
Untuk hari ini, SMA Garuda telah di gegerkan oleh isu yang tak mengenakan, yakni tentang kehamilan Sherly. Tentu tidak akan tersebar begitu saja jika tanpa bukti yang jelas. Ada yang tanpa sengaja mendengar percakapan antara Samuel dan Sherly tempo lalu dan merekamnya. Hasil rekaman yang hanya sepenggal itu kini telah sampai di tangan Guru BK. Namun, itu belum cukup untuk di jadikan bukti yang kuat. Yang membuat semuanya semakin yakin adalah adanya salah satu siswa yang merupakan teman sekelas Sherly sendiri, bersaksi bahwa sering melihat Sherly mual-mual tak jelas sambil sesekali bolak-balik toilet.
Untuk itu, agar semuanya menjadi lebih jelas, Pak Suripto menyerahkan testpack itu kepada Sherly untuk memeriksanya. Pak Suripto menyuruh salah satu siswi terpercaya-nya juga mengikuti Sherly kedalam toilet, agar tidak ada kebohongan yang menutupi dalam kasus ini. Dan--semuanya telah terbongkar. Rumor itu, telah terpecahkan. Itu adalah fakta. Jelas dalam kasus ini akan membuat reputasi sekolah SMA Garuda tercemar, dalam hal itu pihak sekolah telah memutuskan bahwa akan men-drop out Sherly dari sekolah sebagai konsekuensi. Dan Samuel yang terlibat, di skors untuk sementara waktu.
Sherly semakin hancur, hidupnya kacau. Seluruhnya berantakan. Hanya ada satu lagi yang menjadi tujuan hidupnya. Mama. Dengan kasus ini, dia tak akan pernah di terima lagi di sekolah mana pun, apalagi bisa sukses di masa depan. Mimpinya untuk membanggak kan Mamanya telah musnah. Dia, telah mengecewakan Mamanya. Agar mamanya tidak banyak pikiran, Sherly akan merahasiakan ini terlebih dulu kepada Mamanya.
Jalan Sherly lunglai di sepanjang koridor sambil menyandang tas ranselnya. Tatapannya terlihat kosong, sesekali dia tersentak pelan kala lemparan demi lemparan bongkahan kertas dari para siswa mengenai kepalanya bahkan sampai tubuhnya.
"Dasar murahan!!"
"Gak nyangka yaa, otaknya aja yang di sekolahin, tubuhnya di jual!!"
"Ihh amit-amit dehhh!!"
"Woe! kalo main itu jangan lupa pake k.on.dom!! biar gak bunting!!"
"Dasar pel.a.cur!!"
__ADS_1
"Di bayar berapa, lo sama om-om?!"
Hinaan dan cemoohan yang memojokkannya terdengar riuh rendah di sana. Bahkan untuk menetaskan air mata saja, Sherly sudah tak mampu, air matanya telah kering, sejak tadi menangis.
"Stoppp!!! Apa-apaan kalian!!! seharusnya untuk saat ini kalian semangatin Sherly! bukan malah caci maki kayak gini!!!" Teriak Bianca lantang, semua yang tadinya ribut mencerca seketika terdiam, mendengar jeritannya yang membela Sherly.
"Bia!! gak usah di bela gitu!! lagian, lo juga pernah kan di rendahin sama dia?!" tukas salah satu teman sekelas Bianca. Alih-alih meladeni siswi itu, jalan Bianca malah menghampiri Sherly yang mematung di tempat sambil menunduk, lalu segera menarik tangan Sherly, membawanya berlalu dari sana, seluruh murid, baik di koridor yang mereka lalui atau pun di tingkat kelas 11 mau pun kelas 12 semua bersorak.
Tasya yang tadinya dari perpustakaan bersama Bianca, juga ikut mengejar kemana mereka.
"Ada apa ini?" tanya Nathan menghentikan Tasya yang ingin menyusul Bianca dan Sherly, sedari tadi Nathan, Agam dan Bella nampak bingung, rumor itu jelas sampai ke telinga mereka bahkan mereka sudah curiga dari jauh hari, namun untuk biasanya mereka yang akan menangani jika ada salah satu siswa menciptakan sebuah kasus, jadi mereka menunggu interuksi dari Guru BK jika pemeriksaan itu di adakan pada Sherly.
"Sherly Nath," Tasya menatap Nathan. "Ternyata semua rumor itu benar."
Agam, Nathan dan Bella saling pandang. "Terus?" Bella yang bertanya.
"Dia--di keluarin dari sekolah."
__ADS_1
"Di keluarin?"
***
"Gue, gak tahu kenapa lo bisa lakukan itu semua. Tapi, setiap perbuatan orang pasti ada suatu penyebab, dan gue--jujur gue juga kaget, tapi-- pastinya ada alasannya kan?" Bianca berbalik badan menatap sepenuhnya kepada Sherly yang kini hanya berdiri mematung di belakangnya, Sherly mengangkat kepalanya yang sejak awal hanya merunduk.
Langkahnya perlahan-lahan mendekati Bianca dan berdiri di sampingnya tanpa berniat merespon ucapan Bianca barusan, kedua tangannya bertumpu pada tembok pembatas rooftop, kemudian pandangannya turun menatap kebawah sana dalam waktu yang lama dengan tatapan kosong. "Kalo, gue lompat dari sini, kira-kira dia bakal sedih?"
Suara lirihan yang terdengar begitu miris itu memecahkan suasana yang tadinya hanya terdengar hiruk pikuk kicauan burung dan angin sepoi-sepoi yang berhembus.
"Dia?"
Sebelah tangan Sherly turun, singgah di perutnya. "Ayah dari anak ini." gumamnya hampir berbisik, Bianca hanya mendengarnya sayup-sayup.
"Hah?" Bianca membeo tidak mendengarnya jelas. Sherly pun hanya menggelengkan kepalanya sambil mengusap air matanya yang menetes lagi. "Enggak."
***
__ADS_1
Maaf, lambat up-nya soalnya sibuk belakangan!🙏
Next? spam di sini! semakin banyak spam semakin semangat dan cepat aku ngeupdatenya!