
Nathan mengacak rambutnya frustasi. Kemauan Camella kali ini benar-benar membuatnya depresi.
...Ibu dari anak-ku😈...
Nathan..pengen bakso🥺
^^^Yaudah iya, ntar pulang sekolah gue langsung mampir ke rumah lo bawain bakso.^^^
Makacihhh..
Bakso buaya yah..
^^^BUAYA?!!! nyari di mana bakso buaya njirr?!!^^^
Yah, gue gak mau tahu!!
^^^Astaga Mell! ngidam itu yang masuk akal aja deh.^^^
Salahin anak lo, kenapa maunya bakso buaya?!!
^^^Kok yang salah jadi anak, sih?^^^
Kan yang mau dia, bkn gue!!
Sumpah, Nathan sudah tak bisa lagi selain hanya bisa tabah saja, tidak-tidak, dia tak tabah, malah lelaki itu sudah puluhan kali mengumpat dalam hati. Mengingat keinginan Camella, membuatnya menjadi stres, apalagi untuk sekarang, dia masih di sekolah.
Camella sudah memutuskan untuk tak masuk sekolah lagi sebab perutnya sudah mulai kentara, tapi sebagai gantinya, dia melakukan home schooling.
Agam dan Bella yang melihat kekacauan Nathan pun menatap lelaki itu dengan aneh.
__ADS_1
Mereka saat ini berada di kantin, jam istirahat pertama sedang berlangsung. Disini mereka sebenarnya hanya untuk mencari udara segar.
"Lo, kenapa Nath?" tanya Bella.
"Bunuh gue, Bell.." Nathan menampilkan wajah putus asah.
"Mella, yah?" Bella menebak. Bella sudah tahu tentang keadaan Camella yang sedang hamil anak Nathan, detail tentang kejadian hingga penyebab mereka bisa melakukan itu, semuanya sudah ia ketahui, Camella yang mengungkapnya sendiri pada Bella, karena Camella tak ingin menutupi itu dari temannya sendiri.
Nathan mengangguk lemah, "Dia pengen bakso buaya.."lirihnya. Membuat mata Bella membola, dan Agam hanya biasa saja, bukan urusannya, pikirnya.
"Gue harus gimana? nyari di mana?" Nathan nampak depresi.
"Buaya doang mah, di sekolah kita juga ada banyak." Ucap Bella santai setelah meneguk setengah dari segelas air bening.
"Mana ada buaya di darat Bell.. yang ada buaya itu asalnya di laut." Nathan mengutak-atik ponselnya, masih mencoba bernegosiasi dengan Camella.
"Gak percaya?" Bella mengedarkan pandangan, "Nah, yang itu Buaya--- yang itu-- terus---," Bella menunjuk semua lelaki yang ada di kantin tersebut, dan jari telunjuknya berakhir menuju Nathan. Membuat Nathan menunjuk dirinya sendiri dengan raut cengo. "Gue? buaya?"
Nathan mencebikkan bibir. "Itu beda lagi ceritanya."
Agam bangkit berdiri, perhatian Bella dan Nathan pun terpancing kepadanya yang akan beranjak dari tempatnya.
"Mau, kemana, Gam?" tanya Nathan. Agam tidak menggubris, sambil memasukkan tangan ke dalam saku, jalannya menuju keluar kantin.
"Tuh anak, irit banget bicaranya, sekalinya di tanya, gak ada respon sama sekali. Kenapa tuhan gak sekalian jadiin dia, bisu aja, biar ngang ngong terus!!" Rutuk Nathan sedikit ngegas. Entah kenapa, dia malah menyalurkan kemarahannya dari Camella yang keinginannya mengada-ngada, kepada Agam.
"Palingan ketemu diem-diem sama Bia, tuh." Tebak Bella tepat sasaran.
***
__ADS_1
"Mama!! Liat Nathan!! gue pengennya bakso buaya! dia malah bawainnya bakso sapi!!" Protes Camella sambil memasuki rumahnya, dia merajuk karena keinginannya tak di belikan oleh Nathan. Maunya ini belinya itu
Nathan menyusul Camella yang berjalan ke arah ruangan tengah. "Mell, mana ada bakso buaya!!"
Camella duduk dengan Melti dan memeluk Mamanya. "Mama... Mella pengennya bakso buaya, tapi Nathan-nya malah bawain bakso sapi!!" rengeknya lagi sudah menangis. Melti membelai kepalanya sambil tertawa kecil. "Keinginan lo gak masuk akal Mell, cari di mana bakso buaya?" tanya Melti jadi memihak Nathan. Nathan pun mengangguk setuju atas ucapan Mama Camella.
Camella melepas pelukan dengan kasar, air matanya sudah meleleh di pipinya. Belum lagi, Mamanya malah ada di pihak Nathan. Camella jadi tambah sebal. "Mama dan Nathan sama aja!!" Rajuknya. Dia bangkit kemudian dengan cepat menuju kamar Kakaknya, mencoba mencari orang yang akan memihaknya.
"Kak Darren!!! Kak Darren!!!"
Melti hanya menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Nathan mengikuti ke mana arah Camella akan melangkah.
"Kak Darren!! Kak!!!"
Darren keluar dari kamarnya mendengar suara Camella yang terus berteriak-teriak, memanggil namanya. "Kenapa Mell?" tanyanya sedikit panik, dia kira Camella entah kenapa-napa sampai berteriak-teriak tak jelas.
Camella langsung berhamburan memeluk Kakaknya. "Kak.. Nathan gak mau beliin apa yang Mella mau.."
Darren menoleh pada Nathan dengan tatapan menusuk, "Kan udah Kakak bilang!! dia itu gak bisa di andelin, Mell!!" tukasnya kepada Camella. Berbeda dengan telapak tangannya yang mengelus rambut Camella, pandangan tak bersahabatnya menuju Nathan yang terlihat kelimpungan tidak tahu harus melakukan apa di situasi ini.
"Mell...bukannya gue gak mau--keinginan lo--"
"Apa?!! lo mau bilang keinginan adek gue, ngebebanin lo?!!"
"Bukan gitu Bang!!" Sanggah Nathan sok akrab memanggil-manggil Darren Abang, Darren langsung mendelik sinis dengan hidung mengkerut mendengar hal itu. "Bang-Bang-Bang!! lo kira gue abang lo?!!"
Nathan mengusap tengkuknya sedikit kaku. "Kan gue akan segera jadi adek ipar lo."
"Heh, jangan harap lo bisa nikah sama adek gue!! kemauannya aja gak lo penuhi!!" Pungkasnya lalu Darren mengurai pelukannya dengan Camella agar bisa menatapnya. "Kamu mau apa Mell? bilang aja ke Kakak, kakak bakal beliin apa pun yang kamu mau."
__ADS_1
Bola mata Camella langsung berbinar mendengar itu, memang nomor satu, orang yang akan selalu ia andalkan hanya lah Darren. "Mella mau bakso buaya!!" ucapnya dengan semangat luar biasa.
Kedua mata Darren sontak membulat sempurna. "Bakso buaya?!!!"