Married With Ketos

Married With Ketos
Pertemuan Ayah dan Anak


__ADS_3

"Lepasin Bia!!" Bianca tidak tinggal diam, sedari perjalanan sampai di sini ia memberontak di kungkungan dua bodyguard yang menyeretnya menuju ruangan kerja Gilbert.


Di saat salah satu bodyguard yang bernama Kendrick satu-satunya pengawal yang paling muda di antara yang lain membuka pintu. Gilbert geleng-geleng kepala sembari memijat keningnya, shock melihat keadaan menantunya yang seperti di culik saja, "Hey? kenapa kalian membawanya seperti itu? aku kan udah bilang bawa dia dengan cara baik-baik. Kalau seperti ini, apa bedanya kalian sama nyulik dia?"


Kendrick cengengesan mengusap tengkuknya kikuk, sementara Bodyguard yang bernama Ricolas lalu membuka pembungkus kepala Bianca. Bianca meraup napas sebanyak-banyaknya, di dalam plastik benar-benar membuatnya kekurangan oksigen.


"Maaf kedua bodyguard ku telah berbuat tidak sopan." ucap Gilbert tidak enak kepada Bianca yang masih sibuk mengatur napasnya lalu setelah pasokan udara di sekitarnya mulai optimal, kakinya sontak menginjak kuat kaki milik Kendrick hingga sang empu meringis kesakitan, "Aduh Nona, sakit loh.." adunya ia lebih-lebih kan.


Padahal kalau boleh jujur tidak ada sakit-sakitnya kaki Bianca begitu kecil, tidak sebanding dengan kakinya yang bagaikan kaki gajah begitu pula kekuatannya.


"Kalian ngapain sih nyulik Bia? ini di mana?!!" Pandangan Bianca menyebar ke sekitar ruangan kerja Gilbert. "Aduh, pasti Suami Bia lagi khawatirin Bia." adunya kelabakan.


"Kamu tenang aja, soal Suami kamu biar aku yang urus."


Mendengar penuturan Gilbert membuat fokus Bianca teralih kearahnya, "Lagian, Paman siapa sih? kok suru-suru orang-orang serem gini nyulik Bia?" celotehnya cerewet sekali.


"Hey dia mertua kamu!!" Tegur Ricolas merasa Bianca tidak sopan. Mata Gilbert menajam melayang pada Ricolas yang membuatnya nyali Ricolas sontak ciut di tempat.


"Mertua? mana ada Bia punya mertua yang mukanya seperti wajah orang luar gitu? mertua Bia itu namanya Bastian!!" Ocehnya. Gilbert tertawa renyah mendengarnya, kalau orang lain di posisi Bianca sudah pasti akan ketakutan setengah mati karena berhadapan dengan dirinya yang berasal dari komplotan mafia. Selera Anaknya benar-benar berbeda.

__ADS_1


"Kalian berdua! keluar sana!!" bentaknya menusuk, Ricolas dan Kendrick yang paling mengenal kalau Gilbert itu tidak suka mengulangi ucapan bergegas pergi dari sana sesuai perintah.


Raut Gilbert yang kejam itu seketika di gantikan oleh ekpresi teduh dan hangat menghampiri Bianca yang mundur berjaga-jaga melihatnya, "Jangan mendekat! Paman jangan berani macam-macam sama Bia!!" ketakutan beradu dengan rasa panik tiba-tiba menerjangnya.


Gilbert memberikan senyum tipis. "Tenang aja, aku gak akan melakukan hal buruk ke kamu. Aku hanya ingin kita mengobrol sebentar."


***


Agam benar-benar di buat oleh Bianca tidak tenang. Tidak berbeda jauh dari sebelumnya, kali ini ia kelihatan tidak tahu harus melakukan apa. Mengapa ada aja orang yang menculik Bianca? sebenarnya apa kesalahan istrinya hingga banyak yang kerap menculiknya?


Kalau memang ada yang dendam pada dirinya, mengapa harus istrinya? kenapa tidak dia saja yang di culik. Bianca jangan di libatkan di dalam itu.


Saat ini Agam belum langsung menyimpulkan itu penculikan tapi sejak tadi Bianca yang katanya akan membuang sampah itu tidak lagi terlihat. Ia menghilang tiba-tiba dan Agam ling lung mencari kemana-mana di daerah perumahan mereka. Nihil, ia tidak kunjung menemukan Bianca di segala tempat.


Pikiran Agam begitu di buat rancu oleh kehilangan Bianca yang entah kemana. Sampai ketika ia mendapatkan sebuah pesan yang di kirim oleh nomor asing ke ponselnya. Yang mengirim sebuah lokasi keberadaan istrinya dan ia di minta untuk mendatanginya di sana.


Saat ini Agam sampai di depan sebuah mansion yang mewah. Sesuai titik lokasi di mana keberadaan Bianca yang di kirim orang asing ke Agam. Barangkali itu adalah berkat atau malah musibah, ia mempercayai pesan itu yang ikut menyampirkan pesan. 'Kamu datang saja, tidak akan yang terjadi karena aku tidak berniat buruk. Aku hanya ingin ketemu denganmu.' Meski begitu, itu tidak cukup meyakinkan Agam.


Sebenarnya Agam sedikit tak yakin jika Bianca di sekap di rumah besar nan mewah tersebut. Dalam benaknya bertanya-tanya, apa yang orang itu mau darinya hingga menyandera Bianca? demi uang? lantas, mengapa rumahnya segede ini masih menyandera demi dapat duit? bukan kah itu tak masuk akal?

__ADS_1


Mengesamping pemikirannya itu dulu, yang menjadi kepentingan sekarang adalah apa tujuannya datang kemari. Jadi, Agam segera membuka pintu mansion yang ternyata tak terkunci sama sekali.


Sepi. Tak ada satupun orang di ruangan ini, langkah jenjang Agam berlanjut menyusuri seluruh penjuru ruangan sambil memanggil-manggil nama Bianca, yang pertama ruangan tengah, lalu ruangan tamu, semua ruangan di sini sangat besar dan luas, hingga Agam kewalahan sendiri mencari-cari letak posisi di mana Bianca berada, apakah istrinya memang tak ada di sini melainkan di tempat lain? tanyanya di dalam pikiran.


"Bia!! Bia!!!"


Kaki Agam menuju area dapur, di mana menjadi salah satu daerah yang belum sempat ia jelajahi. Agam juga tak tahu ruangan apa yang akan ia masuki, namun dia hanya mengikuti suara samar-samar antara lelaki dan perempuan yang sedang mengobrol.


"Kakak?" Suara Bianca berasal dari meja makan, melihat adanya Bianca dan satu pria paru baya yang Agam sendiri tak mengenalinya. Yang menjadi alasannya dengan tergesa lekas menghampiri menuju mereka hanyalah Bianca yang sedang duduk bersama pria.


Agam langsung menarik Bianca untuk berdiri, lalu ia sembunyikan di belakang tubuhnya. "Jangan ganggu istri saya!! kalo Anda ingin uang saya akan segera menyerahkannya kepada Anda!!" pungkasnya tegas. Matanya menyorot sirat penuh antimidasi kepada pria paru baya yang malahan melemparkan senyuman tak jelas kepadanya.


"Hey son. Sepertinya, ini pertama kalinya kita ketemu," Gilbert menjeda ucapannya untuk sesaat. "Ah, enggak. Lebih tepatnya, kamu yang pertama kali bertemu aku." ungkapnya sok akrab membuat Agam memandanginya tak suka.


Gilbert bangkit berdiri dan jalan pelan-pelan menghampiri mereka. Membuat Agam yang merasa pria itu adalah ancaman, kakinya melangkah mundur dengan teratur sambil menggenggam tangan Bianca yang ada di belakangnya.


"Tenang saja. Aku gak akan melukai menantu aku sendiri." katanya lagi.


Langkah Agam terhenti mendengar itu, dia menjadi bingung, apa yang di katakan oleh pria ini? Bianca, menantunya?

__ADS_1


"Sepertinya, Anda salah orang."


***


__ADS_2