Married With Ketos

Married With Ketos
Kerinduan pasturi muda


__ADS_3

Sesampainya di rumahnya, tak ingin membuang waktu yang lebih lama lagi, Andin lekas membawa Bianca memasuki kamar Lucas.


Saat memasuki ruangan kamar itu, Bianca sedikit kaget dengan keberadaan gadis berkacamata yang tentu saja familiar untuknya. Zella. Dia sedang duduk di tepi ranjang Lucas. Mengapa gadis itu di sini?


"Zella? kok lo ada di sini?" tanyanya. Apakah Zella dan Lucas saling kenal?, pikir Bianca bertanya-tanya di benaknya. Selama ini, yang Bianca tahu teman dekatnya Lucas itu hanya yang bernama Ella. Ah iya, Bianca baru ingat, jadi selama ini yang di maksud oleh Lucas Ella itu, adalah Zella?


"Aku--sahabat Lucas, Bia." jawab Zella jujur. Di tanggapi oleh Bianca dengan anggukkan-anggukkan kepalanya. Ternyata dugaannya benar.


Andin yang sudah duduk di pinggiran ranjang, persis di sebelah Zella tersebut pun, menggoyangkan lengan Lucas yang tengah tertidur dalam kegelisahan. Bisa di lihat dari pejaman matanya yang berkerut dan keningnya yang mengernyit. "Luc.. bangun. Lihat, yang Mama bawa, siapa?"


Rupanya itu tak cukup efektif membangunkan Lucas yang tengah terlelap itu. Akhirnya Bianca berinisiatif sendiri, dia menaiki kasur Lucas dan beringsut ke tengah ranjang agar bisa mendekati Lucas. "Luc, Lucas.." bisiknya tepat di dekat telinga lelaki itu.


Berhasil. Mata Lucas langsung terbuka bulat.


Suara yang paling ia rindukan terdengar di telinganya.


Posisi tubuhnya yang awalnya memunggungi Bianca itu, dengan cepat berbalik ke arah sebaliknya. "Bia? ini bukan mimpi kan?" tanyanya, tangannya terangkat mengelus pipi Bianca. Ini nyata, bukan mimpi. Bianca di depannya, gadis yang paling ia rindukan mendatanginya.


Sadar ini bukan sekedar halusinasinya, Lucas segara bangkit dari posisi tidurannya dan langsung membekap tubuh kecil gadis yang ia sayang dan ia rindukan. "Bia..Bia.."


Tangisannya pecah seketika, Lucas menangis tersedu-sedu di pelukan Bianca, membuat hati Andin tersayat mendengar tangisan pilu itu. Dapat ia lihat bagaimana Lucas menyayangi dan merindukan gadis ini.


Seketika Andin jadi bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa Lucas bisa sehancur itu akhir-akhir ini? jika masih bersama dengan gadis ini, pasti anaknya tak akan seterpuruk itu. Bisa ia simpulkan dalam benaknya. Ada keretakan di hubungan mereka. Berikutnya, pikirannya kembali memutar ke waktu sebelumnya, Andin ingat tadi di rumah Bianca, ada seorang lelaki. Apakah itu pacar baru Bianca, dan--penyebab hubungan mereka rusak?


"Bia.. jangan tinggalin aku.. aku butuh kamu.. please, aku gak bisa tanpa kamu.." Lucas masih menangis terisak-isak di pelukan Bianca yang sedikit ragu membalas pelukannya. Bianca jadi teringat Agam, jika lelaki itu tahu, apakah dia akan marah, bila dia pelukan dengan lelaki? tidak perlu ditanyakan. Itu sudah pasti.


"Gak bisa Luc.. gue--sudah punya suami." jelasnya berbisik di telinga Lucas. Membuat pelukan Lucas semakin erat di lehernya. Dia menggeleng gusar. "Jangan tinggalin aku please.. jadiin aku yang kedua aja gapapa."


Ucapan Lucas itu cukup membuat Bianca tertegun. Kenapa Lucas semakin mengada-ngada?


"Bia.. jadiin aku yang kedua aja, gapapa. Asal kamu masih sesekali ke sisi aku.." ulangnya, masih dengan suara parau. Percayalah, Bianca tidak menyangka jika Lucas se-rapuh ini. Karena yang ia tahu, Lucas itu sosok orang yang kuat.


Bianca lalu menggeleng, menolaknya dengan tegas. "Luc.. gue gak bisa.. gue--sayang sama Kak Agam.." lirihnya. Dia agak berat hati menyampaikan itu kepada Lucas yang terlihat menyedihkan. Namun--itu semua kebenaran yang harus ia ungkapkan.


"Bia.. terus, aku gimana? aku hancur, aku berantakan Bia.. aku gak bisa lanjutin hidup tanpa kamu.." lirihnya. Tatapan Bianca perlahan tertuju pada Zella yang ada di seberangnya. "Masih ada Ella, dia selalu di samping lo selama ini," tuturnya.


"Enggak Bia.. aku-- aku gak bisa lihat dia sebagai perempuan, dia--udah aku anggap sebagai keluarga.."

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, tangan Zella terkepal mendengar beberapa kalimat menyakitkan itu.


"Kalo di anggap keluarga kan, berarti masih ada rasa sayang juga.. bisa jadi nanti, bisa tumbuh benih cinta." bujuk Bianca menjadi mak comblang dadakan. Dia mengusap permukaan rambut Lucas dengan lembut. Lucas tetap kekeuh menggeleng.


"Gak Bi..aku maunya kamu..please, jangan tinggalin aku.."


Bianca membuang napasnya kasar. Kemudian mengangguk pelan, tak ada yang bisa ia lakukan selain meng-iyakan saja dulu.


Lucas mengurai pelukan secara sepihak agar memegangi kedua bahu Bianca, "Beneran?" tanyanya mendadak semangat dengan kondisi wajahnya yang sembab.


Bianca tidak mengangguk ataupun menggeleng, yang berarti tidak mengiyakan, tapi tidak juga menolak. Dia mengusap bekas air mata di pipi Lucas. "Lo, udah makan?" tanyanya mengalihkan topik.


Lucas menggeleng pelan, yang berarti belum.


"Makan dulu yah?, lo pasti gak mau kan buat Mama lo, cemas?" tanyanya membujuk.


"Asal, kamu yang suapin, aku bakalan makan."


Lagi, Bianca menghela napasnya sedikit jengah. "Iya-iya, bakal gue suapin, oke?"


***


Kini Lucas tengah memeluk Bianca di ranjang. Bianca sempat menolak sebelumnya, namun Lucas merengek dan terus meminta untuk memeluknya agar, ia bisa tertidur. Bianca beralih melihat jam yang terpajang di dinding. Sudah pukul 10:15. Sedang apa suaminya itu sekarang?


Tak lama kemudian, suara dengkuran halus terdengar dari lelaki yang sedang mendekapnya layaknya guling. Lucas telah tertidur, tapi lingkaran tangannya juga kakinya yang melilit tubuh Bianca tak terlepas meski sudah melonggar. Bianca bisa bernapas lega melihatnya sudah menyelam ke alam mimpi. Lantas, dengan pelan-pelan, Bianca keluar dari kurungan Lucas.


Tanpa mau membuang waktu lagi, Bianca segara beranjak dari kamar milik Lucas, dan saat melalui area ruangan tengah, rupanya Mama Lucas di sana. Bianca pun berpamitan pada Andin untuk segera pulang. Setelah itu, dia angkat kaki dari rumah Lucas.


Lanjut menuju depan, di saat langkahnya melewati gerbang rumah Lucas, tangannya sontak tertarik dari arah samping. Bianca sempat terkejut luar biasa, karena seseorang berperawakan tinggi itu memeluknya tiba-tiba. Tapi, saat Bianca menyadari aroma maskulin yang menguar dari lelaki yang tengah merengkuhnya sekarang, Bianca jadi mengulas senyum sambil membalas pelukan hangat dan terasa aman itupun itu tak kalah erat.


"Kangen.." gumam Agam. "Lama banget sih Bi, gue lumutan nunggu lo.." tambahnya masih menggumam. Cukup lama mereka berpelukan untuk menyalurkan kerinduan karena seharian tak ketemu. Padahal belum genap sehari, tapi rasa rindu itu sudah membuncah. Sebelumnya, Agam memutuskan untuk menjemput Bianca di rumah Lucas, di sebabkan wanitanya ini belum pulang-pulang sampai malam sudah cukup larut.


"Maaf ya, udah buat Kak Agam nunggu lama." balas Bianca sekenanya.


Berhubung sudah puas melepaskan kerinduan di antara mereka, akhirnya sepasang remaja itu, mengurai pelukan. Agam menangkup wajah Bianca, sontak mencium seluruh area wajah Bianca, di mulai dari keningnya, dua pipinya, hidungnya, dagunya, lalu yang terakhir di bibirnya.


"Ih kak!!" Bianca yang jadi sebal karena mendapat ciuman bertubi-tubi itu, memukul pelan dada kokoh Agam. Agam terkekeh pelan seraya mengambil tangan Bianca dan ia genggam, untuk membawanya ke motor besarnya yang terparkir di sebelah kiri.

__ADS_1


Tiba di samping motornya, Agam mengangkat tubuh kecil istrinya itu naik terlebih dulu. Posisi Bianca masih menyamping, Agam menumpukkan dua tangannya di sisi kanan dan kiri Bianca.


Di tempat ini agak gelap, hanya cahaya remang-remang dari rembulan menyinari mereka. Agam menatap dengan lekat wajah cantik Bianca. Bahkan di cahaya minim ini tak dapat mengurangi kadar ke elokkan parasnya.


Kenapa rupa ini tak pernah membuatnya bosan? bahkan melihatnya saja sudah membuatnya candu. Cantik. Cantik sekali. Tidak ada yang bisa menandingi kecantikan istrinya ini. Menurutnya.


Bianca jadi sulit menelan ludah karena sorotan lekat Agam yang terkesan memujanya. Dia mendadak gugup. "Kak, kapan nih jalannya?" tanyanya menetralkan suasana. Sudah beberapa menit berlalu, dan Agam hanya diam menatapnya terus.


Lelaki itu tak menggubris pertanyaannya, tangannya malah terangkat menyelipkan anak rambut Bianca yang menjuntai, ke belakang telinganya. Kemudian mengecupnya di pipi kanan. "Mau bilang makasih." celetuknya selepasnya.


"Makasih?" Beo Bianca tidak mengerti. Agam pun mengangguk sebagai balasan.


Bianca jadi tambah bingung. "Untuk apa?"


Agam memajukan wajahnya hingga jaraknya hanya satu centi dari wajah Bianca. Membuat Bianca harus menahan napasnya sedikit tegang dan gugup.



"Gue mau bilang terimakasih sebanyak-banyaknya kepada kedua orang tua lo, karena sudah lahirin anak se-cantik, se-imut, se-menggemaskan, se-manis, lo." ujar Agam sembari menoel hidung Bianca.


Pipi Bianca seketika ngeblush mendengar tutur kata Agam yang menurutnya sangat manis ketika menyanjungnya. Tapi--bagi orang lain itu akan terdengar menggelikan. Keadaan sekitar memang sedang berpihak pada Bianca, untungnya di sini minim cahaya, jadi Agam tak akan melihat pipinya yang sudah merah merona. Kalau tidak, pasti Agam akan meledeknya.


Bianca lantas memukul pelan dada Agam dengan wajah tersipu-nya. "I-ih Kakak bisa aja deh!"


Agam berdehem pelan seraya meringis kecil, baru menyadari, jika kata-katanya tadi kelewat lebay. Memilih agar terlihat biasa aja, Agam pun meraih helm dan hendak akan memasangkannya di kepala Bianca, namun sang empunya menahan pergelangan tangannya.


Bianca menggelengkan kepala. "Gak mau pake helm, gue mau makan angin.."


"Makan kok angin, makan itu suami sendiri! biar dapet pahala." timpal Agam jadi ambigu.


Bianca mendelik. Situasi yang tadinya sedang romantis, kini sudah terminimalisir oleh percekcokan yang di selingi candaan mereka berdua.


"Idihh, kagak mau gue mah! malah lo-nya yang ke-enakkan." balas Bianca tak terima, kepada Agam yang sekarang sudah naik ke atas motor. Lelaki itu menuntun, dua tangan Bianca agar melingkar di pinggangnya.


"Iya sayang iya, pegangan yah." sahutnya.


***

__ADS_1


__ADS_2