Married With Ketos

Married With Ketos
Pulang ke rumah


__ADS_3

Zella menatap sendu kacamata yang telah retak akibat kelakukan Papanya terhadapnya. Kacamata itu adalah satu-satunya benda pemberian terakhir Mamanya sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Zella sedih melihat pemberian Mamanya yang tak lagi utuh. Benda ini terlihat retak, walaupun tak terlalu parah, namun ini tak bisa lagi di pakai.


"La?" Panggil Lucas sembari masuk ke dalam kamar yang di tempati Zella tanpa mengetuk. Membuat Zella segera menyeka air matanya, berusaha menutupi jika dirinya tengah menangis.


Lucas tersenyum samar. "Gak usah di tutupi.. gue udah sering liat lo nangis." katanya seraya duduk di pinggir ranjang.


"Emang, bener aku bukan anak kandung Papa?" tanya Zella mengangkat pandangannya. Bisa di lihat dari kedua bola matanya yang berkaca-kaca, bahwa Zella sedang bersedih. Tapi, ini bukan kali pertama untuk Lucas melihat sisi Zella yang lemah.


"Siapa bilang?"


"Papa.."


Lucas beringsut duduk, agar lebih mendekati Zella dan merentangkan tangannya sebagai tanda agar Zella masuk kedalam pelukannya. "Sini, peluk dulu." Zella pun tanpa sungkan memasuki dekapan Lucas yang hangat dari pada apapun.


"Gak usah pikirin yang macem-macem La.." ujar Lucas menenangkan, tangannya menepuk-nepuk punggung Zella. "Meskipun dia bukan Papa kandung lo, bukan berarti itu bisa membuat sepenggal kenangan indah saat kalian bersama, hilang, kan?"


"Gue inget betul, gimana bahagianya lo dulu ketika bersama Papa lo.." Lucas masih setia memeluk Zella sambil menepuk-nepuk punggung Zella. Dagunya ia topang di kepala Zella.


"Tapi, gimana bisa Luc? kenapa Mama bisa khianatin Papa? Aku gak percaya dengan itu, Aku yakin Mama bukan orang seperti itu.."


Lucas mengangguk-anggukkan kepalanya akan perkataan Zella. "Terkadang.. perkara orang dewasa, gak bisa kita mengerti.."


"Tetapi yang intinya, gue percaya, pasti Mama lo melakukan itu bukan atas kemauannya." Lucas kemudian mengurai pelukan antara dirinya dan Zella, dia mengusap air mata yang berderai membasahi pipi gadis tersebut, lalu bertutur. "Udah gak usah nangis. Mending kita makan malem dulu ya? pasti lo laper kan?"


***


Gerakan Nathan yang sedang menyuapi Camella itu terpaksa harus tertahan karena bel pintu rumah Nathan tiba-tiba berbunyi. Nathan dan Camella sempat berpikir, siapa yang bertamu selarut ini?


Nathan dan Camella sempat saling pandang sebelum akhirnya Nathan yang sebagai lelaki pun sontak berinisiatif lebih dulu, setelah menyerahkan sepiring makanan itu ke tangan Camella, lalu bangkit untuk memeriksa orang tersebut. "Ntar.." katanya sebelum beranjak dari sana.


Ketika Nathan membuka pintu utama rumahnya, dia sedikit terkejut dengan kedatangan Mama dan Kakak Camella di sana.


"T-tante?"


"Camella di mana?" tanya Melti. Sudah beberapa minggu Camella belum pernah menginjakkan kakinya di rumah. Tentu saja Melti yang sebagai Ibu merasa begitu cemas. Melti kira, Camella tak akan menganggap sungguhan atas perkataan Vendra yang tengah tersulut emosi kala itu.


Percaya atau tidak, Vendra juga tak kalah mengkawatirkan bagaimana keadaan anak perempuannya, namun itu di kalah kan oleh egonya, hingga Beliau tak ikut menemui Camella saat ini.

__ADS_1


"Mella di dalem tante.. ayok masuk dulu." Ajak Nathan memasuki rumahnya. Nathan, Melti lalu di susul oleh Darren, mereka masuk secara beriringan.


"Mama? Kak Darren? ngapain di sini?" tanya Camella yang heran melihat kedatangan Melti dan Darren di sini. Ia meletakkan piring bekas makan dirinya di atas meja.


Camella tak mendapat jawaban, justru dia di sambut oleh pelukan dari Mamanya yang sudah pasti langsung di balas oleh Camella. "Gimana keadaan kamu Mell?" tanya Melti di tengah pelukan tersebut. Sedang Darren mengajak Nathan keluar halaman depan rumah, entah apa yang mereka lakukan di sana.


"Yah, seperti yang Mama lihat, Mella baik-baik aja.." ujar Camella kepada Melti. Wanita paru baya itu lalu mengurai pelukan lebih dulu.


Menatap putrinya dengan teduh. Beliau menggenggam kedua tangan Camella "Pulang sama Mama yah, Nak.." bujuknya. Di sambut oleh gelengan dari Camella. "Gak mau Mah..Mella takut sama Papa.." ujarnya dengan suara pelan.


"Gak perlu takut Mell.. Papa juga khawatir sama keadaan kamu.. bahkan Papa sempat jatuh sakit hanya gak bisa tidur karena cemasin kamu.."


Camella sedikit tertegun mendengar pernyataan Melti perihal Vendra yang jatuh sakit karena mencemaskan keadaannya. "Tapi---"


"Pulang yah Mell? baikan dulu sama Papa, baru memikirkan tentang pernikahan kamu dan Nathan. Lagi pula, kalian gak akan bisa nikah tanpa wali kan?" tanyanya. Camella baru sadar, jika perkataan Mamanya ada benarnya. Mengapa Camella tak sempat terpikirkan oleh itu?


Selepas berpikir cukup panjang untuk menimbang-nimbang, Camella pun akhirnya mengangguk. Membuat wanita paru baya yang sedang mengandung juga itu menghembuskan napas lega.


Di sela acara reunian mereka itu tiba-tiba terusik oleh suara kegaduhan dari depan rumah sana.


"Apa yang terjadi di sana Ma?" tanya Camella yang belum mengetahui jika Darren dan Nathan berada di sana. Melti yang tahu hanya geleng-geleng kepala. "Dasar.. Kakak kamu pasti lagi hajar si Nathan.." ungkapnya. Membuat mata Camella membesar.


***


Flashback beberapa menit yang lalu sewaktu Melti dan Camella masih dalam acara peluk-pelukkan.


Terjadi sedikit keributan yang samar-samar dari halaman di mana menjadi tempat, Darren menyerang Nathan dengan brutal tanpa ampun. Sesuai perkataan Darren yang akan menghajar Nathan waktu itu, Darren benar-benar merealisasikannya untuk sekarang. Nathan sendiri pun hanya pasrah saja seperti yang ia lakukan semasa Vendra memukulinya. Ini semua, patut ia dapatkan.


"Uhhukk uhuuk.." Nathan terbatuk-batuk darah. Ini tak kalah menyakitkan dari pada serangan Vendra saat itu. Luka pukulan dari Papa Camella belum sembuh total, sudah di tambah lagi dengan pukulan Darren.


"KAK DARREN STOPP!!"


Kalau tidak suara dari jeritan Camella itu, pastinya Darren belum menghentikan tonjokannya terhadap Nathan, Darren melepas kasar cengkramannya di kerak baju Nathan lalu menatap Nathan yang sudah terkulai lemas di bawahnya itu sambil mengusap hidungnya dengan jempol.


"Itu ganjaran buat lo yang berani-beraninya hamilin adek gue!!" tukasnya lalu berdecih sinis. Darren berdiri, mengakhiri serangannya kepada Nathan. Camella langsung membantu Nathan untuk bangun dalam rasa sakitnya.


"Lo gak papa Nath??" Pake nanya lagi.

__ADS_1


Nathan terkekeh pelan tak lupa batuk darahnya juga ikut serta mengiringi. Bahkan hanya untuk sekedar berbicara saja ia nyaris tak mampu. "Lo..pikir aja Mell.. de..ngan muka gue..yang bonyok gini, apa.. gue kelihatan baik-baik aja..?" jawabnya lemah.


Camella menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya juga yah."


***


Pukulan berturut-turut yang di hantam kan oleh Darren tidak main-main. Bahkan sakitnya lebih sakit lagi dari yang Nathan dapatkan dari Vendra. Wajahnya sudah di hiasi banyak memar-memar. Karena itu, Camella telah mengobati luka Nathan. Sekarang keduanya tengah berada di kamar milik Nathan, masih mencoba untuk membicarakan perihal Camella yang akan pulang ke rumahnya.


"Mell.. Lo beneran bakalan pulang?" tanya Nathan memastikan, Camella pun mengangguk sebagai tanggapan.


"Keluarga lo.. gak bakal pisahin kita, berdua kan?" Nathan bertanya lagi. Dia takut, keluarga Camella akan berencana memisahkan mereka. Camella menggelengkan kepalanya. "Enggak Nath, gue pulang ke rumah--cuma untuk baikan sama Papa."


"Beneran?" Nathan agak keberatan membiarkan Camella pulang. Mengingat bagaimana Vendra menentang hubungan mereka berdua, bahkan dengan tega sampai mengusir Camella dari rumah.


Camella mengangguk lagi.


"Papa lo gak bakal ngapa-ngapain, dia kan?" tanya Nathan lagi memastikan, tangannya sudah singgah di perut Camella. Lantas Camella melepas tangan Nathan dari perutnya dan beralih menggenggamnya. Mereka berdua saling bertatapan.


"Percaya sama keluarga gue Nath, mereka gak bakal macem-macemin gue. Mereka juga bakal sayang, sama anak di perut gue, karena itu juga termasuk anggota keluarga mereka. Termasuk Papa, dia gak bakalan ngelakuin apa-apa. Perkataannya hari itu hanya karena dia sedang emosi." Tutur Camella untuk meyakinkan Nathan yang terlihat ragu.


Nathan nampak membuang napasnya panjang, seharusnya dia tak perlu se-risau ini, sebab Camella tak akan pulang ke tempat orang lain, melainkan pulang ke rumahnya sendiri yaitu keluarganya.


Nathan pun mengangguk pada akhirnya. "Kalo semisal Papa lo bertindak di luar batas, hubungin gue secepatnya Mell, gue gak mau anak yang gak berdosa itu, kenapa-napa."


Tidak ada tanggapan lain yang menjadi balasan Camella selain menganggukkan kepala saja.


"Yaudah, peluk dulu sebelum pergi." Nathan sudah merentangkan tangannya untuk akses Camella masuk kedalam dekapannya. Camella juga langsung masuk ke dalam pelukan hangat Nathan tanpa berpikir lebih panjang lagi.


"Jangan telat makan.." Nathan berpesan. Mereka berdua sama-sama saling berpelukan erat seolah-olah akan berpisah dengan jarak yang jauh.


"Iya.."


"Kalo perlu makannya itu yang banyak biar lo sama bayi kita sehat-sehat terus."


"Iya."


"Terus, kalo ngidam, jangan sungkan hubungan gue, biar pun hujan badai angin ribut halilintar bakal gue terjang kalo itu demi lo sama anak yang lagi lo kandung.." Pernyataan itu membuat Camella sontak terbahak sembari melepas pelukan mereka secara sepihak.

__ADS_1


"Sumpah deh Nath, padahal gue udah tersentu sama pesan-pesan lo itu, tapi saat ngedenger apa tadi? hujan badai angin ribut halilintar, buat gue reflek ketawa."


***


__ADS_2