
Tiga tahun kemudian
Amerika serikat.
Tujuh hari, Agam mengambil cuti kerja dan menyerahkan urusan kantor kepada ajudannya untuk sementara waktu ia membawa Bianca liburan honeymoon keluar negeri sekaligus mengunjungi Alena dan Rendra yang masih menetap di negara ini. Duduk di taburan pasir, kini mereka tengah menikmati indahnya sunset di sore hari. Semilir angin menerpa mereka, Agam merangkul Bianca yang bersandar di bahunya. Deburan ombak mengalun merdu, memanjakan telinga bagi siapapun yang ada disana.
Sebelah tangan kekar Agam aktif mengusap perut Bianca yang membuncit, usia kandungan Bianca lima bulan masuk trimester dua, hamil anak pertama mereka. Agam tersentak kala merasakan tendangan kecil di balik perut istrinya.
"Bi..baby kita nendang!!" serunya terlihat antusias, ia menempelkan sisi kepalanya di perut Bianca yang memukul kepalanya cukup kuat.
"Ishh Bi? kok akunya di pukul?" Agam menarik dirinya dari Bianca, mengusap-ngusap kepalanya yang di tabok oleh Bianca dengan bibir mengerucut, bumil memang lebih galak dari pada singa.
"Kakak bisa berhenti panggil anak kita Baby? kesannya kek Kakak panggil anak kita Babi, tahu!"
"Baby kan artinya bayi Bi.. bukan babi.."
"Tapi penulisannya B-a-b-y!" Bianca mengeja satu persatu huruf di Baby. "Aku gak suka! ganti deh ganti!"
"Yaudah, kecebong gimana?"
"Heh, Kakak kira anak kita kecebong?!! jelek amat sih."
"I-iya terus apa dong?" Ampun deh, Agam tobat berurusan dengan bumil. Tidak dua kali ia akan menghamili Bianca, tapi buatnya bikin candu, gimana dong?
"Panggil nama aja."
"Belum juga lahir udah punya nama."
"Yaudah jauh-jauh sana! ini anak aku bukan anak Kakak!" Tangan Bianca mencoba mendorong sekuat tenaga tubuh Agam agar menjauh. Bukannya tergeser, malah hanya ia yang lelah mendorong. Sudah lah!
"I-iya sayang iya." Gemetar tangan Agam terulur mengusap-mengusap perut Bianca dengan lembut, "Ezza sayang.. jangan tiru sikap Mama kamu yah, galak banget.." cicitnya di depan perut Bianca yang otomatis membuat Bianca bersin seketika.
Bianca menggosok-gosok hidungnya yang geli, "Kakak lagi gunjingan aku di depan Ezza?!"
__ADS_1
Aduhh, feeling cewek memang tidak pernah salah, Agam menjauhkan diri seketika di buat gelagapan. "E-enggak sayang...tadi aku bilang sama Ezza-- cepat lahir biar bisa lihat Mamanya yang secantik bidadari."
"He'eleh!!!" Bianca bangkit berdiri, Agam dapat merasakan akan ada bencana yang terjadi kedepannya, "Malam ini tidur di luar!!" pungkas Bianca galak. Nah kan firasat Agam memang benar. "B--bi? masa tega suru Papanya Ezza tidur di luar?!! Ezza bakal nangis kalo gak tidur bareng Papanya!!" Agam tidak terima, kini ia sudah berdiri dan mengejar langkah cepat Bianca yang menjauh.
"Anak masih di dalem kandungan mana bisa nangis!! gak mau tahu pokoknya Kakak tidur di luar! aku lagi ngidam gak mau liat muka kamu untuk sekarang!!"
"Ngidamnya gak masuk akal sayang..Ihh Bia!!" Agam menyusul langkah Bianca sambil memohon-mohon agar bisa di izinkan tidur bersamanya.
***
-Indonesia
"Rora sayang!! jangan jauh-jauh jalannya.." Camella yang sedang membaca artikel itu mau tidak mau menghentikan kegiatannya dan berjalan menghampiri anaknya yang melangkah gontai sudah nyaris di ambang pintu dengan memegang mainan boneka barbie.
"Rora..aduhh kan udah Mama bilang jangan jauh-jauh jalannya." Camella membawa Aurora ke dalam gendongan, usia gadis mungil dan imut itu sudah memasuki usia tiga tahun.
Pintu terbuka ternyata Nathan sudah pulang dengan kemeja kerjanya, untuk sekarang ia berkerja menjadi bawahan Darren mengelola perusahaan Ayah Camella yang kini telah pensi, di karenakan umur yang sudah cukup tua hingga rentan sakit-sakitan. Vendra memilih untuk istirahat saja di rumah dari pada harus bekerja keras dan menyerahkan urusan kantor kepada Darren.
Awalnya Nathan merasa penat dan sedikit nyut-nyutan di kepalanya, tapi ketika melihat wajah dua bidadarinya yang tengah tersenyum cerah kearahnya, hatinya seketika di penuhi oleh kehangatan hingga ke lelahan itu memudar dengan sendirinya.
"Aduhh anak Papa yang cantik.." Nathan mengambil alih Aurora yang sejak tadi merentangkan tangan seolah minta ingin di gendong oleh Ayahnya.
"Rora udah makan belum?"
"Eumm!" Aurora mengangguk-angguk kecil, terlihat gemesin sekali. "Cuap Mama.."
"Ihh kiyowok sekali!!" Nathan mencium pipinya dalam-dalam hingga menciptakan bunyi khas karena tidak kuat melihat keimutan ini. Mereka berjalan kearah ruang tengah dengan Nathan sibuk dengan anaknya. "Anak capa sih ini? cantik bener hmm?"
"Anak tetangga sebelah." Sahut Camella kesal, "Sudah tahu anaknya sendiri, pake nanya lagi." tambahnya menggerutu.
Nathan terkekeh kecil, "Mamanya udah makan belum?" tanyanya tidak nyambung membuat Camella mendengus pelan. "Masih peduli sama Mamanya? kalo lagi sibuk sama anaknya, lupa sama istrinya." omel Camella mengambil bantal sofa dan memeluknya tidak mood.
"Anak kamu juga ini."
__ADS_1
"Au ah males!" Tangannya bersidekap dada sok merajuk, Nathan menghembuskan napas menatap teduh Camella dari samping, ia berdiri dari duduknya dengan sebelah menggendong Aurora dan tangannya yang bebas menarik tangan Camella lembut.
"Ayuk makan bareng, kamu udah masak? kalo belum nanti aku yang masak."
"Udah tadi. Aku tahu kamu bakalan capek pulang kerja, jadi aku udah masak yang banyak biar kamu pulang tinggal makan. Aku juga sengaja belum makan biar makan bareng sama kamu." Celoteh Camella dengan gaya ngambeknya, Nathan terkekeh pelan melihatnya, mereka berjalan ke arah meja makan dengan Nathan merangkul Camella dan sebelahnya tangannya lagi menggendong Aurora yang enteng.
***
-Negara Prancis tepatnya di ibu kota.
Di sini ia berada, sambil menopang dagunya di tangan, Gelard duduk termenung menatap hamparan pemandangan lautan rumah yang tersuguh dari bawah sana, andai saja dia masih ada, hidupnya tidak akan semenyedihkan ini. Tidak ada hari tanpa rasa bersalah dan rindu tanpa dirinya. Hari-harinya sepi, semua warna meredup menjadi abu-abu sejak kepergian dirinya.
Kehadirannya menghadirkan aneka ragam warna-warni selayaknya pelangi, tetapi ke pergian nya meninggalkan luka yang abadi. Iya, abadi. Tidak akan ada pengganti lagi.
Amat sulit untuk Gelard keluar dari lingkaran nestapa. Tiga tahun kehidupan Gelard di tunjang oleh obat-obatan resep dari dokter guna menghindari masalah psikolog yang kadang kala akan kumat setiap dirinya sendiri mau pun teringat dirinya.
"Sherly..." gumamnya lalu tersenyum miris, tidak ada lagi Gelard yang kuat, tidak ada lagi Gelard yang gagah, semuanya telah surut di makan oleh arus waktu, tubuhnya kurus di lengkapi wajahnya yang tirus hari demi hari bagaikan tengkorak hidup.
"Daddy!!" panggil anak kecil berusia lima tahun, Noel namanya. Dengan antusiasnya berlari kecil menuju Gelard yang langsung menyambut kehadirannya dengan hangat, Noel satu-satunya penyemangat Gelard dalam menjalani hidup, satu-satunya alasan Gelard bertahan hidup di dunia ini.
Di tangan bocah kecil itu menggenggam sebuah piala, "Noel dapet juara satu Daddy!!" serunya, beberapa menit lalu Noel mengikuti kontes piano golongan kanak-kanak dan memperoleh hasil yang memuaskan yakni meraih peringkat pertama. Noel memang berbakat di bidang alat musik melodis terutama di bagian piano.
Gelard tersenyum teduh, membelai sayang kepala Noel yang tengah berdiri di sisinya. "Kerja bagus, Noel.."
"Jadi, kapan Noel bisa ketemu mommy? kata Daddy kalo Noel juara satu Daddy bakal bawa Noel ketemu Mommy!" ucapnya terlihat penuh semangat.
Gelard mengangguk sebagai tanggapan, "Minggu depan, Daddy bakal bawa Noel ke rumah Mommy. Tapi, janji ya? jangan nakal kalo lagi di sana. Jangan nangis juga..." pesannya dengan cepat lekas di angguki oleh Noel yang seketika tidak sabar menemui Mommy-nya yang telah di janji-janjikan Daddy-nya sejak lama.
Gelard mengambil tangan kecil itu untuk mengenggam nya dan membawanya menuruni gedung.
***
Insyaallah kalo nembus 300.0K popularitas, bakal update epsnya Cantika dengan judul 'Carag', di sambung di lapak ini sebagai season dua, insyaallah dulu yah belum janjiðŸ˜
__ADS_1
Gimana, ada yang setuju gak nih eps Cantika bakal di update?? butuh pendapat biar semangat up-nya🙂