Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 12


__ADS_3

"Ezza tahu? Mama pergi loh, ninggalin kita.. tapi Papa yakin, Mama kaya gitu hanya karena emosi sesaat, dia pergi hanya untuk sementara menata hatinya, Ezza kangen sama Mama? Sama, Papa juga." Agam mengajak baby Altezza yang sedang ada dalam gendongannya berbicara untuk menghibur dirinya. Punggungnya sedang bersandar pada sandaran ranjang.


Hatinya tak tenang dilanda gelisah yang tiada habisnya. Agam ingin tahu bagaimana kabar Istri cantiknya, apakah ia makan dengan teratur disana? Semoga saja kondisinya selalu baik-baik saja.


"Papa pengen jemput Mama sekarang tapi Papa takut. Takut, sama kemungkinan Mama bakal lempar Papa dengan map amplop dan paksa Papa untuk tanda tangan isinya yaitu sebuah kertas putih dengan tinta hitam menghiasinya yang paling Papa gak bisa bayangin."


"Nanti kalo Mama udah berdamai dengan keadaan, pikirannya sudah mulai jernih, kita jemput Mama bareng-bareng ya? Dia pasti mau pulang, iya kan Za? Dia pasti pulang ikut kita berdua, Dia kan sayang banget sama kita.. gak mungkin nelantarin kita berdua.."


Kemudian ia tertampar kenyataan jika yang membuat Istrinya pergi adalah dirinya sendiri. Agam memeluk Altezza dengan isak tangis yang mulai pecah. Ia meraung pilu sambil memeluk Putra kecilnya. "Hiksss...Biaa....balik Bi.. janji, aku gak bakal egois lagi.. aku gak akan lebih mementingkan pekerjaan dari pada kalian.. aku gak akan mementingkan yang lain lagi selain kalian dan memprioritaskan kalian berdua..keluarga kecilku.."


Seolah paham dengan keadaan, Altezza menggenggam jari telunjuknya Ayahnya yang sedang menangis pedih. Detik berikutnya, Altezza ikut menangis sehingga kini sepasang Ayah dan Anak itu sama-sama terisak pilu. Ruangan itu hanya diselimuti oleh atmosfer kesedihan. "Ezza bilangin ke Mama.. suru dia pulang...Papa butuh dia Za.. Papa ngerasa hampa kalo gak ada dia.."


Mata Agam memerah, sembab dan membengkak. Dia mengangkat pandangan menyorot pedih kearah pintu yang dibuka dari luar, menghadirkan Bi Asri menyambangi bilik kamar luas tersebut. Agak ragu beliau mengangkat suara, melihat kondisi majikannya yang kacau balau.


"Tuan, mending Tuan mengisi perut dulu, Tuan hanya makan dari pagi, sedangkan sekarang malam sudah sangat larut. Soal Tuan muda, biar Bibi yang mengurusnya sementara Tuan makan."


Agam mengeratkan dekapannya pada anak kecil tersebut, enggan membiarkan orang lain mengambil alih Altezza. Ia melemparkan gelengan sendu. "Gak Bi.. Ezza gak boleh jauh dari pandanganku sedetik pun, aku harus mengawasinya dua puluh empat jam, memastikan kalau keadaannya selalu baik-baik saja.."

__ADS_1


Wajah tampannya banjir akan air mata, menampilkan ekspresi penuh memelas. "Agam takut, Bi.. Agam takut, kalau Ezza luka sedikit saja, Bia bakal bawa Ezza pergi bersamanya dan mereka akan pergi meninggalkan aku sendirian.."


"Tidak Tuan.. Bibi yakin, Nyonya tidak akan tega meninggalkan kalian, dia hanya pergi untuk sementara, dia akan kembali setelah dia merasa lebih tenang. Alangkah baiknya, Tuan menjaga kesehatan Tuan juga, Tuan harus makan dengan teratur, begitu pula dengan Ezza. Agar supaya kalau Nyonya kembali, kalian dalam keadaan sehat walafiat. Dia akan senang jika begitu.."


Agam menyeka jejak bulir air mata yang membasahi pipinya, "Apakah yang Bibi katakan benar? Jangan-jangan Bibi bilang seperti itu hanya untuk menghiburku.."


Bi Asri menggeleng mantap. Tapi jika boleh berterus terang, Beliau pun tidak tahu apakah Nyonya-nya akan pulang atau tidak. "Insyaallah, Nyonya pasti kembali kalau Tuan mau berubah menjadi lebih baik."


*****


Sendoknya hanya ia pakai untuk mengaduk-aduk makanan yang sedari tadi hanya ia anggur kan, belum ada walau sesuap-pun yang masuk kedalam mulut, berbagai macam hidangan mewah dan terlihat lezat yang tersaji di atas meja makan. Namun, pandangannya terlihat kosong, seolah itu semua tak dapat membuat selera makannya naik. Nafsu makannya benar-benar hilang kali ini.


"Iya, Bia..?" Dengan raut sumringah Seketika Agam berpaling kesamping ditempat biasa Bianca duduk kalau makan bersama dengannya. Hanya sedetik kemudian, mimiknya luntur begitu saja. Auranya pun mendadak suram lagi.


Bahunya menurun. Ia lupa, jika Bianca tak ada disini. Pandangan Agam berkelana kemana-mana, "Bi..Bia, belum pulang ya..?" Lirihnya getir. Ia rindu berat, padahal baru siang tadi Istrinya meninggalkan rumah.


Rasanya sesak jika ia tak ada disini. Seperti ada yang ganjil..Buat apa rumah sebesar dan semegah ini, jika rasanya hampa, hambar, kosong...

__ADS_1


Bi Asri turut iba melihat kondisi majikannya yang satu ini, terlihat sangat terpuruk, padahal belum ada sampai satu hari ia berpisah dari Istrinya, bisa dibayangkan bagaimana keadaannya jika Istrinya ternyata tidak akan kembali? Tuannya ini mungkin akan menggila tak karuan.


"Tuan yang sabar.. memulihkan hati itu bukan perkara yang mudah Tuan. Sepertinya Nyonya sangat sakit hati dengan segala perlakukan Tuan.. "


"Pernah sewaktu pagi, Nyonya bersusah payah membuat sarapan untuk menyiapkan Tuan sarapan, tapi yang ada Tuan malah melintasi ruang makan begitu saja dengan alasan ada meeting, mengabaikan segala usahanya."


"Nyonya bilang gak papa. Tapi--kami para pelayan yang jadi saksi nyata bagaimana gambaran wajah terlukanya. Dia, kecewa berat dengan Tuan.. Terlebih, ketika malam dimana Tuan marah-marah karena persoalan Ezza.. dia baru saja habis jatuh dari tangga.."


"Kalau boleh jujur, andai saja Bibi ada diposisi nyonya, Bibi tidak akan sanggup menahannya, Bibi akan pergi meninggalkan Suami yang menggoreskan luka, baik pada fisik maupun hati.. bahkan mungkin tidak akan sudi untuk pulang kalau sudah diperlakukan demikian..."


"Jadi..Bibi harap, dengan kepergian Nyonya, Tuan bisa berintrospeksi diri.."


Keterangan Bi Asri yang panjang lebar membuat Agam kian dihantui rasa bersalah. Hanya karena berdasarkan amarah semata, tanpa sadar, ia telah menorehkan luka cukup hebat pada Istri tercintanya. Wajar saja, Bianca pergi meninggalkannya.


Agam meletakkan sendok kepiring secara kasar, ia meraup wajahnya gusar sebelum akhirnya menggeser kursi agar ia dapat beranjak. Bi Asri melirik piring yang isinya masih utuh belum tersentuh sama sekali.


"Kenapa hidangannya tidak dimakan, Tuan?" Jika begini, Bi Asri pun ikut risau. Majikannya akan mati kelaparan apabila tak makan-makan.

__ADS_1


"Gak nafsu makan..."


*****


__ADS_2