
SETELAH menghabiskan cuti selama dua
“
Reno, Mika tertawa lepas. Reno terpana dengan tawa tersebut. Mungkin ini adalah tawa Pertama Mika setelah dikit.”
Reno yang Nggak Perlu dipikirin ya,” ujarnya. “
mantap ia mengambil spesialis kandungan. Entah kenapa ia tertarik dengan hal yang menyangkut kehamilan. Ketika melihat sepasang suami istri tersenyum bahagia, mengetahui bahwa keduanya akan menjadi orang tua, gelegar kebahagian tersebut mengalir juga Pada Mika. Ia senang bisa membuat orang lain senang. Dan impian terbesarnya adalah menjadi seorang ibu. Andai saja semuanya berlalu dengan sewajarnya, mungkin saja sekarang ia sudah akan menjadi seorang ibu. Mika mengusap wajahnya kasar, tak baik memikirkan sesuatu yang tak Penting.
Ketika sudah di depan pintu dengan tulisan namanya, ia membuka Pintu tersebut. Mika duduk di kursi kebesarannya. Tanpa sengaja Pandangannya menangkap sesuatu yang membuat emosinya meluap. Di sana, di atas mejanya, terpampang fotonya dan Angkasa beberapa tahun yang lalu ketika kelulusan Arga. Mika mengamatinya dengan seksama. Dua orang difoto tersebut tersenyum bahagia, melambangkan Perasaan keduanya. Lalu kenyataan Pahit begitu saja hadir di Pikirannya yang membuat kenangan manis tersebut hilang seketika. Mika mengambil foto tersebut lalu menyimpannya ke dalam laci. Kini sudah saatnya melupakan yang lalu lalu. Hidupnya tidak hanya sebatas ini.
“Udah buka, Sus,” tanya Mika Pada suster yang masuk dengan membawa map.
“Iya Dok, sudah ada beberapa yang ngantri.”
Mika mengangguk Paham. “Oh ya udah, saya juga udah siap kok.” Suster Ira tersenyum sopan lalu memberikan berkas berkas yang ada di tangannya.
“Selama saya cuti, kerjaan banyak nggak, Sus?”
“Nggak terlalu sih, Dok. Tapi ada beberapa yang check up rutin.”
Mika menganggukkan kepalanya.
“Saya Panggil aja Pasien yang Pertama ya, Dok.”
__ADS_1
“lya, Panggil aja.”
Lalu suster Ira keluar dari ruangan. Mika lanjut membolak balik berkas yang diberikan oleh suster Ira. Beberapa di antaranya adalah keadaan Pasiennya yang melakukan check up rutin.
Pintu kembali terbuka. Mika menyiapkan senyum termanisnya.
“Selamat Pa—”
Kenapa di luasnya daratan di muka bumi ini ia harus bertemu dengan seseorang yang sangat tidak ingin ia lihat “Silakan duduk,” ujar Mika Pada akhirnya. Aturannya adalah selalu bersikap ramah Pada Pasien.
“Boleh tahu keluhannya,” tanya Mika berusaha bersikap Profesional.
Cewek itu tersenyum masam. “Dari seminggu yang lalu aku mual mual terus, terus beberapa hari ini juga aku sakit Perut sama Pusing yang nggak ada berhentinya. Kata Mama sih suruh cek aja ke dokter kandungan.”
“Kemarin aku beli tes pack tiga dan tiga tiganya nunjukin warna merah. Tapi aku masih nggak yakin.”
Mika diam, mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut cewek yang ada di depannya.
“Aku mau Periksa kandungan, Dok, buat ngeyakinin,” lanjutnya.
Dada Mika rasanya sesak. Apa harus secepat itu ?
“Dok,” tegur cewek tersebut sambil melambai lambaikan tangan di hadapan Mika.
“Eh, Maaf.” Mika lantas membuka buku yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Nama kamu siapa,”
“Safira.”
“Oke, sekarang ikut saya.”
Mika lalu berjalan menuju brankar, Safira mengikutinya dari belakang.
" Tidur di sini.” Safira lalu tidur dengan hati-hati. Lalu Mika dengan tangan yang bergetar dan dengan kegugupan yang sangat ketara di wajahnya mulai memeriksa keadaan Safira.
Positif. Mika merasakan air mata menggenang di Pelupuk matanya. Apakah ini akhir dari segalanya Apakah hanya sampai sini saja harapannya selama ini ?
“Fir, kamu Nggak apa-apa,” tanya seseorang yang tiba tiba menghampiri lalu memegang kedua bahu Safira.
Safira menggelengkan kepalanya.
“Apa sih, lebay banget,” cibirnya.
“aku khawatir banget tahu. Tadi Mama bilang kamu ke rumah sakit. Emang kamu sakit apa,”
“Nggak tahu, dokternya belum bilang.”
“Dok, dia Sa—”
Ucapan Arga terhenti ketika yang dilihat di hadapannya adalah sosok cewek yang sangat ia kenali. Air mata Mika hanya tinggal menghitung waktu saja hingga benar-benar meledak.
__ADS_1