Married With Ketos

Married With Ketos
Tidak akan mengalah


__ADS_3

Tidak terasa. Malam ini sudah malam terakhir SMA Garuda menjalani camping di lokasi ini. Mereka mengadakan Barbeque, sebagai penutup malam mereka di pegunungan ini. Beberapa murid mengipasi jenis makanan yang mereka panggang. Asapnya menyembur ke area sekitar pertendaan. Mereka menikmati malam penuh keseruan ini.


"Mell, kayaknya lo kelaperan banget! itu lo makannya kek orang gak makan seminggu aja!" tegur Bella pada Camella yang makannya sangat banyak. Sudah tak terkondisikan, bahkan sampai belepotan. Bella yang melihatnya pun terheran-heran. Pasalnya, Camella bukan tipikal orang yang berantakan bila makan. Apa lagi melihat makannya yang seperti orang tak makan berhari-hari.


"Hemm?" Camella hanya melirik Bella sekilas sebelum akhirnya kembali melanjutkan makannya. Dia menyantap sampai lima jagung panggang juga tak lupa dengan paha dan dada ayam. Juga kentang.


"Nath.. kok Mella jadi gini sih?" Bella mengalihkan perhatiannya pada Nathan yang baru saja ikut bergabung bersama mereka. Di ikuti oleh Agam.


"Udah, biarin aja." Nathan senang, melihat Camella yang begitu nafsu makannya. Pasalnya, akhir-akhir ini dia bisa melihat bagaimana perempuan itu kehilangan selera makannya.


"Ntar dia jadi gendut!"


"Baguslah kalo jadi gendut."


"Gak, gak, gak! laki-laki itu Mandang fisik! Ntar gak ada yang suka sama Mella! Udah deh Mell! mending lo kasih tuh sisa lo!" Bella hendak merebut sisa makanan Camella. Tapi, perempuan itu langsung menjauhkan makanannya dari Bella.


"Enggak, ini enak!" Bella tetap berusaha merampasnya. Sampai mereka harus tarik-menarik memperebutkan dua kentang bakar itu.


Nathan langsung menarik tangan Bella dari makanan itu. Bermaksud membiarkan Camella menyantap semuanya. "Udah Bell, biarin aja."


Bella mencebikkan bibirnya. "Nanti, gak ada cowok yang mau sama dia kalo gendut!"


"Siapa bilang?!!"


"Gue!" Bella spontan menunjuk dirinya sendiri.


"Ada kok! gue misalnya!" jawab Nathan reflek. Mata Bella langsung melotot mendengarnya.


"Waw! keknya ada yang kalian sembunyiin dari gue. Gue mencium aroma-aroma romance di antara kalian berdua." Bella sudah mengendus-ngendus di sekitaran Camella dan Nathan.


"Kalo, gue bilang, gue pacaran sama Mella, lo percaya gak?"


"Percaya lah! pake banget! gue aja gemes liat kalian yang deket gak jadian-jadian!" tukas Bella pada akhirnya. Dia sudah melipat tangannya di depan dada. Menatap Camella dan Nathan bertahap, dengan tatapan menyidik. "Jadi, sejak kapan?"


"Privasi! ya gak Mell?"


"Hmm? he'em." Camella menganggukkan saja kepalanya pelan. Meski dia tak tahu apa yang di maksud Nathan. Pasalnya, sejak tadi dia hanya fokus pada makanan sampai tidak memperhatikan obrolan antara Bella dan Nathan.


"Berarti, yang jomblo di antara kita, sisa gue lagi nih!" Tiba-tiba Bella menjadi tak terima. Oh ayolah ketiga temannya sudah mempunyai pasangan. Sedangan dia---oke, dia mempunyai pasangan yang tidak dia anggap. Karena Virtual, alias LDR. Hanya bagai menjalin hubungan dengan angin.


Nathan mengangguk, Agam pun ikutan mengangguk membuat Bella berdecak sebal. "Ah sudahlah! yang penting kalian bahagia aja!"


Bella kemudian mengalihkan pandangannya kepada Bianca dan Tasya yang sedang duduk di kelompok anak-anak lain. "Bia!!!"


Bella memanggil sambil mengangkat tangannya. Semua mata di sana tertuju padanya.


"Sini!" Bella sudah menggerakkan tangannya, memanggil Bianca agar menghampiri mereka. Bianca pun akhirnya mendekat mereka meninggalkan Tasya juga kelompoknya di sana.

__ADS_1


"Kenapa?" Bianca bertanya saat tiba di dekat mereka.


"Kata Agam, dia kangen." Bella sudah melirik jahil pada Agam yang saat ini sudah memasang raut tidak terimanya. Soalnya, dia tak pernah berkata-kata seperti itu. Namun--ada benarnya juga, dia kangen. Setiap detik dan setiap menit tak melihat wajah istrinya dia akan rindu bagai berbulan-bulan lamanya. Yah, Agam sebucin itu.


"Iya kan Gam?"


"Hm. Sini." Agam menepuk space di sampingnya. Bianca celingukan, melihat banyak orang di sekeliling mereka. "Banyak orang. Ntar pada curiga." katanya sudah menatap Agam.


"Udah. Gapapa, duduk doang." Agam menarik satu tangan Bianca agar mendudukkan gadis itu tepat di sebelah kanannya.


"Udah makan?"


"Udah. Tadi Bia makan banyak banget! dari kentang, jagung, daging, buah-buahan!" Bianca berseru dengan semangat. Agam mengacak rambutnya gemas. "Baguslah."


Sementara Bella sendiri menatap cengo dua pasangan yang tengah berbincang di sekitarnya tanpa menghiraukan keberadaannya lagi. "Apalah dayaku yang cuma ngontrak di dunia ini!" Celetuknya mendramatis. Dia mendadak menyesal telah mengajak Bianca untuk bergabung bersama mereka.


Setelah berselang menit kemudian. "Oh iya, tadi siang katanya, ada murid yang pulang." Celetuk Nathan tiba-tiba. Memulai gosip di antara mereka.


"Sherly gak sih?" Bianca yang sudah tahu, menyahuti ucapan Nathan. Di anggukki oleh sang empunya.


"Sakit katanya."


"Terus, yang anter siapa?" Bella bertanya. Mendadak serius. "Gak mungkin sendiri kan pulangnya? soalnya kata murid-murid lain, dia lagi sakit."


"Hmm-- kalo gak salah sih yang nganter dia itu---, si Sam--Sam-- Sam--apa yah?! Ah udahlah gue gak inget namanya. Cuma yang pasti ada kalimat Sam-Samnya gitu!"


"Ngomong-ngomong yah. Mumpung kita lagi bahas si Sherly nih. Kata salah satu siswi di sini, dia ngaku katanya ada pernah denger suara orang lagi mantap-mantap di belakang salah satu tenda." Ujar Bella. Pergibahan terus berlanjut. Membuat dua pasangan di sekitarnya itu saling pandang.


"Kelahi gimana ada suara desa-han!"


"Terus! terus! gak lama dari itu, sesuai rumor yang beredar, si siswi yang denger itu yah kan belum tidur nih. Tapi-- dia pura-pura tidur, pas liat Sherly dateng ke tenda sambil nangis gitu." tambah Bella kemudian.


"Berarti--- yang lakuin itu Sherly gak sih?" terka Camella. Mendapat jawaban dari Bella. "Bisa jadi sih. Memang, kalo di ambil asumsi dari waktu dan situasinya, memang dia. Tapi--jangan su'udzon dulu deh. Kan gak liat langsung siapa orangnya."


"Kalo misalnya itu dia-- jadi, dengan siapa dia lakuin itu?"


"Yang pastinya cowok sih." Agam menanggapi ucapan dari Nathan. Mendapat sikutan dari Bianca di lengannya. "Yah kali lakuinnya sama cewek! mana bisa!"


"Barangkali aja." Bianca menoyor sisi kepala Agam. Agam langsung meraih tangan mungil itu kemudian dia genggam. Ketiganya yang melihat itu langsung melempar batu kerikil kepada duo bucin itu sambil menyoraki mereka.


"Tapi, tunggu, Kak Nathan tadi bilang tadi, yang nganter dia, yang nama Sam-Sam gitu kan?" tanya Bianca setelahnya. Membuat Nathan mengangguk. Bianca nampak berpikir sejenak.


"Di kelas gue. Ada yang nama Samuel. Dia suka jahil dan sok akrab ke gue sama Tasya. Tapi-- gue belum yakin sih, itu dia. Soalnya kan nama Sam-Sam, belum tentu juga Samuel. Bisa jadikan Samsudin, Samprianto, Sampirman."


"Ngaco lo ah! masa iya nama seaneh itu!"


Di tengah-tengah percakapan serius di selingi canda gurau mereka, tiba-tiba ponsel milik Bianca berdering. Membuat atensi mereka teralihkan pada suara itu.

__ADS_1


Bianca merogoh saku celananya. Membuka ponselnya. Melihat si pemanggil yang ternyata dari Lucas.


"Siapa?"


"Lucas." Bianca memiringkan ponselnya memperlihatkan panggilan itu kepada Agam. "Gue, izin angkat yah." Bianca berujar setelah sudah bangkit. Dan langsung saja Agam menahan tangannya mencegah Bianca untuk mengangkat telepon tersebut.


Bianca menepis tangan Agam dengan pelan. "Bentar aja. Kalo gak di angket, pasti dia hubungin gue terus. Sampai gue angket."


"Bentar aja kok Kak." tambah Bianca meyakinkan Agam yang terlihat tidak ingin Bianca menjawab panggilan itu. Setelah, Agam tidak melakukan pencegahan lagi terhadap Bianca, gadis itu beranjak sedikit menjauh dari keramaian agar tidak berisik.


"Telepon dari siapa Gam? kok muka lo langsung masam."


Agam hanya membuang napas kasar, enggan menyahuti perkataan Nathan.


***


"Hallo? kenapa?"


"Bia, Kamu punya waktu luang gak sekarang? kalo ada, bisa gak kita ketemu di cafe biasa? Ada yang pengen gue omongin sama kamu."


"Gimana yah? sekolah kami ngadain acara Camping. Terus aku belum balik nih."


Hening beberapa saat. "Beneran? gak hanya sekedar alasan lagi kan?"


Bianca mengangguk meski tak di lihat orang dari seberang sana. "Iya."


"Yaudah. Kalo gitu, kita ketemu pas kamu balik aja yah. Hari apa campingnya berakhir? ntar aku jemput deh. Kamu tinggal sherlock aja"


"Gak usah! lagian banyak temen-temen yang lain kok."


"Beneran gak mau?"


"Iya beneran!"


Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Yaudah deh. Malam ini aku temenin kamu lewat telepon yah. Udah lama kita gak teleponan sampe berjam-jam gitu. Aku kangen.."


"Hmm, gimana yah Luc, aku udah mau tidur nih. Ngantuk banget soalnya tadi siang beraktifitas terus." Itulah alasan yang Bianca utarakan. Membuat lelaki di seberang sana lagi-lagi menghembuskan nafasnya seperti enggan untuk memutuskan telepon.


"Yaudah. Good night yah."


"Iya." Selepasnya, Bianca benar-benar memutuskan panggilan tersebut. Sebenarnya Lucas masih ingin mendengarkan suara Bianca. Namun, mendengar Bianca mengatakan suatu alasan lagi, mau bagaimana lagi.


Tatapan Lucas kemudian turun menatap nanar beberapa lembar foto di genggamannya. Dia meremasnya kuat hingga barang itu kusut. Seolah menyalurkan emosinya pada gambar itu.


"Kali ini, gue gak akan mengalah seperti dulu."


...TBC....

__ADS_1


***


Jangan lupa like-nya gaes biar author-nya semangat nge-up capter selanjutnya🙂


__ADS_2