
Pada awalnya, Agam, Nathan dan Bella mencari Bianca di satu jalur yang sama. Karena sudah beberapa waktu berlalu dan tak kunjung menemukan orang yang di cari, mereka pun akhirnya berpencar agar lebih besar kemungkinannya menemukan perempuan itu. Mereka sudah menentukan titik ketemu mereka jika telah selesai melakukan pencarian.
Jika kalian bertanya-tanya kenapa tak ada Camella, itu di sebabkan Nathan yang tak mengizinkan dia ikut. Nathan hanya takut nanti akan terjadi apa-apa dengan kandungan Camella. Overprotektif nya tingkat akut.
Mereka terus melakukan pencarian sejak pukul 03.00 sampai pada pukul 05:00. Karena masih tak kunjung menemukan Bianca. Mereka pun kembali pada titik perjanjian mereka yang awal. Dan melanjutkan pencarian dengan berkendara bersamaan tanpa terpisah. Ketiganya menyusuri jalan dengan kecepatan sedang mengamati sekitar.
"AGAM!! ISTIRAHAT DULU!!" teriak Nathan yang sudah berkendara di sebelahnya. Agam mengabaikannya tatapannya terus mengarah kedepan. Pikirannya melayang, memikirkan Bianca di mana? dan sedang apa? apakah dia sudah makan? terus, keadaannya bagaimana?
Bahkan, sebelum mencari Bianca, dia sempat lupa mengganti seragam. Alhasil, sekarang, dia masih mengenakan seragam putih abu-abunya.
"AGAM!!!" Teriakan Nathan cukup mengusiknya. Sukses menarik dirinya dari pikiran-pikirannya yang hanya tertuju kepada Bianca. Akhirnya Agam pun menghentikan motornya di tepi jalan. Bella dan Nathan pun ikutan berhenti.
Agam melepas helmnya agar menatap datar Nathan dan Bella secara bergilir. "Kalian, pulang aja."
"Lah?"
"Kami berdua bakalan terus bantu lo nyari Bia sampe ketemu." ucap Bella, setelah melepas helmnya.
"Gak perlu. Sampe sini aja. Selanjutnya bakal gue cari sendiri." Agam tetap kelihatan tenang, meskipun dia sedang cemas luar biasa dengan keadaan Bianca sekarang.
"Tapi---"
"Pulang aja oke? biar gue sendiri yang cari istri gue." Agam segera memotong kalimat Nathan yang akan terucap. Nathan dan Bella saling pandang sebentar, sebelum akhirnya Nathan pun berujar. "Yaudah deh."
"Yok Bell mending pulang, cuss!" tambah Nathan seraya memasang helmnya, bersiap akan lekas berlalu dari sana. Bila tak mengingat kalau dia harus pergi bekerja, dia tak akan meninggalkan Agam.
"Gam, kalo lo nanti, lo masih belum nemuin Bia juga, jangan sungkan-sungkan hubungin kami, nanti bakal kami bantu lagi kok." tawar Bella sebelum pergi dari sana. Di angguki oleh Agam.
***
Entah sudah kesekian kali perut itu terus berbunyi pertanda sudah keroncongan, cacing-cacing pada demo meminta makanan. Bianca memegangi perutnya yang terasa kosong. "Yang sabar yah cacing, yang butuh makanan bukan lo doang, gue juga." ujarnya seperti menenangkan sesama makhluk manusia.
Bianca melemas, kakinya sudah gemetaran saking laparnya. Berbekal makan bubur yang di buatkan oleh Agam pagi tadi, dia nekat kabur dari rumah. Di tambah lagi, tubuhnya yang masih pegal akibat di gempur oleh Agam.
Kesialan kembali menghampirinya, hingga dia kelupaan membawa ponsel dan uang. Mendadak dia menyesal pake acara kabur segala dari rumah. Minimalnya kan mestinya membawa uang jika minggat dari rumah. Ini? hanya bermodalkan kain yang melekat di tubuhnya. Dia hanya terus-menerus berjalan tanpa tujuan.
Semulanya, tenaganya masih cukup kuat menopang tubuhnya. Namun detik ke detik seiring mengalirnya waktu, tenaganya kian tambah lemas. Pandangannya pun sudah mengeruh. Langkahnya sudah terhuyung-huyung. Dia menggelengkan kepalanya guna menghilangkan ke peningan yang melanda kepalanya. Pastinya, itu tak akan ampuh.
Merasa dirinya sudah teramat pusing, akhrinya dia memutuskan untuk berhenti. Bianca melebarkan matanya agar memperjernih pandangannya. Tidak ada hasil, justru semakin berputar. Perempuan itu sudah sempoyongan dan semakin merasa lemah. Dia sudah tak sanggup bertahan. Dan pada akhirnya---
Brukhhh.
Dia telah jatuh pingsan di pinggir jalan.
__ADS_1
***
Sudah berjam-jam Agam menelusuri jalanan, mencari Bianca. Sebenarnya, dia merasa lelah. Namun, rasa khawatir bagaimana dengan kondisi Bianca itu lebih dominan mengalahkan keadaannya yang keletihan. Dia takut, perempuan itu kenapa-napa. Hari sudah mulai gelap. Dan dia masih tak kunjung menemukan istrinya.
Karena itu, melaporkan ke pihak berwajib terlintas di otaknya. Tapi, sebelum waktu kehilangannya belum mencapai dua puluh empat jam, laporan itu tak akan bisa dilakukan. Dia harus bagaimana sekarang? dia benar-benar tak tahu lagi kemana mencari Bianca.
Memutuskan untuk istirahat sejenak, Agam pun menghentikan motor besarnya di pinggir jalan. Dia melepas helm agar bisa menghirup udara segar. Lalu memijat pangkal hidungnya. Dia sedikit pening akibat kecapekan. Meskipun begitu, dia tak akan pantang menyerah.
Lelaki itu menghela napas panjang. Perhatiannya tersita oleh para warga yang tiba-tiba berkerumun di satu titik, bertepatan di tepi jalan di seberangnya. "Ada apa sih?" batinnya. Padahal awalnya tak ada apa-apa. Sebab merasa penasaran, akhrinya Agam turun dari motor dan mendekati kumpulan orang-orang itu.
"Ini, ada apa pak?" tanyanya kepada salah satu bapak yang ada di posisi paling belakang kerumunan.
"Itu, ada gadis yang jatuh pingsan." jawabnya menoleh sekilas kepada Agam.
"Pingsan?" Agam membeo. Dia pun segera menelusup masuk dibalik perkumpulan itu agar bisa melihat gadis yang di maksud bapak tadi, bukannya apa, kebetulan sekali, dia sedang mencari istrinya. Takutnya, itu adalah orang yang ia cari.
Tepat sekali. Gadis yang di maksud itu memang Bianca. Rasa panik langsung menghampiri Agam ketika melihat Bianca yang sudah akan di bopong oleh salah satu warga. Dia lekas menahannya. "Pak, itu temen saya, biar saya saja yang bawa dia pak." tuturnya. Mendengar jika lelaki itu adalah teman dari gadis itu, warga yang sudah akan mengangkut Bianca membiarkan Agam yang mengambil alih.
Agam terpaksa harus menelepon sopir Papanya sebab ia tak akan mampu membawa orang yang pingsan dengan motor.
***
Kini Bianca sudah terbaring di kamar mereka. Dia masih belum sadarkan diri. Sementara Agam lebih memilih menghubungi seorang dokter kenalan Papanya saja untuk datang ke rumah mereka agar memeriksa keadaan Bianca.
"Gimana Dok?" tanya Agam setelah dokter itu selesai memeriksa Bianca dengan stetoskop.
Karena hari sudah menjelang malam. Agam menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat magrib dan Isya. Sehabis itu, lelaki itu pun senantiasa di samping Bianca yang belum sadar. Kelihatan nyenyak sekali tidurnya. Apakah, Bianca ke capekkan karena aktivitas semalam? oke, Agam menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu brutal. Terlebih mereka melakukannya sampai dini hari. Lain kali, bila melakukannya lagi, cukup satu kali klim.aks.
Kelopak mata Bianca nampak perlahan-lahan terbuka. Menyesuaikan cahaya lampu dikamar itu.
"Bi, lo udah sadar?" Agam yang duduk di tepi ranjang beringsut ke tengah-tengah mendekati Bianca.
"Belum." sahut Bianca ketus. Dia berbalik, memunggungi Agam. Dia jadi kesal melihat lelaki itu. Agam mengusap tengkuknya. Sejujurnya, dia tak tahu mesti memulai obrolan dari mana.
"Itu Bi, soal foto---"
"Udahlah." Bianca mengeratkan selimut pada dirinya. Tubuhnya masih terasa lemas. Dan dia merasa tak enak badan. Moodnya turun mencapai angka nol.
"Maaf." Kalimat itu lolos dari mulut Agam. "Soal itu--gue mabuk, gak sadar." ungkapnya sejujur-jujurnya.
"Bi--"
"Diem Kak." potong Bianca. Dia memejamkan matanya kembali. Bahkan, rasa laparnya mendadak hilang bila mengingat foto-foto itu. Sial, ingin ia samperin tuh cewek yang berani-beraninya nyium-nyium lakik orang.
__ADS_1
Agam menghela napas berat. "Yaudah, gue kebawah, ambilin lo makan dulu. Kata dokter tadi, lo ke laperan. Habis itu, minum obat ya." pintanya. Hendak akan beranjak. Namun penuturan Bianca berikutnya mampu membuat niatnya terurung.
"Gak usah sok ngurus! pergi sana sama cewek super seksi dan cantik membahana lo itu!" cetusnya. Sepertinya, Bianca benar-benar marah kepada Agam. Terbukti dari, enggannya dia saat ini untuk hanya sekedar melihat wajah lelaki itu.
"Apa sih Bi? kan udah gue jelasin tadi, gue mabuk semalam, gak sadar."
"Siapa yang percaya? bisa aja lo bohong sama gue."
"Ngapain gue bohong sama istri gue sendiri?" Demi apapun, Agam lebih suka dengan tingkah cerewet dan rewel Bianca ketimbang harus berhadapan dengan Bianca yang versi seperti ini.
"Istri? emang lo nganggep gue istri selama ini? pernikahan kita kan cuma perjodohan."
Agam tertegun mendengar itu. Dia seakan ditampar oleh kenyataan. Kebersamaan mereka selama ini membuatnya lupa jika pernikahan mereka hanya di landasi oleh perjodohan yang semulanya tak di inginkan oleh Bianca. "Terus-- gue harus gimana, biar lo percaya sama gue?" lirih Agam.
"Gak ada."
Terjadi keheningan di antara mereka beberapa waktu. Hingga sampai Agam kembali mengeluarkan suara memecahkan keheningan suasana. "Lo, egois." tukasnya dingin.
Kini gantian Bianca yang di buat bergeming oleh dua kalimat Agam. Tangannya dia tekan kan dadanya, yang tiba-tiba saja di gerogoti oleh kesesakan.
"Lo juga ciuman kan sama Lucas?" tanya Agam kembali mengungkit kejadian yang ingin Bianca kubur sedalam-dalamnya. Apa bila Lucas bertindak lebih jauh, bisa Bianca jamin, dia akan trauma akibat hal itu. Namun--- Agam mengungkit itu lagi?
Sebenarnya, Agam agak tak terima juga dengan hal itu. Suami mana, yang rela jika istrinya di cium sama lelaki yang berstatus sebagai pacarnya.
"Bukan ciuman Kak, lebih tepatnya-- gue di cium paksa sama dia." Bianca akhrinya berbalik badan. Gadis itu terlihat pucat. Bianca harus mengangkat pandangannya agar bisa menatap wajah Agam.
"Apa bedanya sama gue? gue juga sama. Jadi, please, ngertiin gue. Jangan egois gini." ujar Agam. Tatapan mereka saling membidik, seolah ingin mengutarakan sesuatu di balik itu.
"Gue udah berusaha ngerti Gam. Tapi--entah kenapa, di sini--" Bianca menekan dadanya dengan jari telunjuknya. "Sakit.." sambungnya melirih.
Agam membuang napas kasar. "Emang, lo pikir, gue gak sakit dengan adanya hubungan lo dengan Lucas selama ini?"
Bianca di buat bungkam oleh ucapan itu. Dia mendongak untuk menghalau tetesan air yang sudah menggenang di sudut matanya. Yah. Dia memang egois, kekanak-kanakkan, labil, dia sadar akan hal itu.
Baiklah, dari pada membuat perselisihan tambah ruwet, Agam lebih baik bangkit, memutuskan mengambilkan bubur yang ia buat sebelum sholat tadi. Dia keluar kamar tanpa mengucapkan apapun lagi, menyisakan Bianca yang sudah menitikkan air matanya di sana.
Tak lama dari itu, Agam datang membawa nampan berisi semangkok bubur beserta segelas air minum.
"Kak." panggil Bianca, langkah Agam yang persis di bawah ranjang itu terhenti oleh itu.
"Kenapa?" tanyanya hendak akan melanjutkan kembali langkahnya menuju nakas.
"Gue--- pengen pulang ke orang tua gue."
__ADS_1
Plangggg
TBC