
Langkah Samuel membawanya memasuki sebuah kawasan yang di penuhi oleh tempat peristirahatan terakhir oleh para manusia. Kakinya menelusuri area itu, pandangannya mengedar melingkupi sebuah lingkungan yang banyak makam-makam lama di sini. Di antara itu semua, Samuel memilih berhenti tepat di sebuah makam yang belum di tumbuhi rumput hijau seperti yang lain. Di permukaan gundukan tanah itu terdapat banyak kelopak bunga mawar. Sudah dapat di simpulkan dengan jelas jika itu adalah makam baru.
Ia berjongkok dan meletakkan setangkai bunga mawar di bawah nisan yang bertuliskan nama Sherly Adrienne.
Samuel mengusap sayang nisan itu selayaknya sedang mengelus kepala Sherly. Tangannya sedikit bergetar gamang saat menyentuhnya.
Di acara pemakaman Sherly, Samuel tidak datang karena tidak mampu menyaksikan orang yang baru ia sadari kalau keberadaannya berarti setelah kehilangannya masuk kedalam liang lahat. Nanti hari ini, barulah Samuel membulatkan tekad untuk menemui Sherly walau pun sudah dalam bentuk makam. Penyebabnya karena, hari ini hari terakhirnya berada di Indonesia. Ia akan kembali ke negara asalnya yakni Prancis.
Tujuannya datang di negara ini hanyalah ingin membalas segala kebencian yang memupuk di dalam dirinya. Namun, itu semua sudah berakhir. Samuel sudah membuang jauh-jauh kebencian itu karena semuanya hanya percuma. Itu hanya akan semakin membuatnya kehilangan orang berharga baginya. Ia sadar, kalau itu semua bukanlah kesalahan Agam. Ia hanya lah anak yang tidak tahu apa-apa. Yang salah adalah orang tuanya. Termasuk Ayahnya.
"Sher.. gimana kabar lo di sana? pasti baik-baik ajakan? lo udah tenangkan di alam sana?" lagi lagi dadanya bergemuruh hebat. Perasaan tidak rela dan berat untuk mengikhlaskan itu selalu timbul. Apalagi di momen menyaksikan langsung makamnya yang dapat ia jelas namanya terpampang di batu nisan. Ah, rasanya ia ingin segera menyusul Sherly.
"Tenang aja Sher. Lo akan selalu jadi yang pertama dan terakhir di hati gue. Tunggu gue di sana ya? cepat atau lambat gue akan nyusul lo dan--anak kita. Tinggal nunggu waktu mengalir sampai maut jemput gue."
Aish, Samuel paling benci bila sudah seperti ini, mau tidak mau ia mendongak agar bisa menghalau air matanya yang sudah mendesak ingin tumpah.
__ADS_1
"Gue bakal pergi ke asal gue. Gue bakal berubah menjadi lebih baik. Kehilangan lo mengajarkan gue untuk bisa menghargai seseorang. Termasuk dia, Kakak gue. Gue gak mau lagi menaruh benci sama dia. Dia juga termasuk--anggota keluarga gue, Kakak kandung gue. Yang berarti dia juga lebih berharga di banding apa pun."
Satu tetes dua tetes lolos membasahi gundukan tanah, sial! padahal ia sudah menahannya mati-matian tapi malah lolos juga. "Lihat Sher? lo liatkan gue udah secengeng ini gara-gara lo." lirihnya menyeka air matanya. Ia meletakkan kedua tangannya di tumpukan tanah dengan wajah menunduk dalam kemudian mulai terisak pedih.
"Kembali Sher.. gue rindu sama lo.. janji, gue bakal perlakuin lo dengan lembut dan tulus kalo lo kembali.." Raungnya terlihat kacau balau.
***
Bianca mengusap peluh di keningnya, hari ini cukup melelahkan karena ia baru saja selesai membersihkan semua penjuru rumah. Tatapannya meluas dan tangannya bertolak pinggang mencermati sekitar melihat perkarangan rumahnya yang baru saja ia sapu bersih, ia dapat bernafas lega. "Akhirnya selesai juga." gumamnya lalu menaruh sapu lidi kembali ke tempatnya semula yakni di pinggir tembok rumah.
Agam melangkah dan merampas kantong sampah yang di pegang oleh Bianca, "Ih kembaliin Kak!! Bia mau buang itu."
"Udah kamu istirahat sana, biar aku yang buang."
"Kembaliin Kak!! biar aku aja! buang doang kok, lagian tempatnya dekat juga." Agam tidak mendengarkan kekeuh Bianca yang ngotot ingin membuang sampah itu, padahal hanya masalah sepele tetapi Bianca memang suka membesar-besarkan masalah.
__ADS_1
Kaki Agam terhenti gara-gara mendengar ancaman mengerikan Bianca, "Kalo Kakak gak biarin aku yang buang, aku gak mau Kakak sentuh lagi. Titik! gak pake koma!"
Terpaksa Agam langsung berbalik kembali pada Bianca. "Lah sayang? masa sih hanya perihal sampah doang sampe di sangkut pautin ke jatah?"
"Yah terserah Kakak, kalo gak mau jatah lagi yaudah sana buang sampah!!"
Bianca hendak berjalan pergi masuk kedalam rumah namun Agam yang tidak terima dengan gertakannya segera mencegatnya, "J-jangan sayang. Yaudah gih kamu yang buang." Ia menyerahkan kantong kresek berisi sampah-sampah itu ke tangan Bianca terkesan memaksa.
"Habis buang itu langsung masuk ke rumah yah?" Agam menyempatkan mencium pelipisnya singkat sebelum beranjak pergi dari hadapan Bianca.
Bianca mendengkus jengkel. Lalu akhrinya berjalan menuju keluar untuk membuang sampah. Hanya persoalan yang tidak berguna harus menggertak Agam dengan ancaman yang tidak main-main dulu baru bisa mempan. Suaminya terlalu overprotektif. Tapi, meski begitu Bianca merasa amat bersyukur bisa memilik Suami seperti Agam yang perhatian dan memprioritaskan dirinya.
Di saat Bianca hendak meletakkan kantong kresek besar itu ke tong sampah, tiba-tiba pandangannya menggelap oleh plastik kresek berwarna hitam tiba-tiba membungkus kepalanya. Ia yang panik langsung memberontak sekuat tenaganya dari kekangan dua bodyguard yang menyeretnya ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. "Lepasin!!" suaranya teredam di balik plastik yang membungkus kepalanya. "Tolong!!"
Bianca di bawa secara paksa hingga sosoknya hilang di balik pintu mobil. Salah satunya masuk di tempat kemudi kemudian tidak lama terdengar bunyi mesin mobil dan perlahan-lahan transportasi beroda empat warna hitam itu melesat pergi dengan membawa Bianca di dalamnya.
__ADS_1
***