
Sebuah kebun taman yang indah nan luas tak berpenghujung. Bermacam-macam bunga bermekaran juga semerbak yang begitu harum dan menenangkan. Samuel melangkah dalam keadaan bingung, pandangannya mengedar ke penjuru kawasan yang sangat luas. Tidak pernah ia melihat tempat seindah ini.
"Sam!"
Samuel mematung. Suara ini!! Sherly!! perempuan yang telah ia sakiti. Dan juga menjadi suatu penyesalannya yang teramat. Samuel memutar badan menoleh ke sumber suara.
"Sher.." lirihnya, terlihat Sherly yang berdiri cukup jauh darinya, pakaiannya serba putih dan nampak bersinar dari biasanya yang ia lihat.
Satu yang belum Samuel sadari. Ia langsung berlari ke arah Sherly yang hanya dalam jarak tempuh dua meter, lalu berhamburan memeluknya. "Sher.. maafin gue, maaf." Tidak ada hal lain yang Samuel utarakan selain terus menggumamkan kalimat 'maaf'
Sherly tersenyum manis dan mengusap punggung Samuel lembut, "Berhenti salahin diri sendiri Sam. Kan aku udah pernah pesan, jangan pernah nyalahin diri sendiri. Ini semua sudah menjadi keputusan aku"
"Tetap saja, ini semua kesalahan gue. Gue yang udah nyakitin lo. Udah lukai lo sedalam-dalamnya. Hinga lo-- memilih--" Sherly cepat mengurai pelukan secara sepihak dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Samuel, "Sssstt. Bukan salah kamu Sam. Luka yang kamu torehkan itu tidak sebanding dengan luka yang sudah aku dapat selama ini. Jadi, itu hanya lah sebagian. Berhenti nyalahin diri sendiri. Aku gak suka."
Sherly tertawa kecil. "Sejak kapan kamu jadi cengeng gini? yang aku kenal Samuel gak lemah seperti ini." Sherly menghapus air mata Samuel yang terus turun tanpa komando. Berikutnya, mengacak rambut Samuel sambil terus tersenyum tidak pernah sirna.
Mungkin perasaannya saja atau tidak, Samuel merasa Sherly semakin cantik berkali-kali lipat dari sebelumnya. Sudah persis bidadari surga. Wajahnya terlihat berseri-seri dan satu lagi, ia terlihat--begitu bahagia. "Sher, lo--"
"Ma!!" Suara anak kecil yang imut menginterupsi mereka berdua. Samuel sempat tidak menyadari, memindahkan pandangannya pada gadis kecil yang berdiri di sisi Sherly yang mengenggam tangan mungilnya.
"S-sher? dia anak kita?" Wajahnya kombinasi antara Samuel dan Sherly meski lebih dominan mirip Samuel. Bisa di bilang Samuel versi perempuan.
"Dia siapa ma?" Anak kecil yang juga berpenampilan serba putih polos itu bertanya kepada Sherly.
"Dia, papa kamu."
"Papa?"
Samuel bersimpuh di hadapan anak kecil itu kemudian memeluknya tanpa ragu. "Maafin Papa.."
"Maaf? emang Papa salah apa?"
__ADS_1
"Papa yang udah buat kalian pergi.. Papa brengsek, bajingan, keparat, biadap. Papa adalah orang yang paling jahat. Gak pantes sebenarnya kamu panggil aku Papa."
Anak kecil itu menepuk-nepuk punggung Samuel, menenangkan. "Papa tidak salah apa-apa. Dan asal Papa tahu? Papa itu Papa terhebat untuk aku. Aku bangga bisa jadi anak Papa." Hati Samuel menghangat mendengarnya, lalu isak tangisnya semakin lama tambah tergugu.
"Sayang, ayok kita pergi. Waktu kita tinggal sedikit lagi."
Pelukan di lepas oleh sepihak dari anak kecil tersebut. "Papa jangan berlarut-larut dalam kesedihan dan penyesalan, oke? ini semua bukan kesalahan Papa. Aku dan Mama udah bahagia. Saaangaatt bahagia. Jadi, Papa juga harus bahagia seperti kita."
Setelah mengatakan itu, Sherly membawa anak kecil tersebut bersamanya menjauhi Samuel yang berdiri, mengejar mereka. "Kalian mau kemana?!! gue ikut!! gue mau ikut kalian!!"
Sherly dan gadis kecil itu menoleh padanya dan menggeleng kompak, "Sam, kehidupanmu masih panjang. Temukan kebahagiaan dan cinta sejati mu." Pesannya sebelum mereka melambaikan tangan kepada Samuel yang masih terus berlari mengejar.
"Kebahagiaan dan cinta sejati gue adalah kalian!! jangan tinggalin gue!! gue mau ikut kalian!!!" Sekuat bagaimana pun ia berlari, Samuel tidak bisa lagi menggapai mereka.
Sherly dan anak mereka berbalik memunggungi Samuel lalu perlahan menghilang di kabut putih yang menyelimuti mereka. "Sher!! gue ikut!! jangan tinggalin gue!!"
"Sher jangan tinggalin gue.." Samuel menggumam lirih ketika matanya mulai terbuka. Ia meringis kecil seraya memegangi kepalanya yang terasa pening dan berdenyut.
Bayang-bayang Sherly selalu menghantuinya baik di dunia nyata mau pun di mimpi. Ketika ia terlelap pasti akan muncul sosok Sherly juga anak kecil yang imut di sampingnya.
Lingkaran matanya nampak jelas, wajahnya terlihat kusut belum lagi rambutnya yang berantakan layaknya anak yang tidak terurus.
"Lemah!" Cibir Gilbert Rodriguez---Ayah dari Samuel. Entah sejak kapan ia masuk, kemungkinan sedari Samuel masih terlelap. Kini ia duduk di tepi kasur Samuel bagian kiri. Memberikan tatapan remeh kepada putranya itu.
Kalau kondisinya sedang baik-baik saja bisa di jamin mereka akan adu jotos lagi mengingat bagaimana tempramental-nya Samuel. Namun, keadaannya sekarang, benar-benar tidak memungkinkan untuk meladeni Daddy-nya.
Samuel mengangkat dua telapak tangannya yang terlihat tak berdaya, dan menatap kebawah, tangannya nampak gemetar tanpa alasan. Ketakutan selalu menggerogotinya padahal sudah beberapa hari berlalu semenjak ke matian Sherly. "Banyak yang udah terbunuh di tangan kotor gue ini. Tidak hanya ribuan kali gue nyaksikan maut di hadapan gue langsung. Tapi kenapa? melihat kematiannya sesakit ini.."
"Bahkan sakitnya bisa di banding dengan luka di tinggalkan Mommy.." imbuhnya. Kentara sekali dari suaranya kalau ia sedang menahan tangis.
"Itu berarti kamu mencintainya."
__ADS_1
Samuel menggeleng keras, mengelak apa yang di lontarkan oleh Gilbert. "Gak, gak mungkin!! gue gak bakal punya perasaan yang gak penting kaya gitu!!"
"Tapi dengan kondisi kamu yang seperti ini setelah dia tinggalkan. Apakah kamu masih belum menyadarinya?" Gilbert bangkit berdiri dan berjalan mendekat. Ia berjongkok di hadapan Samuel. Dan menepuk pundaknya memberikan semangat. "Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Karena aku juga pernah merasakan ada di posisi kamu. Jadi, aku berharap kamu gak akan berlarut-larut dalam kesedihan."
"Tapi bagaimana bisa Dad? Elard gak mungkin merasakan perasaan yang namanya cinta. Sejak dulu Elard gak pernah ngerasain itu. Satu-satunya perempuan di hati Elard itu hanya Mommy." Samuel mengadah menatap Gilbert, matanya terlihat sembab.
"Jadi, Daddy tanya. Bagaimana perasaan kamu saat dia sudah hilang? biasa aja? kamu bahagia? atau sebaliknya?"
Samuel merenung. Siluet Sherly selalu terlintas di benaknya. Ia baru menyadari jika selama ini Sherly selalu menemaninya. Berusaha bertahan di sisinya meski dia hanya membuatnya tersiksa. Senyum tulusnya ketika menceritakan tentang mimpinya, senantiasa terngiang-ngiang. Ia baru sadar, jika selama ini ia tak pernah bersikap lembut. Ia hanya membuatnya menderita. Tapi apa alasannya?
Entahlah. Setiap mengingat seberapa banyak orang yang pernah bersetubuh dengan Sherly, Samuel tak bisa mengontrol dirinya. Bawaannya ia hanya tersulut emosi dan berujung melampiaskannya pada Sherly.
Isak tangis terdengar dari Samuel. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Di mana Elard harus menemukan dia lagi? Elard rindu sama dia Dad.. Elard harus gimana agar dia kembali..?" ratapnya
Gilbert turut sedih melihat keterpurukan putranya. Baru kali ini ia menunjukan sisi rapuh nya seperti ini. Selama hidup, yang Gilbert tahu Samuel adalah sosok yang kuat. Tidak pernah menunjukan sisi lemahnya sedikit pun. "Dia gak akan pernah kembali lagi dan tidak akan kamu temukan lagi di mana pun. Tapi---"
Tangan Gilbert bergerak, jari telunjuknya menekan tepat di dada Samuel, "Dia selalu ada di sini. Mau dia akan jadi cinta yang terakhir buat kamu atau nantinya mungkin ada yang akan menggantikan dia, yang jelas untuk dia, kamu adalah cinta terakhirnya."
Samuel menggeleng, "Elard juga ingin jadiin dia cinta terakhir Elard Dad. Untuk itu---" Samuel me-ngesot mendekati sebuah meja yang tidak jauh darinya. Ia mengambil sesuatu dari sana kemudian kembali kepada Gilbert.
Samuel memberikan senjata pistol itu kepada Gilbert secara paksa dengan mengenggam tangan Gilbert dan menuntunnya untuk menodongkan pistol di dadanya bagian tengah bertepatan dengan titik vitalnya. "Please kill me. Elard pengen nyusul Sherly. Anak Elard juga lagi nunggu di sana..." Lirihnya.
Gilbert segara menarik tangannya kuat, dan melempar pistol itu. "Gila kamu!! sedih ya sedih aja! jangan juga sampai berpikir pendek kaya gini!! di mana Elard yang selalu kuat selama ini!! yang Daddy kenal, bukan Elard yang seperti ini." Gilbert mengguncang bahu Samuel untuk menyadarkan Samuel yang terlihat kalut. Samuel mengangkat pandangan. Raganya di sini namun dapat Gilbert lihat, matanya benar-benar terlihat seperti tidak ada kehidupan lagi di sana.
"Gak akan ada lagi Elard yang dulu.. semenjak dia pergi, Elard yang dulu juga ikut pergi bersama dia. Yang sekarang, bukan lagi Elard yang dulu. Hanya ada Elard yang lemah dan rapuh.."
Gilbert mendorong bahu sang putra lalu meraup wajahnya kasar. Sepertinya, harus menempatkan beberapa pengawal di sekitar Samuel untuk penjagaan jika sewaktu-waktu Samuel akan berbuat nekat tanpa sepengetahuannya.
Ia bangkit dan mengambil pistol yang ia buang tadi. Untuk sekarang, ia harus menyembunyikan semua senjata. Baik itu berupa senjata api mau pun senjata tajam.
***
__ADS_1