
Perkara sekretaris perusahaan yang dipimpin oleh Agam, satu minggu lebih sudah sepasang suami istri itu irit dalam berbicara, Bianca dalam suasana hati yang masih enggan untuk membuka suara, ia hanya berharap Agam mau mengajaknya berbicara duluan, sedangkan Agam sendiri, hanya tak ingin menimbulkan masalah jadi lebih besar, oleh karena itu, ia memilih untuk betah diam.
Dari malam itu, suasana diantara mereka berdua menjadi canggung dan dingin. Bianca yang disibukkan mengurus Altezza, sedang Agam sibuk dengan pekerjaan, sibuk menghindar dari masalah lebih tepatnya.
Pagi ini Bianca sudah berkutat dengan alat-alat dapur, ia inisiatif memasak sendiri untuk sarapan Agam kali ini, hubungan mereka jadi tak harmonis akhir-akhir ini, menunggu Agam yang mengalah duluan, Bianca berpikir, mungkin itu hanya akan menjadi angan-angan semata. Agam tak akan mau mengalah jika persoalan karyawan dalam perusahaan.
Ada kalanya di setiap hubungan, harus ada yang mengalah disalah satu pihak jika ingin hubungan tetap langgeng, Bianca kali ini memutuskan untuk mengalah agar masalah itu lekas terselesaikan tanpa di ungkit-ungkit lagi. Mereka hidup bersama bukan hanya sehari dua hari, ia akan mencoba untuk lebih teguh dalam menaruh percayaan pada Suaminya sendiri.
"Nyonya, biarkan kami membantu, kalo Tuan tahu kami membiarkan Nyonya bekerja sendirian, kami akan dapat konsekuensi, Nyonya." Tawar Ibu Asri--kepala pelayan terpercaya pasangan Bianca dan Agam, mengabdikan diri dari semenjak pasangan Rendra dan Alena hingga kini turun temurun pada mereka berdua.
"Gak papa Bi, aku mau masak sendiri untuk Kak Agam, mending kalian kerja yang lain aja, seperti membersihkan lantai, atau cek bagaimana keadaan Ezza di kamar, urusan masak sarapan, serahin ke aku aja kali ini."
Jika Bianca sudah berkata demikian, tak ada yang bisa dilakukan oleh para pelayan selain membiarkan nyonya mereka melakukan apapun yang ingin dia inginkan.
Memakan waktu yang cukup lama untuk Bianca memasak banyak makanan yang terlihat lezat, Bianca mengusap pelipisnya melihat banyak hidangan yang telah siap, aromanya begitu menggugah selera, semuanya sudah tertata rapi diatas meja makan. Ia tersenyum bangga.
"Akhirnya siap juga.. semoga Kakak suka, udah lama aku gak nyiapin sarapan untuk dia.." Monolognya.
Di saat yang sama, Agam menuruni undakan tangga dengan setelan formalnya, ia terlihat sudah rapih sambil membawa tas kerjanya.
"Kak, mari sarapan dulu.."
Agam menyempatkan diri meneliti arloji yang melingkar sempura dipergelangan tangannya, "Gak ada waktu lagi Bi, aku ada meeting pagi ini, aku sarapan dikantor saja." Ujarnya terlihat tergesa-gesa, ia melewati meja makan begitu saja.
"Tapi Tuan..nyonya sudah--"
"Gak papa Bi.." Sela Bianca tak ingin memperpanjang masalah.
Begitu punggung tegap Agam sudah menghilang dibalik pintu utama, Bianca menjatuhkan bokongnya di kursi meja makan dalam rasa yang kecewa, dengan nanar ia mengamati banyak makanan yang telah ia sajikan dengan susah payah, ujung-ujungnya hanya sia-sia.
Kedua matanya tiba-tiba memanas, ia bela-belain bangun cepat walaupun baru terlelap dini hari hanya untuk membuatkan sarapan untuk Agam. Namun, itu semua hanya percuma jika tak dihargai sama sekali.
__ADS_1
Dengan cepat ia menyeka air matanya ketika menitik tanpa komando, tidak apa-apa, ia bisa mencoba lagi lain kali, beberapa pelayan yang ada disekitarnya, menatapnya dengan iba.
Syukur masih ada Cantika yang turun dari tangga, dengan seragam sekolahnya, bersedia sarapan bersama Bianca dan pelayan-pelayan lain, mereka sangat menyukai Bianca karena kemurahan hatinya, tak seperti majikan-majikan pada umumnya yang tak sudi jika makan bersama pelayan, bahkan ia mau makan bersama mereka yang hanya bernotabe pelayan.
*****
Bianca belum sempat tidur siang untuk istirahat, baru saja Altezza tertidur setelah dikasih ASI, kepala Bianca terasa pening, kerongkongannya teras kering. Ia butuh air. Oleh sebab itu Bianca berniat kedapur untuk minum agar menuntaskan dahaganya.
Namun, baru diujung anak tangga paling atas, pandangannya berputar-putar, mengakibatkan tubuhnya jadi oleng-oleng tak tentu arah, ia sempoyongan, tubuhnya terhuyung karena tak kuat lagi menahan bobot badannya hingga tanpa bisa dihindari lagi, tubuhnya tumbang dan menggelinding kebawah.
Tentu saja hal tersebut dapat menggaduhkan para pelayan yang sedang beraktivitas disekitar sana, "Nyonya?! astagfirullah!!"
"Nyonya?!" Bianca mencoba mempertahankan kesadarannya, tubuhnya benat-benar lemas tak bertenaga hingga hanya untuk bergerak sedikit saja ia kesulitan, matanya terbuka sedikit, masih dapat ia lihat kepanikan yang terjadi disekelilingnya, sebelum akhirnya, kegelapan pun menyapanya. Ia kehilangan kesadaran.
"Bawa nyonya ke kamar!" Para pelayan saling membantu dalam membopong Bianca menuju keatas.
*****
"Nyonya? ada keluhan? apakah perlu dibawah ke rumah sakit?"
Mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Ibu Asri membuat Bianca jadi teringat, bahwa ia jatuh pingsan tadi setelah terjatuh dari tangga, Bianca memberikan gelengan pada Ibu Asri sebagai respon, "Gak perlu Bi, aku istirahat di rumah aja.." Wanita paru baya itu membantunya saat mencoba bangun dari tidurannya.
Terus terang, punggung Bianca terasa akan remuk, pergelangan kakinya juga terasa nyeri, mungkin tadi ia keseleo ketika kejadian dimana ia terjatuh dari tangga. Tapi Bianca rasa tak perlu sampai dibawah ke rumah sakit dengan luka yang sederhana yang ia dapat, mungkin akan sembuh dengan sedikit urutan di bagian kakinya yang terkilir juga pijatan dibagian punggungnya.
"Oh iya, Ezza gimana?"
"Tuan muda tadi sempat nangis saat Nyonya pingsan, tapi Nyonya tenang aja, ada banyak pelayan lain yang menenangkannya dan sekarang Tuan muda sudah kembali terlelap."
Bianca dapat bernapas lega sambil melirik box bayi yang menjadi tempat Putranya tidur, rupanya kekhawatirannya terlalu berlebihan, ada banyak pelayan yang dapat diandalkan jika Altezza rewel. "Syukurlah.."
*****
__ADS_1
Walaupun sepasang kakinya yang masih terpincang-pincang digunakan berjalan, Bianca berinisiatif membantu para pelayan memasak untuk makan malam, tadi pagi Agam tak sempat menyicip masakannya, kali ini meskipun sudah ada campur tangan dengan pelayan-pelayan lain, tapi Bianca berharap, Agam mau memakan sedikit usahanya.
"Nyonya, biar kami saja menyelesaikan urusan dapur.. Nyonya istirahat aja.." Ujar salah satu pelayan, mereka tak tega melihat wajah Bianca yang kelihatan pucat pasi harus ikut repot bersama mereka.
"Gak papa.. aku juga mau menyiapkan makan malam untuk Suami aku.."
Memasak sudah selesai, tinggal memindahkan hidangan menuju meja makan, Bianca yang jalannya belum stabil akibat keseleo, tak bisa menjaga keseimbangannya hingga menyebabkan ia jatuh tersungkur, wadah sup ayam yang ada ditangannya pun ikut jatuh dalam hitungan detik berubah menjadi serpihan-serpihan, isinya pun turut tumpah berceceran dilantai.
"Nyonya?!"
"Itu--tangan Nyonya sepertinya kena kuah supnya.."
"Aduhh ini gak papa hanya luka kecil.." Bianca meniup-niup tangannya yang melepuh akibat terkena air panas, bohong jika luka itu tak sakit, ia merasakan perih luar biasa seperti luka bakar, "Maaf ya? niatnya mau ngebantu tapi aku malah membuat kekacauan kaya gini.."
"Nyonya jangan ngomong kaya gitu.. tangan nyonya yang harus menjadi lebih utama, lukanya gak bisa disepelekan, itu bisa infeksi kalau gak segera diobati"
Bianca bangun dari posisinya, "Aku baik-baik saja.. paling akan sembuh jika di cuci dengan air, jangan khawatir.."
Oeekkk.. Oeekkk..Oeekkk..
Samat-samar suara tangisan bayi terdengar hingga kebawah ditempat mereka berada, "Ezza, nangis.. aku harus keatas menenangkan dia, maaf aku gak bisa bantu kalian lebih lanjut, kalian lanjutin pekerjaan kalian tanpa aku, aku permisi keatas dulu, oh iya satu lagi, aku minta tolong ke kalian, bersihin serpihan kacanya ya?"
"Tapi--luka nyonya--gimana?"
"Gak papa, makasih ya kalian udah cemasin aku, tapi aku beneran baik-baik saja kok."
Bianca melemparkan senyum hangatnya sebelum meninggalkan dapur dengan langkah tertatih-tatih, padahal Bianca tak perlu sesopan itu hanya pada pelayan seperti mereka, bahkan sampai meminta maaf berkali-kali. Namun, hal itulah yang dapat membuat seluruh pelayan amat menyukainya.
*****
Maaf ya up-nya kelamaan, soalnya proyek cerita aku bukan hanya berfokus ke cerita Married With Ketos aja, ada beberapa novel yang lain harus aku kerjakan juga🙃🤗
__ADS_1