
o tekanan batin. Tentu saja sedari tadi banyak yang bertanya ini itu dan dengan sabar dan lain,” ujar seorang Cewek yang sebidang dengan Mika. Dan sepertinya Dia adalah Kakak tingkat Mika.ap—”h Proposalnya. Gue duluan.” Cewek itu langsung memberikan Proposal tanpa mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Mika lalu berlalu begitu saja. Bangsat memang.berdecak kesal lalu memegang Proposal tersebut dengan benar. Lalu Ia berjalan menuju ke tempat ketua Pelaksana beradalihat Kak Aldi Nggak,” tanya Mika Pada Cowok yang dapat Mika yakini kalau Cowok itu juga ikut kepanitian ini.
“Eh, Dek Mika, ngapain nyari Aldi,”
Mika tersenyum seramah mungkin.
“Ada yang Penting, Kak.”
“Minta ID LINE lo dong,” celetuk cowok yang lainnya, mau SMA mau kuliah cowok di mana mana sama aja, mata keranjang. Lihat yang bening dikit, langsung deketin.
“Iya dong. Kan sesama Panitia, jangan Pelit.”
Seorang cewek datang lalu menjitak kepala cowok yang tadi berusaha menggoda Mika.
“Sakit, Bego,” keluhnya.
“Rasain tuh. Buaya darat emang harus digituin,” sahutnya sadis.
Si m
“Nyari gue,”
Mika mengamati sepatu. yang berada di hadapannya lalu mendongakkan kepalanya. Kemudian tatapannya bersibobrok dengan Aldi. Ia lalu membenarkan Posisi berdirinya.
“Eh, Iya Kak,” ujarnya sambil tersenyum.
“Ada apa? Yang tadi kurang jelas,”
Mika menggeleng. “Bukan, Kak.”
“Terus apa?”
Mika menyodorkan Proposal yang ada di dekapannya. “Saya disuruh minta tanda tangan Kakak buat Proposal ini.”
Aldi menerima Proposal tersebut. Lalu mulai membolak balik tiap lembarnya
“ ini Proposal apa,”
Mika diam sebentar. Kalau diingat ingat si kating sialan tadi nggak bilang apa apa selain mintain tanda tangan Aldi.
“Maaf Kak, saya kurang tahu.”
Aldi mengernyitkan dahinya.
" Kalau Nggak tahu, kenapa langsung ngajuin Proposal ini ke gue ? Kalau mau gue tanda tangan, minimal lo harus ngejelasin apa isinya,” ujarnya setengah kesal.
“Lo divisi apa,”
“Humas, Kak.”
__ADS_1
“Ya Udah nih.” Aldi menyodorkan Proposal tersebut.
“Tanda tangannya mana, Kak,” tanya Mika Polos,
“Nanti. Kalau lo Udah Paham sama isinya,” balasnya.
Mika menghela napas, sabar. “Ya Udah, makasih, Kak,” ujar Mika lalu memgambil Proposal tersebut.
"Saya duluan.” Lalu ia berlalu dari hadapan Aldi.
Ketika sampai di koridor, ia tak melihat satu Pun orang tersisa di sana kecuali satpam kampus.
“Pak,” sapa Mika sambil melemparkan senyum ramah Pada satpam tersebut.
“Belum Pulang, Neng,” tanyanya.
“Belum, Pak.”
“Mau bapak anter ke depan,” Tawarnya.
Mika melihat si Bapak Satpam dengan seksama. Kalau ia minta antar, Pasti kerjaan Pak Satpam tersebut makin lama beresnya.
“Nggak usah deh, Pak. Saya duluan.”
“Oke kalau gitu. Ati-ati, Neng.”
Ketika sudah sampai di depan gerbang, Mika celingukan ke sana kemari berharap masih ada segelintir orang yang bernasib sama. Jika ada, Ia berjanji akan SKSD dengan modus bisa Pulang bareng. Tapi nyatanya, nggak ada sama sekali. Mika menyemangati dirinya sendiri, ia harus berani Pulang sendiri. Mika mulai melangkah menjauhi gedung FK dengan langkah yang lumayan tergesa. Tiba-tiba saja bunyi klakson membuat Mika jadi berjengit kaget.
“Eh, Monyong,” Mika yang kaget memegang dadanya yang berdegup kencang. Tuh klakson Nggak tahu sikon banget sih!
Mika langsung menoleh ke belakang.
“Pulang sendiri,” tanya cowok yang ada di atas motor dengan wajah watadosnya.
Namun ketika melihat cowok yang ada di atas motor itu, barulah Mika dapat bernapas lega. Dia, Aldi.
“Eh, i... iya, Kak.”
“Naik,” ujarnya. “Gue anterin.”
Mika sedikit melirik ke jok belakang Aldi sebelum melirik siempunya motor.
“Nggak Papa, Kak,”
Aldi tak mengatakan apa-apa ia hanya menyodorkan helm pada Mika. Dengan sedikit ragu, Mika menerimanya dan memasangkannya. Dengan langkah kikuk, ia melangkah ke belakang motor Aldi dan menaikinya.
“Udah,”
“ iya, Kak.”
__ADS_1
Lalu motor melaju meninggalkan gedung kampus.
“Kanan atau kiri,” tanya Aldi.
“Kiri. Terus lurus yang catnya warna krim,” ujar Mika.
Lalu setelah 5 menitan berlalu, keduanya Pun sampai. Mika turun dari motor dan melepaskan helmnya lalu memberikannya lagi Pada Aldi
“Makasih, Kak.”
Aldi mengangguk. “Jangan lupa Pelajarin Proposalnya.”
Mika mengangguk.
“Ya Udah, gue duluan.”
“Sekali lagi makasih, Kak.”
Setelah Aldi berlalu dari Pandangannya, Mika melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah lesu. Setelah sampai di kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur begitu saja. Tanpa melepaskan ransel atau sepatunya.
“Nyesel gue ikut kepanitiaan. Mending jadi kupu-kupu aja sekalian gue,” keluhnya.
Tiba-tiba bayangan Arga muncul di benaknya.
“Arga lagi Ngapain ya Gue telepon ah.”
Mika merogoh ranselnya untuk menelepon Arga. Ia berpikir lebih baik untuk video call sekalian. Maka dari itu tanpa Pikir Panjang, ia langsung mendial nomor Arga. Tepat pada dering keempat Panggilan tersebut diangkat.
“ Arga, gue ke sa—”
“Lo siapa,” tanya Mika Pada sosok di seberang sana.
Mika tak mendapati Angkasa di layar Ponselnya. Tapi yang muncul adalah sesosok cewek asing yang sama sekali tidak Mika kenali.
Seolah oksigen di sekitarnya menipis, Mika merasa Pernapasannya terganggu. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia sangat tak ingin berpikir yang eh aneh Pada Arga. Tapi ia tak bisa.
“Where, Arga,” tanya Mika dengan hati-hati.
“Dia lagi mandi,” jawabnya.
Cewek itu mengarahkan layar Ponselnya Pada Pintu kamar mandi Arga dan terdengar suara gemercik air di seberang sana. Lalu Ia mengarahkan lagi kamera tersebut Padanya. Dan Penglihatan Mika dapat menangkap kalau cewek itu mengenakan Pakaian yang amat sangat Mika kenali, Pakaian Arga
Mata Mika berkaca-kaca. Tak kuasa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi Pada kedua orang itu, secara sepihak Mika mematikan Panggilan tersebut.
Dan tanpa bisa ditahan lagi, air matanya jatuh begitu saja.
“Brengsek lo, Arga,”
...••••••...
__ADS_1