Married With Ketos

Married With Ketos
Ikut Ayah?


__ADS_3

Aktivitas Agam berhasil berhenti gara-gara itu, keningnya berkedut bingung menatap Gilbert. "Elard, siapa?"


"Oh iya, aku lupa kalo dia menggunakan identitas palsu di negara ini. Samuel yang satu sekolah dengan mu itu aslinya bernama Gelard. Dia, adik kamu."


"Adik?"


Gilbert menganggukkan kepala. "Dia yang udah bahayain kamu dan istri kamu selama ini."


"Kalo dia adik aku, kenapa membahayakan aku dan Bia? emang salah kami apa?" tanya Agam tidak habis pikir.


"Dia gak bermaksud untuk itu, lebih tepatnya dia hanya benci ke kamu tapi Bianca selaku istrimu ikut terseret."


"Tapi kenapa? apa alasannya?" Agam benar-benar di buat bingung. Memiliki Adik? Agam tidak pernah mengetahui fakta itu, tapi mengapa ia harus menanggung kebencian dari seseorang yang bahkan kehadirannya saja tidak ia ketahui.


"Dia--selalu menyalahkan kamu atas kematian Ibunya."


"Ibunya saja aku gak kenal, kenapa tiba-tiba nyalahin aku atas kematiannya?"


"Aku akan menceritakan soal itu, tapi itu akan memakan waktu yang cukup lama, kamu gak keberatan?" Agam mengangguk mantap, ia penasaran.


"Baiklah kalo itu kemauan kamu."


Membuang napas untuk sesaat Gilbert pun memulai nostalgia, "Tidak lama dari waktu di tinggalkan oleh Ibumu, keluarga ku tiba-tiba membawa seorang perempuan yang lemah untuk meneruskan keturunan keluarga. Aku sempat menolak keras, tapi keluarga aku bersikeras sampai aku mengalah. Dan akhirnya, aku menikah dengan dia."


"Sejujurnya aku gak ada niatan sekalipun menyentuhnya, tapi di suatu malam keluarga aku yang licik itu menjebak aku dengan obat perangsang hingga akhirnya aku menghabiskan malam pertama dengan istri aku, namanya Jane. Dan rupanya kejadian kelam itu menghadirkan Elard."


"Meski pernikahan kami tidak di dasari oleh cinta, tapi kami tetap sayang kepada Elard. Jadi, kami berpura-pura menjadi keluarga yang harmonis di hadapannya agar dia bisa merasakan kebahagiaan sebuah keluarga yang lengkap seperti anak-anak sebayanya."


"Tapi itu hanya berlangsung sampai dia di usia lima belas tahun. Dia secara tidak sengaja mendengar percakapan aku dan Jane tentang Ibunya yang akan di usir oleh keluarga aku karena sudah mendapat keturunan darinya. Dan juga fakta paling membuatnya terpukul yaitu aku memiliki anak lain di luar nikah dan itu kamu."

__ADS_1


"Padahal, aku sudah mendiskusikan itu dengan Jane tapi Jane bilang itu tidak apa-apa karena dia juga pernah hamil di luar nikah yaitu dari anak kekasihnya tapi dia kehilangan anaknya sebelum lahir. Bahkan ditengah pernikahan kami, dia masih berhubungan dengan kekasihnya."


"Dengan kata lain, dia gak mempermasalahkan aku memiliki anak lain diluar nikah dan aku juga sama, gak mempersalahkan dia masih menjalin hubungan dengan Pria lain karena kami sama sekali tidak saling mencintai satu sama lain meskipun telah menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang lama. Tapi, lain halnya dengan Elard."


Agam setia mendengarkan penuturan Gilbert yang panjang. Sedikit demi sedikit ia mulai paham.


"Terlebih ketika Ibunya yang tiba-tiba mengalami depresi. Di mana kala itu Jane kehilangan anaknya dari kekasihnya lagi yang tengah dia kandung, di sisi lain keluarga aku mengusirnya pergi padahal dia gak ada tempat tujuan, keluarganya yang menjual dirinya ke keluarga kami."


"Kerena segala tekanan itu, hingga akhirnya dia mengalami depresi dan bunuh diri dari sebuah gedung apartemen."


"Elard yang menyaksikan langsung di TKP di mana jatuhnya Ibunya menjadi sangat terpukul. Dari situ, dia menaruh kebencian besar ke kamu. Karena mengira Ibunya depresi hingga bunuh diri gara-gara mengetahui keberadaan kamu yang sebagai anak aku di luar nikah. Padahal, itu sama sekali gak ada kaitannya dengan kamu."


"Udah gak terhitung berapa kali aku berusaha meyakinkan dia kalo kematian Ibunya gak ada sangkut pautnya dengan kamu, tapi dia gak percaya. Elard yakin kalau aku bilang begitu hanya karena ingin melindungi kamu padahal itu memang kebenaran."


***


"Sayang, udah bangun?" Agam mengelus pipi gembul Bianca yang baru saja terbangun dari tidurnya, "Belum.." gumamnya mengucek matanya.


"Ya makanya kalo aku nyahut berarti udah bangun." Bianca menyewot lalu bangun di bantu oleh Agam. Tatapan Bianca mengedar menyapu ruangan mewah tersebut, rupanya ia ketiduran di sini. "Ayah, di mana?"


"Lagi di atas." Agam langsung mendekap Bianca erat membuat Bianca jadi bingung seketika, pasalnya pelukan Agam seperti orang yang akan berpisah satu sama lain, "Bi.. setelah lulus SMA, Ayah ingin aku lanjutin pendidikan di Prancis.."


Jantung Bianca tiba-tiba berpacu dalam ritme lebih cepat dari biasanya. Ia tidak membalas pelukan Agam, "D-di Prancis?" tanyanya terbata-bata. Apakah Agam mau bilang, dia akan meninggalkan dirinya ke Prancis?


Agam mengurai pelukan dan menyingkirkan helaian rambut Bianca yang menganggu parasnya, dia tidak membalas dengan kata-kata melainkan dengan anggukan saja.


"Terus, kamu bakal ninggalin aku?" Mata Bianca berkaca-kaca, membuat Agam jadi tidak tega melihatnya.


"Bukannya ninggalin kamu Bi.. aku ingin ngajak kamu, tapi--aku gak mau kamu terlibat dalam bahaya.."

__ADS_1


"Terus, aku gimana? kamu bakal ninggalin aku?" Air mata Bianca akhrinya luruh, Agam sigap menghapusnya.


"Kita bisa LDR." ungkapnya sungguh-sungguh.


Bianca menepis kasar tangan Agam dan beringsut sedikit menjauhi Agam, "Kamu kan tahu, banyak hubungan yang rusak hanya gara-gara tidak mampu LDR, Kak.." lirihnya nanar. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti kalau tidak bersama Agam di sisinya.


Bergeser mendekati Bianca, Agam mengambil tangan Bianca lembut untuk ia genggam. Beberapa kali ia mendaratkan ciuman di punggung tangan Bianca. "Kalo bisa, aku ingin sama-sama kamu terus Bi.. tapi, tempat aku bukan di sini. Aku gak mau terus ngerepotin Papa..mumpung sekarang aku udah ketemu Ayah aku, aku harus ikut dia setelah menyelesaikan pendidikan aku di sini.."


"Apakah itu lebih penting dari pada aku? kenapa kamu lebih memilih ninggalin aku?" Bianca menyorot Agam penuh kekecewaan, hatinya sakit. Setelah sekian lama Agam membuat hari-harinya berwarna dan sekarang dia memilih meninggalkannya? ini kenyataan paling pahit yang Bianca dapat.


Bianca sadar kalau selama ini ia memang egois. Tapi bisakah ia egois lagi untuk kali ini? ia tidak ingin jauh dari Agam.


Bukan pasal kepercayaan, jujur Bianca pribadi percaya kepada Agam. Inti masalahnya adalah waktu. Seiring berjalannya masa tetap akan ada yang namanya bosan dalam setiap hubungan. Sedangkan pasangan yang dekat saja kadang bisa jenuh apa lagi yang hanya komunikasi lewat teknologi.


LDR itu sulit. Hanya pasangan yang tertentu bisa melaluinya. Dan Bianca tidak termasuk di dalam itu. Ia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri apakah perasaannya masih sama utuh setelah Agam kembali ataukah malah sebaliknya.


"Hanya untuk sementara bukan untuk selamanya. Kalo aku udah kuat dan sukses, pasti aku akan kembali. Kamu boleh pergi ke Ayah dan Bunda kamu di Amerika.." ungkap Agam meyakinkan.


***


Agam menyampirkan jaketnya ke pundak Bianca yang kelihatan murung. Selepas mereka berpamitan dengan Gilbert, mereka akhirnya berjalan menuju perkarangan mansion menuju motor Agam.


"Bi.. jangan murung mulu dong.. ayok senyum.." Agam menarik kedua sudut bibir Bianca untuk memaksanya tersenyum, tapi untuk saat ini Bianca benar-benar tidak ada mood walau hanya sekedar mengangkat bibirnya. Ia hanya memberikan senyum joker kepada Agam.


Melihat hal itu membuat Agam berpikir, apakah keputusannya itu adalah yang terbaik?


"Ayok Kak, pulang.." Bianca menarik sisi kaos Agam yang menyunggingkan senyum ringan kepadanya. "Iya sayang iya.."


Agam naik di atas motor di susul oleh Bianca, derum motor terdengar setelah Agam menyalakan mesin motornya dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Kalau biasanya rutinitas Bianca memeluk Agam dalam perjalanan kemudian banyak candaan yang menghiasi, kali ini tidak. Vibes-nya terasa berbeda dari biasanya, mereka hanya sama-sama diam seribu bahasa dan pelukan pun tidak di terapkan.


***


__ADS_2