
PLAKKKK
Akhirnya tamparan keras dari telapak tangan Bianca yang bebas mendarat di sebelah pipi Lucas hingga membuat wajahnya tertoleh ke samping. Sekuat tenaga, gadis itu menarik tangannya dari cengkaraman Lucas yang kini bergeming mendapat tamparan yang menyadarkannya dari emosinya. Beruntungnya, cekalan tangan Lucas sudah mengendur, hingga Bianca dapat melepaskan diri.
"Hubungan kita, berakhir sampai di sini!"
Selepas mengatakan itu, Gadis itu cepat-cepat beranjak dari tempatnya. Lucas yang menyadari itu juga tak kalah cepat menyusulnya. Meninggalkan semua pasang mata yang menyoroti mereka.
Tiba di depan pintu cafe, Lucas berhasil menangkap tangan Bianca. "B-bia, m-maaf tadi-- aku hanya--"
"Emosi?!" potong Bianca, menolehkan kepalanya ke pada Lucas. Lucas tercengang melihat bulir-bulir cairan bening kristal yang menghiasi kedua pipi gadis itu. Gerakan kilat, Bianca menyeka air matanya.
"Bia, aku-- minta maaf, tadi aku hanya emosi. Beneran. Aku-- benar-benar minta maaf."
"Oke, gue maafin, jadi, bisa lo lepasin tangan gue sekarang?" Bianca membuang muka, enggan menatap Lucas.
"I-iya." Tak ingin membuat Bianca semakin marah dan membencinya. Lucas akhirnya melepaskan pergelangan tangan Bianca sesuai perintah gadis itu. Setelahnya, Bianca kembali melanjutkan ayunan kakinya. Tentu saja Lucas masih membuntutinya.
"Bia-- tarik kembali perkataan kamu."
"Perkataan yang mana?" Bianca bertanya tanpa menatap lawan bicaranya. Langkahnya terus berlanjut menuju arah jalan raya.
"Soal, mengakhiri hubungan kita."
Kalimat itu rupanya berhasil membuat Bianca berhenti. Dia memutar badan, memandangi Lucas yang saat ini, terpatri pada posisinya.
"Gak akan."
"Please, aku gak mau putus Bia. Kalo kalo marah tentang perkataan aku tadi. Oke, aku minta maaf sebesar-besarnya soal itu." Lucas menggenggam dua tangan Bianca meskipun gadis itu berusaha menepisnya.
"Y-yah Bia? kita gak jadi putuskan Bia?" Suara Lucas bergetar. Dia sangat takut mendengar jawaban dari Bianca. Dari gerak-geriknya saja sudah dapat dia ketahui apa jawabannya.
"Gak. Lepasin!" Lucas tetap kekeuh untuk tetap mempertahankan hubungan mereka. Sedangkan Bianca, bertentangan dengannya, dia bersikukuh agar hubungan mereka segera berakhir.
__ADS_1
"Gue gak mau lagi narik ucapan gue. Dan kita, udah gak punya hubungan apa-apa lagi." Bianca masih terus berusaha menarik pergelangan tangannya dari cekalan Lucas.
Bukannya melepaskannya, Lucas justru menarik Bianca dan dalam sekali hentakan, gadis itu sudah berada dalam pelukannya. Merengkuhnya begitu erat. Seolah sebuah pertanda bila dia tak ingin kehilangan gadisnya lagi.
"Jangan tinggalin aku.." lirih Lucas sudah tak bisa menahan air matanya yang menampung di pelupuk. Setetes hingga dua tetes berhasil lolos dari sana yang sigap ia hapus. Dia menumpukkan dagunya di kepala Bianca yang tengah memberontak, mencoba melepaskan diri dari dekapannya.
"Aku gak mau kehilangan lagi." gumamnya terselip sebuah makna di dalamnya.
"Lepasin brengsek!!!"
Sementara itu, tak jauh dari sana, Agam mengintai dari balik sebuah pepohonan. Indera penglihatannya menangkap dengan jelas, dua sepasang remaja yang sedang berpelukan. Sejak tadi, dia berupaya menahan gejolak amarah terhebatnya. Bahkan dua tangannya sudah terkepal kuat. Menatap kearah sana dengan sengit.
Lucas kembali mencekal pergelangan tangan Bianca ketika gadis itu terbebas dari rengkuhannya. Genggamannya semakin kencang, hingga Bianca tak bisa lagi terlepas dari belenggu itu. Lucas menarik tangannya terkesan kasar agar tubuh Bianca bergerak sesuai seretannya. Dia menghentikkan sebuah taksi. Dan memasukan Bianca secara paksa dengan mendorong bahunya, agar masuk kedalam.
Melihat hal itu, Agam pun menaiki motornya, memutuskan untuk mengikuti mereka.
"L-luc, lo mau bawa kemana?!" Bianca mulai panik.
"Sssstt diem!" Lucas meletakkan jari telunjuknya di bibir Bianca, menyuruh agar gadis itu diam. Selama perjalanan sebelah tangan Lucas senantiasa menggenggam pergelangan Bianca dengan kuat, agar gadis itu tak bisa terlepas. Entahlah, Lucas benar-benar gila sekarang. Dia sudah tak bisa berpikir selayaknya manusia.
Bianca benar-benar takut di buatnya. Dia harus terpaksa terseret oleh tarikan Lucas menuju rumahnya. "Luc! Lepasin gue!"
Bianca tak tinggal diam. Dia terus meronta-ronta. Menghentak-hentakkan genggaman Lucas agar terlepas. Namun, itu hanya sia-sia, lelaki itu begitu kuat. Beruntungnya di rumah ini tak ada siapa-siapa. Dan baru kali ini Lucas merasa bersyukur, Mama-nya melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
Pada awalnya, Bianca menduga Lucas membawanya kerumahnya, tidak mempunyai niatan aneh-aneh. Dugaan itu pupus ketika Lucas justru membawanya sampai di kamarnya. "Luc lo mau apain gue?!!" tanya Bianca panik hebat. Lucas malah membuka pintu kamarnya. Setelah mendorong Bianca kedalam, dia langsung menutup kamar itu, tak lupa menguncinya.
"L-luc." Bianca segera mundur kesudut dinding saat Lucas maju mendekatinya. Mata Lucas, benar-benar berbeda dari biasanya.
Bianca semakin was-was ketika dia sudah tak mempunyai ruang untuk menjaga jarak dari Lucas. Dia sudah terpojok di tembok. Dan Lucas sudah mengurungnya di antara kedua tangannya.
"Luc, kenapa lo jadi gini?" Bianca bertanya dengan suara rendah. Ah sial! rasanya dia ingin menangis lagi. Dia mendongak sesaat mendengar Lucas terkekeh pelan. Tawa itu terdengar menyeramkan di telinga Bianca.
"Lo pikir, gue jadi gini, karena siapa?" Lucas memegangi dagu Bianca yang langsung di tepis oleh sang empunya yang kini membuang pandangannya.
__ADS_1
Detik berikutnya, tangan Lucas kembali terangkat, mencengkram dagu Bianca agar menghadap kepadanya secara penuh. "Tatap gue!" pintanya terdengar dingin namun penuh penekanan.
"Luc, gue tahu, lo gak gini orangnya." Mereka berdua akhirnya bersitatap. Dengan sorotan yang sulit sekali untuk di jabarkan. Lucas menyeringai. "Berarti lo gak kenal gue sepenuhnya."
"Lepasin gue, Luc."
"Gak, sebelum lo jadi milik gue seutuhnya."
Jantung Bianca berpompa lebih cepat dari biasanya tatkala mendengar itu. Jangan bilang, Lucas akan--
Brughhh.
Dalam hitungan detik, tubuh Bianca sudah terhempas ke ranjang milik Lucas. Bianca langsung beringsut takut. "Lucas! jangan gini!" Intonasi suara Bianca meninggi untuk menyadarkan Lucas yang kelihatan tak terkendali. Lucas naik keranjang, dan merangkak lebih mendekati Bianca, menindihnya dan mengekangnya dengan menahan kedua sisi tangannya.
"Lepas!!!" Bianca terus menggerakkan kepalanya agar bibir Lucas tak mengenai tepat di bibirnya. Yah. Lelaki itu mencoba menciumnya secara paksa.
Lucas menggeram marah sebab Bianca terus-terusan menolak ciumannya. Dia menahan dua tangan Bianca dalam satu genggamannya, meletakannya di atas kepala agar bisa mengunci pergerakan gadis itu. Sedangkan, satu tangannya yang menganggur, ia gunakan mencengkram rahang Bianca agar wajah gadis itu tak bergerak. Dia tak peduli dengan air mata Bianca yang sudah berlinang, dia benar-benar gila sekarang. Sudah tak bisa berpikir secara rasional.
Di dalam hatinya, hanya ada Bianca, Bianca, Bianca. Tanpa ia sadari, bila dia telah terobsesi dengan gadis itu. Hingga membuatnya menjadi gila sendiri. Dia menginginkan Bianca menjadi miliknya seutuhnya. Hanya miliknya.
Cup
Gumpalan lembut, mendarat tepat di bibir Bianca. Dengan air mata yang terus tumpah, gadis itu memberontak sekuat tenaga, agar terlepas. Namun, dia benar-benar tak bisa terbebas dari kungkungan ini. Lelaki ini benar-benar bajingan.
Lucas terus melancarkan aksinya. Bahkan dia dengan seenaknya meraup bibir Bianca. Secara intens dan lembut, agar gadis itu bisa terhanyut dan terbuai dalam permainannya. Dan ternyata tak sesuai ekspektasi, gadis itu malah mengigit bibirnya kuat hingga timbul sedikit darah dari sana akibat luka gigitan itu. Lucas mendesis "Sssh. Lo---"
Setan benar-benar menguasai Lucas saat ini. Dia menarik paksa baju Bianca agar terlepas.
"Jangan hiksss stop! jangan lakuin ini!!!!" Bianca menangis sejadi-jadinya di sela-sela apa di lakukan oleh Lucas padanya. Lucas sudah persis seperti predator yang siap memangsa targetnya.
"Kak Agam!" Nama Agam keluar begitu saja dari mulut Bianca. Di ingatannya sekarang, hanya ada Agam. Dia takut, benar-benar takut. Dan sekarang, dia ingin lelaki itu ada di sini, menolongnya. Sementara Lucas? aksinya langsung terhenti mendengar nama lelaki di sebut gadis itu.
__ADS_1
"A-agam?" tanyanya dengan suara bergetar. Bahkan ketika dia dalam bahaya, hanya menyebut nama lelaki itu?
TBC