Married With Ketos

Married With Ketos
Minta jatah


__ADS_3

Pagi yang cerah di akhir pekan. Cuaca yang mendukung banyaknya orang berlibur di hari minggu ini. Namun, sebagian juga orang bilang, hari minggu adalah hari mencuci sedunia. Iya itu memang benar. Bianca contohnya. Perempuan itu nampak ke beratan keluar dari rumah membawa keranjang besar berisi banyak pakaian dirinya dan Agam yang telah ia cuci. Dia menuju perkarangan belakang rumah, di mana ada tempat jemuran di sana.


Kemudian menjemur pakaian itu satu persatu di tempat jemuran. Di tengah-tengah kegiatannya, Agam nongol dari ambang pintu, menuju dirinya. Tiba di sana, dia mengusap pelipis Bianca membuat atensi perempuan itu tercuri kepadanya sejenak.


"Kak." Setelah mengatakan satu kalimat itu, Bianca kembali melanjutkan aktivitasnya. Ada banyak yang harus ia jemur sekarang.


"Masuk gih, gue udah masak, lo makan dulu aja sana." Ucapannya, lalu mengambil alih keranjang itu. "Biar gue yang lanjutin jemur ini semua."


Bianca mendengus, lalu berusaha kembali merebut keranjang itu, namun Agam menjauhkannya. "Ih Kak! biar gue aja! kakak kan udah masak, jadi biar Bia yang habisin tugas Bia!" kesalnya. Setiap hari, Bianca berasa tak berguna sebagai istri. Pasalnya, ini itu kebanyakan hanya Agam semua yang mengerjakan.


"Gak, gak, gak! lo gak boleh kecapekkan banget. Sudah sana masuk! jangan kebanyakan nge-bantah sama suami!, dosa!" damprat Agam sudah mulai melanjutkan kegiatan Bianca, menggantung satu persatu pakaian di tempat jemuran. Bianca menghentakkan kakinya kesal di tanah, jika sudah begini, Bianca tak bisa lagi berkeras kepala, karena Agam itu tipikal orang yang teguh, sekalipun membantah perintahnya, dia akan tetap bersikukuh. Lantas dengan terpaksa Bianca segara berlalu dari sana. Memasuki rumah seraya misuh-misuh tak jelas, menuruti perintah Agam.


"DASAR SUAMI NYEBELIN!!" teriaknya dari dalam rumah. Agam hanya mengulum senyum simpul seraya geleng-geleng kepala.


***


Setelah pekerjaan rumah telah selesai, sudah mandi serta perut pun sudah terisi. Dua pasangan remaja itu kini berada di balkon. Pandangan mereka sama-sama lurus kedepan, menatap hamparan pemandangan dari atas balkon itu. Sembari menghirup udara segar di sana. Bianca dan Agam berdiri berdampingan di tepi, bertumpu pada pagar besi pembatas balkon.


"Kak." panggil Bianca, dia menyandarkan kepalanya di lengan kekar Agam.


"Hm?" Lelaki hanya sedikit meliriknya seraya mengusap punggungnya.


"Kangen Ayah dan Bunda.. pengen ketemu mereka." lirihnya. Sudah beberapa bulan, Bianca terpisah dari Alena dan Rendra. Dia merindukan kedua orang tuanya, namun jarak mereka sulit untuk di jangkau.


"Nanti aja kalo cuti sekolah baru kita susul mereka ke Amerika, untuk sekarang kita fokus sekolah aja dulu." pungkas Agam.


"Nunggu kenaikan kelas dong?" Bianca mengadakan pandangannya kepada Agam, Agam memberikan ciuman kilas di pelipisnya. Kemudian mengangguk singkat. Hal tersebut membuat raut Bianca murung. "Masih lama.."


"Tinggal beberapa bulan lagi. Sabar yah." ujar Agam untuk menghibur Bianca yang kelihatan sedih.


Tak lama kemudian, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah mereka, perhatian Agam dan Bianca pun terpancing total kesana. Lantas, sepasang remaja itu saling tatap sesaat.


"Siapa sih?" tanya Bianca bingung. Agam pun tak kalah bingung, pasalnya mereka tak tahu mobil siapa yang berhenti tepat di depan gerbang itu. Wanita paru baya yang keluar dari dalam mobil itu juga tak mereka kenal. Lalu orang itu berdiri di depan gerbang, memegangi pagar besinya sambil sedikit berteriak "Permisi!!"


Agam dan Bianca lagi-lagi saling pandang dan berinteraksi lewat tatapan. Kemudian setelahnya karena penasaran, mereka pun akhirnya turun kebawah.


Tiba di depan rumah, mereka lanjut berjalan kegerbang.

__ADS_1


"Ada apa yah Buk?" tanya Bianca sopan. Andin menatap Agam dan Bianca secara bergilir. Agak heran, karena sepasang remaja yang tinggal bersama. Beliau berpikir sejenak, Apakah dua remaja di depannya ini, Adik Kakak? ataukah lelaki itu sedang bertamu di rumah gadis ini?


"Benar ini rumah--Bia?"


"Iya, saya sendiri Buk." sahut Bianca, lantas membuka gerbang. "Ada perlu apa ya nyari saya?"


"Hmm gini Nak Bia, sebelum itu saya mau perkenalin diri dulu, saya Andin, Mama Lucas." Andin mengulurkan tangan kepada Bianca, meski masih dalam keadaan bingung, Bianca tetap menyambut tangan wanita paru baya itu.


"Jadi--kedatangan Ibu, ada perlu apa ya?" tanya Bianca berusaha menjaga sopan santunnya. Dahinya sedikit berkedut karena heran.


"Gini, saya ingin nak Bia ikut ke rumah saya, soalnya--anak saya lagi butuh nak Bia."


"Butuh saya?" beo Bianca tak mengerti. Di balas Andin dengan anggukkan.


"Lucas lagi gak baik-baik saja, dan dia--- butuh kamu, nak Bia."


Bianca dan Agam saling tatap dalam sesaat. Otak mereka juga masih mencerna ucapan dari wanita paru baya yang mengaku Mama Lucas tersebut. Lalu Bianca kembali menoleh pada Andin.


"Gini deh Buk, gimana kita masuk dulu, biar jelasin di dalem aja." pungkas Bianca pada akhirnya. Andin pun mengangguk atas ajakan itu.


***


"Jadi, gimana nak Bia? nak Bia mau nengokin Lucas? jujur saja saya sebagai Ibunya, tidak sanggup melihat anak saya hancur seperti itu."


Sebenarnya--Bianca agak ragu. Mengingat jika pergi, Agam akan marah, tapi--penyebab utama Lucas seperti itu karena dia. Cukup lama Bianca menimbang-nimbang keputusan. Dan atas dasar empati pada dirinya, akhirnya dia mengangguk. Tatapan Agam pun seketika langsung horor.


Sementara Andin sontak sumringah, Beliau bersyukur Bianca mau menjenguk Lucas. Sebab anaknya itu sepertinya sangat merindukan gadis ini.


Di saat Bianca menoleh kearah Agam, dia dapat melihat gurat rautnya yang memburuk. Jelas, Bianca tahu, pasti Agam kesal dan marah. Karena sebagian permasalahan mereka tempo lalu, adalah Lucas.


"Jadi--boleh kita berangkat sekarang Nak Bia?" ajak Andin tak ingin berlama-lama lagi. Lucas sudah menunggu, dan Beliau ingin melihat bagaimana reaksi anaknya itu jika melihat kedatangan Bianca di rumah mereka.


Tanpa mau bertanya lagi kepada Agam apakah mengizinkannya atau tidak, Bianca pun mengangguk, tapi sebelum itu, ia sempat melirik ke arah Agam yang dalam raut suramnya.


"Tapi--sebelum kesana, boleh saya siap-siap dulu Buk? kan gak mungkin saya kesana dengan pakaian seperti ini?"


Saking terburu-buru ingin Bianca segera mendatangi rumahnya, Andin sampai lupa. Benar sekali, penampilan Bianca saat ini hanya mengenakan kaos berukuran king size dan celana levis sepaha. Andin sontak mengangguk sebagai tanggapan.

__ADS_1


Tidak lama dari Bianca yang sudah menuju kamar, Agam pun bangkit, "Buk, saya permisi ketoilet dulu yah." pamitnya berbohong. Padahal sudah jelas niatnya ingin menyusul istrinya. Andin yang tidak mencurigai sama sekali dengan gerak-geriknya pun mengangguk lagi.


"Toiletnya ada di atas ya Nak?" celetuk Andin yang melihat Agam sudah melangkah di struktur undakan tangga. Itu berhasil membuat Agam terhenti.


"Iya Buk, toilet di sini hanya ada satu. Dan itu ada di atas." jawabnya lagi berbohong. Padahal ada juga toilet di dekat area dapur mereka.


***


Berhubung dia harus keluar untuk menuju ke rumah Lucas, Bianca pun menukar baju yang lebih bagus dan tentunya agak tertutup. Pasalnya Bianca sampai beberapa kali menukar baju karena Agam selalu menegur, katanya 'terlalu terbuka, ganti!' berujar dengan cetus lagi.


Kini Bianca sudah siap dengan outfit sederhananya. Dengan dalaman baju rajut turtleneck berwarna hitam di padu outer berwarna cream sudah pasti lengannya panjang, senada dengan celana kulot. Lalu setelah itu Bianca pun akhirnya memutuskan untuk segera turun agar menemui Mama Lucas.


Namun, ketika tangannya terangkat hendak akan menekan handle pintu, Agam menarik kecil ujung bajunya. "Bi.. yakin mau pergi?" tanyanya setengah merengek.


Bianca berbalik sambil menghela napasnya. Kemudian mengangguk pelan. "Gue harus pergi Kak, Lucas lagi butuh gue.. dan lo tahukan? penyebab dia begitu karena gue.." ucapnya dengan suara lembut. Mimik Agam nampak cemberut, dia sontak memeluk Bianca tiba-tiba.


"Boleh ikut gak?" tanyanya. Sambil membalas pelukan Agam, Bianca pun bertutur, "Kakak mau Mama Lucas curiga sama hubungan kita?"


"Gampang, kita ngaku pacaran aja kalo gitu."


"Emang Kakak bisa janji gak bakalan bikin kacau di sana?" Bianca melepas pelukan agar bisa menatap Agam. Bukannya dia tak mengizinkan Agam untuk ikut. Tapi--mengingat bagaimana sensitif emosinya suaminya ini terhadap Lucas, takutnya dia malah membuat keributan disana.


Mendengar pertanyaan dari Bianca itu, Agam pun memegangi tengkuknya. "Tergantung."


"Itukan, gak bisa janji?"


Agam menghela napas kasar. "Yaudah, gue gak ikut!" balasnya terdengar pasrah. "Tapi sebagai gantinya-- ntar malem, eummm--" Agam melirik kebawah, melihat Bianca yang mengadah dengan tatapan seakan menunggu ucapan Agam berikutnya. "Jatah." sambung Agam seraya tersenyum jahil.


"Jatah?" Bianca membeo. Sok tidak mengerti dengan kalimat Agam terakhir. Membuat kepala Agam turun, mendusel-dusel di leher jenjang Bianca sembari merengek. "Yah Bi yah? ntar malem kasih gue jatah lagi, masa cuma sekali colok doang, seharusnya kan minimalnya seminggu tujuh kali."


Bianca reflek memukul lengan kekar Agam saat mendengar kalimat 'Seminggu tujuh kali'


"Itu mah tiap hari!!" cetusnya. "Lo mau istilah, suami puas, istri tewas itu terjadi?" lanjutnya lagi bertanya.


"Gak bakal tewas sayang.. Kakak bakal main lembut sama adek sayang, yah?" Agam berujar dengan suara rendah, lalu berikutnya mengigit kecil telinga Bianca. Membuat sang pemiliknya mendesis.


"Iya ntar malem aja deh, tapi kalo seminggu tujuh kali, gak bisa gue gak bisa." pungkas Bianca kemudian mendorong tubuh Agam.

__ADS_1


***


__ADS_2