Married With Ketos

Married With Ketos
Terbongkar


__ADS_3

Sherly berlari di koridor rumah sakit dalam keadaan ling-lung, sesekali ia menabrak orang-orang yang berlalu lalang di sana, namun dia terlihat benar-benar tidak peduli keadaan sekitar, pikirannya hanya full di isi oleh Mamanya. Tidak butuh waktu lama, ia tiba didepan pintu rawat Mamanya, ia segera masuk tanpa mau berpikir lagi, lalu mendapati kain putih telah menutupi sekujur tubuh Mamanya dari kaki sampai kepala.


"Mama.." Dengan tangan yang bergetar takut, Sherly mencoba menyibak kain itu, ia berharap ini bukan Mamanya, semoga ada keajaiban dari Tuhan, sudah cukup dirinya menderita selama ini, jangan menambah penderitaannya lagi, namun harapannya benar-benar pupus melihat wajah cantik Mamanya yang telah pucat pasi, Sherly menangis histeris sambil memeluk tubuh kaku Mamanya.


"Mama, bangun Ma!!" Racaunya. Ia tidak bisa menerima realita kehidupan yang memberikannya goncangan tiada ampun.


Mentalnya di timpa oleh rintangan tiada habisnya, ini adalah titik terakhirnya berjuang, yang pertama-pertama tidak pernah sekalipun merasakan kasih sayang seorang Ayah, Ibu-nya sakit hingga terpaksa ia berjuang sendiri untuk mendapatkan uang, kemudian di pecat dari tempatnya bekerja, sampai terpaksa ia mengambil pekerjaan yang tidak layak, tiada hari tanpa siksaan, setiap hari terasa di neraka karena pekerjaan itu membuat dirinya menjadi seorang j.a.l.ang, di tambah lagi, lelaki yang selalu menjadikannya boneka pemuas nafsu, sakit, perih, sengsara, yang ia dapatkan.


"Ma.." lirih Sherly, "Jangan tinggalin Sherly..."


***


Tatapan Agam mengedar di sekeliling tempat yang di sebutkan oleh seseorang yang masih tanda tanya besar di otak Agam, di sini terlihat sepi, senyap, hanya ada sebuah rumah yang terbengkalai. Langkahnya memasuki rumah tersebut hanya bermodalkan cahaya senter ponsel miliknya, tadi ia sangat khawatir mengetahui jika ada yang macam-macam kepada istrinya, hingga ia tidak sempat membawa persiapan, semisal senjata atau pun melapor polisi, tidak ada waktu lagi untuk melakukan itu, pikirannya buntu hanya di kerubuni oleh kerisauan akan keadaan Bianca.


Tidak ada siapapun di sini, lampu-lampu remang yang berkedap-kedip menghiasi lorong-lorong di sekitar, hingga menambah kesan-kesan horor, namun di sini nampak luas, tidak seperti kelihatan dari luar, kecil. Agam hanya jalan perlahan, tidak mengeluarkan suara sekecil apapun untuk berjaga-jaga apa bila ada yang menyerangnya diam-diam.


"Hmmpphhhh!!"


Agam mengikuti arah suara orang yang seperti di sumpal mulutnya tersebut, langkah demi langkah ia lalui hingga ia mencapai depan sebuah bingkai ruangan tanpa pintu, kalau tidak salah suara tadi berasal dari sini, baru saja kakinya memijaki ambang pintu, suara bariton langsung menyambutnya.


"Akhirnya datang juga, lo." Samuel berdiri, Agam tidak bisa melihat wajahnya lebih jelas, cahaya di sini suram yakni hanyalah memancarkan lampu pijar, terlebih lelaki itu memakai slayer. Tapi, suaranya, terdengar tidak asing di telinga Agam.

__ADS_1


"Hmpphhh!!!"


Emosi Agam langsung meluap melihat keadaan istrinya yang di ikat di kursi dam mulutnya pun di tutupi oleh lakban, entah orang ini punya dendam kepada dirinya atau istrinya, apapun itu,  Agam tidak ingin siapa pun membahayakan Bianca.


Agam segara mengambil langkah dan mencengkram jaket Samuel bagian depan dada dengan sorot mata menyalakan api permusuhan, "Masalah lo sama gue apa?!! gue gak kenal sama lo tapi dengan seenaknya bahayain orang berharga bagi gue!!"


Samuel berdecih sinis, "Mungkin lo gak kenal gue, tapi gue kenal lo." Agam sedikit tertegun mendengar hal itu, dalam hal itu Samuel gunakan untuk mengangkat tangannya sebelah seolah menginteruksi. Dan, benar saja hanya dalam satu jentikan jarinya, ruangan itu sudah di penuhi oleh para pria bertubuh gagah nan besar dari segala arah, tatapan Agam menggencar di sekelilingnya, ia di kepung, hingga cengkramannya di jaket Samuel mengendur kemudian terlepas.


Langkahnya mundur kearah di mana ada Bianca yang di ikat di sebuah kursi, dan berdiri di depan Bianca. "Kalian jangan ada yang macam-macam dengan dia!!"


"Serang dia!!!" Interuksi Samuel. Gerombolan pria itu itu maju kepada Agam dengan pelan-pelan tapi pasti semakin dekat, namun lelaki itu tidak peduli sama sekali dengan dirinya sendiri, yang ia cemaskan di sini hanyalah Bianca, perempuan itu memberontak semampunya, situasi ini benar-benar tidak menguntungkan bagi dirinya maupun Agam, sedangkan ia tidak bisa berbuat apa-apa.


BUGHHH


BUGHHH


Alih-alih iba kepada Agam, Samuel malah tertawa jenaka, seakan ini semua hanyalah lelucon baginya, tidak ada kebahagian lain selain melihat Agam tersiksa. Ia benci, benci kepada anak haram ini. Karena dia---Ibunya pergi meninggalkannya selamanya.


Tidak lama dari itu, di tengah suasana yang menegang, tiba-tiba dari segala penjuru rumah itu, datanglah pria-pria yang tidak berbeda jauh dari yang menyerang Agam, besar, tinggi juga gagah, perbedaan hanyalah di setelan formalnya. Lain halnya para segerombolan pria tadi yang dengan keseluruhan hanya mengenakan jaket, kumpulan ini berbeda lagi, mereka menggunakan pakaian formal, berkesan bodyguard yang terlatih.


Mereka berbondong-bondong lari ke arah ruangan di mana menjadi tempat Agam, Bianca juga Samuel.

__ADS_1


Tiba di sana, Bianca semakin takut, ketar-ketir, panik, semuanya campur aduk melihat kedatangan orang-orang yang mungkin adalah anak buah Samuel juga. Apakah hidupnya serta Agam akan berakhir di sini?


Sedetik kemudian, gerakannya yang terkesan meronta-ronta itu kian memelan, seiring raut panik Bianca di gantikan oleh kebingungan ketika melihat orang-orang itu malah memukuli kawanannya sendiri. Bianca berpikir, apakah gerombolan orang ini, ada di pihak mereka?


Tidak butuh waktu lama anak buah Samuel telah di kalahkan dengan telak, Bianca takjub sekaligus terharu, orang-orang ini ternyata hebat luar biasa, dan yang lebih penting ternyata memang benar, berada di pihak mereka.


Salah satunya membantu Bianca, melepas penutup mulutnya, tidak lupa melepas ikatannya juga, yang lainnya menelepon tuan mereka.


"Hallo Tuan, semuanya telah di bereskan."


"Kerja bagus." Sahut di seberang sana tersenyum puas.


"Lalu, bagaimana dengan Tuan muda?"


"Kalian bawah dia, aku yang akan langsung turun tangan, memberinya pelajaran." Lalu setelah itu telepon pun telah di tutup.


Bianca membantu Agam yang telah pingsan untuk bangun, "Dia harus segera di bawah ke rumah sakit, Nona tunggu aja, salah satu dari kami sudah ada yang menghubungi ambulans." kata salah satu dari mereka, mendapat anggukan dari Bianca. Lalu Kepala Agam ia sandarkan di dadanya, "Kakak.." lirihnya. Atensinya kemudian teralih kearah dua orang bagian dari mereka, mengekang Samuel yang tidak henti-hentinya memberontak, salah satunya membuka slayer-nya.


Bianca tercengang luar biasa, "S--samuel?!!" Belum juga Bianca habis dengan ketidak percayaannya jika yang menyekap serta membuat Agam seperti ini adalah Samuel, lelaki itu telah di bawah pergi dengan paksa oleh para Pria tadi.


***

__ADS_1


__ADS_2