merasa aneh dengan tubuhnya yang tiba-tiba seperti melayang. Saat Agam sudah mengemut di sana. Seperti bayi. Hal begini sudah berulang kali di lakukan oleh Agam pada Bianca. Tapi, Bianca tetap kehilangan akal sehatnya hanya perlakukan itu. Tubuhnya seolah paling sensitif di antara keduanya.
Bianca menggigit bibir bawahnya untuk menahan suaranya agar tak keluar. Agam yang melihatnya langsung menghentikan aksinya lalu berucap dengan suara berat. "Keluarin aja. Jangan ditahan." Lantas kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat ia tunda sebentar.
"Eumm, Kak Agam.." Bianca memeluk kepala Agam dan semakin membenamkannya di dadanya. Lelaki itu sudah sesuka hati menghisap, menjilat sampai mengigit di sana. Setelah puas, Agam melepas kulumannya sampai terdengar bunyi khas di kesunyian itu. Tangannya bergerak mengusap pucuknya sampai mencubit hingga membuat gadis itu mendesis.
"Udahan Kak." Bianca menjauhkan tangan Agam. Lelaki itu kini sudah menguap tanda mengantuk. "Tidur yuk Bi."
"Gak balik ke tenda? nanti di cariin." Agam menggeleng pelan. "Gapapa, nanti kita pagi banget baliknya. Udah ngantuk banget setelah ne-nen." ujarnya terkesan vulgar. Yang akan mendapat tabokan maut dari gadis di sampingnya. Untungnya, dia sigap menahannya sebelum menghantam dadanya.
"Tidur yuk. Puk-pukkin." perintahnya meletakkan tangan Bianca di atas kepalanya. Seperti biasa. Bianca menghembuskan napasnya lalu menepuk-nepuknya di sana. Sedangkan Agam sendiri sudah memeluk Bianca layaknya guling.
__ADS_1
***