Married With Ketos

Married With Ketos
Keputusan Zella


__ADS_3

Dua minggu sudah terlewati. Cantika harus rawat inap di rumah sakit untuk mempulih kan diri dan matanya yang di operasi kala itu. Hari ini tepatnya perban akan di buka.


Setelah gulungan perbannya di buka oleh dokter dengan perlahan-lahan, kelopak mata Cantika ia buka sedikit demi sedikit. Kabur awal-awal lalu menjadi jernih, di sekitarmu berwarna putih dan orang yang pertama menyambutnya adalah dokter yang berseragam putih, ia melirik ke kiri di mana ada Agam yang seperti biasa raut wajah minim ekspresinya kemudian di temani oleh Bianca di sisinya.


"Abang? Bia? Papa mana? kenapa masih belum juga jengukin Tika? apa kondisi Papa belum pulih?" tanyanya menatap Agam yang akhirnya nampak menunduk enggan menjawab, dan Bianca bangkit berdiri menghampirinya. Dokter tadi sudah pamit undur diri karena tugasnya telah selesai.


Bianca duduk di sebelah brangkar Cantika dan mengenggam tangannya, "Besok, aku dan Kak Agam janji, bakal bawa nemuin Tika sama Papa ya.. jadi Tika tenang aja.." ujarnya berusaha menenangkan. Patutnya Cantika merasa bahagia, tapi entah kenapa nalurinya merasa buruk.


"Cantika bisa pulang ke rumah hari ini?" tanya Cantika lagi sudah tidak kuat di rumah sakit. Makanannya tidak sesuai selera apa lagi ruangannya yang di dominasi oleh semerbak obat-obatan yang di benci oleh Cantika. Respon yang Cantika harapkan, yakni anggukkan kepala dari Bianca.


Cantika berseru girang dengan kedua tangan terkepal, "Yess!! berarti Tika bakal ketemu Papa kan? pasti Papa ada di rumah."


"Hm-- Tika enggak pulang ke rumah Tika yang dulu. Tapi pulang ke rumah kami." katanya menghentikan ke bahagian yang terpancar pada diri Cantika.


"Kenapa gak pulang ke rumah Tika? kenapa malah pulang ke rumah Kak Bia sama Abang Agam?"


Bianca melirik Agam, dia kehilangan kosa kata untuk menjawab banyak pertanyaan dari Cantika, maka dari itu Agam kali ini yang mengerti pun menjawab cetus, "Lo nurut aja bisa gak sih? jangan banyak tanya." Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di samping brangkar, di sebelah Bianca yang melototkan matanya marah karena tanggapan Agam yang terkesan tajam.

__ADS_1


"Abang kenapa sih? gak bisa apa ngomong baik-baik sama yang baru sembuh?" Sungguh, Cantika ingin menjedotkan kepala Agam ke dinding saking kesalnya.


"Sekarang kan udah sembuh ngapain harus ngomong baik-baik? lagi pula lo nya tuh jangan banyak pertanyaan. Bia jadi pusing sendiri harus jawab apa."


Cantika bersidekap dada. "Ish tahu ah!! Abang tuh memang perusak mood!" lalu membuang muka jengkel.


"Agam.." Bianca menggeram dan menggerakkan kepalanya, "Sana duduk di tempat lo! lo gak tahu gimana caranya ngebujuk anak kecil."


Agam patuh, walau harus ada misuh-misuh nya ia menuju ke tempat duduknya awal.


"Perkara yang lain itu urusan di belakang, yang menjadi prioritas sekarang adalah kesehatan Tika, jadi Tika gak boleh banyak pikiran dan harus istirahat yang cukup. Kalo soal Papa Tika tenang aja ya. Pasti aku dan Kak Agam bakal bawa Tika ketemu sama Papa, besok."


***


Baru saja Zella menginjak lantai bingkai pintu utama, suara bas amarah dari Harianto yang menuruni anak tangga terdengar di telinganya. Terlihat sosok Ayahnya yang melangkah menghampirinya. Wajahnya tersirat tidak bersahabat.


"Zella hanya--rindu--"

__ADS_1


"Alaahhh omong kosong!!" Selanya, melihat adanya Zella di sini hanya makin membuatnya naik pitam. "Pergi gak kamu!! aku gak sudi lihat anak orang lain di rumah aku!!"


"Pa.. apa Papa betul-betul tidak menginginkan Zella lagi?" tanyanya bergetar. Ia sebenarnya takut mendengar jawaban dari Harianto.


"Buat apa aku menginginkan anak yang bukan darah dagingku!!! mending kamu pergi secepatnya dari rumah ini sebelum aku usir dengan ke kerasan!!"


"Sekali lagi Zella tanya, apakah Papa benar-benar ingin aku pergi? tidak ada sedikit pun keraguan di hati Papa?" Zella menyeka kasar air matanya yang meluruh dan memandang sendu Harianto yang berdiri di hadapannya.


"Asal kamu tahu aja! hanya satu keinginanku sekarang!! yaitu kamu pergi jauh dari pandangan aku!!" pungkasnya. Baiklah, kalau memang itu ke mauan Papanya berarti keputusan Zella untuk ikut bersama Lucas sudah bulat.


"Baiklah, itu ke mauan Papa kan? Ella bakal pergi ikut bersama Lucas dan Mamanya ke London, puas?!!" Zella segera berlalu usai mengatakan itu, di temani oleh rasa sedih yang bertalu-talu dalam dirinya.


Harianto mematung di tempat menatap punggung Zella yang sudah menghilang di balik pintu dengan hati yang tidak rela tapi dapat di kalahkan oleh egonya. Zella bukan lah anak kandungnya buat apa ia harus menyayanginya?


Zella berlarian dan berhenti di tepi jalan raya, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Lucas.


"Ada apa La?" Suara pertanyaan Lucas terdengar dari seberang sana.

__ADS_1


"Aku udah mengambil keputusan kalau aku akan ikut bersama kamu. Papa udah gak menginginkan aku.."


***


__ADS_2