
Agam keluar dari kamar mandi, baru selesai memandikan Putra kecilnya, ia meletakkan bayi itu diatas kasur, melangkah ke sisi kanan mengambil bedak bayi dari sana.
Berminggu-minggu sudah ia lalui tanpa kehadiran Bianca disisinya, kantung matanya terlihat gelap, ia kurang tidur. Setiap tidur, ia tak akan lupa memeluk figura foto pernikahan mereka. Sesekali menangis ditengah malam. Terkesan cengeng, tapi ia tak bisa menyangkal fakta yang ada. Berbicara mengenai Istrinya. Ia lemah, ia rapuh..
Semenjak Istrinya memutuskan pergi, Agam menghabiskan waktunya bersama Altezza tanpa memikirkan soal pekerjaan lagi, ia menyerahkan segala urusan kantor pada ajudannya. Sibuk merawat bayi itu..baik itu memberinya asupan bayi, memandikannya, membersihkan kotorannya, menenangkannya jika menangis.
Segala kegiatan yang dilakukan oleh Bianca, ia yang mengambil alih. Ia dapat mengambil pelajaran dari situ, bahwa mengurus anak tidak semudah yang ia pikirkan. Pantas saja, Istrinya sampai keawalahan dan ketiduran tanpa sengaja, karena memang seletih itu.
Ia sangat menyesalinya, setiap kata yang melukai Istrinya. Mengatainya Ibu tak becus dalam mengurus anak lah, Istri yang tak berguna lah, Istri manjalah. Padahal Istrinya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi Istri sekaligus Ibu yang terbaik.
Agam menciumi setiap inci tubuh mungil Altezza menghirup aroma bayi yang menguar dari tubuhnya, stuck tepat dihidung Putranya, ia menggesek-gesekkan hidung mancungnya pada hidung mungil baby Altezza . "Humm, Anak Papa udah bersih dan wangi.."
Hanya Altezza yang dapat membuat hatinya menghangat, hanya putra kecilnya yang dapat mengalirkan kekuatan untuknya kala Istrinya tak ada disisinya. Altezza harus sehat, Altezza harus baik-baik saja agar Bianca kembali, Istrinya akan pulang jika Altezza masih ada disini, bersama dirinya.
Menjauhkan diri, Agam menatap Altezza teduh, ada bagian dari Istrinya melekat pada Altezza. Hidungnya, bulu matanya yang lentik, pahatan wajahnya mirip persis dengan Bianca versi boy mini. Sedangkan Agam, hanya ikut andil dibagian bentuk matanya.
Agam suka melihat wajah Putranya karena nyaris menyerupai Istrinya. Ia, menyayangi Putranya karena ia melihatnya seperti melihat Istrinya. Agam bersyukur Altezza ikut sebagian besar gen Mamanya mengingat betapa sulit Bianca mengandungnya sembilan bulan kemudian alangkah sakitnya saat melahirkan.
Tidak lucu jika sudah bersusah payah membawanya dalam rahim sembilan bulan lebih dan mempertaruhkan nyawanya kala melahirkan baby Altezza kedunia ini lalu pas lahir malah lebih mirip Ayahnya yang hanya ikut berpartisipasi dalam mereproduksi perkembang biakan. Andai saja hal itu benar-benar terjadi, Agam yakin, Istrinya akan mengamuk jika begitu.
Mulai memakaian Altezza kecil dengan baju senada dengan celananya, lalu setelahnya ia membungkus tubuh Putranya yang menggeliat kedalam bedong, ia meraih ponselnya dinakas sebelum membaringkan diri disebelah Putranya, "Kita coba hubungi Mama, lagi ya? Mungkin saja kali ini Mama bakal diangkat.. bismillah.."
Tak terhitung berapa ratus kali, Agam berusaha menghubungi Bianca melalui nomornya, tapi yang menyambutnya hanya operator. Jika tidak Istrinya biarkan, maka ia tolak. Kali ini, ia mencoba menghubungi Bianca lagi, berharap Istrinya mau mengangkatnya. Agam ingin mendengar suaranya.
Sebentar. Sebentar saja, tiga menit sudah cukup, agar ia bisa memastikan jika Istrinya baik-baik saja disana.
Berdering dalam beberapa saat. Agam langsung bangun dari rebahan, terkejut luar biasa panggilannya rupanya diangkat. "Bia?! Bagaimana kabar kamu?! Kamu sehat-sehat sajakan disana?! Tidak ada hal buruk yang terjadi denganmu kan?!" Tanyanya bertubi-tubi membuat orang diseberang sana berdehem.
"Ehm. Bentar Agam.. satu-satunya nanyanya.."
"Loh--Ayah?" Suara Pria paru baya yang menyambutnya dari seberang sana. Bukan Istrinya, melainkan mertuanya. "Bia, mana?"
"Ini, lagi Istirahat."
"Ayah.. tolong, berikan hpnya ke Bia ya? Agam mau dengar suaranya, bentar aja.." Agam memohon dengan nada penuh memelas.
Terdengar helaan cukup kasar dari seberang telepon. "Dia--tidak mau mendengar suaramu. Ini pun, dia yang nyuruh aku angkat panggilan darimu."
"Terus, gimana keadaannya disana, Yah? Apa dia makan dengan teratur? Dia baik-baik saja kan?"
"Cucuku, mana?" Bukannya menjawab. Rendra justru mengajukan pertanyaan balik yang membuat Agam mau tak mau membalas pertanyaannya.
"Ini, lagi bareng Agam.
"Baiklah, alihkan ke vc aja kalau begitu, aku ingin melihat cucuku." Agam mengalihkan panggilan telepon menjadi video call. Wajah Rendra langsung muncul dilayar, bersama dengan Alena disampingnya, tetapi tak ikut nimbrung dengan perbincangan mereka.
Agam mengarahkan kamera menuju Altezza yang lagi mengemut jarinya. "Tuh, Ezza lagi enteng-enteng aja. Baru habis aku mandiin."
"Wah...pandai juga kamu ngurus anak."
Kembali, wajah kusut Agam yang menguasai layar, ia ingin mengetahui kondisi Bianca. Ingin melihat wajahnya untuk mengobati rasa rindunya yang bersarang. "Bia, mana Ayah?"
Rendra mengalihkan dari kamera depan menjadi kamera belakang, menunjukkan punggung Bianca yang sedang terbaring diatas kasur dengan balutan selimut sampai pinggang.
Matanya memanas. Embun berdesakkan dipelupuknya matanya, seolah bersiap akan tumpah, ia mendongak kemudian agar air matanya tak merembes keluar. Setelahnya tangan Agam terangkat, mengelus figur Bianca yang dihalangi oleh layar ponsel.
"Ini masih siang bolong, kenapa dia tiduran gitu? Gak baik siang-siang gini tidur, alangkah baiknya dia beraktivitas untuk menjaga staminanya biar tetap sehat..."
"Dia--lagi sakit.."
"Sakit? Sakit apa, Ayah? Parah gak?" Tanya Agam tiba-tiba disergap rasa cemas. Pantas saja, ia merasa tak tenang setiap malam, ternyata kondisi Istrinya sedang tidak sehat.
"Aduhh Agam pengen menemui Bia, Ayah.. tapi, Agam takut.." Agam jadi kalut sendiri mengetahui kondisi Istrinya sedang tak baik-baik saja, sementara dirinya tak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Tenang saja, bukan penyakit yang serius. Hanya sakit kepala biasa..udah diperiksa sama Dokter juga." Wajah yang sudah agak tua tak melunturkan kharismanya, kembali memenuhi layar. Lagi, Rendra mengangkat suara setelah menunjukkan Bianca yang sudah terbaring sakit selama berminggu-minggu, mungkin karena terpisah dari Suami dan Putranya.
"Kalian ada masalah apa?"
"Itu--Yah.. secara gak sengaja aku udah nyakitin Bia...dia, gak berpikir, untuk gak kembali pulang kan?"
Rendra mengusap-ngusap dagunya. "Tidak tahu juga. Dia hanya bilang, gak mau liat mukamu untuk sementara waktu, dia sedang muak dengan kamu. Pasti dia akan pulang walaupun mungkin akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Dia juga sering mengkhawatirkan Altezza, bahkan sampai kebawa mimpi, dia meracau sambil menyebut nama anak kalian.."
"Agam pengen liat dia, Yah.. pengen liat kondisinya secara langsung.."
Rendra menganggukkan kepala. Tanpa dikatakan oleh sang empu, ia sudah dapat menebaknya, Agam begitu menyayangi Putrinya selama ini, tak mungkin tidak akan rindu jika tiba-tiba berpisah.
"Selama ini kamu sangat dapat diandalkan menjaga dan melindungi Bianca. Aku percaya padamu, pasti hanya kesalah pahaman yang membuat Bianca minggat dari rumah kalian, segera luruskan kekeliruan itu, agar rumah tangga kalian kembali sehat seperti sedia kala."
"Gimana caranya menyelesaikan masalah kami Yah? Bia aja jauh dari jangkauanku..." Lirih Agam tak berdaya.
Rendra nampak melirik kearah lain, Agam tahu siapa yang Pria paru baya tersebut lirik. Siapa lagi jika bukan Bianca. "Kemarilah. Bawa Cucuku juga, sudah cukup lama aku tak berjumpa dengan Cucu tampanku. Aku ingin berjumpa dengannya. Aku tidak akan mengatakan apapun dulu pada Putriku sampai dia melihat kalian disini, sekaligus jenguklah dia, dia lagi sakit. Walaupun dia hanya diam tak memberitahu kan apapun pada kami, aku tahu pasti dia sedang membutuhkan kalian disisinya."
"Tapi ada satu hal yang aku takutkan, Yah.. aku takut, nanti Bia suruh tanda tangan--"
"Tanda tangan apa? Surat perceraian? Jangan ngaco kamu! Pikiran anakku tidak sedangkal itu. Kamu kira pernikahan hanyalah mainan? Jika masalah masih bisa diselesaikan dengan baik-baik, maka selesaikanlah, tidak baik bertengkar sedikit saja langsung berpikir negatif. Membina rumah tangga tidak sebercanda itu." Potong Rendra memberi kebajikan.
*****
Keesokkan harinya, Agam dan Altezza tiba dikediaman mertuanya dengan sopir pribadinya. Semalam ia tidak tidur sama sekali memikirkan kondisi Bianca, hari ini masih pukul 08:05 WIB, ia sudah sampai disana. Ia hanya berdo'a dalam hati, semoga Istrinya tidak mengusirnya dari sini.
Jika bisa, Agam langsung menerobos saking tak sabarnya ia bertemu dengan Istrinya. Tetapi, ia masih menerapkan sopan santun, membunyikan bel rumah. Tak memakan waktu lama, pintu terbuka, dibuka oleh Alena, mertua perempuannya.
"Eh, Nak Agam... ayuk silahkan masuk dulu.."
"Rendra!! Ini, Agam udah tiba!!" Panggilnya untuk sang Suami, sedari tadi Rendra sudah menunggu kedatangan menantu mereka ini. Terlihat Rendra turun dari struktur tangga setelah mendengar teriakan sang Istri dari atas.
"Cucuku mana?!" Ada pancaran binar-binar bahagia disepasang matanya melihat kedatangan dengan Altezza dalam gendongan Agam.
"Heleh, rusak wajahnya, kalau mewarisi pesonamu!"
"Gak usah munafik Na, kecakepanku sewaktu muda, sebelas dua belas dengan Idol k-popmu..makanya jutaan wanita yang kecantol." Alena mendelik sewot, sudah setua ini tapi jiwa-jiwa narsisnya masih tersisa.
"Ayah, Bun, Bia mana?"
"Oh Bia? Lagi dikamar. Belakangan ini dia sering sakit, keadaannya kurang fit."
"Gak ada yang jagain dia dikamar?"
"Sekarang gak ada. Biasanya yang jagain Taksa, tapi sekarang dia lagi disekolah. Jadi, saya yang jagain dia sebelum kau datang." Ujar Rendra.
"Yasudah, titip Ezza ya? Agam permisi keatas dulu, mau jengukin Bia.."
"Asalkan kau jangan bikin hal-hal yang membuatnya kesal. Nanti dia benar-benar gak mau pulang lagi, kami pun gak akan bisa membujuknya jika itu kemauannya."
"Gak, Ayah.. Agam cuma pengen liat kondisinya.."
*****
Tanpa pikir panjang, Agam membuka pintu kamar yang dihuni oleh Bianca. Wanita itu sedang tiduran diatas kasur, seketika Agam berpikir, apakah penyakit Bianca cukup parah sampai-sampai tak bisa beranjak sedikit pun dari ranjang? Perasaan dari kemarin ia rebahan terus.
Menaikkan dirinya ditepi kasur, ia kemudian merangkak dan membungkuk badan melabuhkan ciuman dalam durasi yang cukup lama di keningnya. Dalam hal tersebut ia dapat merasakan suhu badan Istrinya memang lah panas, padahal di dahinya sudah ditempeli kompres, apakah tidak mempan sama sekali?
Gerakannya ternyata mampu mengusik tidur Bianca, ia menggeliat kecil, sedikit membuka kelopak matanya dengan penglihatan diawali mengabur sebelum akhirnya pandangannya menjadi jernih. "Loh, Kak Agam..?" Lirihnya.
"Apakah aku bermimpi?" Lanjutnya lagi bermonolog. Agam kerap kali menghantui mimpinya akhir-akhir ini. Jadi, kemungkinan ini hanyalah ilusi semata seperti sebelumnya. Tak mungkin, Agam kemari.
Jika ini hanya ilusi, maka Bianca tak akan melewatkan kesempatan sedikitpun walau hanya imajinasi dalam mimpi, biarkan dirinya memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya, kapan lagi bisa melihat wajah sang Suami sedekat ini dalam kondisi rumah tangga mereka yang sekarang.
__ADS_1
Tangan Bianca teruntai, membingkai rahangnya, sorotnya terlihat sendu. "Kak.. Bia, rindu.. Bia pengen pulang kerumah kita, aku rindu sama kamu dan Ezza.. tapi--aku sangat malu kalau harus berhadapan denganmu dan Ezza.. aku--bukanlah Istri hebat, bukan Istri terbaik. Aku gak becus sebagai seorang Ibu, Istri yang enggak berguna, gak bisa mengurus Ezza dengan baik.."
Ternyata istrinya menyimpan segala kata-katanya yang menyakitkan dalam hati. Sungguh, hati Agam tertohok mendengarnya. Rasa sesal kian menjadi menggerogoti batinnya. Sungguh, hatinya bagaikan teriris sembilu.
Agam mengambil tangan Bianca agar dapat mencium telapak tangannya. "Maaf. Maafin Kakak... Kamu sudah menjadi Istri terhebat dan terbaik dalam hidup aku.. kamu satu-satunya Wanita dalam hidup aku setelah Mama dan Ibu kandung aku.. kamu Wanita yang paling aku sayang.. maafin Suami brengsekmu ini, Bia.. maaf sebesar-besarnya..aku gak tahu lagi harus dengan cara apa minta maaf sama kamu agar dapat maaf darimu.."
"Ini beneran mimpi gak sih? Kok kaya nyata?" Bianca menepuk pipinya sendiri agar dapat membedakan, ini ilusi atau memang realita? Jika ini hanya mimpi ia berharap tidak ingin terbangun dalam waktu yang lama.
Memberikan gelengan, Agam pun meletakkan punggung tangan Bianca di pipinya.."Enggak sayang.. ini bukan mimpi.. ini aku, Suamimu..datang, untuk menjenguk Istriku ini yang lagi sakit.."
Langsung saja Bianca bangun, ia terkejut kenapa ada Agam disini, kemudian disekelilingnya terasa berputar-putar, ia memegangi tepi kepalanya. "Bia?! Kenapa? Kepala kamu pusing?!" Agam panik melihatnya.
"Kepala aku berdenyut Kak.. pusing sekali.. Bia pengen muntah.." Bianca sudah mengalami gejala aneh ini, akhir-akhir ini. Dan ia dan kedua orang tuanya tidak tahu apa penyebabnya, Dokter pun sudah memeriksa, katanya tidak ada yang serius, hanya sakit kepala biasa.
"Kamu mampu ke wastafel kamar mandi?! Atau enggak, aku yang bawa kamu ke kamar mandi gimana?!"
"Gak perlu, Kak.."
Dalam pandangan satu titik, Bianca meraba-raba area kasur, ia sedang berusaha tidak menggulir pandangan agar tidak pusing. Ia mengambil sebuah kain cukup tebal yang biasa ia buangin muntahnya, "Huekk!!"
Seluruh isi perutnya kembali ia muntahkan disana, melihatnya kalang kabut Agam menuangkan air putih di gelas yang tersedia diatas nakas kemudian menyodorkannya pada sang Istri. "Minum dulu Bi.."
Bianca meneguk segelas air bening yang diberikan oleh Agam, tidak lupa menyerahkannya pada Agam setelahnya, "Dari kapan keadaan kamu sudah begini, Bia? Kenapa gak kabarin kakak kalo kamu lagi sakit..? Kalau enggak info dari Ayah, Kakak gak bakal tahu kondisimu kayak gini.. marah boleh, tapi kalo lagi gak enak badan kaya gini, setidaknya kamu ngasih kabar ke aku. Aku, gak tenang sayang.."
Lemas. Bianca merasa tak bertulang. Kini ia membenamkan wajahnya didada Agam, "Ezza mana, Kak?" Bianca melayangkan pertanyaan balik pada Agam, alih-alih membalas ucapannya yang barusan. Ia baru teringat bahwa anak mereka sedang tidak bersama dengan Agam.
Ceklek...
"Nah, tuh malaikat kecil kita.."
Muncul figur Rendra dan Alena datang menyambangi bilik kamar, Altezza masih berada digendongan Rendra. "Ezza.." Menegakkan punggung, kedua netra Bianca berkaca-kaca melihat Putra kecilnya setelah sekian lama, dalam kurun waktu berminggu-minggu ia tak berjumpa dengan Putranya, yang ia rasakan terasa berabad-abad lamanya saking rindunya.
Tangan Bianca terjulur, mengambil alih Altezza dari tangan Ayahnya. "Yasudah kami keluar dulu kalau begitu, kalian silahkan berbicara empat mata lebih leluasa."
"Tapi--aku masih belum puas bermain dengan Cucuku.."
"Mereka berdua butuh waktu luang berdua untuk berbicara!" Alena menarik lengan Rendra yang tak mau merelakan Cucunya bersama dengan anaknya dan menantunya membawanya secara paksa keluar dari dalam sana.
"Sini, aku yang gendong." Inisiatif, Agam mengambil alih Altezza kala melihat Istrinya yang kesusahan dalam menimangnya, tangannya terlihat bergetar tak berdaya.
Sisi kepala Bianca bersandar di bahu Suaminya yang merengkuh pinggang rampingnya menggunakan sebelah lengan, ia terhanyut dalam memandangi Putranya lekat. Ada kilat teduh berpadu sendu didalam matanya, tangannya terulur memain-mainkan pipi gembul Altezza. "Semakin hari, Ezza semakin gede, pipinya pun tambah tembem. Aku berharap, dia akan tumbuh menjadi seorang anak yang ceria."
"Dia, mirip kamu, Bi... Liat hidungnya, mirip banget kan ama kamu?" Bianca mengulum senyum sedih, pandangnya kabur, matanya memanas tiba-tiba. Dibendungnya air mata dikelopak netranya. Betapa bahagianya ia melihat dua orang yang berharga dalam hidupnya dalam keadaan sehat walafiat.
Kini telunjuknya menowel-nowel hidung mungilnya. "Apapun yang terjadi, jangan pernah menaruh rasa benci pada Ezza, ya Kak..? Perjalanan kalian masih panjang, di masa yang akan datang, dia yang akan menjadi satu-satunya jagoan sekaligus temanmu dalam menjalani hidup. Maka dari itu, kalian harus hidup dengan baik.."
Kening Agam berkerut samar. Aneh. Ada rasa aneh yang menghinggap dalam batinnya, berusaha untuk positif thinking, ia pun menghempas perasaan itu jauh-jauh. Kepala Agam bergerak, mengangguki tutur kata Bianca. "Iya.. Aku gak akan pernah membenci buah hati kita.. Dan kalian berdua yang akan menjadi temanku dalam menghabiskan sisa hidupku.."
Bianca tersenyum tipis. Kemudian Agam mendaratkan kecupan sayang di bagian pelipisnya. "Kamu udah makan?" Tanyanya diberi gelengan oleh Bianca.
"Belum. Dari pagi aku belum makan..Bunda sama Ayah paksa Bia makan bubur masakan Bunda, tapi Bia kekeuh gak mau makan.. rasa makanan pahit, Bia gak selera, bawaannya pengen muntah."
"Kamu mau apa hmm? Bilang ke kakak, nanti kakak cariin diluar. Siapa tahu ada makanan yang kamu inginkan."
"Gak mau.. Bia gak mau makan.. Bia pengen keluar.. disini pengap, anterin Bia kepinggir kolam, Bia pengen cari udah segar disana.."
"Yaudah bentar ya, kamu tunggu disini, Kakak mau nitipin Ezza ke Bunda dan Ayah lagi lalu kembali kesini." Sekali lagi, Agam memberikan ciuman pada dahi sang Istri sebelum keluar dari kamar.
Ia akan kembali menyerahkan urusan baby Altezza pada mertuanya lebih dahulu sebelum membawa Bianca ke area kolam, karena jika ia sedang menggendong Altezza, Agam akan sedikit kesulitan membantu Bianca berjalan keluar.
*****
Maaf ya timingnya banyak di skip, konfliknya juga rada-rada gak ngenak, karena niat saya udah mau akhiri nih cerita🥺 otak saya udah buntuğŸ˜
__ADS_1