Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 06


__ADS_3

"Cup-cup-cup, Baby boy kesayangan Mama.. kamu ganteng banget sih? wajar lah kan keturunan Kak Agam, gimana gak ganteng coba? bapaknya aja mirip sama aktor-aktor Korea.."


Bianca tak henti-henti menyanjung Putra dan Suami kesayangannya, kepalanya menunduk dengan senyum tulus menatap Altezza yang enteng di gendongannya penuh keteduhan. Habis dimandikan dan meminum ASI, Tak berselang lama, Altezza telah menyelam kelautan mimpi.


"Anak Mama akhirnya bobo juga.."


Bianca mencium kening Altezza yang terdapat aroma bedak bayi lalu meletakannya di atas ranjang bersamanya, ia merebahkan tubuh di samping Altezza lantas dengan menggunakan lengan sebagai alas, ia memandangi wajah polos Putra kecilnya yang sedang terlelap.


Melihat wajah imut dan gemesin sang buah hati, dapat mempengaruhi Bianca mengarah pada energi yang positif, ia merasa masalah di hidupnya meluap entah berantah hanya dengan melihat wajah tertidurnya. Hatinya dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan tiada tara. Apakah begini perasaan setiap Ibu saat melihat anak mereka? sungguh tak bisa deskripsikan dengan kata-kata.


Asik memandangi sang Putra, tidak lama kemudian Bianca pun tak kuasa menahan kantuknya yang menyerang, hari ini cukup melelahkan hingga membuatnya tertidur hanya dalam durasi waktu yang tak lama dari punggungnya menyentuh kasur.


Tidur Bianca sangat pulas, satu jam ia tertidur, bahkan Altezza yang telah terbangun tak ia sadari, bayi kecil itu menangis sambil bergerak menggeliat diatas ranjang, karena letaknya yang tak terlalu jauh dari tepi tempat tidur, Altezza pun sudah nyaris jatuh.


Disaat yang sama, daun pintu kamar terbuka, terlihat Agam dengan wajah kelelahannya. Baru saja dia masuk, matanya dibuat membulat lebar kala menemukan Altezza sudah nyaris jatuh dari atas kasur, sontak tanpa mau pikir panjang, dia berlari kearah ranjang. "Ezza?!!"


"Ezza? Astagfirullah.. Ezza.. hampir saja kamu jatuh.." Agam mengalihkan Altezza keatas ranjang yang lebih jauh dari tepi, seketika darahnya mendidih kala mendapati Bianca yang sedang enak-enak tidur, sedangkan anak sendiri tak diperhatikan, ditariknya kuat pergelangan Bianca hingga tubuhnya yang awal tiduran kini menjadi duduk, Bianca dibuat kaget dan linglung dalam waktu bersamaan.


"Ada apa Kak?"


"Ada apa! ada apa! tidur saja yang di pentingin! sampai-sampai anak sendiri nangis bahkan hampir jatuh dari tempat tidur gak diperhatikan sama sekali!"

__ADS_1


Suara Agam naik beberapa oktaf, hardikan murka Agam membuat Bianca tersentak kecil, ia memilin ujung bajunya, ini kali pertama Agam membentaknya sekasar ini, dan baru pertama kali Agam menunjukkan sisinya yang sedang didominasi amarah berat, jujur saja Bianca sendiri pun sampai tidak mengenal Pria didepan matanya. Selama ini, apabila Agam sedang emosi, maka dia akan menenangkan diri dengan menjauh dari Bianca agar tak membentaknya ataupun main fisik terhadapnya hingga kepalanya mendingin.


Bianca meringis perih merasakan tulang punggungnya yang seakan patah, dengan hati-hati dia melirik Altezza yang kini sedang menangis. "Maafin Mama yah Za? Mama tadi gak sengaja ketiduran.."


"Udahlah! kamu memang gak becus dalam merawat anak!" Baru saja tangan Bianca menyentuh bayi itu, Agam langsung mengambil Altezza untuk dibawa ke gendongannya, tindakannya pertanda tak memperbolehkan Bianca untuk mengambil alih Altezza.


"Kak.. biarin aku yang gendong Ezza Kak.. aku gak ada niat sama sekali untuk melukai Ezza, tadi, aku--hanya ketiduran.. aku ngant--"


"Alasan! memang pada dasarnya kamu lalai sebagai seorang Ibu! benar kata Bunda, seharusnya aku gak terlalu memanjakanmu! gini jadinya, ngurus satu anak saja gak becus!"


Agam melangkah, membawa Altezza menjauh dari sang Ibu. Kedua mata Bianca berkaca-kaca, sungguh hatinya sakit tak karuan dikatai sebagai seorang Ibu tak becus. Mengapa dia harus sedih? bukannya itu fakta?


"Kak? Ezza mau dibawa kemana?" tanya Bianca saat melihat Agam sudah sampai diambang pintu kamar.


"Renungi kesalahanmu, jangan pernah temuin Ezza selama kamu belum menyadari apa kesalahan kamu!" tambah Agam penuh penekanan.


BRAKKK!!


Bunyi daun pintu yang dibanting kuat oleh Agam terdengar nyaring. Bianca membatu, apa kata Agam tadi? dia akan menyerahkan Altezza pada pelayan? tidak! Altezza adalah Putranya, sebagai seorang Ibu, dia yang harus mengurusnya. Lagi pula dia tak ada pekerjaan lain selain mengurus anak.


Dengan fisik yang pegal-pegal dimana-mana, Bianca bersusah payah mencoba beranjak dari tempat tidur. "Jangan Kak.. jangan jauhin aku dengan Ezza.."

__ADS_1


Langkahnya terpincang-pincang menuju pintu yang telah tertutup rapat, dia terisak cukup tergugu, tangannya mencoba menekan handle pintu, namun ternyata pintu terkunci dari luar, apakah Agam benar-benar memberinya hukuman dengan tak memperbolehkannya untuk menjumpai Putranya sendiri? dia tak akan sanggup.


Tubuh Bianca merosot di pintu, dia meringkuk sambil memeluk lututnya, dibalik itu dia menenggelamkan wajahnya, bahunya bergetar hebat, dia menumpahkan tangis pilunya disana. "Maafin Mama, Za.." Suaranya parau terpadu serak.


*****


Agam menimang-nimang Altezza kecil yang sedang menangis tidak mau berhenti, "Sssttt diam Ezza.. jangan nangis lagi, Papa lagi capek tahu? Papa baru pulang kerja, Mama juga gak becus jagain Ezza, jadi Putra kecil Papa diam ya? jangan nangis terus.."


"Nyonya dimana Tuan? kenapa Tuan yang menangani Tuan muda?" tanya Bi Asri hati-hati. Melihat aura suram Agam membuatnya jadi segan untuk bertanya. Tapi dia tetap memberanikan diri.


"Sudah lah, gak usah dibahas Istri yang gak becus itu, mulai dari sekarang aku gak akan ngasih dia yang mengurus Ezza, dia terlalu teledor, dia lalai dalam menjaga Ezza."


"Tapi Tuan--apakah Tuan tahu, kalau hari Nyonya jatuh--"


"Stop! aku udah bilang gak usah bicara mengenai Istri gak berguna itu! Aku gak akan ngizinin dia ketemu sama Ezza sebelum dia menyadari apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang salah."


Bi Asri meremas ujung bajunya, dia benar-benar tak diberi kesempatan untuk berbicara lebih detail, Agam selalu menyela ucapan yang hendak keluar dari mulutnya.


"Mulai dari sekarang, aku menyerahkan urusan Ezza padamu dan para pelayan lain, aku harap kalian bisa menjaganya baik-baik. Aku peringatkan, jangan ceroboh dalam mengasuhnya, jika aku tahu Ezza terluka sedikit saja, aku akan memecat kalian semua!" Tekannya begitu tajam.


Bi Asri segera mengangguk cepat. Jika tidak lekas memberi respon, maka bisa dijamin, emosi majikannya yang satu ini akan segera meledak saat ini juga. "I-iya Tuan. Kami akan merawatnya dengan sangat baik."

__ADS_1


****


__ADS_2