
Suasana mencekam menyelimuti ruang tamu, kehadiran Lucas di rumah mereka membuat atmosfer ruangan itu menjadi tipis, aura-aura menyeramkan menguar di antara Agam dan Lucas yang sedang melemparkan tatapan sengit. Bianca di buat tegang sekaligus merinding di waktu bersamaan, situasi yang buruk untuk dirinya.
Di samping Bianca, ada Agam dengan aura yang dingin namun mampu membuat orang terintimidasi, dan di seberang mereka, ada Lucas dengan tatapan api permusuhan, siapa saja di antara situasi ini akan merasa begitu menyeramkan dan membahayakan.
"Jadi, tujuan lo datang kesini, apa?" tanya Agam datar dan dingin.
"Lo nanyak?! lo bertanyak-tanyak?! sini gue kasih tahu yah!! ngapaian lagi kalo bukan nemuin, pacar." jawab Lucas setengah melawak, namun dapat di lihat dari tampang dan kedua matanya yang masih memancarkan sirat tak bersahabat.
Agam menyeringai sangat samar mendengar apa kata Lucas. Lengkung bibir Agam itu, mampu membuat Bianca menelan ludahnya kasar.
"Pacar lo, istri gue." pungkas Agam tak mau kalah, sama seperti Lucas yang menekankan kalimat 'pacar' sedangkan dia, menekankan kalimat 'istri'
Skakmat!! Lucas di buat tak berkutik dengan itu untuk sekejap. Tapi, dia akan tetap bersikeras akan jadi pemenang di argumen antara dirinya dan Agam.
"Tapi, masih bisa cerai kan?" Smirk tercetak jelas di bibir Lucas, membuat Bianca meringis kecil, mengapa Lucas malah semakin memprovokasi Agam. Tahukah? walau pun Agam orangnya terkesan cuek dan tak mau terlalu ambil pusing dengan urusan-urusan yang menurutnya tak penting. Tapi percayalah, jika Agam sedang dalam mode iblis, Agam lebih menyeramkan dari pada apapun.
Berumah tangga dengan Agam beberapa bulan membuat Bianca bisa mengenal lelaki itu dari segala sisi. Kalau dalam mode manja, dia begitu lucu dan menggemaskan. Jika dalam mode jutek, terciptalah karakter tsundere-nya. Itu tak akan menjadi problem bagi Bianca. Hanya satu yang di takutkan Bianca dari Agam.
__ADS_1
Amarahnya.
Maka dari itu, setiap Agam sedang marah, lelaki itu akan keluar rumah tanpa tujuan, kemana saja asal emosinya reda dulu, baru akan kembali ke rumah. Kalau tidak, mungkin saja Bianca akan terkena imbas amarahnya. Untungnya, selama ini, Agam pandai dalam mengendalikan dan mengatur emosionalnya jika bersama Bianca.
Tangan Agam terkepal kuat mendengar perkataan Lucas, ia sedikit terusik dengan itu, bahkan giginya sudah bergemelatuk. "Gue, gak ada kepikiran buat cerai dari, Bianca." tekannya.
"Itu menurut lo, bukan menurut Bia, mungkin saja Bia ada kepikiran kan cerai dari lo? lagian pernikahan kalian hanya di landasi perjodohan, kan?"
Bianca menahan napas mendengar itu. Ayolah, mengapa Lucas tidak paham jika Agam sedang di ambang batas.
"Lo tahu istilah umur, 'Jangan menyerah sebelum janur kuning melengkung'?" Agam menunda, netranya masih terlihat nyalang. "Kata-kata itu memberikan pengertian jelas ke lo, jika janur kuning telah melengkung, sudah saatnya menyerah."
BRAKKK
Situasi terinterupsi oleh gebrakan yang di lakukan oleh Bianca di meja. Dia yang sudah berdiri dari duduknya itu, menatap tajam secara bergantian Agam dan Lucas. Kedua lelaki itu pun langsung ciut mendapat tatapan yang menurut mereka lebih menakutkan dari segala apa pun.
"Kalian bisa berhenti?" tanya Bianca dingin.
__ADS_1
"Dia duluan yang mulai Bi!!" kilah Agam segera, sambil menunjuk Lucas.
"Eh, apa-apaan lo!! udah jelas-jelas lo duluan yang mulai!!" Lucas juga menyangkal tak terima.
"Apa lo!!" Agam melotot sangar.
"Apa!!" Lucas juga sama tak kalah lebar matanya, bahkan hampir copot dari tempatnya.
"STOPPP!!" Pekik Bianca benar-benar sudah tak tahan. Kedua tangannya ia remas, pertanda dia geram dengan kelakukan Agam dan Lucas kali ini.
"Mending kalian aja yang kawin!! gue mundur alon-alon!!" Bianca beranjak dengan kasar dari sana, menaiki tangga untuk menuju ke atas. Solusi terbaik dalam keadaan ini adalah lebih baik ia menjauh dari hadapan mereka, dari pada harus tertekan dengan kegilaan dua lelaki itu.
"Tuh kan pacar gue marah!! gara-gara lo nih!!" tuding Lucas seakan tidak punya malu sedikit pun.
"Pacar doang, sok belagu." Sewot Agam merasa Lucas tidak tahu diri.
"Apa lo bilang?!!! suami doang lo, sok belagu!!" Lucas balas tetap tak mau kalah, malahan dagunya sudah ia angkat setinggi mungkin, menantang.
__ADS_1
Sementara Bianca yang mendengar perdebatan mereka dari lantai dua itu, hanya memijat keningnya. 'Ya Allah, kuatkanlah hamba-mu ini.'
***