
Tubuh kekar Agam terus menghimpit pada tubuh mungil Bianca, sudah cukup lama mereka dalam posisi itu. Padahal Bianca sudah beberapa kali berusaha untuk mendorong tubuh Agam yang tidak mau lepas darinya, Agam memeluknya erat, sangat kuat, hingga Bianca pun bisa merasakan kekurangan pasokan oksigen, ia sesak napas. "K-kaka lepas dulu.."
Agam menggelengkan kepalanya cepat. "Gak mau Bi, gak mau.. kalo gue lepas, ntar istri gue ini bakal ninggalin gue dan pergi bersama Lucas, gak mau gue.." rengeknya.
Bianca menghela napasnya. "Enggak Kak.. gue gak bakal berpikiran dangkal, ninggalin suami cuma gara-gara cowok lain, pikiran kakak aja yang melantur." jelasnya.
"Dia bukan cowok lain Bi.. dia pacar. Pacar lo.."
"Pacar doang kan?" Bianca menunda perkataannya untuk sesaat, mendongakkan kepalanya yang terkurung di dada bidang Agam agar bisa menatap suaminya tersebut. "Sedangkan lo, suami gue. Derajat kalian itu jelas beda banget. Ibaratkan langit dan bumi, Kak.."
"Tapi, kalo semisal lo lebih milih Lucas, gimana?" Akhirnya Agam mengurai pelukan, lengannya ia topang di bahu Bianca, menyelami kedua mata istrinya itu dengan sangat dalam. Pupil berwarna hitam legam dan hazel itu saling bertubrukan. Pandangan mereka terlihat begitu intens.
"Emang gue bodo, lebih milih pacar dari pada suami gue sendiri? kalo ada yang halal, ngapain milih yang haram, coba?"
"Emang lo bodo," cicit Agam tidak berani dengan suara sedikit lebih keras. Sialnya, itu malah kedengaran di indera pendengaran Bianca.
"Lo ngatain gue, bodoh?!!" Bianca sudah langsung ngegas. Agam di buat gelagapan, kenapa telinga istrinya ini tajam bener. Padahal barusan dia bersuara sepelan mungkin bahkan nyaris berbisik, hanya desisan saja agar tidak terdengar oleh sang empu.
'Pake acara marah segala padahal fakta.' Jika cercaan itu terlontar dari mulut Agam, sudah di pastikan, ruangan yang mereka tempati sekarang akan menjadi lokasi medan perang. Jadi, Agam hanya bisa berujar dalam hati.
"Enggak Bi enggak, lo salah denger, yang gue bilang bodoh itu---" Agam melirik Bianca yang sudah melemparkan mimik tak santainya. Matanya sudah menyorot akan sirat kemarahan. "Gue." sambung Agam tidak singkron dengan kata hatinya, sambil menunduk dalam. Tangannya menarik-narik pelan ujung baju Bianca.
"Bi.. jangan marah.." cicitnya bak anak kecil yang takut di marahi oleh Ibunya. Dengan hati-hati, dia mengangkat kepalanya beberapa derajat untuk mengecek bagaimana ekspresi istrinya sekarang. Dia, menelan ludahnya pelan melihat paras istrinya yang rupa singa betina, sudah siap mengamuk. Menyeramkan.
__ADS_1
"Bi.. jangan masang muka gitu Bi.. asli serem bener.." lirihnya. Padahal Bianca sengaja memasang mimik seperti itu hanya untuk mengerjai Agam, dan sepertinya dia berhasil menjahilinya. Mengapa suaminya ini begitu, kelihatan lemah? digituin doang sudah tunduk padanya? Bianca seketika tergelak.
"Bwahahaha, yang katanya dingin tak tersentuh, kayaknya gak berlaku sama gue, dasar suami takut istri!!" cibirnya. Gerakan gesit Agam kembali membawa tubuh kecil istrinya kedalam dekapannya. "Biarin.. asal lo tahu? kemarahan lo itu lebih menakutkan dari pada maut sekalipun."
Bianca menahan tawanya lagi mendengar pengakuan suaminya yang tidak rasional menurutnya. "Semenakutkan itu?" tanyanya. Di sambut anggukkan lucu dari Agam.
****
Sudah entah kesekian kali, Agam memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah 15 menit ia menunggu, dan Bianca belum muncul-muncul juga.
Agam mengetuk-ngetuk helm yang terletak di kepala motornya untuk menghilangkan keresahannya dalam beberapa saat. Sekitar lima menit sudah berlalu lagi dan belum ada tanda-tanda kemunculan Bianca. "Bia, buruan!! lama bener?!! ngapain aja sih?!!" teriaknya sudah tidak tahan.
Akhrinya wujud Bianca nampak baru keluar dari arah pintu dengan terburu-buru menghampiri Agam yang kini menatapnya sangat datar dan rata, bahkan sudah mirip tripleks saking datarnya. Selama ini ia menunggu, outfit yang di kenakan oleh istrinya hanya pakaian menjelang tidur? tuhan, bunuh saja dirinya, sekarang!!
"Tujuh purnama gue nunggu, style lo gini doang? ngapain aja tadi lama banget? nunggu ayam jantan, bertelur?" damprat Agam.
"Gak perlu keren-keren segala, cuma pergi ke supermarket kan? lagian dengan penampilan sederhana gini aja, gue udah cantik, pake banget malah." Bianca mengibaskan rambutnya narsis tingkat dewa.
Agam menyentil jidat Bianca untuk mengurangi kadar ke narsistikan-nya. "Turunin dikit, tingkat ke percayaan diri lo, Bi."
"Gak bisa Kak, gak bisa!! soalnya itu semua kenyataan! gue cantik membahana, kawai, gemesin, kata Tasya nih yah, orang yang miliki gue itu beruntung. Seharusnya kakak itu tiap malam sujud syukur kepada Tuhan karena bisa dapet, jodoh sesempurna gue.."
Hidung Agam mengkerut melihat tingkah Bianca mendewakan dirinya sendiri. Tak ketinggalan tatapan anehnya yang ia suguhkan kepada Bianca. "Demi apa gue, dapet istri kek gini." gumamnya.
__ADS_1
***
Bising-bising area jalanan kota menghiasi perjalanan mereka. Selain itu, masih ada suara Bianca yang ikut meramaikan pendengaran Agam. Lelaki itu di buat jengah dengan keributan yang di lakukan oleh orang bego yang sialnya adalah istrinya sendiri.
"Satu, satu, Kakak Agam jelek, dua-dua Kakak Agam tolol, tiga-tiga Kakak Agam galak, satu dua tiga, muka Agam tripleks!!" Bianca menyanyikan lagu khusus yang ia karang sendiri. Suaranya terbawa angin yang beradu pada malam hari.
"Bisa diem gak sih!, dosa lo roasting suami sendiri!!" cebik Agam sudah tak tahan.
Bianca malah menye-menye menirukan omongannya. "Disi lo riisting siimi sindiri."
"Untung di atas motor, kalo gak udah gue lakban mulut nih anak!!" gumam Agam, gemas sekaligus kesal.
"Ih Kakak liat!!! ada---KAKAK!" Bianca memekik sambil merapatkan pelukannya di pinggang Agam, kala lelaki itu menambah kecepatan laju motornya. Lalu menabok kepala Agam yang terbalut helm tersebut hingga kepala sang empu terhuyung. "Heh, bawa motornya bisa santai dikit napa!!" Bianca marah.
"Diem, makanya!"
"Idihh lo siapa merintah, gue?"
"Gue, suami lo!!" Agam menyahut, entah kenapa kali ini, ia ingin lebih meladeni kecerewetan Bianca.
"Sorry ya gue gak punya suami yang nama Agam, suami gue namanya B.a.s.t.i.a.n." Bianca menekankan di kata 'Bastian' terdengar enteng tanpa beban. Menantu lucknut memang. Cubitan kecil yang mampu membuat Bianca meringis pelan itu mendarat di punggung tangannya yang tengah memeluk pinggang Agam. Pelakunya tentu saja tak lain adalah suaminya.
"Menantu durhaka," celetuk Agam.
__ADS_1
***