
Sekitar delapan menit dalam perjalanan, kini mereka telah berada di supermarket yang tentu saja yang terdekat dari kediaman mereka. Agam dan Bianca kesini untuk berbelanja stok bahan dapur. Niatnya memang begitu, namun bukan Bianca namanya jika camilan tak ikut serta dalam troli. Perempuan itu sedang naik dalam keranjang troli tersebut sambil di dorong oleh Agam.
Beragam jenis makanan ringan yang telah mereka tambahkan kedalam troli, kini Agam sedang berdiri di jajaran rak pembalut, Bianca hanya menatapnya tak mengerti, untuk apa lelaki ini, mengamati sesuatu yang hanya bisa di kenakan oleh cewek saat datang bulan?
"Kakak, ngapain? mau beli gituan?"
"Biasanya lo pake yang gini, kan?" Agam meraih satu bungkus yang berwarna biru di hiasi oleh daun sirih di kulitnya. Meski belum tahu apa tujuan Agam bertanya, Bianca tetap mengangguk sebagai tanggapan.
Agam melemparkan secara berkala, lima bungkus kepada Bianca, dan tidak ada hal lain Bianca lakukan selain menangkapnya dengan cekatan. "Kakak, mau ngoleksi ginian?" tanya Bianca sambil mengangkat satu bungkus di tangannya.
"Buat persediaan lo Bi, gue liat stok milik lo, dikit lagi." Setelahnya, lelaki itu kemudian mendorong troli yang masih ada Bianca naik disana. Perempuan berpakaian piyama abu-abu polos itu hanya menikmatinya seraya tertawa-tawa kecil, kedua sudut bibir Agam tertarik ke atas saat melihat istrinya yang terlihat bahagia, untuk itu, Agam menambah laju troli itu hingga ia berlarian kecil di sana, Bianca di buat tambah gembira. Mereka berdua seakan tak peduli jika sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.
Di tengah keasikan mereka itu, tiba-tiba Agam memelankan langkah yang pastinya juga membuat dorongan pada troli memelan seketika saat dia melihat sesuatu yang sering ia pakai jika sedang menyalurkan birahinya pada Bianca.
"Kenapa berhenti sih Kak?!!"
__ADS_1
"Ntar."
Agam meraih satu pack yang berukuran mini, lalu dia melihat-lihatnya sambil membolak-balikkan benda tersebut. Bianca mendelik samar, tahu apa yang tengah di cermati oleh suaminya tersebut.
"Kakak, gak perlu beli gituan..." Bianca sedikit malu mengingat ini di tempat umum, kalau ada orang yang melihat bagaimana? bahkan orang yang tidak di kenali sekali pun.
"Kalo, lo mau hamil sebelum lulus, yaudah gak perlu beli." Agam hendak akan menyimpannya ke tempat awal, namun balasan Bianca membuatnya urung.
"Yaudah iya deh iya, beli aja Kak."
***
Di rasa belanjaan mereka sudah cukup, bahkan semua barang-barang keinginan dan kemauan mereka sudah di tambahkan ke troli, mereka akhirnya menuju kasir. Di mulai dari bahan dapur, berbagai jenis makanan ringan atau snack, belanjaan yang bersifat privasi, sudah lengkap semua.
Mereka berdua sempat mengantri di kasir dalam waktu yang tidak lama. Setelah akhirnya kini sudah giliran mereka.
__ADS_1
"Kakak!! kaki Bia keram." Bianca mengeluh, perempuan itu sudah melepas sendal selopnya dari kakinya, kemudian meregangkan kakinya. Agam mengusap pelipisnya lembut, "Bentar, ya." ujarnya.
"Sayang banget kayaknya sama Adek-nya. Jadi ke pengen punya Kakak juga deh." celetuk sang kasir di sela kegiatannya yang tengah menghitung total belanjaan mereka.
"Ih kok, adek sih!!" kesal Bianca tidak terima di katai adek Agam. Lelaki itu meraih kepalanya dan ia rapatkan ke dadanya. Hidung hingga bibirnya mendarat di pucuk kepala Bianca, dia mengecupnya sekilas. "Dia ini---istri saya mbak."
"Istri?" Sang kasir membeo sambil memending aktivitasnya untuk sejenak menatap mereka bergantian. "Nikah mudah ya?" tanya sang kasir lagi mendadak kepo maksimal. Agam hanya mengangguk untuk jawaban. Bianca melepas paksa tangan Agam yang memeluk kepalanya.
"Kakak gak malu apa? kita jadi pusat perhatian loh, Kak!!" Benar saja, di sekitar mereka ada beberapa masyarakat yang tengah menyorot mereka berdua yang kelihatan mesra, jangan lupakan tiga orang yang masih mengantri di belakang mereka.
Agam tak mengindahkan peringatan Bianca, malahan kini sebelah tangan kekarnya dengan seenaknya sudah merangkul pinggang ramping Bianca. "Gapapa Bi, halal loh ini." satu tangannya lagi kemudian bergerak, mengurung tubuh Bianca di ruang tangan sampai lengannya.
Si kasir tersebut hanya geleng-geleng kepala melihat ke uwuw-an yang ada di hadapannya. 'Dasar anak muda.' batinnya sedikit iri.
***
__ADS_1