
Flashback on
"Suaminya kenapa ditinggalin Mbak? Kelihatannya dia sayang banget sama Mbak.. jarang-jarang Suami yang sampai ngejar gitu saat Istri minggat dari rumah."
Pak Sopir melirik pantulan Bianca yang sedang memalingkan wajahnya kesamping, menatap kendaraan yang berlalu lalang melalui cela jendela mobil.
"Bapak lebih baik fokus nyetir, jangan sampai nabrak hanya gara-gara ngurus masalah rumah tangga orang."
Pak sopir itu akhirnya mengatupkan bibir setelah mendengar peringatan Bianca, taksi yang menumpangi Bianca akhirnya tiba disebuah rumah mewah dan besar, tapi belum cukup jika disebut mansion.
Kediaman keluarganya yang sebenarnya. Ayah, Bunda beserta Adiknya. Selepas membayar upah taksi, Bianca memandangi bangunan didepannya dengan satu tarikan napas. Ia sudah kurang berkunjung kesini, terakhir kali, ketika ia masih hamil
Ia sudah rindu berat dengan Ayah dan Bundanya. Tiba didepan pintu, Bianca membunyikan berulang kali bel rumah, bagaimana reaksi mereka ketika melihatnya datang kesini? Entahlah, Bianca tak bisa membayangkannya.
"Iya, sebentar.."
Ceklek..
"Loh, Bianca, kenapa disini?" Alena celingukan kanan-kiri, Bianca cepat tanggap, ia paham jika Bundanya sedang mencari Agam. Yang terakhir, netra wanita paru baya itu terkunci pada koper yang sedang dibawa oleh Putri sulungnya.
"Suamimu mana? Kenapa kamu bawa koper."
"I-ini Bun.. Bia--"
__ADS_1
"Bunda? Siapa yang datang?!" Taksa menghampiri kearah mereka, jarang sekali ada ada yang bertamu ke rumah mereka, ia penasaran entah siapa tamu itu.
"Kakak?!!" Bola mata Taksa berbinar-binar melihat ternyata tamunya adalah Kakaknya sendiri, dengan girang, berlarilah bocah tersebut kearah Bianca yang merentangkan tangan bersiap menyambutnya kedalam dekapan.
Hap!
Bianca menangkap balita itu hingga kini sudah berada digendongannya, Taksa mengalunkan tangannya dileher Kakaknya. Menggunakan sebelah tangan, Bianca mengacak pelan rambut hitamnya. "Kenapa Kakak balu sekalang main kesini? Taksa lindu sama Kak Bia!!"
"Huhuhu rindu hmm?" Melihat Taksa, Bianca jadi teringat dengan Altezza, awas saja jika Agam tak mengurusnya dengan baik, pulang nanti ia akan memberinya pelajaran. Menceramahinya dua puluh empat jam non stop biar jerah.
Sementara Bunda Bianca hanya menatap interaksi mereka sambil menyimak-nyimak alasan Bianca datang kesini. "Sebaiknya kita masuk dulu, kita bicara didalam."
*****
"Jadi, apa alasanmu datang kesini tidak bersama Suamimu dan membawa barang cukup banyak? Kamu mau imigrasi?"
Beliau akhirnya duduk diseberang Bianca yang sedang bersama dengan Taksa. Bianca mendeesah kesal mendengar Bundanya menyebut Suami menyebalkan itu.
Meneguk segelas minuman segar membasahi rasa kering dirongga kerongkongannya, Bianca pun meletakan gelas dimeja secara kasar, bahkan sampai terdengar bunyinya.
"Jangan sebut-sebut namanya Bun. Bia lagi ngambek sama dia. Kami berdua marahan, untuk sementara waktu aku gak mau ketemu dia dulu hih! Kalo liat mukanya pengen cakar-cakar biar muka gantengnya hancur sekalian!"
Alena geleng-geleng kepala mendengar celotehannya. Bianca kini berdiri sambil membawa gelas kosong yang telah ia tenggak isinya beberapa menit yang lalu berniat membawanya kedapur. "Terus, sekarang maunya kamu gimana? Mau cerai?"
__ADS_1
"Cerai?" Kening Bianca menekuk dalam, ia tak suka dengan perkataan Bundanya. Ia memang jengkel, muak, kesal, lagi tak mood melihat muka Suaminya. Tapi terlepas dari itu, ia tak pernah berpikiran jauh sampai kesana.
"Enggaklah! Siapa yang mau cerai coba! Bia cuma muak sama dia. Lagi gak pengen liat mukanya untuk sementara waktu."
Alena menghela napas lega, "Baguslah.." gumamnya tak jelas. Ia sempat menduga, jika Putrinya ada pemikiran dangkal. Namun, sepertinya Bianca tidak lagi seperti dulu, yang labil dan kekanak-kanakan.
Plangg!!
"Bia, kamu kenapa Nak?!" Alena berdiri dari duduknya dalam keadaan panik bukan main melihat tubuh sang Putri yang mendadak saja terhuyung sehingga gelas yang ada ditangannya pun kini telah jatuh, hancur berkeping-keping diatas lantai.
"Apa yang terjadi denganmu?!"
"Gak tahu Bun.. tiba-tiba kepala aku, pusing banget.. Di sekitar terasa berputar-putar.." Bianca memegangi sisi kepalanya yang terasa amat berat seraya geleng-geleng kecil.
Untung Bianca masih dapat bantuan dari lengan sofa, ia menumpukkan tangannya disana sebagai penyanggah tubuhnya. Jika tidak, bisa dijamin, ia telah mencium lantai.
Alena membantunya berdiri dan memapahnya, membawanya ke kamar Bianca yang dulu, Taksa mengekori mereka berdua. "Bunda, Bunda..? Kakak mau dibawa kemana..?"
"Kekamar Sa.. Kakak kamu butuh istirahat, mungkin dia lagi kecapean dan stres..."
Flashback of
*****
__ADS_1
Itu bagi yang penasaran mereka bakal cerai atau enggak, udah ada jawabannya...
Btw, kira-kira Bianca, kenapa yaa..?