
Yang memiliki darah tinggi, diharap jangan membaca episode dibawah ini๐๐ค
*****
Dengan hati-hati, Agam menuntun Bianca menuruni anak tangga ke anak tangga berikutnya, mereka hendak menuju ke meja makan yang mana keduanya akan melangsungkan makan siang, kini dia sudah rapih dengan balutan setelan formalnya dan Bianca dengan pakaian sederhana ala-ala rumahan. "Sakit Bi? maaf ya, aku gak tahu kamu lagi luka gini. Kalo tahu keadaan kamu, aku gak akan ngajak kamu main semalam.." ungkapnya merasa bersalah.
"Gak papa Kak..Bia baik-baik aja kok." Mereka kini sudah mengambil tempat duduk masing-masing dimeja makan yang telah disajikan banyak makanan oleh Para pelayan.
"Kamu mah, apa-apa selalu bilang baik-baik aja, ngeluh dikit Bi... Aku jadi gak tahu gimana keadaan kamu yang sebenarnya kalo gini.." sejak Altezza lahir, Bianca jadi banyak menutupi suatu hal dan Agam harus beradaptasi dengan karakter barunya ini.
"Gak ada yang perlu aku keluhin Kak.. hidup Bia udah sempurna banget.. punya Suami yang memiliki segudang pesona dan bertanggung jawab, sayang banget lagi sama aku.. punya Putra yang ganteng kayak Papanya.. pokoknya paket komplit deh, aku ngerasa hidup aku gak ada kurangnya sedikit pun."
Agam mencubit gemas sebelah pipi Bianca, semakin kesini Istrinya ini bukannya tambah dewasa tapi malah semakin menggemaskan. "Gumush banget sih Mamanya Ezza...pengen terkam lagi deh. Eh?"
Bibirnya Agam lipat kedalam karena keceplosan, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal melihat Bianca melemparkan lirikan horor, garpu teracung mengarah pada Agam. "Awas ya kalo Bia benar-benar gak bisa jalan besok! Bia tandain muka Kakak!"
Gertakannya disambut Agam dengan cengiran kuda, dia menurunkan perlahan garpu yang diangkat oleh Istrinya. "Gak Bi.. canda.."
"Mau aku suapin?" Tanya Agam kemudian mendapat anggukan dari Bianca. Agam mengambil alih sendok yang ada ditangan Bianca setelah disetujui. "Buka mulut kamu, Aaa.." pinta Agam layaknya menyuapi anak kecil, Bianca menurut, membuka mulutnya agar makanan yang hendak disuapkan kedalam mulutnya mendapat akses.
Bianca mengunyah-ngunyah nasi yang tercampur dengan lauk-pauk, entah seleranya yang meningkat atau makanannya memang enak dari awal, tapi rasanya lebih dari enak dari yang sebelumnya. "Eumm--enak banget.. disuapin Kakak, kayaknya bisa bikin makanan tambah enak berkali-kali lipat!" Bianca memberikan dua jempol untuk Agam yang tidak melakukan apa-apa.
Agam tersenyum kaku, dia mengusap tengkuknya salah tingkah. "Padahal cuma nyuapin doang, nambah enaknya makanan, masa?" Kepala Bianca mengangguk kuat.
Bi Asri dan yang lainnya menjadi penguntit dadakan yang mengintip interaksi kedua majikan mereka dibalik dinding penghubung dapur dan ruang makan. "Harmonis banget ya?"
Bi Asri mengangguk atas ucapan salah satu pelayan yang memiliki rambut sebahu. Hati mereka menghangat hanya dengan mengamati interaksi sepasang Suami Istri tersebut. Terlihat sederhana, tapi mampu membuat siapa saja iri dengan keharmonisan mereka berdua. "Untung saja mereka udah baikan.."
__ADS_1
Ditengah sesi makan mereka, tiba-tiba ponsel Agam berdering, awalnya Agam mengabaikan karena tidak ingin menghancurkan momen mereka, "Kak, hp Kakak bunyi tuh."
"Udah biarin aja, gak ada yang lebih penting dari Istri Kakak saat ini."
Agam mengumpat dalam hati mendengar ponselnya terus-menerus mengeluarkan bunyi sehingga mau tidak mau dia menjeda aktivitas mereka, "Bentar ya Bi.. aku angkat telepon dulu.." Agam mengambil ponselnya, tanpa menjauh dari Bianca mengangkat panggilan dari sekretarisnya.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Mister? Kau lagi dimana?"
"Dirumah." Peka dengan perasaan Bianca, lengan Agam menjalar, dia gunakan menggapai sisi kepala Bianca yang sedang menunjukkan ekspresi tidak suka akibat dia mengangkat panggilan tidak jelas ini, lelaki itu menarik dan berakhir menyandarkan kepala Bianca didada bidangnya.
"Bukan siapa-siapa.. dia hanya sekretaris aku.." Bisiknya ditelinga Bianca. Dia mengusap-ngusap kepala Bianca sambil membagi fokusnya mengobrol dengan orang diseberang sana. Bianca memukul-mukul kecil dada Agam bukan karena kesal tapi karena bosan tidak tahu melakukan apa sekarang.
"Apakah Mister belum berangkat? Sebentar lagi jam rapat.."
"Udah?"
Cup..
Agam mencuri kecupan tepat di bibir ranum istrinya. "Udah. Lanjut makan lagi ya? Habis itu, Kakak mau berangkat ke perusahaan."
*****
Dita yang merupakan sekretaris perusahaan besar Arbyshaka, memasuki ruangan pribadi Agam, ditangannya membawa secangkir kopi untuk Tuannya yang menjadi takhta tertinggi dalam hatinya saat ini.
Sebelum tiba diruangan yang sama dengan Agam, dia sempat melihat Istri dari pimpinannya tadi, dalam jarak tempuh yang masih cukup jauh, melalui koridor kiri menuju keruangan ini, dapat diprediksi oleh Dita jika dalam waktu tiga menit kedepan, Wanita yang menyandang sebagai nyonya Arbyshaka akan segera sampai disini.
__ADS_1
"Mister sudah bekerja keras, saya menyuguhkan kopi spesial untuk Mister biar bisa menjernihkan pikiran Mister setelah melalui meeting tadi."
Dita tahu jika atasannya ini telah memiliki Istri, tapi salahkah dia hanya sekedar mengangumi? Ah ralat--bahkan dia berharap Agam bertengkar besar-besaran dengan Istrinya dan berujung bercerai, dengan begitu, dia bisa memiliki peluang bukan?
Agam yang sedari tadi senyam-senyum sendiri berdehem pelan, dia lalu menata mimiknya agar terlihat datar sedatar-datarnya. "Gak perlu. Kau minum sendiri saja."
"Ada apa Mister? Dari tadi kau senyam-senyum sendiri, sepertinya hari ini suasana hatimu sedang bagus?"
"Eum? Yes. Mood-ku sedang bagus karena seseorang yang sedang menungguku dirumah." Tanpa alasan Agam kembali menampilkan senyum seperti orang kehabisan obat, pandangan Agam lagi-lagi menerawang kembali larut dengan lamunannya, dia tidak sabar ingin berjumpa dengan Istrinya dan menghabiskan malamnya dengan memeluknya seerat-eratnya. Dia sudah rindu berat, tiada hari tanpa rindu berat dengan Bianca.
Dita berjalan kearah Agam yang ada di seberangnya sambil mengalihkan perhatiannya sebuket bunga diatas meja. "Bunga buat siapa Mister?"
"Istri Saya." Tiba didekat Agam, Dita berpura-pura keseleo membuat gerakan tubuhnya oleng seolah-olah hilang keseimbangan sehingga kopi yang ada ditangannya tertumpah di bagian jas Agam.
"Ah, ya ampun.. saya benar-benar minta maaf Mister, saya tidak sengaja.." Dita meletakkan cangkir kopi diatas meja dan meraih tissue yang tersedia.
"Tidak bisa kah kau lebih berhati-hati?!" Nada suara Agam setengah membentak. Kini dia sudah berdiri dari duduknya, Agam melepas beberapa kancing jasnya karena basah, pakaiannya dinodai oleh cairan, walaupun indentik dengan warna bajunya, tapi tetap saja kelihatan basah.
"Biarkan saya yang membersihkan kemeja Mister," Dita mencoba melap kemeja Agam yang basah, Agam menepis tangannya dengan kasar, "Gak perlu!!" Ujarnya memancarkan aura dingin. Sialnya, tidak dihiraukan oleh Dita.
Alih-alih mengindahkan penuturan Agam, Dita tetap berkeras kepala dan bersikukuh membersihkan pakaian Agam. "Gak papa Mister, biarkan saya yang membersihkan pakaian Mister.." Akibat berat tubuh Dita yang merapat di badannya membuat semuanya terjadi begitu saja, tubuh Agam terhuyung sebelum bokongnya berakhir jatuh kekursi kebesarannya dengan Dita bersandar di dada bidangnya.
Ceklek.
Timing yang tepat! Dita menyunggingkan senyum penuh kemenangan. 'Kena kau!' serunya dalam hati. Bekal yang dia buat susah payah, jatuh berserakan dilantai, Bianca membeku diambang pintu.
*****
__ADS_1
Buat cerai aja kira-kira ya?