Married With Ketos

Married With Ketos
Sisi lain


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan SMA Garuda dari tempat perkemahan. Setelah berkemas, seluruhnya mengikuti foto bersama sebagai momen terakhir. Lalu beramai-ramai menuruni area pegunungan.


Mobil taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah milik dua pasturi mudah itu. Setelah sebelumnya turun di pemberhentian bus barulah melanjutkan kesini dengan naik taksi. Mereka berdua baru saja pulang dari acara camping.


Agam dan Bianca sudah memasuki kamar. Agam meregangkan otot-ototnya yang terasa nyeri dan pegal akibat harus menyandang tas ransel yang cukup besar dan berat. Merasa dirinya seharian ini terus beraktifitas dan mengakibatkan dirinya berkeringat. Jadi, dia memutuskan untuk mandi agar lebih fresh. Dan dia langsung menyambar handuknya yang tersampir di kursi. "Bi, mandi bareng yuk!"


"Gak, gak gak! kakak duluan aja!"


Agam berdecak. Lalu segera menuju kamar mandi. Menuntaskan niatnya.


...Lucas...


Udah sampe?


^^^Udah.^^^


Luang waktu kamu yah. Ketemu aku di cafe waktu itu. Ada hal penting banget yang mau aku bahas sama kamu.


^^^Hal penting apa? bisa gak di bahas di sini aja?^^^


Gak bisa Bia. Mau ya? please! janji gak bakal lama.


Cukup lama Bianca menimbang-nimbang. Memutuskan antara meng-iyakan atau tidak ajakan dari Lucas. Namun, di bandingkan itu, Bianca lebih penasaran, tentang perihal apa yang penting di bahas itu?


Jadi, Bianca memutuskan untuk meng-iyakan ajakan dari Lucas. Barangkali saja memang suatu hal yang teramat penting.


...Lucas...


^^^Yaudah.^^^


Setelah itu, Bianca melempar asal ponselnya di atas kasur. Dan merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Otaknya mulai bekerja. Memikirkan strategi apa yang akan ia lakukan agar bisa keluar dari rumah untuk sekarang. Bila meminta izin kepada Agam? sudah pasti lelaki itu tak akan memberinya izin. Jadi--- Bianca membutuhkan sebuah ide.


Memakan waktu yang cukup lama Bianca harus memutar otaknya. Sampai dia tak menyadari jika Agam telah keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang lengkap. Sembari menggosok-gosok handuk di rambutnya.


"Lagi mikirin apa?"


Bianca terkesiap, menariknya dari pikirannya yang sedang bekerja keras. "Eumm?"


"Lo, keliatan lagi melamun."


"Ehm. Enggak." Bianca beringsut ke tengah ranjang dan menepuk berulang kali space di sampingnya. Menyuruh Agam untuk mengisi ruang kosong itu. "Sini kak."


Melihat itu, Agam naik ke kasur dengan cara menekuk kan lututnya dan mendekatkan dirinya dengan Bianca. Dia menyodorkan handuk itu kepada Bianca yang kini sudah dalam posisi duduk. "Keringin rambut gue." titahnya.


Dengan patuh Bianca mengambil handuk itu. Memposisikan dirinya di belakang Agam, kini gantian dia yang menekuk kan lututnya, agar bisa lebih gampang mengusap rambut Agam dengan handuk. Sedangkan Agam sendiri, sudah duduk bersila di depan Bianca dengan memunggungi istrinya tersebut.


"Kakak." Bianca memanggil selepas beberapa kali usapan di kepala Agam.


"Heumm?"

__ADS_1


"Kakak, ngantuk?"


"Dikit." Agam menjawab jujur. Dia merasa penat dan itu menyebabkannya mengantuk namun tak terlalu.


"Habis ini, tidur ya? gue kelonin."


Dua alis Agam tertekuk. Tidak biasanya Bianca berinisiatif sendiri. Dia tahu tabiat dari Bianca yang selalu beraksi sesuai dari arahan Agam. Dan kali ini Agam merasa sedikit--curiga kepada Bianca yang tiba-tiba begini. Bisa dia terkah, pasti ada sesuatu yang akan di lakukan oleh istrinya ini. Okelah, dia akan mengikuti permainannya.


Akhirnya Agam mengangguk. Lalu memegangi tangan Bianca yang masih beraktifitas itu agar menahan gerakannya. "Yaudah, ayok tidur."


Agam memegang pundak Bianca dan menuntunnya agar merebahkan tubuhnya, diikuti oleh dirinya sendiri. Sesuai kebiasaan Bianca, menepuk-nepuk kan telapak tangannya di kepala Agam. Namun, terdapat perbedaan kali ini, yakni, Bianca melakukannya dengan inisiatif sendiri tanpa tuntunan dari Agam. Yaitu, jika hendak tidur, Agam harus meletakkan tangan Bianca di atas kepalanya. Dan kali ini tidak. Di situ letak perbedaannya.


Agam menyibakkan kaos biru laut tua berukuran kingsize yang di kenakan istrinya.


Bianca bisa menebak, apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu. Jadi, sebelum dia melakukannya, Bianca menahannya. "Jangan kak, gue belum mandi. Bau keringat."


"Gapapa." Agam semakin mengangkat pakaian itu tanpa peduli apa lagi yang di katakan oleh Bianca selanjutnya. "Kak--- ssssh, jangan di gigit."


Di sela-sela itu, Agam mengangguk patuh. Dan hanya menyedotnya saja. Sementara Bianca sendiri hanya menghembuskan napasnya. Setidaknya, dengan trik begini, cukup efektif membuat Agam tertidur lebih cepat.


Pandangan Bianca teralih ke arah jam dinding. Pukul 04:24. Dia harus segera bergegas menemui Lucas.


Yang menjadi kendalanya sekarang, adalah suaminya ini. Tatapan Bianca akhirnya turun kepada Agam yang sedang mengulum dengan mata terpejam. Persis seperti bayi yang menyusu kepada Ibu-nya. Tanpa sadar, Bianca mengulum senyum. Suaminya terlihat lucu.


Masih tidak menduga, jika Agam orang yang seperti ini. Liar, mesum, vulgar dan-- cabul. Tapi, meski begitu, dia tidak pernah melakukan hal yang tidak di kehendaki oleh Bianca. Dia penurut, patuh atas segala kemauan Bianca. Selain itu, Bianca paling suka dengan sikap Agam yang hanya bersikap hangat kepadanya.


Semulanya, Bianca belum terlalu yakin. Namun, setelah mendengar dengkuran halus dari Agam, barulah dia yakin, bila Agam sudah benar-benar tertidur. Pelan-pelan ia memindahkan kepala Agam ke bantal.


Sebelum Bianca pergi menemui Lucas, dia menyempatkan mencium kening suaminya. Tanpa mandi ataupun mengganti pakaian, Bianca memutuskan bergegas menjumpai Lucas, di tempat perjanjian.


Indera pendengaran Agam di sini, mendadak berfungsi dengan tajam. Saat dia mendengar suara grasak-grusuk pergerakan dan berikutnya suara daun pintu yang ditutup rapat. Akhirnya kelopak mata dengan pupil berwarna hazel itu langsung terbuka. Dia bangun, mengubah posisinya menjadi duduk. Dan tersenyum smirk. "playing with me? huh?"


***


"Aku gak punya banyak waktu, jadi, langsung to the poin aja." ujar Bianca pada akhirnya. Dia tidak ingin banyak basa-basi. Mendadak ia jadi merutuki Lucas, dia sudah bela-belain datang kesini sampai meninggalkan suaminya yang sedang tertidur, jika tak penting, lihat saja. Akan langsung dia akhiri di sini, di tempat ini hubungan mereka.


Di sini mereka berdua berada di cafe, tempat ketemu mereka tempo lalu. Dan hari-hari sebelumnya.


Raut wajah Lucas langsung berubah. Awalnya terlihat netral dan di detik ini mimik itu sudah menjadi murung. Padahal, baru saja mereka ketemu, dan-- Bianca kelihatan tidak ingin menghabiskan waktu bersamanya?


"Kenapa? kamu gak mau ketemu aku?"


"Bukan gitu. Aku-- sibuk Luc."


"Sibuk apa?" Kali ini suara Lucas terdengar dingin. Intonasinya tidak tinggi namun terdengar tajam.


Bianca tidak tahu, apa yang membuat Lucas menjadi seperti ini. Dia terlihat marah. Dan Bianca tidak tahu apa penyebabnya. "Ada."


"Setelah gue pikir-pikir. Selama ini, lo selalu cari-cari alasan setiap ketemu sama gue. Kenapa?" Bianca mematung mendengar Lucas menggunakan kata 'Aku-Kamu'.

__ADS_1


Awalnya tadi tidak begini. Dan kenapa sekarang tiba-tiba menjadi seperti ini? itu menjadi tanda tanya di kepala Bianca saat ini.


Benar-benar terlihat aneh. Selama berpacaran dengan Lucas, Bianca tak pernah di panggil dengan sebutan itu. Dan kali ini, dia tiba-tiba menggunakan kata itu. Bisa Bianca lihat emosi terpendam dari Lucas saat ini. Itu menimbulkan ke was-was-san di hati Bianca.


"Aku-- gak nyari alesan. Itu---"


"Jujur! kenap lo gak jujur aja sama gue?!!!" Suara Lucas naik satu oktaf. Hingga membuat Bianca tersentak pelan. Dan memancing atensi para pengunjung di sana.


"J-jujur apa?" Bianca bertanya dengan terbata-bata. Perasaannya mendadak menjadi takut melihat kemarahan dari Lucas kali ini. Selama ini, Bianca belum pernah melihat Lucas marah. Dia selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Terkadang, jiwa iblis dari seseorang, akan bangkit jika dirinya dalam keadaan murka tak terkendali.


Plukk.


Lucas melempar kasar tiga lembar foto hingga mengenai Bianca. "Jelasin!"


Bianca terkesiap, namun tak urung memungutnya yang sempat jatuh ke lantai. Matanya melebar sempurna melihat beberapa gambar salinan itu. Scene dirinya dan Agam berciuman di perpustakaan tempo lalu.


"Lo--- dapetin ini dari mana?" tanya Bianca mengganti arah tatapannya pada Lucas yang kini sudah menyorotinya tajam.


"Itu penting? bukannya sekarang yang penting itu penjelasan lo?"


Bahkan sekedar menelan ludahnya saja Bianca harus bersusah payah. Dia benar-benar kehilangan kosa katanya. Tak tahu, bagaimana menjelaskan kepada Lucas. Karena, dalam gambar ini memang benar. Namun, Bianca harus menutupi semua ini. "I-ini pasti f-foto editan Luc..."


Lucas terkekeh hambar mendengarnya. "Lo kira gue orang bodoh yang gak bisa bedain foto detian sama yang asli?"


"L-luc--"


"Jelasin!" Sekali lagi Lucas menitahkan, menunutut penjelasan dari Bianca.


"Gue---"


Lagi-lagi Lucas memotong setiap ucapan yang keluar dari mulut Bianca. "Jelasin."


"Itu---"


"Jelasin bangsat!!!" Umpat Lucas sembari bangkit dengan kasar dari duduknya. Bianca? dia kaget luar biasa dengan umpatan tiba-tiba yang terlontar dari Lucas, hingga para pengunjung pun sudah berbisik-bisik menggosipi mereka.


"Gue gak tahu, ssshhh--" Bianca meringis, merintih kesakitan saat Lucas mencekal pergelangannya dengan kuat. Seolah menyalurkan emosinya lewat itu. Matanya yang selalu memancarkan keteduhan kini terlihat hanya kilat amarah di sana.


Bianca takut. Takut dengan sisi Lucas yang sekarang. Mendadak, dirinya terlihat bukan Lucas yang biasanya, di mata Bianca. Selayaknya, seorang malaikat yang kini mulai bangkit jiwa iblisnya.


"Dasar murahan!" Lucas benar-benar tidak sadar dengan apa yang ia sarkaskan sekarang. Karena dirinya sedang di selimuti kabut amarah. Sementara Bianca sendiri sudah membeku di tempatnya tatkala mendengar perkataan Lucas yang bagai bongkahan batu, mengguncang keras di dadanya.


"L-luc--?" Suara Bianca tergagap dan bergetar. Mencoba menahan tangisannya sebisa mungkin. Dua netra Bianca berusaha menatap tepat kearah sepasang mata lelaki itu. Tidak ada lagi kelembutan dan keteduhan disana. Yang ada hanya sebuah kabut, yang Bianca sendiri sulit untuk memahaminya.


"Ja.l.ang."


PLAKKKK


TBC.

__ADS_1


__ADS_2